
Di perjalanan...
Aku menaiki kereta kuda bersama Cloud. Aku tidak tahu di mana putri itu dan aku juga tidak ingin mengetahuinya. Saat ini aku hanya ingin bersama Cloud.
"Cloud."
"Iya, Ara?"
"Em, aku mau minta maaf," kataku.
Cloud duduk di sisi kananku. Kami duduk berdampingan layaknya pengantin. Hah, anganku ini ternyata sudah melayang jauh dengannya.
"Minta maaf untuk?"
"Karena telah berprasangka yang tidak-tidak terhadapmu."
Aku menunduk, tidak berani menatapnya. Aku merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk padanya.
"Ara ...."
Dia lantas menarikku untuk bersandar di pundaknya. Akupun menurut.
"Aku hanya mencintaimu. Hanya dirimu. Yang pertama dan satu-satunya." Dia menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya.
"Aku hanya takut, Cloud. Aku tidak ingin kehilangan cintamu." Aku mencoba untuk jujur.
"Aku juga, Ara. Aku malah ingin secepatnya menikahimu. Tapi Rain selalu saja menghalangiku," katanya lagi.
"Cloud." Aku lalu menatapnya. "Tak bisakah kau mengizinkanku untuk bersama Rain juga." Aku mencoba bernegosiasi.
"Ara, maksudmu?" Cloud tampak heran.
"Cloud, aku ingin segera mengakhiri hal ini. Aku ingin kita berdamai tanpa harus ada yang tersakiti." Aku mulai menuturkan keinginanku.
Cloud terdiam sejenak. Dia memalingkan pandangannya dariku.
"Cloud, aku mencintaimu. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti Rain, adikmu sendiri."
"Ara, ini tidak mungkin. Kau tetap harus memilih salah satu dari kami."
"Tapi, Cloud—"
"Ara." Dia kemudian memegang kedua pipiku. "Aku tahu maksudmu baik. Tapi caramu salah, Sayang."
"Cloud ...." Tatapan matanya itu seolah membuat hatiku luluh.
"Kami sudah bersepakat untuk bersaing secara sehat."
"Maksudmu?"
"Ayah sudah menengahi masalah ini. Dan kami setuju untuk bersaing memperebutkanmu."
__ADS_1
"Apa?!!" Aku terkejut mendengarnya.
"Aku akan membuktikan jika aku yang lebih pantas untuk menikahimu," janjinya.
Entah mengapa, semakin hari aku merasa hatiku semakin terombang-ambing. Terlebih saat mendengar kabar ini dari Cloud. Raja sendiri yang akan menjadi wasit dari kedua putranya.
Ya, Tuhan. Sungguh aku tidak ingin ada yang tersakiti. Walaupun salah satu menerimanya, pasti tetap saja hatinya hancur karenaku. Tolong aku, Tuhan.
Aku berdoa dalam hati. Kabar ini seolah mengisyaratkan jika waktu pernikahanku semakin dekat. Aku jadi teringat dengan perkataan raja sehabis rapat malam itu.
"Nona, jika ada yang ingin kau bicarakan, maka bicarakanlah. Setelah semua ini selesai, aku harap bisa menyebutmu dengan kata Nak bukan Nona lagi."
"Ara ...."
Cloud memanggilku, menyadarkanku dari ingatanku ini.
"Bantu aku untuk terus bertahan." Dia menggenggam erat kedua tanganku.
Aku pun mengangguk dan segera memeluknya. Cloud pun melebarkan tangannya, membiarkanku merebahkan diri di atas dadanya yang bidang ini. Kudengar detak jantungnya mengalun merdu, seolah memintaku untuk terus menjaganya.
Cloud, aku akan terus menjaga kisah ini.
Sesampainya di balai kota...
Aku turun dari kereta kuda dan dibantu oleh Cloud. Kulihat sudah ramai penduduk berkumpul di atas tikar besar yang dihamparkan di halaman balai kota ini. Di depannya ada sebuah panggung tempat raja dan ratu duduk, dan juga seorang kakek tua berjubah putih. Kulihat para menteri juga ikut hadir, mereka tampak mendampingi raja.
"Cloud, apakah itu tetua agung?" tanyaku kepada Cloud.
"Oh."
"Ara, kutinggal sebentar untuk menghampiri ayah, ya?" Cloud meminta izin padaku.
