Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Reject Me


__ADS_3

Malam harinya...


Aku berdiri seorang diri di teras atap kediaman Rain. Kukenakan gaun ungu yang panjang dan tertutup hingga semata kaki. Sedang rambut kubiarkan tergerai, terkena sapuan angin malam.


Aku sedang menunggu seseorang datang malam ini. Seseorang yang begitu kurindukan namun belum juga ada kabar kepastian.


Rain ... apa kau baik-baik saja di sana?


Semalam adalah waktu yang menegangkan bagiku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengalami hal seperti itu. Untungnya saja Tetua Agung ikut hadir membantu dan mengarahkanku. Jika tidak, mungkin bukan hanya rambutku saja yang terpotong, terkena sabetan pedang wanita gagak itu.


Aku selalu mencoba bersyukur dalam setiap situasi maupun kondisi, dan mengambil hikmah atas apa yang terjadi. Walau sejujurnya hati ini ingin sekali menjerit, berteriak sekencang mungkin, mengapa harus aku yang mengalami semua ini? Belum lagi perseteruan yang akan terjadi jika aku memilih salah satu dari kedua pangeran Angkasa.


Rain ... cepatlah kembali. Aku rindu.


Tidak dapat kupungkiri jika hati ini lebih condong ke pangeran mesum itu ketimbang Cloud yang bersahaja dan kalem. Mungkin karena di depan Rain aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus malu sedikitpun. Dia memang begitu terbuka hingga ke hal-hal sensitif lainnya. Dan kini aku amat merindukannya.


Andai aku bisa melihatnya sedang apa ...?


Kerinduan ini membawaku ke dalam rasa cemas yang tak menentu. Terakhir aku melihatnya berperang, menuju ke seorang pria bermahkota. Seperti ingin mengakhiri riwayat pria itu. Entahlah, yang jelas aku ingin sekali bertemu dengannya saat ini.


"Ara ...."


Tiba-tiba kudengar suara Cloud dan langkah kaki yang kian mendekat ke arahku. Aku pun menoleh, melihat siapa gerangan yang datang. Dan ternyata memang benar adalah Cloud. Dia masih mengenakan pakaian pangerannya, lengkap dengan atribut kerajaan.


"Cloud?"


Aku kaget melihat kehadirannya di teras atap kediaman Rain ini. Tidak biasanya dia kemari jika tidak ada hal penting. Atau mungkin ada sesuatu kabar penting yang dia ingin sampaikan kepadaku.


"Kau belum tidur, Ara?" tanyanya lembut.


"Em, belum. Aku baru saja selesai makan malam," jawabku seraya tersenyum.


Cloud berdiri di sisi kiriku. Kedua tangannya pun sama sepertiku memegang pagar teras atap ini. Kami melihat pemandangan istana dari atas. Masih tampak ramai para penjaga yang lalu lalang.


"Kau pasti sedang menunggu kedatangannya, bukan?" tanyanya yang membuatku tersentak.

__ADS_1


"Cloud ...?" Kulihat dia tersenyum.


"Rain telah menitipkanmu padaku, Ara. Apa kau tidak percaya jika aku bisa menjagamu?" tanyanya yang seperti menyudutkanku.


"Cloud, aku tidak bermaksud seperti itu," jawabku jujur.


"Hah ...." Dia mengembuskan napasnya, terdengar berat sekali. "Dia belum bisa kembali ke istana. Masih ada urusan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu." Dia kemudian mengabarkan padaku.


"Apakah dia baik-baik saja?" tanyaku seraya terus menatapnya.


"Ya. Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Ara." Dia tersenyum, namun seperti terpaksa.


Cloud ....


Aku tahu jika pertanyaan tentang Rain ini akan menyakiti hatinya. Tapi, aku tidak bisa menahan untuk menanyakan kabar Rain. Kepada siapa lagi aku harus bertanya selain kepada Cloud, kakaknya sendiri.


"Besok aku masih libur. Mungkin kau ingin berjalan-jalan denganku," tuturnya kemudian.


Seketika aku seperti tidak dapat berpikir, jawaban apa yang harus kuberikan padanya? Pikiranku tiba-tiba kosong begitu saja, bingung untuk menjawabnya.


"Cloud, aku ...."


"Kau ingin menolak ajakan ini?" tanyanya langsung.


Astaga, aku jadi bingung menanggapinya.


