
Sesampainya di gedung konveksi istana...
Aku datang bersama beberapa pengawal kerajaan. Sejak berangkat aku hanya sendirian di dalam kereta, sambil mengerjakan hal-hal apa saja yang diperlukan untuk pertunjukan busana nanti.
Tugasku kali ini bertanggung jawab dengan semua sesi acara sebelum lelang busana dilakukan. Baik raja maupun kedua putranya telah mempercayakan hal ini kepadaku. Jadi, tidak ada kata mundur atau menyerah. Aku harus memberikan yang terbaik.
"Selamat datang, Nona Ara. Salam bahagia."
Pria tua itu menyambut kedatanganku. Dia membungkuk hormat seraya menyapa. Kulihat rambutnya kini sudah hampir semuanya beruban.
"Salam bahagia, Paman Rich," balasku seraya tersenyum.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin Nona bicarakan sampai harus datang langsung kemari."
"Em, ya. Benar, Paman. Kedatanganku ke sini ingin menyerahkan sisa rancangan busanaku."
Aku lalu memberinya sebuah map berwarna hijau berisi lima rancangan busana.
"Bukannya tersisa dua ya, Nona?" tanyanya.
"Em, ya. Tiga yang lain itu aku yang akan membayarnya."
"Hm, pantas saja sedikit berbeda. Kalau boleh tahu, yang tiga ini—"
"Dua untuk melunasi janjiku kepada penjaga dan satunya untuk mbok Asri."
"Oh, baiklah, Nona. Saya akan segera menyelesaikannya secepat mungkin."
Paman Rich menerima lembaran rancangan busanaku. Aku sedikit kaget saat dia menanyakan untuk siapa ketiga rancangan yang lain.
"Em, Paman. Ada hal yang ingin aku tanyakan," kataku mengawali topik.
Paman Rich melihat ke sekeliling. "Sepertinya penting, Nona. Mungkin lebih baik jika kita bicarakan di teras gedung saja. Di sini sedikit berisik," katanya.
Gedung konveksi ini terdiri dari banyak pekerja dan bahan dasar pakaian yang terhampar luas. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara mesin jahit pun selalu terdengar tanpa henti.
"Baiklah." Aku pun mengiyakan.
Paman Rich lalu mengajakku untuk keluar dari gedung konveksi. Kami berjalan menuju teras gedung yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Di sana aku bisa melihat tanaman organik yang sepertinya memang sengaja ditanam di sini.
"Silakan duduk, Nona."
"Terima kasih."
Aku lalu duduk bersama paman Rich dengan meja bundar yang memisahkan. Aku sedikit bingung memulai dari mana pembicaraan ini.
__ADS_1
"Nona, sepertinya hal ini berkaitan dengan pohon surga?" Paman Rich menerka.
Sontak saja aku terkejut. Mungkin perkiraanku selama ini benar tentangnya. Paman Rich mengetahui seluk-beluk pohon surga dan keterkaitannya denganku.
"Paman, Rain bilang padaku jika Paman yang memberi tahunya tentang portal dimensi. Apakah itu benar?" tanyaku berhati-hati.
Paman Rich terdiam sejenak. Dia kemudian terbatuk-batuk. Entah karena aku salah bicara atau memang karena dia telah terbawa usia.
"Nona, sebenarnya saya terpaksa mengatakan hal itu kepadanya."
"Maksud Paman?"
"Pangeran Rain memaksa saya untuk mengatakannya. Padahal pesan mendiang raja hanya untuk cucunya yang akan menjadi raja negeri ini."
Apa? Aku mencoba menelaah perkataan Paman Rich.
"Dulu mendiang paduka sebelum kepergiannya, dia sering sekali ke sini. Mungkin dua atau tiga tahun sebelum kematiannya. Dia banyak bercerita padaku."
"Tentang pohon surga?" tanyaku antusias.
"Salah satunya itu. Tapi lebih banyak mengenai mimpinya."
"Mimpi?"
"Ya, Nona. Mendiang raja bermimpi jika akan terjadi kekacauan di dalam istana. Dan dia melihat seorang gadis datang menyelamatkan negeri ini."
"Karena terus dihantui mimpi itu, mendiang raja lalu mencari tahu akan perihal mimpinya. Dia datang dan bersemedi di bukit pohon surga sampai mendapatkan jawaban."
Astaga, berarti selama ini aku ...?
"Mendiang raja lalu mencari petunjuk mengenai mimpinya itu di dalam sebuah buku hitam berisi silsilah raja dari kerajaan ini. Dan dia terkejut bukan main saat mengetahui jika mimpinya persis dengan raja pertama."
