Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Beauty Girl


__ADS_3

Keesokan harinya...


Suara ayam jantan menyadarkanku. Perlahan kubuka kedua mata ini dan melihat sinar mentari yang masuk melalui ventilasi kamarku. Alunan merdu siul burung pun ikut membangunkanku dari alam mimpi yang indah.


"Sepertinya aku kesiangan."


Segera saja aku beranjak bangun. Mencoba meregangkan otot-otot tubuh dengan merentangkan kedua tangan ke atas. Kulihat tubuhku masih mengenakan gaun semalam.


"Cloud tidak membangunkanku?"


Kuambil sandal lalu bergegas mandi. Kurasakan sejuknya air seraya membersihkan tubuhku. Kunikmati, hingga akhirnya kesegaran kudapatkan.


"Hah ... segarnya."


Aku segera masuk ke ruang ganti selepas mandi. Kuambil satu dari tiga gaun yang masih tersisa. Gaun pemberian dari Cloud.


"Warnanya unik."


Aku coba mengenakan gaun berwarna cokelat muda ini. Gaun dengan bagian bahu yang terbuka hingga perbatasan lengan dengan panjang sampai mata kaki.


"Sepatu warna apa, ya?"


Aku sedikit bingung saat memilih warna sepatu yang pas untuk dikombinasikan dengan gaun ini. Untungnya aku mempunyai sepatu berwarna krim. Sehingga masih cocok jika dikombinasikan dengan warna gaunku.


Seperti biasa, sapuan make-up minimalis menjadi andalanku. Dengan beberapa semprotan parfum kesukaan, aku siap menjalani hari di istana ini. Tak lupa kugunakan mahkota kecil yang diberikan oleh raja. Dan juga rambut yang kubiarkan tergerai karena masih basah.


"Mungkin langsung ke ruangan bibi Rum saja."


Hari ini aku mempunyai janji temu dengan Bibi Rum, untuk bertemu dengan para pelayan remaja yang dimiliki istana ini. Langkah kakiku sedikit cepat agar mereka tidak menungguku. Namun ternyata, Bibi Rum sedang tidak berada di tempat. Dia hanya meninggalkan pesan jika yang kuminta akan menungguku di depan gazebo istana.


"Baiklah, aku ke gazebo saja."


Segera kulangkahkan kaki menuju gazebo melewati ruang utama kerajaan. Kulihat para pelayan istana sedang sibuk membersihkan ruang utama dari debu dan kotoran. Mereka membungkukkan badan saat melihat kehadiranku.


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


"Terima kasih. Salam bahagia untuk kalian."


Aku menebarkan senyuman, memberi semangat kepada para pelayan yang sedang menjalankan tugas. Lalu kembali meneruskan langkah kaki menuju gazebo. Kulihat dari kejauhan, ternyata sudah banyak yang menungguku.


"Selamat pagi," sapaku kepada para pelayan yang masih terbilang remaja ini.


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


"Salam bahagia untuk kalian."

__ADS_1


Segera aku mendekati mereka seraya tersenyum ceria. Kulihat ada sepuluh pelayan remaja yang sudah berkumpul di depan gazebo istana.


"Baiklah. Kalian sudah tahu mengapa aku meminta kalian ke sini?" tanyaku mengawali.


Mereka saling melirik satu sama lain. Sepertinya mereka masih segan kepadaku.


"Maaf, Nona. Sebenarnya kami tidak bisa menari. Apakah kami masih bisa ikut berpartisipasi dalam pertunjukan nanti?" tanya salah satu pelayan, dia terlihat lebih senior dibandingkan yang lain.


Akupun tersenyum. "Bisa. Kalian pasti bisa. Yakinlah jika kalian mampu melakukannya. Aku sendiri yang akan membantu. Jadi ... mari kita mulai permainan ini."


Aku mencoba menyingkirkan kesenjangan yang ada. Kuminta kepada mereka satu per satu untuk memperkenalkan diri. Setelahnya, aku mulai mengajak mereka ke tempat yang sedikit jauh dari gazebo istana. Tepatnya lebih ke sudut halaman istana ini.


"Baiklah. Sepertinya rumputnya bersih. Kalian bisa melepas alas kaki lalu ikuti gerakan yang aku lakukan."


Aku memulai hari dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Mirip seperti yoga, tapi lebih banyak ke gerakan dibanding olah pernapasannya. Tampak mereka mengikutiku.


Mereka cepat mengerti.


