
Acara masih diteruskan, tapi Moon memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia tampak kesal malam ini. Meja riasnya itu ia gebrak sendiri.
"Aku semakin kesal melihat putraku dekat dengan gadis itu. Aku tidak dapat menahannya lebih lama. Aku harus berbuat sesuatu. Gadis itu tidak baik jika berlama-lama di istana ini."
Moon kesal dengan pemandangan yang dilihatnya tadi. Bisa-bisanya Cloud mencium gadis itu di hadapannya. Ia merasa Cloud tidak lagi menghargainya sebagai seorang ibu.
"Pelayan!" Moon lantas memanggil pelayannya.
"Ya, Yang Mulia."
"Panggilkan aku satu orang pasukan khusus istana. Cepat!" Moon meminta segera.
"Baik, Yang Mulia." Pelayan itupun bergegas pergi.
Moon dihantui perkataan Andelin. Ia diliputi kekhawatiran jika Ara semakin lama tinggal di istana ini. Dan tanpa berpikir panjang, Moon bertindak. Ia meminta pelayannya untuk memanggilkan satu orang pasukan khusus.
Sementara itu...
Di ruang utama istana tampak sedang beristirahat sejenak. Mereka dipersilakan untuk mencicipi cemilan yang disajikan. Waktu pun terus beranjak memasuki malam. Tampak Ara yang sedang bersiap-siap untuk menunjukkan kemampuan selanjutnya. Ia akan bernyanyi sambil bermain gitar sebentar lagi.
"Sepertinya gaun ini cocok." Ara mengambil gaun sebatas lutut yang berwarna hijau.
"Kau ingin kuhukum?" tanya seseorang dari arah belakangnya.
"Rain? Kenapa kau di sini?" Ara tampak bingung melihat Rain yang tiba-tiba ada.
"Terserah aku mau di mana," jawab Rain dengan sombongnya.
"Perasaan tadi kita berpisah saat masuk di ruang utama. Dan bukannya kau sedang berbincang bersama sepupumu, ya?" Ara tampak mengingat.
"Dia tidak menarik. Di sini lebih menarik perhatianku."
"Ish, apaan sih!" Ara menyeringai.
"Pakai gaun yang panjang. Aku tidak ingin betismu terlihat oleh pangeran-pangeran itu." Rain berjalan mendekati Ara.
Dia ini tidak bisa memberiku ruang untuk bergerak sama sekali. Karena mimpi itu Rain berubah menjadi over protektif seperti ini.
"Jika ingin mengenakan pakaian yang terbuka, di kamarku saja." Rain kemudian berbisik di telinga gadisnya.
"Rain!"
Sontak Ara kesal mendengarnya. Ia ingin sekali mencubit pangerannya itu. Namun, Rain begitu cepat melarikan diri darinya.
__ADS_1
"Awas, ya!" Ara tampak kesal dengan ulah Rain yang selalu saja menggodanya.
Dia sama sekali tidak malu bersikap seperti itu di hadapan orang banyak. Hah, dasar hujan.
Ara lantas tidak jadi mengambil gaun yang pendek. Ia mengambil gaun yang panjang. Gaun berwarna merah dengan bagian bahu terbuka, tetapi tetap berlengan.
"Pakai yang ini saja."
Gaun merah itu tampak berkelap-kelip saat terkena sinar lampu. Pernak-pernik menghiasi di bagian dadanya. Ara lalu meminta penata rias untuk menata ulang rambutnya. Ia menginginkan rambut yang lurus malam ini.
"Ini hanya bertahan sementara saja, Nona," kata sang penata rambut.
"Iya, tidak apa. Tapi bisa sampai satu jam, kan?" tanya Ara memastikan.
"Bisa, Nona. Nanti dijepit saja bagian kanannya. Biar terlihat lebih rapi." Penata rambut itu memberikan saran.
"Baiklah." Ara pun menyetujui.
Ara lantas meluruskan rambutnya, menjepit bagian sisi kanan rambutnya dengan jepit mungil bercorak permata buatan. Ia lalu mencoba nada sebelum masuk ke dalam ruang utama istana. Ia akan bernyanyi solo malam ini.
Sementara di ruang utama...
