Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Worried


__ADS_3

Aku berjalan bersama Cloud menuju ruangannya. Kami membahas hal yang lebih penting lagi.


"Cloud, apakah tidak bisa pengobatan digratiskan untuk para penduduk?" tanyaku seraya masuk ke dalam ruangannya.


"Untuk sementara belum bisa, Ara. Neraca perdagangan kita mengalami defisit karena perekrutan masal prajurit," jawabnya lalu duduk di kursi kerjanya itu.


"Bagaimana jika aku membuat sepuluh rancangan busana lagi untuk membiayai pengobatan gratis para penduduk?" tanyaku lalu duduk di depan meja kerjanya.


Cloud menghela napas. Ia mengusap kepalanya sendiri. "Kau yakin? Kau akan kelelahan, Ara." Dia tampak mencemaskan kondisiku.


"Aku yakin mampu, Cloud. Aku minta izin kepadamu. Jika sepuluh rancangan busana ini terjual, uangnya untuk pengobatan gratis para penduduk."


Cloud tersenyum, dia kemudian memegang tangan kananku ini. "Terima kasih, Ara. Kau telah banyak membantuku."


Aku pun membalas senyumannya. "Kita selesaikan masalah ini bersama," sahutku lalu ikut memegang tangannya dengan tangan kiriku.


"Ara ... sungguh aku beruntung dengan kehadiranmu di sini." Cloud tersenyum bahagia.


"Ehem!"


Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan Cloud tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kedatangannya sangat mengagetkanku. Segera saja kulepas pegangan pada tangan Cloud.


"Sepertinya kedatanganku mengganggu," ucapnya.


Aku lalu menoleh ke arahnya, dan ternyata dia adalah sepupu Cloud sendiri.


"Star, ada apa?" tanya Cloud yang segera beranjak dari duduknya.


"Nenek memintaku untuk mengajakmu makan siang bersama dan juga ... Nona Ara," katanya.


"Sungguh kehormatan bagi saya, Pangeran Star." Aku ikut berdiri menyambutnya.


"Hei, sudahlah. Kita akan menjadi keluarga, Nona Ara. Panggil saja aku Star." Pria itu tampak keberatan dengan sikap formalitasku.


"Baik, Pangeran Star." Aku mengangguk.


"Ara, mari kita makan siang bersama." Cloud lalu mengajakku.


Kami akhirnya berjalan bersama dengan posisi Cloud di tengah, menuju ruang makan istana. Dia seolah tidak mengizinkanku untuk dekat dengan pria lain, meskipun itu sepupunya sendiri.


Sepanjang perjalanan menuju ruang makan istana, ada perasaan cemas yang melanda hatiku. Untuk kedua kalinya, aku akan bertemu dengan ratu. Dan entah mengapa, membayangkannya saja sudah membuatku tak menentu.


Sementara itu...


Seekor burung garuda hinggap di atas tangan kekar seorang pangeran pemberani, Rain Sky. Garuda itu mengantarkan surat untuknya.


"Ini balasan dari ayah."


Rain lalu membaca isi surat itu. Ia tampak mengerti dan mematuhi perintah yang ada di dalam surat.


"Prajurit, tolong panggilkan semua pemimpin regu untuk menghadapku. Segera!" pintanya kepada salah seorang prajurit.

__ADS_1


"Baik, Pangeran!"


Prajurit itu kemudian menuju pos setiap pemimpin regu. Dia menyampaikan pesan sang pangeran. Tak lama, kesemua pemimpin regu itu berkumpul, duduk melingkar di atas rerumputan bukit bersama Rain.


"Baiklah, kita adakan rapat segera." Rain memulai pembicaraannya.


"Kita akan segera kembali ke istana. Aku meminta kalian membagi tugas untuk wilayah perbatasan ini."


Rain mengkoordinir dan membagi tugas kepada setiap pemimpin regu prajuritnya. Dia memberikan arahan karena sang raja meminta Rain untuk kembali ke istana. Pihak Aksara diketahui tidak melakukan apapun untuk memicu peperangan.


"Kalian mengerti?!" tanya Rain kepada semua pemimpin regu itu, setelah pembagian tugas selesai dilakukan. Rain tampak sangat serius membagi tugas kepada semua pemimpin regu prajuritnya.


"Siap, Pangeran!"


"Bagus. Kembali ke tugas masing-masing."


Setelah selesai mengadakan rapat dadakan, Rain membubarkan kesemua pemimpin regu prajuritnya. Ia melaksanakan tugasnya dengan baik.


"Siap laksanakan, Pangeran!"


Seluruh pemimpin prajurit mematuhi arahan yang Rain berikan. Mereka menuju posisi masing-masing lalu menginformasikan kepada prajurit yang lain. Rain pun bergegas membantu prajuritnya untuk segera berkemas. Ia tampak ringan tangan membantu prajuritnya itu. Sehingga keseluruh prajurit mencontohnya, bahu-membahu melaksanakan tugas kerajaan ini dengan sepenuh hati.


