Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Forget Them


__ADS_3

"Hei! Sedang apa kau di sini?!"


Tak ada angin, tak ada hujan, pria ini sepertinya tidak suka dengan kehadiranku. Dia bertolak pinggang sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sangat tidak sopan sekali.


"Salam, Pangeran Shu. Senang bisa bertemu kembali denganmu."


Aku berdiri, membungkukkan badan sambil meletakkan tangan kanan di dada. Aku masih berusaha sopan padanya, walaupun kata-katanya itu menjengkelkan sekali.


"Sudah basa-basinya. Aku hanya bertanya mengapa kau ada di sini?!" katanya lagi dengan roman wajah yang jutek.


Astaga. Dia ternyata memang menyebalkan. Ara-ara, bisa ya ketemu pangeran sepertinya.


Aku menggerutu sendiri sambil memalingkan pandangan darinya. Pangeran yang satu ini ternyata lebih menyebalkan jika dibandingkan Rain pada awal pertemuan kami.


"Pangeran, saya datang ke sini atas permintaan pangeran Zu," jawabku masih santun.


"Kakakku yang memintamu? Hah! Itu tidak mungkin. Apa yang telah kau perbuat padanya sehingga dia bisa seperti itu?" tanyanya dengan intonasi mengejek.


Seketika emosiku jadi naik karena mendengar perkataannya. Darah ini seperti mendidih di dalam tubuhku.


Sepertinya aku harus memberinya pelajaran agar bisa lebih sopan kepada perempuan.


"Ya, mana aku tahu, Pangeran. Kenapa kau tidak menanyakannya sendiri. Punya mulut, kan?!" Aku bergantian mengejeknya.


"Kau!!"


Sepertinya dia marah padaku, tapi aku bersikap biasa saja. Sekali-kali tidak apa memberikan pelajaran kepada orang sombong. Ya, semoga saja dia tersadar akan kesombongannya itu.


Tak lama Zu pun datang menghampiri kami. Dia melihatku dan adiknya sedang bersitegang satu sama lain.


"Shu, ada apa?" tanyanya kepada Shu.


"Kakak, kau sudah kembali?" tanya si pria menyebalkan itu.


"Sudah. Awal siang aku baru sampai di kediaman. Kau sedang apa di sini?" Zu balik bertanya.


"Kakak, kenapa kau membawa gadis ini ke istana? Apa kau tahu itu hanya akan membebani kerajaan saja?" tanya Shu terus terang tanpa memedulikan perasaanku.


Hah?! Apa katanya?! Sontak aku terkejut dengan pernyataannya itu. Dia bilang aku membebani?! Astaga, apa aku terlalu banyak makan di sini?!


"Shu, aku yang membawanya ke sini. Tolong bersikap baik padanya. Dan jangan panggil dia dengan sebutan Ara. Panggil dia Dewi. Kau mengerti? tanya Zu kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Tapi, Kak—"


"Tak ada tapi. Aku hanya minta itu. Bisa, kan?" Zu menukik sang adik dengan perkataannya.


Sepertinya aku menang. Hahaha. Rasakan, Pangeran sombong!


"Mari, Dewi. Kita ke ruanganku."


Zu kemudian mengajak ku untuk ke ruangannya, aku pun mengikutinya dengan senang hati. Dan karena merasa senang dibela oleh Zu, aku menoleh sebentar ke belakang, melihat Shu di sana. Kujulurkan lidahku padanya, mengejek si pangeran sombong itu. Sontak saja dia bertambah kesal, kulihat kedua tangannya mengepal.


Kau belum tahu bagaimana pentingnya peran wanita, Pangeran. Jika kami sudah beraksi, apa yang tidak bisa kami lewati?


Aku menyeringai senang melihat Shu kesal sendiri. Bukannya senang di atas penderitaan orang lain, sih. Mungkin lebih tepatnya bahagia karena kesombongannya itu dibayar tunai oleh semesta.


"Dewi, kau bebas melakukan apa saja di sini. Lakukan sesukamu. Aku yang akan bertanggung jawab atasnya." Zu berbicara padaku.


"Eh, benarkah, Pangeran?" Aku tak percaya.


"Benar." Zu mengangguk. "Semua kendali istana di bawah perintahku. Selamat datang di istana kita, Sayang." Zu tersenyum ke arahku.


Pangeran ....


