
Di Angkasa...
Siang ini Cloud menyempatkan waktu menemani Rose, putri Negeri Bunga yang sedang ingin berjalan-jalan di taman depan istana. Ia menggantikan sang adik yang sedang menjemput Ara di Asia.
Sebisa mungkin Cloud pun menjaga kedua hubungan negeri agar tetap terjalin baik. Ia melakukan hal ini semata-mata untuk memenuhi tugas kerajaan.
"Pangeran Cloud, terima kasih telah mengizinkanku tinggal di istana selama beberapa hari ke depan." Rose mengawali pembicaraan.
"Ya, Putri. Kami juga sangat senang menerima kedatangan tamu kehormatan." Cloud menanggapinya seraya tersenyum.
"Em, Pangeran. Sejak tadi pagi aku tidak melihat pangeran Rain." Rose mencoba membuka pembicaraan lebih dekat.
"Hm, ya. Dia sedang ada misi ke luar istana," jawab Cloud segera.
Keduanya berjalan sedikit berjauhan, menjaga jarak agar tidak menimbulkan prasangka lain. Cloud menunjukkan jika dirinya hanya sebatas memenuhi tanggung jawab sebagai tuan rumah. Putri bergaun hitam dan berbando mawar merah itu pun tampak mengerti akan sikap Cloud kepadanya.
"Kudengar pangeran Rain memang sering ke luar istana, Pangeran. Apakah itu benar?" tanya Rose lagi, sambil terus berjalan bersama Cloud menyusuri taman depan istana.
"Ya. Dia memang sering bertugas ke luar istana," jawab Cloud lagi.
"Lalu bagaimana dengan Pangeran sendiri?"
"Aku?"
"Ya, apakah sering ke luar istana seperti pangeran Rain?" tanya Rose lagi.
"Hahaha. Aku tidak bisa seperti dia, Putri. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Pekerjaanku terlalu menyita waktu. Andai aku bisa seperti dia, mungkin kekasihku akan bahagia bersamaku." Cloud malah curhat.
"Pangeran Cloud sudah mempunyai kekasih?" tanya Rose lagi.
"Ya." Cloud tersenyum. "Aku sudah mempunyai kekasih." Ia mengenang Ara.
"Lalu apakah dia ada di istana ini?" Rose kembali bertanya.
Rose tidak mengetahui apa yang terjadi di istana Angkasa. Sewaktu pertunjukkan busana ia memang melihat Cloud mencium Ara, tapi ia pikir hanya sebatas akting di atas panggung saja.
"Dia sedang ada urusan. Mungkin secepatnya akan kembali." Cloud tersenyum.
__ADS_1
Rose pun ikut tersenyum, tetapi di dalam hatinya ia bergumam sendiri. Jadi Pangeran Cloud sudah mempunyai kekasih? Berarti aku memang harus kembali ke tujuan awal.
"Em, Pangeran. Bagaimana dengan pangeran Rain sendiri?" Rose memberanikan diri untuk bertanya lagi.
Sejenak Cloud terdiam, ia seperti enggan untuk menjawabnya. "Kalau untuk dia, Putri lebih baik tanyakan langsung saja padanya. Aku merasa kurang pantas mendahului." Cloud segera menutup pembicaraan ini.
"Em, maaf. Aku tidak ada maksud untuk ikut campur masalah pribadi, Pangeran. Hanya saja aku seorang wanita, tidak mau kedekatan ini menjadi salah paham bagi kekasih Pangeran." Rose menjelaskan.
"Ya, tak apa." Cloud kembali tersenyum.
Sang putra sulung kerajaan Angkasa menyadari apa tujuan Rose menanyakan hal ini padanya, hanya saja ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia tidak ingin membuat perasaan Rose tersinggung, terlebih sang putri adalah tamu kehormatan istana.
"Baiklah. Aku masih ada tugas yang harus kukerjakan. Jika ada sesuatu yang diinginkan, Putri bisa memintanya kepada pelayan." Cloud berpesan.
"Baik, terima kasih." Rose mengiyakan.
"Aku permisi, Putri." Cloud pun berpamitan.
