Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Go My Way!


__ADS_3

Esok harinya...


Tenangaku sudah pulih. Semangatku mulai berkobar. Sejak fajar, aku sudah mempersiapkan materi untuk kupaparkan di depan Cloud.


Setelah mandi, kukenakan gaun berwarna merah dan make-up yang sedikit mencolok. Aku terpaksa mengenakan gaun merah ini karena tinggal warna merah, hitam dan putih yang ada di dalam lemari. Gaunku yang lain sepertinya masih bermain di ruang cuci. Setelah bersiap diri, segera kulangkahkan kaki menuju ruangan Cloud.


Saat tiba di depan pintu ruangannya, aku melihat seorang pelayan ingin mengantarkan teh kepada Cloud. Aku segera memintanya agar aku saja yang mengantarkannya ke dalam. Pelayan itu menolak halus tapi aku memaksa, dia akhirnya tidak enak hati kepadaku. Aku memastikan jika semuanya akan baik-baik saja, tidak ada hukuman baginya karena hal ini aku yang menginginkannya sendiri.


Setelah pelayan memberikannya kepadaku, kuketuk pintu ruangan Cloud dua kali. Terdengar suara mengizinkan masuk dari dalam. Aku pun segera masuk.


"Ara?!"


Cloud terkejut saat melihatku masuk. Sepertinya bukan karena teh yang kubawakan tapi karena penampilanku. Penampilanku pagi ini lebih berani. Gaun yang kupakai tidak menutup lengan atasku dan sedikit terbuka di bagian dada hingga belahan dadaku terlihat.


Cloud melihatku dengan ragu. Namun sepertinya, aku harus bersikap lebih luwes lagi. Aku tidak mau berharap, aku harus bangkit dari harapan semuku. Kembali fokus pada tujuan utamaku ke sini, walaupun dengan mengabaikan perasaanku.


"Selamat pagi, Pangeran Cloud. Ini kubawakan teh hangat untukmu." Aku meletakkan teh itu di atas meja kerjanya.


"Aku yang menginginkan untuk mengantarkannya kepadamu. Jadi tolong jangan salahkan pelayan," lanjutku lalu kemudian menarik kursi untuk duduk di depannya.


Aku kemudian menyerahkan berkas berwarna biru kepadanya. Cloud tampak bingung dengan sikapku sekarang.


"Kau sudah menyelesaikannya, Ara?" tanya Cloud sedikit terbata.


"Anda bisa mengeceknya, Pangeran," jawabku segera.


Sikap formalitasku membuat Cloud tidak enak hati. Hal itu tersirat dari wajahnya yang berkerut, menandakan kebimbangan.


"Sketsamu lumayan."


Cloud memujiku. Tapi maaf, untuk kali ini aku tidak akan terbawa dengan apapun yang diucapkannya. Aku tidak ingin berharap semu lagi.


"Terima kasih, Pangeran. Sungguh kemuliaan bagi saya mendapat pujian dari Anda."


Cloud tiba-tiba berhenti melihat-lihat hasil sketsaku. Dia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu dan aku hanya membalas tatapannya dengan senyum tipis. Bibir merah meronaku sepertinya dapat menutupi perasaanku yang sesungguhnya.


"Ara ...."


Cloud ingin memegang tangan kananku, tapi segera kualihkan. Aku kemudian menjelaskan kepadanya pendapat dan saranku mengenai pekerjaan di berkas biru. Wajah Cloud tersirat lirih, namun seolah aku tidak melihatnya. Walau kutahu saat ini hanya memposisikan diri dan menjaga hatiku dari angan-angan kosong.

__ADS_1


"Mohon bantuannya, Pangeran. Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda tanyakan, saya permisi."


Aku bangkit dari tempat dudukku. Tidak ingin lebih lama berada di ruangannya. Cloud pun seperti ingin menahan kepergianku, tapi bersamaan dengan itu Rain masuk ke dalam ruangan.


Dia lagi?!


Segera saja aku membungkuk sedikit, memberi hormat kepada Rain lalu segera keluar dari ruangan Cloud.


Aku harus cepat! Cepat!


Rain tampak memperhatikanku. Entah apa yang ada di pikirannya saat melihat penampilanku hari ini. Aku tidak peduli. Aku hanya perlu menghindar darinya saja. Dan tetap  bersikap profesional dalam pekerjaan.


Satu jam kemudian...