Seketika itu rasanya jantungku mau copot. Dia menyebutku dengan panggilan sayang. Aku jadi tersipu sendiri. Seandainya saja ada ember, mungkin akan kututupi wajahku ini menggunakannya. Aku tersipu malu dibuat Zu.


Hah! Ini tidak bisa dibiarkan! Bisa-bisanya kakak membawa gadis itu kemari. Apa tidak ada gadis lain yang bisa dibawa ke sini selain gadis itu?!


Shu kesal sendiri.


Hah, sial! Aku harus berbuat sesuatu agar dia tidak betah istana. Lihat saja nanti!


Shu tidak menginginkan Ara tinggal lebih lama di istana Asia. Ia tampak risih, entah mengapa. Sepertinya pangeran muda kerajaan Asia itu phobia perempuan. Mungkin saja, tak ada yang tahu, bukan?


Beberapa saat kemudian...


Aku kini sudah masuk ke ruang kerja Zu. Ruangannya luas sekali, mungkin ada dua kali ruangan Cloud. Meja kerjanya juga besar dan ada beberapa tumpuk buku di atasnya.


Ternyata negeri ini lebih besar dari negeri kedua pangeranku.


Aku mencoba melihat ke sekeliling. Ada satu set sofa merah di sini, mungkin sebagai tempat untuk duduk tamu. Dan juga lemari besar tempat meletakkan dokumen penting, yang bahkan lebih besar jika dibandingkan lemari di ruangan Cloud.


Benar-benar ruang kerja yang mewah.

__ADS_1


Uniknya, ada ruang kecil di balik lemari ini, sebagai tempat menyeduh kopi atau teh. Mungkin ruangan kecil ini berfungsi sebagai dapur jika Zu malas keluar meminta minuman.


"Ah ...."


Aku mencoba duduk di sofa merahnya. Begitu empuk hingga tak sadar aku menggenjotnya berulang kali.


"Kau merasa nyaman di sana?" Zu tertawa melihat tingkahku.


"Hm, ya. Lebih empuk dari sofa punya Angkasa," kataku menanggapi.


Tiba-tiba saja roman wajah Zu berubah saat aku menyebut negeri kedua pangeranku. Dia lantas duduk di kursi kerjanya, tidak lagi tertawa.


Errr ... sepertinya aku membuat kesalahan.


Lantas aku berdiri, mendekatinya. Aku merasa telah salah ucap tadi.


"Pangeran." Aku ambil kursi lalu duduk di samping kirinya.


"Nona, maaf."


"Maaf?"


"Mungkin kau menyadarinya." Dia menatapku.


"Pangeran ...."


"Nona." Dia memegang tanganku. "Bisakah kau melupakan Angkasa?"


"Hah? Pangeran?!"


"Bisakah kau melupakannya untukku?" tanyanya lagi.


Entah mengapa aku merasa jika Zu mulai menuntutku untuk melupakan negeri itu. Lebih tepatnya dia tidak ingin aku mengingat Rain dan Cloud kembali. Aku bisa mengerti akan maksudnya. Tapi lagi-lagi aku merasa ini terlalu cepat bagiku. Kebersamaan sejak pertemuan pertama dengannya masih belum lama, baru sekitar dua minggu.


"Pangeran, aku—"


"Aku tahu, Nona. Tapi aku ingin kita memulai kehidupan yang baru. Bisa, kan?" tanyanya menyela.


Aku menunduk. Tidak mampu menatap kedua matanya yang menuju ke arahku. Sorot matanya itu jika lama-lama dilihat bisa jatuh ke dalam angan yang semu. Dan aku masih menjaga hal itu. Aku tidak ingin cepat berpindah hati karena terpaksa, aku tidak ingin menyakitinya.


"Pangeran, pelan-pelan saja, ya? Aku butuh waktu, biarkan semua mengalir begitu saja. Toh, aku di sini bersamamu." Aku mencoba menguatkan hatinya.

__ADS_1


Zu akhirnya dapat tersenyum. Tapi tetap saja roman wajahnya tidak bisa membohongiku. Aku jadi punya ide untuk menghiburnya. Ya, walaupun sedikit berlebihan. Tapi tak apa, kucoba saja. Tak ada salahnya membahagiakan orang lain karena suatu saat kebahagiaan itu akan kembali padaku.


__ADS_2