"Jadi ... Paman sudah mengetahui jika aku ...,"
"Ya, Nona. Sungguh keberuntungan bagi saya bisa bertemu dengan Nona. Gadis yang telah diramalkan sejak raja Kosmos memegang tahta."
Aku tertegun mendengarnya. Mencoba berfikir rasional. Banyak tanda tanya besar menyelimuti pikiranku saat ini.
"Apakah aku bisa membaca buku hitam itu langsung, Paman?" tanyaku yang sangat ingin tahu.
"Nona bisa mencarinya di perpustakaan istana. Tapi saya sendiri kurang tahu diletakkan di mana buku itu. Buku hitam polos dengan banyak lembaran. Dan ada simbol galaksi bima sakti di depannya."
Aku mengangguk. Kini aku akan mencari tahu sendiri apa maksud dari kata jika aku adalah tujuan yang bisa bolak-balik melewati portal.
"Terima kasih, Paman. Aku harap hanya Paman yang mengetahui jati diriku."
__ADS_1
"Nona bisa mempercayakan saya. Tapi, bolehkah saya meminta sesuatu kepada Nona?" tanyanya yang mulai membuatku khawatir.
"Silakan, Paman. Jika aku mampu, aku akan memberikannya," kataku kepada Paman Rich.
"Nona, kami penghuni gedung konveksi ini belum pernah merasakan buah surga itu. Bisakah Nona ambilkan untuk kami?"
Astaga, aku pikir apa. "Baik, Paman. Selepas dari sini aku akan pergi ke bukit pohon surga dan mengambilkan buahnya."
Paman Rich tampak begitu senang. "Terima kasih, Nona. Kami tidak memintanya terburu-buru. Tapi jika Nona mau memberikan secepatnya, kami sangat bersuka cita."
Kulihat senyum Paman Rich mengembang. Sepertinya ini adalah keinginannya sejak dulu. Tersirat raut kebahagiaan dari wajah tuanya.
"Baiklah, kalau begitu. Aku permisi, Paman." Aku kemudian berpamitan kepadanya.
"Nona."
Sebelum beranjak pergi, Paman Rich kembali memanggilku.
"Iya, Paman?"
"Nona, saya titip kedua pangeran kepada Nona. Hanya Nona yang bisa menenangkan keduanya. Jika usia saya tidak sempat melihat Nona menjadi ratu negeri ini, maka ketahuilah jika saya amat bergembira menyambut kedatangan Nona."
Paman ....
Entah mengapa hatiku tiba-tiba bersedih mendengar perkataannya. Aku merasa ikut membebani hidupnya dengan banyak rancangan yang kuberikan.
"Paman, jaga kesehatan. Jika lelah, Paman bisa menunda rancangan busanaku." Aku tersenyum kepadanya.
"Terima kasih, Nona."
Aku bergegas pergi dari gedung konveksi. Kereta kuda dan beberapa pengawal berkuda sudah menunggu kedatanganku. Rasanya aku ingin menangis mendengar kata-kata dari Paman Rich. Hatiku tersentuh dengan pengabdiannya kepada negeri ini.
Ya, Tuhan ... tolong panjangkan umurnya. Jika aku memang ditakdirkan menjadi ratu kerajaan ini, aku ingin Paman Rich menghadiri perayaannya. Kumohon ....
Dari dalam kereta, kulihat Paman Rich masih melihati kepergianku. Entah mengapa aku merasa mempunyai seorang kakek saat ini. Semoga Tuhan memberikan kesehatan dan umur yang panjang kepadanya.
Satu jam kemudian...
Kini aku telah tiba di bukit pohon surga. Kulihat pohon ini tidak termakan musim. Semakin hari, semakin bertambah lebat saja buah dan daunnya. Aku lantas mendekati pohon tin dan duduk bersandar pada batang kokohnya.
"Izinkan aku bersandar sejenak, ya. Hatiku terasa sedih saat ini."
Beberapa pengawal berkuda menungguku di luar. Sedang aku bersandar di dalam rerimbunan daun pohon ini. Kereta kuda sendiri menungguku di kaki bukit. Bukit yang tidak terlalu tinggi menurutku. Tapi jika harus berjalan kaki, cukup melelahkan juga.
"Baiklah. Sehabis mengambilkan pesanan paman Rich, aku akan segera menyelesaikan urusan untuk acara pertunjukan busana nanti. Setelahnya aku akan ke perpustakaan istana mencari buku itu. Semoga tidak ada kendala."
__ADS_1
Entah mengapa semangatku berkobar setelah duduk menyandar di pohon ini. Seolah sang pohon memberikan energinya untukku. Ya, apapun itu aku tidak boleh menyerah begitu saja. Ceritaku masih panjang untuk ditamati.
Semangat!!!