Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Wife of Two Princes


__ADS_3

Di lantai tiga istana...


Rain bersama Star masuk ke dalam ruang keluarga kerajaan. Di sana mereka menemui sang raja yang sedang membaca-baca surat masuk hari ini. Rain pun segera menghadap ayahnya.


"Ayah." Si bungsu menyapa ayahnya.


"Rain? Kau sudah kembali?" tanya Sky sambil meletakkan surat yang ia baca.


"Hm, ya. Apakah ibu sudah tidur?" Rain ingin melihat ibunya.


"Duduklah, Nak." Sky meminta kepada putranya agar duduk.


"Paman, keadaan sepertinya sudah aman." Star ikut duduk di kursi ruang keluarga kerajaan.


"Ya, aku berharap seperti itu." Sky lalu menuangkan kopi untuk keduanya. Star pun segera membantu.


Ruang keluarga kerajaan ini begitu luas dengan berbagai perabotan cantik menghiasi. Sofa besar yang disusun sedemikian rupa, memungkinkan obrolan menjadi lebih nyaman lagi.


"Aku dengar dari Star, ibu sudah pulih, Yah. Apakah itu benar?" tanya Rain kepada ayahnya.


"Hm, ya. Ibumu sudah pulih total. Dia sekarang seperti tidak pernah mengalami sakit."


"Benar, kah?" Rain tak percaya.


"Ayah dengar dari Cloud jika Ara yang bertarung dengan penyihir itu," kata Sky lagi.


"Apa?! Jadi benar ibu terkena sihir?!" Rain amat tak percaya.


"Ya. Ibumu memang terkena sihir. Dan kemungkinan besar sihir itu dikirim oleh pihak musuh."


"Apakah Land yang mengirimkannya?" Rain menarik kesimpulan.


"Ayah tidak tahu, Rain. Tapi semua sudah selesai. Ayah harap kita bisa memulai kehidupan yang baru." Sky tersenyum kecil.


"Benar, Paman. Aku setuju. Sepertinya kita bisa memulai kehidupan yang lebih baik lagi. Kejadian yang kemarin biarlah menjadi bahan pembelajaran." Star menyetujui.


"Baiklah, Yah. Kalau begitu aku ingin menemui Ara dulu." Rain beranjak berdiri.


"Kau ingin mengganggu jam tidur gadis itu?" tanya ayahnya seraya menyeruput kopi.


Rain tampak berpikir.


"Besok saja, Rain. Malam ini kau beristirahat saja bersamaku. Kita bisa mengobrol sebentar sebelum rasa kantuk datang." Star menawarkan.


"Besok pagi banyak yang ingin ayah bicarakan padamu. Jadi datanglah awal pagi ke sini, Rain." Sky berpesan kepada putranya.


"Baik, Yah." Tanpa penolakan, Rain pun menyanggupi.


"Ya, sudah. Beristirahatlah, hari sudah amat larut." Sky beranjak dari duduknya.


Pertemuan antara ayah dan putranya itu berlangsung sebentar dikarenakan malam yang semakin larut. Rain tiba di istana beberapa saat sebelum pertengahan malam, yang mana para penghuni istana sudah tertidur. Dan karena tidak ingin menganggu waktu tidur gadisnya, Rain mengiyakan ajakan Star untuk mengobrol bersama sebelum rasa kantuk datang. Ia kemudian melangkahkan kakinya bersama Star menuju utara istana.


Esok paginya...

__ADS_1


Hari ini aku bangun kesiangan. Kulihat sinar mentari sudah mulai menyinari jendela kamarku. Mungkin sekarang ada sekitar pukul enam pagi. Aku pun lekas-lekas bangun, mengambil sandal lalu keluar dari kamar. Kulihat sekeliling keadaan rumah ini tampak sepi. Ya, maklumlah. Hanya ada aku di sini dan juga ... Cloud.


Eh, dia ke mana ya?


Aku kembali ke dalam kamar untuk melihatnya. Namun ternyata, pangeranku sudah tidak ada di kamar. Aku pun ke kamar mandi untuk sekalian membasuh wajah. Dan ternyata, di dalam kamar mandi pun dia tak ada.


Di mana dia, ya?


Kulangkahkan kaki keluar kamar lalu menuju dapur. Kupikir Cloud sedang menemui pasukan yang berjaga. Jadi sementara waktu aku bisa membuatkannya sarapan dulu. Namun...


"Cloud?!" Aku tak percaya melihat dia sedang memasak di dapur.


"Sudah bangun, Sayang?" Dia menyapaku seraya tersenyum.


"Cloud, kau memasak?" tanyaku tak percaya.


"Hm, ya. Aku sedang membuatkan nasi goreng untuk calon istriku." Dia mematikan kompor.


Astaga ....


Seketika hatiku terenyuh mendengarnya. Dia membuatkan nasi goreng untukku. Yang mana seharusnya akulah yang melakukannya. Aku merasa begitu dimanjakan olehnya.


"Silakan duduk, Ratuku." Dia menarikkan kursi untukku.


Aku terharu atas perlakuannya ini. Kuakui sejak semalam, Cloud banyak berubah. Dia benar-benar menunjukkan keinginannya untuk memperistriku. Rasanya ... sulit dipercaya. Calon raja negeri besar membuatkan nasi goreng untukku. Padahal bisa saja dia meminta pelayan untuk membuatkannya.


Mungkin dia sengaja tidak menempatkan pelayan di rumah ini agar kami bisa lebih leluasa.