"Iya." Aku pun mengangguk.
Cloud lalu menuju panggung untuk menghampiri ayahnya. Sedang aku pergi ke belakang para penduduk yang sudah duduk di depan panggung.
"Nona Ara!"
Tiba-tiba langkah kakiku terhenti di saat ada ibu-ibu yang berjalan mendekatiku.
"Nona, terima kasih atas bantuannya. Berkat Nona kami bisa sembuh dari wabah penyakit ini."
"Benar, Nona. Kami tidak tahu jika tidak ada Nona di sini. Terima kasih."
Ibu-ibu ini berdatangan mendekatiku.
"Em, iya. Senang rasanya bisa membantu. Tapi semua ini atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku hanya perantaranya saja," jawabku seraya tersenyum.
"Nona, selain cantik Nona juga mempunyai hati yang mulia. Semoga kami mendapatkan ratu seperti Nona."
"Iya, Nona. Kami berharap mempunyai ratu seperti Nona. Tidak seperti ratu Moon yang sombong."
__ADS_1
"Hei! Jaga bicaramu, nanti kau bisa terkena hukuman!"
Salah satu dari ibu-ibu ini sepertinya keceplosan. Aku jadi mengernyitkan dahi mendengarnya.
"Maafkan kami, Nona. Kami hanya mengutarakan isi hati kami selama ini. Semoga Tuhan mengabulkan doa kami."
"Em, iya. Semoga."
Tak lama, acara dimulai. Aku pun segera berpamitan kepada ibu-ibu yang mendatangiku ini.
Rain di mana, ya?
Sedari tadi aku tidak melihat Rain. Kulihat ke sekeliling, tak tampak batang hidungnya. Aku jadi merindukannya.
"Hadirin dimohon berdiri."
Aku mendengar dari atas panggung seorang pria paruh baya meminta para penduduk yang hadir untuk berdiri. Sepertinya doa bersama akan segera dimulai.
Aku berdiri di barisan belakang dan mulai mengikuti acara dengan khidmat. Di samping kanan dan kiriku banyak penduduk yang menemani. Jadi aku merasa tidak sendiri. Kusapa mereka, kuberikan senyum untuk menghangatkan suasana. Aku mencoba untuk lebih dekat kepada rakyat negeri ini.
"Mari kita mengangkat tangan ke atas."
Kakek tua berjubah putih itu meminta kami untuk mengangkat kedua tangan ke atas. Kamipun mulai memanjatkan doa...
"Ya Tuhan kami, lindungilah negeri ini dari malapetaka dan bala bencana. Lindungi negeri ini dari musibah yang tidak mampu kami tanggulangi. Lindungi kami dan seluruh penduduk negeri ini dari fitnah adu domba para penjajah asing. Izinkan kami untuk terus hidup rukun dalam kasih sayang-MU."
Aaamiin.
Aku mengaminkan setiap doa yang dipimpin oleh kakek tua itu. Aku melihat ke langit yang cerah malam ini. Aku berdoa, memohon keselamatan untuk para penghuni istana dan juga penduduk negeri. Jika benar wabah ini adalah sihir, aku meminta agar tukang sihir itu segera disadarkan. Aku menginginkan kedamaian.
Tak lama setelah doa selesai dipanjatkan. Aku melihat cahaya putih meluas di angkasa. Secepat kilat hingga mengagetkanku.
A-apa itu?!
Aku terkejut. Cahaya itu begitu menyilaukan. Hampir saja aku berteriak karena kaget.
Apa hanya aku saja yang melihatnya?
Tiba-tiba aku merasa penglihatanku menjadi kabur. Cahaya itu kemudian membuat detak jantungku berdegup kencang. Akupun mulai kehilangan keseimbangan.
Sepertinya aku akan jatuh.
Aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Kepalaku terasa berat sekali. Sekeliling kulihat berputar. Mataku juga seolah tidak mampu untuk melihat. Aku ... jatuh.
"Nona Ara!"
Kudengar teriakan-teriakan memanggil namaku. Tapi aku tidak dapat menjawabnya. Tubuhku tiba-tiba menjadi kaku. Udara pun seolah menghilang dari hadapanku.
Aku ....
Aku tak mampu membuka kedua mata. Tubuhku seperti tertarik ke suatu tempat. Aku kehilangan kesadaran dan tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1