
Pukul sembilan pagi...
Kukenakan blus merah muda tanpa motif dan celana panjang hitam berbahan jeans sebelum berangkat ke kampus. Tak lupa aksesoris jam imut di pergelangan tangan kiriku. Aku pun memakai sepatu sandal berwarna krim setinggi lima senti, sehingga menambah tinggi badanku.
Kini tubuhku terlihat begitu sempurna. Tak lupa rambut panjangku ini dibiarkan tergerai dengan membuat simpul di sisi kanan dan kirinya lalu digabungkan, agar tidak acak-acakan saat terkena angin.
"Kau tidak memakai make-up, Ara?"
Tiba-tiba saja Rain mengagetkanku dari depan pintu. Pria itu mengenakan kaus pas badan berwarna cokelat sesiku dengan celana gunung hitam panjang. Tak lupa sandal gunung berwarna cokelat tua dia kenakan sebagai alas kakinya.
"Kau ingin aku berdandan?" tanyaku kepadanya.
Dia lalu berjalan mendekati dan kemudian memegang kedua lenganku ini.
"Sebenarnya tanpa make-up pun kau sudah terlihat sangat cantik di hadapanku, Ara. Tapi lebih baik poleslah sedikit wajahmu agar aku semakin bergairah," katanya.
"Rain!"
"Ara, aku pria normal. Apakah tidak boleh berkata seperti itu?"
Aku terdiam sejenak, tidak menjawab. Kuambil segera peralatan make-up itu lalu berdandan sekedarnya. Seperti biasa, make-up minimalis menjadi andalanku. Mengenakan tabir surya disapu bedak padat berwarna kuning langsat, sepertinya sudah cukup untuk melindungi kulit wajahku. Lipglos merah muda juga kusapukan di bibirku ini sehingga wajahku terlihat lebih imut.
"Bagaimana?" tanyaku kepada Rain setelah selesai berdandan.
"Hm, boleh kukecup?"
"Apanya?"
"Apa yang ada di wajahmu."
"Mulai, ya!" gerutuku.
"Hahaha. Kau masih bertahan juga ya, Ara. Padahal hanya ada kita berdua di sini."
Rain lalu berbalik, dia beranjak keluar dari kamar.
"Tunggu, Rain!" seruku bersamaan dengan langkah kakinya yang terhenti.
Akupun berjalan mendekatinya, sedikit berjinjit sambil memegang lembut lehernya itu dengan tangan kananku.
"Muach."
Aku menciumnya, meraih bibirnya dengan satu kecupan singkat. Sontak Rain terbelalak melihatku.
"Ara ...?"
Dia tak menyangka jika aku akan melakukannya. Kedua bola matanya menatapku heran. Akupun segera memeluknya.
"Rain, aku menyayangimu."
Tiba-tiba saja terdengar detak jantungnya yang mengeras saat aku menempelkan telinga kanan di dadanya. Kedua tanganku melingkar di pinggangnya sambil menunggu respon dari putra mahkota ini.
__ADS_1
"Ara, kau ... melakukannya?"
Rain masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Sementara aku tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati sensasi lembut bibirnya tadi. Bibirnya begitu lembut dan terasa sedikit manis. Namun sayangnya, sensasi itu tak lama kurasakan. Tapi cukup membuat hasratku bangkit.
"Baiklah. Kita berangkat naik taksi online saja, ya."
Aku lalu melepas pelukanku dan segera beranjak keluar dari kamar menuju ruang tamu. Sedang Rain, dia masih tampak tak percaya. Kulihat sekilas dirinya yang tengah terpaku sambil memegang bibirnya sendiri.
Dasar, sukanya memancing. Sekalinya dipancing, dia terdiam.
Entah apa yang merasukiku, aku begitu berani melakukan hal itu. Ini pertama kalinya bagiku. Dan entah mengapa, aku begitu rela memberikannya kepada Rain. Ya, walaupun hanya sekejap saja.
Sesampainya di kampus...
Begitu turun dari taksi online, Rain tampak terkejut dengan banyaknya orang di kampusku. Saat kami berjalan menuju ruangan dosen, banyak di antara adik tingkat yang memfokuskan pandangannya ke Rain. Mereka seperti melihat seorang aktor ternama. Beberapa adik tingkat kenalanku pun tak sungkan meminta izin untuk foto bersama Rain.
"Kak Ara, ini bule? Kami boleh foto bareng, ya?"
Aku disingkirkan oleh mereka. Kehadiran Rain di kampus membuat adik tingkat perempuanku berteriak histeris seperti melihat idolnya.