Aku lalu duduk sambil terus memperhatikannya yang menyajikan sarapan untukku. Cloud menyediakan dua piring nasi goreng lengkap dengan topingnya. Dia juga menghias tomat seperti bunga mawar yang merekah indah. Cloud menyajikan sarapan pagi spesial untukku.


"Sudah. Pagi-pagi aku sudah bangun, mandi, lalu mencoba membuatkan nasi goreng untukmu, Bidadariku."


Cloud .... Kata-katanya membuatku meleleh.


Kulihat dia belum mengenakan pakaian kerajaannya. Masih menggunakan pakaian semalam yang serba panjang.


"Cloud, apa hari ini kau tidak pergi bekerja?" tanyaku padanya.


"Hm ... mungkin hari ini berangkat lebih siang," jawabnya, lalu mulai duduk di depanku.


Kami duduk saling berhadapan. Cloud juga menuangkan segelas air minum untukku. Pagi ini dia memperlakukanku begitu berbeda sekali.


"Nanti ayahmu marah, lho. Aku tak apa jika ditinggal," kataku meyakinkan.


"Apa kau tidak ingin berlama-lama denganku?" tanyanya yang tiba-tiba memasang wajah sendu.


Aduh ... mulai manjanya. "Tidak, Sayang. Bukan begitu."


"Lalu?"


"Aku hanya khawatir pekerjaanmu tertunda karenaku. Aku bisa menunggumu pulang, kok." Aku tersenyum.


"Hm, baiklah. Tapi habiskan sarapan dulu, ya." Dia pun tersenyum padaku.

__ADS_1


"Siap, Yang Mulia," sahutku seraya tersenyum gembul.


Kami akhirnya menyantap sarapan pagi bersama sebelum mengantarkannya pergi bekerja. Ya, sudahlah. Mau dibawa ke mana hubungan ini aku ikuti saja alurnya.


Dua puluh menit kemudian...


"Kunci saja pintunya, aku memegang kunci cadangan. Jadi jika sedang tidur tidak perlu bangun untuk membukakan pintu." Cloud berpesan padaku.


Aku mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah sebelum dia berangkat bekerja. Kulihat kuda putihnya sudah menunggu di halaman depan rumah ini bersama seorang pasukan khusus yang berjaga.


"Baiklah, semangat ya!" Aku menyemangatinya.


Cloud tersenyum. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang sampai detik ini masih tak percaya bisa kurasakan. Dia lalu memegang wajahku dengan kedua tangannya. Dia mulai mencium keningku dengan lama. Aku pun bisa merasakan pancaran energi cintanya.


"Baik-baik di rumah, ya. Dan ... jangan nakal!" Dia mencolek hidungku.


"Haduh kau ini, memangnya aku nakal sama siapa coba?" Aku menggerutu sendiri.


Kulihat dia tersenyum seraya memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Dia lalu mencium kelopak mataku satu per satu.


Cloud ... aku merasa sudah menjadi milikmu seutuhnya.


Kecupan bibir tipisnya mendarat di permukaan kelopak mataku ini. Rasanya begitu berbeda sekali. Seolah-olah mata ini miliknya, tidak mengizinkan untuk melihat pria yang lain. Dia juga mencium kedua pipiku.


"Haduh banyak sekali!" Kujauhkan wajahku darinya setelah dia mencium kedua pipi ini.


"Sayang, masih ada yang tertinggal," katanya yang belum mau melepaskanku.


"Apa?" tanyaku yang belum menyadari.


"Ini." Cloud lalu menunjuk bibirnya.


"Astaga ... merepotkan." Aku akhirnya mencium bibirnya itu.


"Hahaha." Dia pun tertawa. "Jika malam aku akan meminta lebih dari ini. Boleh, ya?" Dia mulai nakal.


"Sudah pergi sana! Sudah terlalu lama di sini, nanti bisa telat bekerja!" Aku memperingatkannya.


"Baiklah-baiklah. Sampai nanti." Dia ingin menciumku lagi.


Astaga dia ini.


Tak bisa kupungkiri jika aku menginginkannya, namun aku juga khawatir jika dia sampai telat datang ke istana. Tapi ya sudahlah. Akhirnya dia berangkat juga setelah mengecup bibirku ini.


"Hati-hati di jalan!"


Kulambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum. Cloud pun membalasnya lalu segera melajukan kuda keluar dari halaman depan rumah ini.


"Akhirnya."


Kututup segera pintu rumah, kukunci dari dalam lalu mulai mengambil sapu. Aku berniat bersih-bersih sebelum mengerjakan hal yang lainnya. Ya maklumlah, sedang belajar jadi emak-emak.


Ini baru Cloud. Bagaimana jika ditambah Rain? Aduuhhh....

__ADS_1


Ara mulai membiasakan diri menjadi wanita tangguh untuk pangerannya. Ia menganggap dirinya seolah-olah sudah menjadi seorang istri. Ia juga mulai mengerjakan semua pekerjaan ibu rumah tangga.


Di rumahnya ini Ara merasa menjadi ratu, ia bebas melakukan apa saja tanpa perlu segan kepada yang lain. Rumah yang diberikan Cloud mampu membuat hatinya terenyuh dan merasa lebih nyaman, dibanding saat tinggal di istana. Dan mulai hari juga ia mempersiapkan diri menjadi istri dari kedua pangerannya.


__ADS_2