Setelah pemanasan, aku memulai gerakan untuk bait pertama lagu. Namun, karena tidak membawa ponsel, aku menandakannya dengan hitungan angka. Mereka pun mengerti dengan arahanku.


"Luar biasa! Sekarang ulangi lagi gerakan tadi."


Mungkin karena usia mereka masih terbilang belia, daya ingat mereka begitu kuat. Aku jadi tidak terlalu sulit untuk mengajari mereka menari.


Aku bertepuk tangan, memberi apresiasi kepada para pelayan yang sudah hapal dengan gerakan pada bait pertama lagu. Mereka pun terlihat senang dengan apresiasi yang kuberikan. Tampak semangat semakin berkobar di wajah-wajah belia mereka.


"Sekarang gerakan kedua. Bagian penanjakan lagu."


Aku mulai mengajari gerakan bagian pertengahan bait lagu. Tepatnya di interloude, di lirik yang mengalami penanjakan. Dengan segera, aku meminta mereka mengikutinya.


Tanpa membutuhkan waktu lama, mereka pun segera hapal tarian bagian kedua ini. Tapi, saat aku meminta mengulangnya dari awal, mereka lupa beberapa gerakan.


"Tak apa. Kita coba lagi."


Kulihat mereka berkecil hati. Dan dengan segera kupacu kembali semangat mereka. Kuulang lagi gerakan dari awal hingga akhir. Dan akhirnya, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Mereka mampu menghapal semua gerakanku.


"Baiklah, tinggal satu bagian gerakan lagi. Yaitu bagian inti lagu. Tapi untuk sementara, kita sudahi dulu latihan ini. Aku ingin mengukur tubuh kalian," kataku pada mereka.


"Apakah Nona ingin membuatkan kami baju untuk menari?" tanya Ely salah satu dari pelayan remaja.


"Ya, nanti kalian akan mengenakan baju tersendiri," jawabku lalu mulai mengira ukuran tubuh mereka.


"Terima kasih, Nona. Kami sungguh senang sekali," kata salah satu pelayan.


"Terima kasih, Nona Ara." Pelayan yang lain mengikuti.

__ADS_1


Aku jadi tertawa melihat kekompakan mereka. Aku pun tersenyum menanggapinya. Tanpa menyadari jika pangeran kesayanganku melihat dari kejauhan.


"Baiklah. Nanti malam kalian ke teras kamarku, ya. Kita akan berlatih langsung menggunakan lagunya." Aku menutup latihan hari ini.


"Baik, Nona."


Mereka pun berpamitan kepadaku lalu bergegas pergi. Kulihat raut riang gembira dari wajah pelayan-pelayan itu.


Senangnya bisa membuat orang lain bahagia.


Akupun tersenyum. Bersamaan dengan itu, Rain berjalan mendekatiku. Pria berjubah merah datang membawa senyuman termanisnya di pagi ini.


Tubuhnya tegak sempurna dengan atribut kerajaan lengkap. Wajahnya memang tidak setampan kakaknya. Tapi Rain memiliki kewibawaan yang begitu besar. Di sisi lain, dia begitu memahamiku. Sepertinya dia tahu benar akan kebutuhanku.


Rain, di mataku kau begitu perkasa.


Aku tersenyum membalas senyumannya. Semakin lama, jarak kami pun semakin dekat. Dia datang seperti membawa sesuatu. Kedua tangannya bersembunyi di belakang.


Kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku, Rain ...?


Kadang aku kesal dengannya. Kadang juga aku merindukannya. Rasa sayangku ini begitu besar. Dialah pria pertama yang berhasil membuatku menyerahkan ciuman pertama. Dengan sejuta kata rayu dan mesumnya itu.


"Selamat pagi, Nona Ara," katanya saat tiba di hadapanku.


"Nona?" Akupun kaget mendengar sebutan nona untukku.


"Em, baiklah. Selamat pagi calon istriku," katanya seraya membungkukkan badan.


"Rain, kau ini ...."


Aku tersipu mendengar sapaannya. Rain kemudian menyerahkan sesuatu kepadaku.


"Bunga mawar?"


"Ya, hanya ini yang bisa kuberikan selain hati dan ragaku padamu."


"Rain, jangan membuatku menelan bunga ini!"


Rain semakin mempermainkan hatiku dengan kata-kata romantisnya itu. Dia pun melebarkan kedua tangannya.


"Peluk aku, Ara." Dia memintaku untuk memeluknya.


"Dasar!"


Dengan segera aku mendekatinya, memeluknya erat dengan kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2