Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Think Bad


__ADS_3

Jam makan siang di Angkasa...


Hujan angin kini telah berhenti dan aku sedang duduk menyantap sup bersama Cloud di gazebo danau. Rasanya begitu nyaman setelah melewati waktu bersamanya. Cloud masih seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali pada dirinya. Perasaannya masih sama, hanya waktunya saja yang memang tidak ada.


"Cloud, habis ini kita kembali ke istana saja, ya." Aku memberi saran kepadanya.


"Kau ingin kembali? Tidak ingin berjalan-jalan lagi?" tanyanya seraya melihat ke arahku.


"He-em. Aku rasa sudah cukup kita berpergian. Lagipula sudah pertengahan siang. Aku khawatir jika pihak istana akan membutuhkanmu," kataku.


"Hmm ...." Dia seperti keberatan.


"Kenapa?" tanyaku sambil meletakkan mangkuk sup ke atas meja.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke air terjun, Ara," jawabnya seperti ragu.


"Air terjun? Tapi kan jauh. Dan kita pergi tanpa pengawalan. Apa kau yakin?" Aku bergantian ragu.


"Ara." Dia menatapku. "Apa kau merasa aku tidak bisa melindungimu?" tanyanya yang sontak membuatku tidak enak hati.


"Ti-tidak, bu-bukan begitu maksudku. Aku hanya takut pulang kesorean dan istana membutuhkanmu." Aku berkata jujur.


"Aku sudah meminta izin untuk menghabiskan waktu bersamamu hari ini, Sayang. Esok mungkin hari-hari sibuk akan dimulai. Tapi, hari ini izinkan aku menghabiskan waktu bersamamu, ya?" pintanya penuh harap.


"Cloud ...."


Dia memegang tanganku, tidak menerima penolakan dariku. "Kita akan kembali ke istana sebelum petang tiba. Aku janji. Sekarang kita habiskan makan siang ini lalu pergi ke sana." Dia tersenyum padaku.


Aku mengerti keinginannya yang ingin menghabiskan waktu bersamaku. Tapi, aku khawatir jika istana membutuhkannya sekarang. Apalagi di sini kan belum ada ponsel untuk menghubungi seseorang dari jarak jauh, pastinya akan sangat merepotkan jika tiba-tiba ada keperluan mendesak.


Ya sudahlah. Mungkin lebih baik kuturuti saja kemauannya. Toh, aku sudah berusaha mencegah, tapi dia tetap ingin pergi ke air terjun.

__ADS_1


Aku akhirnya mengalah padanya.


Cloud, jangan berprasangka buruk padaku, ya. Niatku baik, tidak ingin kau mengalami hal sulit karena bersamaku.


Sang gadis berusaha menjaga keadaan yang baru membaik pasca penyerangan kemarin. Ia tidak ingin Cloud mengalami masalah karena berpergian lama bersamanya. Ia tidak mau urusan kerajaan terlantar karenanya. Ia juga ingin semuanya berjalan dengan lancar seperti biasanya.


Lain Cloud yang ingin menghabiskan waktu bersama Ara, lain juga dengan ibunya. Moon tampak berjalan bersama pengawal pribadinya menuju ke ruangan para menteri. Wajahnya terlihat sendu dengan gaun hitam menghiasi. Sang ratu pun tak lama tiba di depan ruang kerja Shane. Ia lalu meminta kepada pengawalnya untuk menunggu di luar.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia Ratu." Shane menyambut kedatangan Moon sambil berdiri.


"Duduklah, Tuan Shane. Aku ingin sedikit berbincang denganmu." Moon menegaskan tujuannya.


"Baik, Yang Mulia." Shane kembali duduk di kursi kerjanya.


Moon duduk di sofa yang berada tak jauh dari meja kerja Shane. Ia kemudian menuturkan tujuannya mengapa sampai mendatangi Shane. Dan Shane pun bersedia menanggapinya. Terlihat Moon yang menahan perasaan bersalah di hadapan sang menteri.


"Aku ingin mengetahui pendapatmu mengenai gadis itu," pinta Moon kepada Shane.


"Ya. Aku ingin mengetahui pendapatmu tentangnya," kata Moon lagi.