Kini aku sudah berada di luar istana. Kuamati pepohonan di luar istana. Aku bersama Mbok Asri duduk bercengkrama sambil bercerita tentang pengalamannya selama menjadi pelayan di istana ini. Banyak pelajaran yang dapat kupetik dari kisahnya, dan rasanya aku ingin lebih mengenal jauh tentang kerajaan ini.


"Nona Ara, saya permisi."


Mbok Asri tiba-tiba izin pamit kepadaku. Aku tidak tahu kenapa, mendadak sekali. Saat aku menoleh ke belakang barulah kusadari penyebabnya.


Kenapa harus dia lagi?!


Aku melihat Rain berjalan cepat mendekatiku. Tatapannya begitu tajam seakan siap menerkamku.


Semakin dekat dirinya denganku, semakin berdebar kencang detak jantungku. Aku bingung harus berbuat apa. Mungkin lebih baik aku pasrah saja.


Aku bangun dari dudukku sambil memejamkan mata, tidak ingin melihat apa yang akan dia lakukan padaku. Aku tersudut, dan mulai memundurkan langkah kaki ke belakang. Dan dia pun semakin mendekat...


"Nona?"


"...."


"Kau kenapa?"


Hah? Apa?!


Mendengar pertanyaan itu membuatku membuka kedua mata. Ternyata Rain tidak melakukan apapun. Dia hanya bertanya biasa saja dan aku malah mendengar kekehan kecil keluar dari mulutnya.


Astaga. Apa yang telah aku lakukan? Memalukan sekali.

__ADS_1


Wajahku merah padam, aku malu. Aku segera berjalan meninggalkannya. Ingin rasanya menutupi kepalaku ini dengan ember. Pikiranku sudah berpikir yang tidak-tidak, tapi nyatanya semua baik-baik saja.


Kenapa aku ini? Kenapa aku begini?


Aku kesal dengan diriku sendiri. Berulang kali Rain telah membuatku kesal. Dan yang terakhir kali ini membuatku sangat malu.


Sebenarnya, apa maunya?


"Hei, Nona!"


Dia memanggilku. Langkah kakiku seolah mematuhi panggilannya. Aku berhenti berjalan bersamaan dengan terdengar langkah kakinya mendekatiku.


"Jangan membuatku penasaran, Nona."


Dia memutariku, lalu menatapku lebih dalam. Bola mata biru gelapnya seakan mencengkeram tubuhku hingga tidak dapat bergerak.


"Siapa namamu? Bolehkah aku mengetahuinya langsung?"


Rain ternyata ingin menanyakan namaku. Tidak bisa kubayangkan sikapku tadi yang mengiranya akan berbuat sesuatu kepadaku, yang ternyata ... dia hanya ingin menanyakan namaku saja.


"Kenapa diam? Apa kau masih teringat dengan kejadian di kolam air panas kemarin?" tanyanya lagi.


Aku tersentak mendengarnya. Kucoba menarik napas dalam-dalam agar dapat menahan emosi yang membumbung tinggi. Namun, Rain sepertinya terlihat senang mempermainkan perasaan ini.


Aku segera pergi meninggalkannya. Tak peduli atas apa yang dia tanyakan kepadaku. Sesaat setelah berjalan beberapa langkah, aku menoleh ke belakang untuk melihatnya sebentar, dan ternyata dia tengah tersenyum-senyum sendiri.


Ini memalukan!


Aku begitu malu dibuatnya. Rasanya aku harus memberinya pelajaran agar dia bisa lebih menghargai orang lain.


Lihat saja nanti! batinku berjanji.


Beberapa jam kemudian...


Jam kerjaku telah berakhir. Kini aku dapat bersantai sambil menikmati secangkir teh hijau di teras kamar. Seorang pelayan tak lama datang dan memberikanku setangkai bunga mawar merah yang segar. Kuhirup aroma bunga mawar merah yang menggoda. Namun, aku terkejut saat mengetahui siapa pengirim dari bunga mawar merah ini.


Rain?!!


Sontak kubuang bunga mawar itu ke lantai. Kupikir Cloud lah yang mengirimkan bunga mawar ini, namun ternyata aku salah. Lagi-lagi Rain. Dia seperti menghantuiku.

__ADS_1


Kenapa harus dia terus, sih?! gerutuku dalam hati.


Karena khawatir ketahuan, kuambil saja bunga mawar pemberiannya lalu kuletakkan ke dalam pot bunga yang berada di atas meja teras. Aku kemudian masuk ke dalam kamarku untuk menyegarkan diri dari lelahnya aktivitas hari ini.


__ADS_2