Rose tersenyum, membiarkan Cloud meninggalkannya di taman istana seorang diri. Ia melihat bagaimana paras calon raja Angkasa ini. Tapi, ia lebih memilih Rain untuk didekati.
"Rose!" Sang ibu, berjalan cepat ke arahnya.
"Bagaimana, Rose? Apakah kau mendapatkan informasi?" tanya ibunya.
"Ibu, sepertinya aku tidak bisa mendekati pangeran Cloud," jawab Rose yang kecewa.
"Tidak apa, masih ada pangeran Rain." Sang ibu menyemangati.
"Mungkin aku memang ditakdirkan untuk mendekati pangeran Rain dibandingkan pangeran Cloud, Bu." Rose tampak sedih.
"Tak apa, Rose. Kita memang membutuhkan perdana menteri jika kedua negeri menyatu. Dan ibu harap kau berhasil meluluhkan hati pangeran Rain."
"Tapi, Bu. Aku tidak tahu apakah dia sudah punya kekasih atau belum. Tadi pangeran Cloud tidak mau memberitahunya padaku." Rose bercerita.
"Benarkah?"
Rose mengangguk.
__ADS_1
"Begini saja. Kau usaha dulu untuk mendekati pangeran Rain. Jangan sampai kesempatan yang hanya beberapa hari ini disia-siakan begitu saja."
"Tapi ... pangeran Rain sedang keluar istana. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali." Rose berkecil hati.
"Tunggu saja. Besok pagi ibu dan ayah harus sudah kembali ke Negeri Bunga. Kau tidak apa kan ditinggal sendiri di sini?" tanya ibunya itu.
Rose mengangguk.
"Baiklah. Sekarang mari habiskan waktu bersama ayah dan ibu di utara istana. Di sana ada keluarga dari adik mendiang raja. Sekalian kita mencoba untuk mendekati mereka." Ibu Rose mengajak putrinya.
"Baik, Bu." Rose mengiyakan.
Keduanya lalu pergi menuju utara istana untuk bercengkrama dengan keluarga adik mendiang raja Angkasa. Sang ibu tampak menyemangati putrinya untuk mendekati salah satu putra mahkota negeri ini.
Negeri Bunga berencana menyatukan wilayah kekuasaannya di bawah naungan Angkasa. Dan tentu saja hal ini merupakan kabar baik untuk Sky. Namun, Sky menganggap tidak mungkin pihak Negeri Bunga menyatukan wilayah begitu saja tanpa ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Dan ternyata memang benar, raja negeri itu ingin mempererat hubungan dengan menikahkan putra-putri mereka.
Sky harus membagi waktu dan pikirannya untuk mengurus kerajaan dan juga sang istri yang masih sakit. Penyakit istrinya belum bisa disembuhkan walau telah berbagai macam cara dilakukan. Tabib terakhir pun menyarankan untuk mengonsumsi buah surga beserta rebusan daunnya. Namun, Sky kembali dilanda kebingungan karena hanya sang gadis lah yang dapat mengambil buah surga itu.
Aku berharap Rain berhasil membawa Ara kembali ke istana. Setidaknya istriku bisa disembuhkan terlebih dahulu. Sungguh seusiaku harusnya sudah melepaskan jabatan. Tapi, lagi-lagi putra sulungku belum siap menerima mahkota ini.
Cloud merasa belum pantas menjadi seorang raja walaupun semua bidang administrasi telah ia dikuasai. Ia berkecil hati karena belum mampu mengalahkan sang adik yang selalu terdepan di mata gadisnya. Cloud merasa kalah telak dari Rain.
Ara ... aku harap kita bisa segera bertemu. Sungguh aku sangat rindu padamu. Tak tahu harus bagaimana lagi, ayah selalu melarangku untuk menjemputmu. Dan kini lagi-lagi Rain yang pergi untuk membawamu kembali ke istana.
Ara ... ingatlah masa-masa awal pertemuan kita. Dan tetapkan hatimu hanya untukku. Aku membutuhkanmu.
Cloud berharap Rain berhasil membawa Ara kembali ke istana. Ia juga sudah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Ara. Cloud benar-benar merindukan gadisnya, sebagaimana bunga merindukan hujan. Dan Ara adalah segala yang Cloud butuhkan.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
__ADS_1
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...