Sejenak Shane terdiam, ia seperti mengerti arah pembicaraan ini.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Sejauh ini saya melihat nona Ara sebagai gadis yang baik. Walaupun tidak terlalu dekat dengannya, tapi saya bisa merasakan aura keramahan darinya." Shane mulai mengatakan sudut pandangnya tentang Ara.


"Dia gadis yang ramah?" tanya Moon seraya melihat ke arah menterinya.


"Benar, Yang Mulia. Saya dengar dari para raja dan ratu saat acara pertunjukan busana, nona Ara amat menunjukkan keanggunannya sebagai seorang wanita. Dia juga penuh dengan bakat yang luar biasa. Tentunya hal itu menambah nilai lebih pada dirinya." Shane menjelaskan dengan sopan kepada Moon.


"Ya. Aku akui jika dia memang memiliki bakat yang melebihi gadis lain." Moon akhirnya mengakui.


"Apakah Yang Mulia sedang menimbang nona Ara?" tanya Shane berhati-hati.

__ADS_1


Terdengar helaan napas dari Moon. Ia segera berdiri dari duduknya. "Aku belum tahu ke mana arah tujuan ini, Tuan Shane. Aku hanya sedang ingin mengetahui pendapat para menteri tentangnya." Moon beranjak pergi.


"Baik, Yang Mulia." Shane ikut berdiri dan membungkukan badannya ke arah Moon, saat sang ratu berjalan keluar dari ruangannya.


Moon tampak gundah siang ini. Ia tidak lagi ingat harus makan siang dan meminum ramuan dedaunan buah surga. Saat ini ia hanya ingin mengetahui pendapat para menterinya tentang Ara. Ia pun kemudian masuk ke dalam ruangan Count, Menteri Dalam Negeri Angkasa. Namun, sang menteri sedang tidak berada di dalam ruangan.


Mungkin aku ke ruang Menteri Perdagangan saja.


Moon lalu masuk ke ruang kerja Scot, Menteri Perdagangan. Sesampainya di sana, ia melihat banyak pejabat negeri sedang berkumpul dan membicarakan arus perdagangan Angkasa ke luar dan ke dalam negeri. Sang menteri tampak sibuk mengatur lalu lintas perdagangan Angkasa yang mulai kembali normal.


"Salam bahagia, Yang Mulia." Scot berdiri saat mengetahui Moon masuk ke dalam ruangannya.


"Salam bahagia untuk Yang Mulia Ratu." Para pejabat lain ikut berdiri saat melihat Moon datang.


"Sepertinya kalian sedang sangat sibuk?" tanya Moon yang melihat banyak dokumen di ruangan Scot.


"Benar, Yang Mulia. Lalu lintas perdagangan mulai kembali normal. Apakah ada sesuatu yang Yang Mulia perlukan sehingga datang langsung ke ruangan ini?" tanya Scot santun.


"Hm, ya. Tapi itu tidak terlalu penting. Kalian lanjutkan saja." Moon berputar arah, ia tidak jadi mengajak menterinya berbincang.


"Baik, Yang Mulia." Scot membungkukkan badannya saat Moon beranjak keluar dari ruangan.


Ruangan Scot, Menteri Perdagangan Angkasa ini selalu ramai dan tidak pernah sepi. Sehingga sang menteri jarang keluar dari ruangannya sendiri. Ia datang di awal pagi dan pulang di akhir sore. Banyak sekali dokumen perdagangan yang datang silih berganti dan harus ia periksa dengan segera. Ia memegang nota penting perdagangan yang mana hasilnya dilaporkan kepada Cloud, putra sulung kerajaan ini.


Moon meneruskan langkah kakinya menuju ruang Menteri Pertahanan, Dave. Sesampainya di sana, ia sedang melihat sang menteri tengah mengobrol bersama salah satu kapten pasukan elite istana.


"Salam bahagia Yang Mulia." Keduanya memberikan salam kepada Moon saat sang ratu memasuki ruangan.


"Ya."


Moon lalu duduk di sofa tamu ruangan Dave. Sang kapten pasukan elite istana pun mengerti, ia segera berpamitan dan undur diri dari hadapan ratu dan juga Dave. Selang beberapa menit kemudian, Moon mengutarakan tujuannya datang ke ruangan ini. Ia ingin mengetahui pendapat Dave tentang Ara.

__ADS_1


__ADS_2