
Hari masih terang, mungkin sekarang baru pukul dua siang. Setelah melunasi janji kepada Paman Rich, aku kembali ke istana dengan perasaan lega. Lelah, sih. Tapi membuat orang lain bahagia itu ada nilai tersendiri bagiku, aku juga ikut merasa bahagia. Kulihat tadi para pekerja di gedung konveksi istana bersuka cita dengan apa yang kubawa.
Mereka harus menungguku datang hanya untuk mencicipi buah tin itu.
Begitu pun dengan Paman Rich. Kulihat tadi dia meneteskan air matanya. Terharu sekaligus sedih karena baru sekarang bisa berjumpa denganku. Sedang cerita akan kedatanganku, sudah didengar sejak lama olehnya.
Aku ini hanyalah manusia biasa. Tapi paman Rich menganggapku seperti seorang dewi. Dia begitu senang bisa berjumpa denganku.
"Hah ...."
Kurebahkan diri sejenak di atas tempat tidur setelah lelah berjalan seharian. Niatku beristirahat sebentar lalu mulai menyusun semua acara untuk pertunjukan busana nanti. Sementara waktu, aku akan berada di kamar saja. Agar tidak terganggu konsentrasiku.
"Hoaaam. Sepertinya aku mengantuk."
Segera saja kupejamkan kedua mata, beristirahat sejenak dari lelahnya aktivitas hari ini. Akupun tertidur dan memulai destinasi mimpiku."
Beberapa saat kemudian...
"Sayang ...."
Samar-samar aku mendengar suara memanggilku dengan sebutan kata sayang.
"Sayang, bangun. Hari sudah petang," katanya lagi.
Aku mencoba membuka kedua mata. Kulihat ada seorang pria mengenakan pakaian kerajaan berwarna hitam dengan corak daun di bagian dadanya.
"Si-siapa kamu?" tanyaku yang melihatnya samar-samar.
Dia tersenyum ke arahku. Kulitnya putih bersih dengan bibir merah merona. Matanya sedikit sipit jika dibandingkan dengan Cloud ataupun Rain.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanyaku sendiri.
Aku tidak dapat melihatnya lebih jelas, pandangan mataku kabur. Entah siapa gerangan dirinya yang menyebutku dengan kata sayang itu. Tak lama, perlahan-lahan akupun tersadar...
"Ara! Ara!"
Terasa ada yang menguncang-guncang tubuhku.
Siapa sih?! tanyaku kesal di dalam hati.
"Ara, kau tidur terlalu lama. Bangun cepat!" serunya lalu membangunkanku.
Pipiku ditepuk-tepuk olehnya sedang kedua mataku masih terpejam.
"Ara!"
"Hei, Rain! Apa yang kau lakukan?!" Kudengar suara yang datang.
Aduh, siapa lagi sih. Apa itu Cloud, ya? tanyaku sambil berusaha membuka mata.
"Jangan kau sentuh Ara! Dia milikku!"
"Hei, aku tidak peduli. Dia sekarang kekasihku!"
"Kau ini belum mengerti juga!"
Kedua pria itu sepertinya sedang ribut di depanku. Akupun mencoba membuka paksa kedua mata ini. Dan kulihat jika Cloud dan Rain sedang berseteru.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!"
Sontak aku bangkit dari kasur saat melihat keduanya saling menarik kerah jubah.
__ADS_1
"Hentikan!" seruku lalu segera memisahkan keduanya.
Tubuhku masih lemas sebenarnya. Tapi karena kulihat keduanya akan berkelahi, spontan tubuhku bangkit lalu memisahkan mereka.
"Kalian ini bisa tidak berdamai?!" tanyaku kesal.
Kepalaku masih pusing, nyawa pun belum kumpul sempurna. Tapi mereka ini kalau sudah bertemu, seperti ....
"Ara, aku datang terlebih dulu ke sini." Rain membela diri.
"Rain, kau selalu mendahuluiku!" Cloud kesal kepada adiknya.
"Aku tidak peduli. Setelah ini aku akan membawa Ara pergi!" seru Rain.
"Tidak bisa! Aku tidak akan mengizinkannya!" balas Cloud.
"Aku tidak butuh izin darimu!" Rain membalas lagi.
Mereka ini seperti bayi-bayi yang kelaparan. Haruskah aku memberinya susu agar diam?
Aku berpikir, mencari cara agar pertengkaran ini segera berakhir. Kutarik napas dalam lalu mulai mencari solusi. Dan kutemukan ide gila untuk keduanya.
Baiklah ....
Sesaat kemudian...
"Ar-ara? Ap-apa yang kau lakukan?" Cloud tampak terkejut.
"Ara, tutup tubuhmu!" Rain segera melepas jubahnya untuk menutupi tubuhku.
Aku memang sengaja membuka resleting gaunku di hadapan keduanya. Habisnya aku pusing mendengar pertengkaran mereka. Jadi kubuka saja resleting gaunku ini, lalu kuturunkan gaunku hingga kembenku pun terlihat.
"Ara ini tidak lucu!" Rain malah marah padaku.
"Ara, apa kau sakit?" Cloud bertanya seraya ingin menyentuh keningku.
