
Di sungai buatan...
Kain yang kupakai ini tipis dan juga pendek, sehingga masih harus mengenakan kemben dan leging pendek. Untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi diluar dugaan.
Kini aku masih terdiam di depan sungai, tidak berani lebih mendekat ke arahnya. Jarak di antara kami pun mungkin ada sekitar tiga meter, dan kini dia tengah memperhatikanku.
"Kenapa diam di situ? Kau tidak ingin mendekat kepadaku?"
Dia bertanya dengan mudahnya, tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Terlebih kainku ini cukup tinggi, satu jengkal di atas lutut. Sepertinya dia memang sengaja memintaku untuk mengenakannya.
Apakah aku akan menjadi geisha-nya malam ini?
Sempat terpikir jika akan seperti itu, menjadi pelayan setia baginya. Rambutku sengaja kugulung agar tidak terlalu menarik perhatiannya. Tapi sepertinya, dia malah semakin tertarik. Dia berjalan mendekat ke arahku.
Pangeran ....
Entah mengapa semakin dia mendekat, aku semakin tak karuan. Aku gelisah sendiri. Hatiku seperti memberi tanda jika sesuatu akan terjadi pada kami petang ini. Dia keluar dari sungai, berjalan sambil menunjukkan kegagahannya padaku. Tapi, aku merasa risih dengan celana yang dia kenakan, seperti celana renang yang ketat dan pendek sekali.
"Em, Pa-pangeran ...."
Kumundurkan langkah kakiku ke belakang saat dia semakin mendekat. Rasanya aku ingin berlari saja. Aku tidak berani menatap wajahnya, yang mana tinggiku hanya sebatas bahunya. Sehingga jika ingin menatap wajahnya dengan jelas, aku harus mendongak ke atas.
"Kau takut padaku?" Dia berjalan lebih mendekat.
"Pa-pangeran."
Aku tidak bisa seperti ini, tubuhku terasa aneh sekali. Aku segera saja berbalik untuk menghindarinya, berlari menuju pintu ruangan ini. Tapi, sebelum sempat membuka pintu, kurasakan kedua tangan Zu mendekap erat tubuhku.
"Sudah kubilang, jangan lari. Kau ini bandel sekali, Ara."
"Pa-pangeran ... ak-aku ...."
Seolah kehilangan kata-kata, tubuhku bergetar sendiri saat bersentuhan langsung dengan tubuhnya. Dan sepertinya Zu pun menyadari, dia lalu mencium bahu kananku dengan lembut.
"Pangeran ... emmhh ...."
Aku menggigit bibirku sendiri, tidak bisa berontak melawannya. Cengkramanya begitu kuat sehingga aku tidak punya daya untuk melarikan diri. Napasnya amat terasa panas di bahuku. Dan perlahan-lahan bibirnya menyusuri bahuku ini. Pelan-pelan merayap menuju leherku.
"Pa-pangeran!"
Aku mencoba menepiskan bibirnya, dengan mengangkat bahuku. Tapi, Zu malah mengigit telinga kananku. Seketika itu juga keluar desahan yang tak lagi bisa ditahan oleh bibirku ini.
"Pangeran, sudah. Jangan dilanjutkan."
Suaraku serak, seperti tertahan di tenggorokan. Tubuhku terasa aneh sekali. Aku tidak sanggup merasakan sentuhan dari bibir lembutnya itu.
"Ara, aku tahu jika kau menginginkannya. Jangan ditahan, Sayang." Dia lagi-lagi menciumku.
Ah! Aku di ambang batas kendali.
"Pa-pangeran, kita tidak boleh seperti ini." Aku mencoba bernegosiasi.
"Tidak boleh? Itu hanya katamu saja, tidak kataku."
__ADS_1
"Pangeran, sudah. Ah!"
Tubuhku benar-benar merinding, sekujur tubuhku bergetar saat dia terus menciumi tengkuk leherku dari belakang. Aku tak sanggup jika terus-terusan seperti ini. Sungguh, aku merasa lemas sekali.
"Lepaskan saja, sebagaimana aku melepaskannya," katanya lagi tanpa memedulikanku yang sudah tidak berdaya.
Dia terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut bibirnya pada lengan atasku, bahuku, tengkuk leherku, hingga punggungku ini. Bibirnya bergerilya di sepanjang kedua bahuku lalu berhenti di tengah tengkuk leherku ini. Dia menciuminya berulang kali hingga rasanya aku tidak mampu lagi untuk berdiri.
"Hah ... hah ...."
Aku sudah tak berdaya, benar-benar tak berdaya dibuatnya. Dia lalu membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Kulihat dia tersenyum manis lalu mulai membelai wajahku dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang pinggulku ini.
"Pangeran, cukup ...."
Napasku terengah-engah, aku tidak mampu lagi jika hal ini diteruskan. Aku bisa kehilangan kendali atas diriku sendiri.
"Ara ... kau tahu jika aku sangat menyayangimu. Petang ini akan kuserahkan semuanya padamu. Akan kuberikan apa yang kupunya sebagai bukti betapa aku tidak sanggup memikul cinta ini seorang diri."
"Pangeran ...."
Kutatap wajahnya, kulihat dia menatapku dalam sekali. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, sedikit menunduk agar lebih leluasa meraih bibir ini.