Shu mendekati Zu yang tampak kurang bersemangat. Ia kemudian memberi kue khas kerajaan ini, kue bulan kepada kakaknya.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah masam, Kak? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Shu seraya memberikan kue itu.
"Hah, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihatmu diam saja seperti ini, aku jadi berpikiran yang tidak-tidak."
Zu masih diam.
"Kau patah hati, ya?" Shu menebak langsung.
"Kau tahu apa, Shu?" Zu akhirnya menanggapi adiknya.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi padamu. Tidak biasanya aku melihatmu semuram ini." Shu mengungkapkan.
Zu hanya diam. Ia lantas mengambil segelas air dari atas meja hidangan dan meneguknya habis.
Mungkin karena gadis itu dia bisa seperti ini. Cinta itu memang sialan! Bisanya mengganggu saja.
Shu menggerutu dalam hatinya.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" tanya Shu kemudian.
__ADS_1
"Kau ingin membantuku?"
"Ya, tentu saja. Kau kan kakakku. Mungkin ada yang bisa kulakukan agar tidak melihat wajahmu yang masam ini."
Zu segera berpikir hal apa yang bisa dilakukan sang adik untuknya. Ia lalu menemukan sebuah ide.
"Kau gantikan aku di sini, bisa?" tanya Zu kemudian.
"Gantikan? Maksudmu?" Shu bingung.
"Ada sesuatu yang ingin kucari tahu sendiri. Nanti kau tetaplah berada di sini. Biarkan aku menemukan apa yang kucari." Zu menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti." Shu tampak memahami isyarat kakaknya.
Zu akhirnya bisa tersenyum.
Count dan Shane kembali membawakan acara. Keduanya meminta para hadirin untuk kembali duduk di tempatnya masing-masing. Sesi istirahat telah selesai dilakukan.
"Baiklah, Hadirin. Acara selanjutnya adalah persembahan spesial dari seseorang yang telah bekerja keras untuk acara ini. Mari kita sambut ... Nona Ara!" Count mempersilakan.
Ara pun masuk ke dalam ruang utama istana. Ia membungkukkan badan, memberi hormat, kemudian duduk di pinggir panggung ditemani satu orang gitaris band Mozart. Ara pun memegang gitar.
Nona itu ... dia akan bermain gitar juga?
Tiba-tiba roman wajah Zu berubah, sesaat setelah melihat Ara duduk di tepi panggung sambil memegang gitar. Gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya. Ia mengenakan gaun merah dengan polesan make up yang lebih berani. Bahunya pun terlihat jelas yang hampir-hampir membuat Rain beranjak mendekatinya. Namun, untung saja Star segera menahannya.
"Nona Ara adalah perancang busana pada acara malam ini. Dia seorang gadis yang memiliki bakat luar biasa." Shane menyanjung Ara.
Ara tersipu, ia merendahkan kepalanya ke arah para tamu undangan.
"Baiklah, segera saja kita saksikan bersama penampilan Nona Ara. Ini dia!" Count melanjutkan.
Para hadirin terlihat bertepuk tangan. Mereka memberi apresiasi atas bakat yang ditampilkan Ara malam ini. Gadis itu kemudian melakukan sambutan sebelum menyanyikan sebuah lagu.
"Selamat malam. Kali ini izinkan saya untuk membawakan sebuah lagu yang sangat berarti. All That I Need."
Ara akan membawakan lagu All That I Need secara akustik bersama seorang gitaris band Mozart. Ia akan bernyanyi dalam tempo yang lebih lambat, setelah melodi intro lagu dimainkan sebanyak dua kali.
Penampilannya begitu mencuri perhatian tamu undangan. Terlebih gadis itu terlihat lebih berani saat ini.
Ara, lama-lama aku bisa gila melihatmu.
Dari teras lantai dua, Cloud melihat Ara sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia kemudian meminta izin sang ayah untuk turun ke lantai dasar. Ia ingin melihat penampilan Ara dari jarak yang lebih dekat.
__ADS_1
Aku akan segera meminangmu, Ara. Tunggu aku di altar pelaminan.
Cloud menuruni anak tangga sebelah kanan. Ia meminta izin kepada para pangeran yang sedang duduk agar dapat melewatinya. Dan lantas sang putra mahkota itu duduk di anak tangga paling bawah. Ia duduk bersama para pangeran yang lainnya.