"Ara, aku ingin meluruskan hubungan ini. Aku harap kau mau pergi bersamaku ke danau besok. Keadaan istana sudah mulai kondusif. Dan peperangan di selatan juga sudah berakhir. Tolong jangan tolak ajakan ku ini." Cloud berharap penuh padaku.


Cloud ....


Sungguh aku bingung harus menjawab apa, serasa tidak mendapatkan jawaban dari otakku. Rasanya aku ingin menolak ajakannya. Tapi, kulihat Cloud amat bersungguh-sungguh. Aku jadi pusing, benar-benar pusing kala situasi sudah seperti ini.


"Cloud, aku masih harus beristirahat." Aku mencari alasan.


"Hm, baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi." Dia tiba-tiba beranjak meninggalkanku.

__ADS_1


Cloud ....


Aku tidak tahu harus bagaimana. Haruskah aku menahan atau membiarkannya pergi begitu saja? Tapi kulihat tadi matanya memerah seperti menahan kesedihan.


Ya Tuhan ... aku harus bagaimana?


Ara diselimuti dilema akan hatinya. Ia bingung harus mengambil langkah apa. Sang pangeran amat bersungguh-sungguh ingin mengajaknya berlibur di danau esok hari, namun Ara menolaknya. Seketika itu juga hati Cloud seperti patah tiada berbentuk. Ia menahan tangis atas penolakan Ara terhadap dirinya. Ia pun bergegas meninggalkan Ara sambil menahan luka yang mulai merasuki jiwanya.


Ara ... jadi aku harus benar-benar mengalah kepada keadaan?


Saat menuruni anak tangga menuju lantai dua kediaman Rain, air matanya tak mampu terbendung lagi. Cloud akhirnya meneteskan air mata kesedihannya. Sedih karena mendapat penolakan dari gadis yang amat dicintai.


Sementara di Asia...


Shu dan Zu sedang berdiskusi mengenai permasalahan yang terjadi di dalam istana. Sang raja pun tampak terkejut dengan hasil penemuan kedua putranya. Kini ketiganya sedang mengobrol di ruang kerja Shu.


"Ayah, apa yang Dewi katakan waktu itu memang benar adanya. Dari penyebab penyakit Ayah dan kecurigaannya terhadap ibu suri. Ayah, apa yang akan Ayah lakukan setelah mengetahui hal ini?" Zu bertanya kepada ayahnya dengan sopan.


"Sejak sore tadi aku sudah ingin memberi hukuman kepada ibu ratu. Tapi Kakak selalu menahanku. Sekarang aku menunggu keputusan Ayah." Shu ikut menimpali.


Temuan-temuan tim yang dibentuk oleh kedua putra mahkota kerajaan Asia itu benar-benar membuat sang raja terperanjat kaget. Ia tidak menyangka jika istrinya sendiri telah banyak bermain kotor di dalam istana. Padahal ia amat mempercayai istrinya.


"Ayah amat terkejut dengan penemuan kalian. Tapi, sekarang dia sudah menjadi istri ayah, Nak. Apakah ayah harus menghukumnya?" Raja tampak kasihan.


"Ayah, penyebab tentang kematian ibu pun kami tidak mengetahuinya dengan jelas. Pihak istana hanya menjelaskan jika ibu menderita penyakit akut waktu itu. Aku amat curiga jika hal ini ada kaitannya dengan ibu suri." Zu curiga dengan ibu tirinya.


"Benar, Kak. Jika benar dia yang meracuni ibu, maka aku tidak akan segan memberikannya kepada singa-singaku." Shu amat kesal.


Entah apa yang ada di dalam pikiran raja, namun sepertinya sang raja menaruh rasa iba begitu besar kepada ratu, ketimbang dirinya sendiri. Hal ini pun segera disadari oleh Zu dan Shu. Keduanya segera mendesak ayahnya untuk mengadili ibu tirinya itu.


"Baik. Akan ayah pikirkan matang-matang hal ini. Untuk sekarang biarkan ratu bergerak bebas seperti biasanya. Ayah akan memberi keputusan secepatnya." Raja meyakinkan kedua putranya.


Dan akhirnya baik Zu maupun Shu bisa bernapas lega karena sang ayah mempercayai semua temuan tim khususnya. Kini tinggal mencari cara agar dapat membawa Ara kembali ke istana.


Ara, tunggulah aku. Aku akan menjemputmu setelah masalah ini selesai. Zu berjanji di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2