"Pangeran, jangan!"
Dengan sisa tenaga yang ada, aku mendorongnya. Dia pun akhirnya terdorong ke belakang walau tidak terlalu jauh. Wajahnya tiba-tiba berubah padam, mungkin dia marah padaku.
"Pangeran, kita belum menikah. Aku takut kita kebablasan. Tolong jangan seperti ini," kataku yang masih terengah-engah.
"Tidak, Pangeran. Tidak bisa. Aku—"
"Kau masih memikirkan kedua pangeran itu?" Zu mulai merubah pandanganya, ia menatap dingin ke arahku.
"Pangeran, aku tidak bisa terburu-buru. Aku belum bisa melupakan mereka." Aku berusaha jujur.
Seketika itu juga Zu berjalan cepat ke arahku. Dia menyandarku ke dinding ruangan. Kedua tanganku pun diangkat ke atas olehnya.
"Kau bilang apa, Ara? Kau belum bisa melupakan mereka?" tanyanya seperti penuh amarah yang tertahan.
"Pangeran, pernikahan kami sudah direncanakan. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku ... aku—"
"Cukup, Ara! Apa kau tidak mempunyai kalimat yang lebih menyakitkan lagi untukku?!"
"Pangeran—"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku bagai musafir di padang pasir yang hampir mati karena kehausan. Dan kau datang membawa berliter-liter air. Apa kau pikir aku akan melepaskanmu?!" Dia menatapku tajam sekali.
"Pangeran—"
"Tidak, Ara. Aku tidak akan melakukannya. Kau salah jika menganggapku akan membiarkanmu kembali ke Angkasa. Malam ini juga aku akan mengikatmu, aku akan membuahi rahimmu."
"Pangeran, kau sudah gila!"
Tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan padanya. Aku sudah panik dan merasa terpojok sekali. Sehingga kata-kata itupun keluar dari mulutku.
__ADS_1
"Kau bilang aku gila? Hah! Kau benar. Aku memang sudah gila. Aku gila karenamu, Ara!!!"
"Pangeran, jangan!"
Zu menarik kain yang kupakai. Sehingga terlihatlah dalamanku ini di depan kedua matanya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa bergerak sama sekali.
"Bulan depan aku akan menikahimu. Aku sudah bilang kepada ayah dan ayah merestuinya. Aku berjanji padamu. Dalam dua minggu ini akan kuselesaikan semua pekerjaan di istana. Dan setelahnya kita akan menikah." Zu amat serius.
Aku hanya diam sambil memejamkan mata, tidak mampu untuk melihatnya.
"Aku sudah meminta kepada para menteri untuk mempersiapkan pesta kita. Jadi, kau tinggal duduk manis di rumah saja," katanya lagi.
"Pangeran, tolong jangan seperti ini." Aku memohon.
"Ara, aku tidak bisa menerima penolakan darimu. Aku tahu jika kau juga menyayangiku. Jangan sampai aku berbuat nekat hanya karenamu."
"Ma-maksudmu?" Aku mencoba melihatnya yang berbicara dekat sekali dengan wajahku.
"Kau tahu, negeriku ini lebih besar dari negeri kedua pangeranmu."
"Pa-pangeran—"
"Jika kau menolak pernikahan ini, aku akan membantu negeri musuh untuk menyerang Angkasa. Bahkan kalau perlu, Asia sendiri yang akan menyerang dan menyingkirkan kedua pangeran itu."
"Ap-apa?!" Aku amat terkejut dengan ucapannya.
"Aku sudah gila, Ara. Jadi tolong menurutlah padaku. Aku akan menjadi suamimu. Patuhilah aku. Karena aku tidak akan pernah main-main dengan ucapanku."
"Pangeran Zu—"
"Jika kau ingin negeri kedua pangeran itu baik-baik saja, maka berdamailah dengan hatimu. Miliki aku sepenuhnya."
"Pangeran ...."
Sebuah titah besar telah kuterima dan harus kupatuhi. Aku tidak bisa lagi menolak apapun keinginannya. Zu mengancam akan menyerang negeri kedua pangeranku jika aku tidak menurut padanya. Aku merasa seperti tertekan sekali.
Ya Tuhan ....
Benar apa yang dikatakan oleh Tetua Agung, aku tidak boleh melawan arus. Jika melawan maka akan sangat membahayakan. Tidak hanya bagiku, tapi juga bagi kedua pangeranku.
"Pangeran Zu, tolong jangan melakukan hal itu. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah karenaku." Aku memohon.
"Jadi kau mengerti sekarang?" tanyanya sambil terus menatapku, walau aku berusaha memalingkan pandangan darinya.
Aku mengangguk pelan, mengerti.
"Lihat aku, Ara. Tatap mataku jika kau benar-benar mengerti."
Mendengarnya aku pun hanya bisa menuruti. Melihat ke arahnya, menatap wajahnya lalu mengangguk. Dia kemudian tampak senang sekali.
"Sekarang cium aku sepenuh hatimu," pintanya yang membuat detak jantungku berpacu cepat.
Dia lalu melepaskan pegangan tangannya dari kedua tanganku. Aku pun harus menciumnya dengan sepenuh hati. Kudekatkan wajah ini lalu mulai meraih bibir ranum itu. Aku pasrah, tak berdaya.
__ADS_1