Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Magic


__ADS_3

Cloud menciumku, kedua tanganku pun masih melingkar di lehernya. Tubuhku terasa aneh setiap kali bercumbu dengannya.


"Cloud ...."


Aku melepas ciumanku. Khawatir jika hal ini akan berlanjut.


"Ara?"


"Em, sudah, ya. Aku takut ini berlanjut," kataku.


"Kamu takut?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Kamu belum siap untuk melepasnya?"


"Cloud, jangan memancingku!" kataku manja.


Dia kemudian menciumi leherku. Seketika itu juga aku merasa sesuatu semakin mengalir dari dalam tubuhku ini.


"Cloud, sudah."


Aku berusaha menolak, namun Cloud belum juga berhenti. Diam-diam dia menyimpan hasrat yang begitu besar kepadaku.


"Ara ...."


Dia kemudian menyudahi ulahnya yang telah membuat sekujur tubuhku ini merinding. Dia pun tersenyum seraya memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Tangan kanannya begitu lembut mengusap pipiku.


"Jangan sungkan untuk bermanja denganku. Aku tidak ingin ada jarak lagi," katanya lalu merebahkan kepala di dadaku.


Semakin lama, aku merasa semakin terikat olehnya. Sentuhan demi sentuhan yang dia berikan, mampu membuat hatiku ini selalu terpadu dengannya. Cloud memperlakukanku begitu lembut. Kadang aku jadi khawatir sendiri jika hal ini sampai keterusan. Aku belum siap untuk melepaskannya.


"Baik, Pangeran." Aku beranjak bangun dari pangkuannya.


"Mau ke mana, Ara?" tanyanya.


"Aku lanjutkan saja pekerjaanku."


"Hei, kita belum makan siang." Cloud kembali menarik tubuhku.


"Cloud, jangan. Ish!"


Aku kembali ke pangkuannya. Dia kemudian menyuapiku makan dengan nasi beserta sup dan irisan daging sapi yang disemur. Cloud benar-benar memanjakanku.


Beginikah sifat aslinya?


Aku merasa bahagia dimanja olehnya. Dia pun selalu mengingatkanku agar tidak sungkan untuk bermanjaan dengannya. Sebuah tawaran yang memang kuinginkan sejak awal dan kini kudapatkan tanpa harus meminta.


"Habiskan, Ara. Aku tidak mau ibu dari anak-anakku kekurangan gizi," katanya yang sontak membuatku tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanyanya heran, seraya meletakkan sendok yang ia pegang.


"Cloud, kita belum menikah," jawabku.


"Kita akan segera menikah, Ara." Dia begitu yakin.

__ADS_1


"Tapi—"


"Ayah sudah merestui hubungan kita. Tidak ada alasan lagi."


"Bagaimana dengan ibumu?" tanyaku.


Mendengar hal itu, Cloud tampak menghela napasnya. Ia lalu memintaku untuk bangun. Aku rasa, aku telah salah ucap lagi. Diapun berjalan menjauh dariku. Sepertinya ada kekhawatiran pada dirinya.


"Ibu ... dia pasti lebih mendukung Rain."


"Hah?!"


"Ibu begitu menyayangi Rain, Ara. Pastinya dia lebih merestui Rain."


Nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi sendu. Aku lalu mencoba untuk menghiburnya.


"Sudah, yang penting aku bersamamu, kan?" kataku lalu memeluknya dari belakang.


Kusandarkan daguku di bahu kirinya. Cloud lalu memegang tanganku yang melingkar di perutnya itu. Dia kemudian berbalik menghadapku.


"Benar, hanya kau yang aku butuhkan." Cloud kemudian mencium keningku.


Aku tersenyum lalu memeluknya kembali, Cloud pun membalas pelukanku. Kurasakan jika kami begitu saling menyayangi satu sama lain. Kami menyalurkan perasaan ini dengan sepenuh hati.


"Em, baiklah. Sepertinya aku harus bersiap untuk melakukan penyambutan," katanya kemudian.


"Penyambutan?" tanyaku heran.


"Ya, sepupuku akan segera datang ke istana. Istrinya baru saja melahirkan dan ibu memintaku untuk menyambutnya."


"Kutinggal dulu, Ara. Nanti jika semua rancanganmu sudah selesai, datanglah ke ruanganku."


Cloud berpesan, dia lalu berpamitan. Akupun mengantarkannya sampai di depan pintu kamar. Terlihat punggungnya yang begitu kokoh saat berjalan.


Ternyata Cloud bisa bersikap seperti ini kepadaku. Dia memang manusia biasa, mempunyai hasrat yang sama saat berdekatan dengan wanita. Dan aku berharap hanya denganku saja dia seperti ini.