Aduh, ada-ada saja.
Rain dengan senang hati melayani permintaan foto bersama. Mungkin dia merasa sedang melayani rakyatnya.
Kutinggal tidak, ya? Bu Nita pasti sudah menungguku.
Banyak sekali mahasiswi yang berdatangan lalu minta foto bersama Rain. Kami dikerubungi banyak orang. Tak ayal, aku lalu menerobos masuk ke dalam kerumunan lalu menarik Rain.
Aku tak peduli bagaimana tanggapan mereka terhadapku. Aku hanya ingin melindungi Rain dari kerumunan mahasiswi di kampusku ini.
"Kak Ara, kami belum dapat foto."
"Minta sama yang sudah!" sahutku tegas.
Sebagai mantan jajaran BEM, tentunya membuat diriku disegani para adik tingkat. Mereka pun mau tak mau melepas Rain begitu saja.
"Ara?"
"Nanti saja, Rain. Kita ke ruang dosen dulu."
"Apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Ucapan yang mana?"
"Yang tadi."
"Sudah nanti saja."
Kami terus berjalan bersama bak artis yang disorot kamera paparazi. Aku terus menggenggam tangan Rain sampai tiba di ruang dosen pembimbingku.
Sesampainya di ruang dosen...
__ADS_1
"Permisi."
Kuketuk pintu ruangan di mana semua dosen sedang berkumpul. Begitu aku membuka pintu, semua mata tertuju padaku. Atau mungkin lebih tepatnya tertuju ke arah pria yang bersamaku. Tak ayal, kejadian kembali terulang. Dosen-dosen meminta foto bersama Rain.
Astaga... Mengapa jadi seperti ini?
Aku diminta menunggu sampai selesai sesi foto bersama. Rain tampak sedikit risih saat dosen-dosen itu meminta dirangkul olehnya. Aku jadi tidak enak hati kepada Rain.
"Maaf, Bu. Saya ingin menemui Bu Nita," kataku memecah suasana.
"Oh, Bu Nita masih di kelas. Tunggu saja dulu, ya."
Salah seorang dosen perempuan berkacamata tebal menyahuti perkataanku. Aku kemudian duduk di kursi kosong yang ada di ruangan itu sampai sesi pemotretan selesai.
Beberapa menit kemudian, Bu Nita datang dan melihat kerumunan dosen di ruang itu. Kupikir Bu Nita segera menghampiriku. Eh, tahunya dia juga ingin ikut foto bersama.
Sepertinya aku salah hari ke sini.
Akupun menunggu dan terus menunggu. Hingga selesai foto bersama, barulah bisa kuserahkan naskah ini dalam bentuk dokumen yang kusimpan di memori ponselku.
"Ara, kau dapat darimana?" tanya Bu Nita setengah berbisik.
"Apanya, Bu?"
"Itu, pria yang sedang duduk di belakangmu. Dia tampan dan gagah sekali seperti aktor ternama dunia."
"Oh, dia calon suamiku, Bu."
Sontak saja Bu Nita terkejut mendengarnya. Kacamata pun seketika lepas dari matanya.
"Kau akan menikah selepas ini?" tanya Bu Nita kaget.
Aku hanya mengangguk.
"Ibu tak menyangka kau akan mendapatkan pria setampan dia, Ara. Selamat, ya."
Bu Nita menyalamiku. Sungguh aku pun tidak mengerti mengapa semudah itu berkata jika Rain adalah calon suamiku. Aku termenung sendiri sampai tidak menyadari jika bluetooth dokumenku telah selesai.
"Baiklah, naskahnya sudah ada di Ibu. Terima kasih, Ara. Nanti ibu kabarkan kelanjutannya, ya."
Aku pun berpamitan kepada Bu Nita, diikuti Rain yang beranjak dari duduknya selama menungguku. Rain begitu berwibawa saat bersamaku, benar-benar menunjukkan bahwa dirinya adalah calon suamiku kelak.
Astaga, apa yang telah aku lakukan?
Akupun keluar dari ruangan dosen lalu berjalan menuju gazebo kampus. Sedang Rain, mengikutiku dari belakang.
Dia ini seperti bodyguard-ku saja.
Rain benar-benar menjaga wibawanya di hadapan orang lain, tapi tidak saat bersamaku. Cukup aku saja yang tahu betapa mesumnya dia itu. Mungkin aku juga harus lebih terbuka dengannya nanti, karena jarang sekali mendapat kesempatan berduaan seperti ini.
Astaga, mungkin setan telah merasuki hatiku. Menggodaku untuk menyerahkan diri kepadanya.
__ADS_1