Akhirnya, aku bisa pulang ke istana.


Rain tersenyum bahagia. Di dalam benaknya, ia ingin segera bertemu dengan gadisnya itu. Ia juga ingin menepati janji untuk menikahi Ara setelah hal ini selesai. Namun, Rain belum mengetahui apa yang terjadi di istana selepas kepergiannya.


Di ruang makan istana...


"Jadi kapan kau akan memberiku cicit, Moon?" tanya nenek Sun kepada ratu.


Ratu tampak diam saja, dia tidak menjawab sama sekali.


"Masa kau kalah dengan keponakanmu sendiri. Star saja sudah memberiku seorang cicit. Kau ingin menunggu apa lagi?" tanya nenek Sun.


Kulihat raja diam saja sambil meneruskan makannya. Sedang ratu, tampak kurang berselera makan saat terus ditanyai oleh nenek Sun.


Suasana begitu menegangkan.


Ratu yang ditanyai, tapi entah mengapa aku yang deg-degan. Kulihat Cloud tersenyum sambil terus menatapku, dia tampak begitu senang.


"Cepat nikahkan Cloud! Jangan tunggu hingga kau beruban!" ketus nenek Sun yang sontak membuat ratu menghentikan makannya.


"Bibi, aku juga ingin segera mempunyai cucu. Tapi kedua putraku belum memberi tanda sama sekali."


"Kau ini alasan saja. Cloud sudah mempunyai Ara, tinggal nikahkan saja mereka!"


Sontak aku tersedak makananku sendiri kala nenek Sun menyebut namaku. Seketika itu juga semua orang menoleh ke arahku, tak terkecuali ratu.


"Ara, kau tak apa?"


Cloud segera memberikan segelas air putih kepadaku. Dia memperlihatkan rasa pedulinya di hadapan keluarga besarnya ini.

__ADS_1


"Cloud?!"


Ratu menatap tajam ke arah putranya. Dia merasa seperti dibohongi. Iapun beranjak dari duduknya.


"Cloud, apa maksud semua ini?!" tanya ratu kepada Cloud.


"Ratu, duduklah. Kita sedang makan." Raja meminta.


Ratu tampak begitu kesal kepada Cloud. Aku juga jadi tidak enak hati sendiri. Suasana terasa begitu mencekam sekali.


Haduh, kenapa ini harus terjadi.


Aku mencoba menormalkan diagfragmaku setelah tersedak makanan. Sedang tatapan tajam dari ratu, kulihat masih mengarah ke arahku. Hingga akhirnya, makan siang inipun selesai. Jadi aku dapat segera melarikan diri dari ruangan ini.


Beberapa saat kemudian...


"Kau tak apa, Ara?"


Kini aku berjalan bersama Cloud menyusuri koridor ruangan, berniat menuju ruang kerjanya untuk membahas rancanganku.


"Aku baik-baik saja, Cloud," kataku seraya tersenyum.


"Baiklah, mari." Cloud menawarkan tangan kirinya untuk kugandeng. "Jangan malu," katanya lagi.


Akupun menggandeng tangannya seraya berjalan bersama menuju ruang kerjanya itu. Cloud tampak begitu memanjakanku.


"Jangan tunggu kupinta, Ara. Lakukan saja sesukamu." Cloud memberi penekanan agar aku tidak merasa sungkan lagi kepadanya.


"Cloud!"


Tak lama, terdengar suara seseorang memanggil nama Cloud. Kami lalu berbalik mencari asal suara.


Ratu ...?


Seketika itu juga kulepas tanganku dari Cloud. Ratu kerajaan ini terlihat berjalan cepat ke arah kami.


Aduh, apa lagi yang akan terjadi?


Hatiku begitu dag-dig-dug tak karuan. Semakin mendekat, rasanya seperti ingin pingsan saja. Aku khawatir ratu akan marah kepadaku.


"Cloud, Ibu mau bicara!" katanya seraya menatap tajam putranya.


"Apa yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Cloud santun.


"Em, maaf, Yang Mulia Ratu. Sebaiknya saya undur diri. Permisi," kataku berpamitan.


Aku membiarkan Cloud bicara empat mata dengan ibunya. Namun, sebelum sempat melangkahkan kaki, Cloud menarik tanganku lalu menggenggamnya erat. Aku jadi bingung sendiri.


"Cloud ...?"


"Tetaplah di sini, Ara," kata Cloud seraya menoleh ke arahku.

__ADS_1


Cloud benar-benar berani menunjukkan kemesraannya di hadapan ratu. Dia tampak begitu tenang. Sedangkan aku ... ingin rasanya mengambil langkah seribu.


__ADS_2