Kututup pintu kamarku setelah kepergiannya. Aku lalu menyelesaikan sisa rancanganku. Targetku sebelum petang semua rancangan ini sudah selesai.


Sementara itu...


Seorang wanita tampak kesal karena berulang kali gagal mencapai tujuannya. Ia berada di dalam kamar yang gelap dengan mengenakan jubah berwarna hitam. Utusannya gagal melaksanakan tugas.


"Sial!"


Ia menggerutu kesal. Wajahnya tampak menahan amarah. Meja yang berada di depannya ia gebrak sekuat tenaga.


"Mengapa aku tidak mampu menembus istana?" Ia begitu geram. "Ada apa di dalam sana?" tanyanya lagi.


Wanita itu kemudian bersemedi, mencoba melihat apa yang ada di dalam istana. Namun, sesaat setelah mencobanya, ia terlempar sendiri.


"Ah! Apa itu? Cahaya apa itu?!" tanyanya sendiri.


Ia melihat cahaya ungu menyelimuti seisi istana. Karena penasaran, ia mencoba kembali untuk melihatnya.


"Seorang gadis?"

__ADS_1


Ia melihat seorang gadis mengeluarkan cahaya ungu dari dalam tubuhnya.


"Siapa gadis itu?" tanyanya lagi.


Saat mencoba lebih mendekat, sesuatupun terjadi padanya.


"Aaaa!!!"


Wanita itu terpental dari duduknya. Ia pun merasa kesakitan.


"Sial! Mengapa sulit sekali menembus dinding istana?" Ia mengurut pinggangnya yang sakit.


"Kalau begini, pekerjaanku tidak akan selesai-selesai. Aku harus mencari jalan lain."


Wanita itu kemudian memanggil gagak hitamnya. Ia menuliskan surat kepada pembesar negeri Aksara tentang keanehan yang terjadi. Surat itupun diterima langsung oleh sang pembesar negeri yang tak lain adalah Raja Hell.


"Benteng tebal?"


Hell membaca surat itu. Ia tampak mengernyitkan dahi. Tak habis pikir jika orang suruhannya tidak mampu untuk menembus dinding yang menyelimuti istana Angkasa.


"Jadi mitos itu benar-benar ada?" tanyanya lagi.


"Paduka, apa yang terjadi?" Land, menterinya itu tampak menunggu.


Land menemani ke mana saja rajanya itu pergi. Ia begitu setia dan patuh kepada Hell. Saat melihat Hell cemas, ia pun ikut cemas.


"Land, ternyata mitos itu benar."


Hell lalu memberikan surat itu kepada Land. Land pun segera membaca isi surat itu.


...


Yang Mulia Raja Hell...


Sudah beberapa kali aku mencoba menembus pertahanan mistis kerajaan Angkasa, namun tetap tidak bisa. Aku hanya mampu berada sampai di dalam ibu kotanya saja. Aku tidak mampu untuk menembus istana. Sepertinya ada benteng tebal yang menyelimutinya. Namun, aku sudah menyebarkan sihir untuk ke seluruh penduduk ibu kota. Kita akan segera melihat perkembangan dari sihir itu.


Red Devil


...


"Paduka, ini ...?"


"Kita tarik mundur saja dia dari ibu kota Angkasa. Aku khawatir jika keberadaannya akan segera diketahui oleh pihak istana."


"Baik, Paduka." Land lalu membalas surat dari penyihir wanita tersebut.


"Kita lihat saja nanti, apakah benar berhasil sihir yang disebarkan olehnya itu?"


Hell berjalan ke depan singgasananya dengan begitu congkak. Ia akan merasa puas jika sihir itu segera bekerja pada penduduk kerajaan Angkasa. Hell menempuh jalan lain untuk menaklukan negeri pemilik pohon surga itu.


Hell kehilangan akal sehatnya. Ia begitu berambisi untuk menaklukkan negeri kedua pangeran. Ia mempunyai dendam masa lalu dengan sang raja Angkasa. Dan dendam itu belum mampu untuk ia lupakan.


Hell menyewa seorang penyihir untuk membuat penghuni istana Angkasa saling serang satu sama lain. Namun, tujuannya belum dapat terlaksana. Penyihir sewaannya itu gagal menembus pertahanan istana kerajaan Angkasa. Dan dia hanya mampu berada sampai di ibu kotanya saja.


Hell optimis jika sihir itu akan segera bekerja pada semua penduduk ibu kota kerajaan Angkasa. Ia telah mengeluarkan banyak emas untuk membayar penyihir tersebut.

__ADS_1


__ADS_2