Keadaan tampak sedikit tenang. Akupun segera menaikan resleting gaunku kembali. Kemudian duduk di tepi kasur menghadap keduanya.
"Kalian jangan memancing jiwa emak-emakku keluar, ya! Kalian tidak tahu jika perempuan sudah marah seperti apa, hah?!" gerutuku kesal.
Keduanya menggelengkan kepala.
"Aku bisa saja menghukum kalian karena selalu ribut di depanku. Nanti aku ikat kalian dengan tanpa memakai sehelai benang pun. Kalian mau?!" tanyaku dengan tanduk di kepala.
Keduanya menggelengkan kepala lagi.
"Bagus! Mulai sekarang, jangan bertengkar lagi. Jika sampai hal itu terjadi, aku kembali saja ke duniaku. Kalian mengerti?!"
Keduanya pun mengangguk pelan.
"Baiklah. Sekarang katakan tujuan kalian datang kemari," pintaku lalu keduanya saling melirik satu sama lain.
Baik Rain maupun Cloud seperti terhipnotis dengan kata-kataku. Mereka lalu bergantian menyampaikan pesan. Pesannya sama, sih. Keduanya ingin aku melihat balai kota yang kini sudah tersedia panggung untuk acara doa bersama besok malam. Mereka memintaku untuk membantu menghias area sekitar.
"Aduh, bagaimana, ya. Besok saja, boleh? Aku ingin menyelesaikan susunan acara untuk pertunjukan busana nanti. Bisa, kan?"
"Aku temani ya, Ara." Cloud menawarkan diri.
"Aku saja, Ara." Rain maju mendekatiku.
"Aku, Rain!"
__ADS_1
"Aku, Kakak!"
Mulai lagi, deh. Baru diomongin, udah mulai lagi.
Tak habis pikir mengapa aku terhimpit di situasi seperti ini. Rasanya lama-lama aku jadi gemas dengan keduanya. Kutelan juga nanti mereka.
"Ya sudah. Kalian temani aku menyusun acara. Tapi jangan ribut, ya!" pintaku.
Keduanya mengangguk lalu segera duduk di kursi tamu. Sedang aku, mulai melanjutkan pekerjaan.
"Mungkin mandinya nanti saja. Selesaikan ini terlebih dahulu."
Akupun mulai kembali bekerja. Menyusun hal-hal apa saja yang diperlukan untuk acara pertunjukan busana nanti. Dan karena terlalu asik mengerjakan tugas, aku tidak menyadari jika kakak-beradik itu tertidur di kursi dengan saling menyandarkan kepala.
Ya, ampun ... mereka terlihat imut sekali.
Segera saja kuambil ponselku untuk memotret kebersamaan mereka yang langka ini. Kedua pangeranku tampak lucu sekali.
Kukecup kening mereka satu per satu. Setelahnya, kuhamparkan selimutku untuk menghangatkan tubuh keduanya.
Tengah malam di istana...
"Kalian sudah bangun?"
Aku baru saja datang ke kamar dengan membawa secangkir kopi. Kulihat mereka sudah bangun dari tidur sambil mengucek kedua matanya.
"Ara, kau tidak membangunkan kami?" Rain bertanya dengan wajah kusutnya.
"Kalian sangat lelah. Aku tidak tega membangunkannya."
"Kau sudah mau tidur, Ara?" Cloud lalu membuka selimutnya.
"Belum. Masih sedikit lagi pekerjaanku," jawabku lalu duduk di depan keduanya.
"Ini sudah larut, Sayang." Rain menyela.
"Sayang-sayang! Sayang matamu!" Cloud menaikkan intonasinya.
"Biar saja. Ara memang kekasihku!" balas Rain yakin.
Mulai lagi deh mereka ....
Kutepuk jidatku sendiri, kuseruput kopi seraya menggelengkan kepala. Kedua pangeran ini benar-benar memancing emosiku. Cloud juga tampak berubah drastis.
"Hei, sudah! Kalian ini nanti kuusir dari dalam kamarku!" ancamku.
Mereka pun tampak diam.
"Kalian tidak lapar?" tanyaku lagi.
Kudengar suara perut keroncongan, entah berasal dari perut siapa.
"Ya, sudah. Kita ke dapur istana, yuk. Aku akan membuatkan makanan untuk kalian."
Lekas-lekas kugandeng keduanya menuju dapur istana. Aku yang mengenakan gaun tidur sebatas lutut ini tampak membuat pengawal yang berjaga di sekitaran kamarku kaget.
Tak apalah, ini bukan jam kerja. Jadi kuanggap saja istana ini rumahku sendiri. Toh, semua penghuni istana sudah tertidur.
Aku merasa bahagia bisa menggandeng keduanya. Baik Rain maupun Cloud tampak pasrah saat aku meminta. Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan keduanya. Atau mungkin raja sendiri yang sudah mengancam kedua putranya ini?
Entahlah, yang jelas aku sudah merasa betah tinggal di sini, dengan kedua pangeran tampanku. Mungkin lebih baik jika aku lebih luwes lagi dalam bersikap. Raja sendiri sudah memberi kebebasan untukku. Jadi, tidak ada yang perlu disegani. Ya, terkecuali ratu tentunya.
__ADS_1