Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
And The Ending...


__ADS_3

Kembali ke istana Angkasa...


"Jadi kau menerima misi dari ayah?" Cloud berbincang serius dengan adiknya.


"Ya, aku menerimanya. Aku harap kau tidak mengingkari perjanjian kita." Rain menekankan.


"Hm, ya. Kau bisa percaya padaku, Rain." Cloud meyakinkan.


"Kau harus bisa membahagiakannya. Jangan sampai kudengar kau menyakitinya. Karena pedangku ini tidak akan segan untuk melayang ke arahmu," ancam Rain.


"Hah, ya. Baiklah." Cloud tersenyum kecil.


"Hari ini aku akan menghabiskan waktu dengannya. Tolong jangan kau usik. Karena lusa aku akan segera berangkat." Rain mengabarkan.


"Itu berarti ...?"


"Ya, kau yang menikahinya. Tapi setelah aku kembali, kuharap kau tahu apa yang harus kau lakukan," kata Rain lagi.


"Baiklah aku mengerti." Cloud pun menyanggupi.


Rain mendekatkan wajahnya ke arah sang kakak. "Kau tahu, Kak. Jika bukan karena ayah, aku sudah melawanmu habis-habisan. Aku amat mencintai Ara, jauh sebelum kau menyadari perasaanmu."


Sontak Cloud tersentak dengan pernyataan adiknya. Ia merasa menyesal karena telah mengabaikan perasaan Ara waktu itu. Ia pun termenung sendiri, tidak tahu harus menjawab apa.


"Lain kali belajarlah tegas kepada diri sendiri. Jangan sampai merugikan orang lain. Hati Ara bukanlah arena permainan untukmu," kata Rain lagi.


"Rain, waktu itu aku masih takut mengakui perasaanku. Aku takut kehilangan lagi." Cloud akhirnya mengaku di depan adiknya.


"Ya, tapi karena rasa takutmu itu membuat Ara kesulitan memilih. Kita sama-sama mempertahankannya dan akhirnya seperti ini, ayah ingin menikahkan kita dengannya. Apa kau pikir hal itu wajar?" tanya Rain pada kakaknya.


"Rain, aku lebih berhak atasnya. Aku yang menjemputnya. Hanya saja kesalahanku mengabaikan perasaannya waktu itu." Cloud masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Hah ...." Rain mengembuskan napasnya dengan kuat.


"Aku akan memperbaiki semuanya. Ini janji seorang pria." Cloud meyakinkan adiknya.


"Baiklah. Aku pegang janjimu." Rain akhirnya menerima janji kakaknya.


Rain mengalah kepada Cloud bukan karena ia tidak mampu untuk terus memperjuangkan Ara. Tapi karena keadaan yang memaksanya untuk mengalah kepada sang kakak. Sebuah misi besar harus diembannya dan tidak bisa lagi ditunda. Rain akan segera meninggalkan istana untuk menjalankan misi besarnya.


Cloud juga menyadari kesalahannya. Andai saja waktu itu ia tidak mengabaikan perasaan Ara, tentunya hati sang gadis akan memilihnya dan mengabaikan Rain. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Ia pun harus menerima perjanjian yang diputuskan sang ayah walau hatinya masih berharap Ara menjadi miliknya seutuhnya. Tapi apa daya, perjanjian itu harus dijalankan olehnya.

__ADS_1


Kedua cinta pangeran ini tak terbatas kepada Ara. Keduanya terus memperjuangkan dan sama-sama mempertahankan keinginannya untuk memiliki sang gadis. Tapi lagi-lagi akhir dari usaha bukanlah milik manusia. Dan hari ini kedua putra mahkota menandatangani perjanjian cintanya di atas selembar kertas putih berlambang Angkasa. Rain dan Cloud mengikat diri dengan perjanjian yang mereka buat sendiri.


Lain keduanya lain pula dengan ayah mereka. Sky tampak menjelaskan maksud kedatangannya kepada raja Asia. Sang raja pun terkejut akan kebenaran perihal Ara. Ia segera memanggil putranya untuk meluruskan masalah ini.


Di istana Asia...


"Ayah memanggilku segera?" tanya Zu kepada pengawal pengantar pesan ayahnya.


"Benar, Pangeran. Yang Mulia memanggil Anda," tutur pengawal istana.


"Baik. Aku akan segera ke sana." Zu pun bergegas merapikan diri sebelum berangkat ke istana.


Pagi-pagi Zu sudah diminta oleh ayahnya untuk datang ke istana. Ia pun bergegas memenuhi panggilan sang ayah dengan menaiki kuda putihnya, menuju istana. Namun, saat telah sampai di ruang tamu istana, alangkah terkejutnya ia melihat raja Angkasa telah berada di sana.


Astaga! Pikiran buruk pun seketika menghantuinya.


Zu didudukkan bersama di ruang tamu istana. Shu pun ikut hadir sebagai saksi dari pembicaraan ini. Sedang sang raja Angkasa didampingi Menteri Luar Negerinya, Shane. Mereka membicarakan masalah putra mahkota kedua negeri.


"Apa benar yang dikatakan oleh Raja Sky, Anakku?" tanya raja Asia kepada Zu, putranya.


"Aku ... aku terpaksa mengatakan hal itu." Zu tertunduk.


"Kau tidak bilang pada ayah siapa Dewi sebenarnya. Dewi adalah Ara, dan Ara adalah calon istri dari putra Raja Sky." Raja Asia menjelaskan.


"Astaga, Putraku." Sang raja Asia tampak tidak enak hati kepada Sky. "Mohon maaf, Raja Sky. Hal ini amat mengejutkanku. Aku tidak tahu jika Ara adalah calon istri putra Anda. Dengan segala hormat, saya meminta maaf mewakili Asia." Raja Asia meminta maaf karena perkataan Zu yang telah mengancam Ara dan Angkasa.


Zu tidak berkutik saat sang ayah mengetahui siapa sebenarnya Ara. Ia kemudian mendapatkan tindakan disiplin dari ayahnya.


"Ayah, ini tidak adil bagiku!"


Zu menolak keputusan ayahnya yang menskors dirinya beberapa bulan ke depan. Kekuasaan pemerintah pun diambil kembali oleh sang raja. Tentunya hal ini menjadi pukulan besar bagi Zu.


"Zu, kau sudah amat keterlaluan. Ayah tidak bisa membiarkanmu seperti ini." Sang ayah menindak tegas ulah putranya.


Shu sebagai adik hanya bisa diam saat sang ayah menindak tegas kakaknya. Masalah di dalam istana pun belum selesai, dan kini sudah kedatangan tamu seorang raja negeri besar. Shu berusaha menenangkan hati kakaknya.


"Kakak, sudahlah. Ini sudah menjadi keputusan ayah." Shu mencoba bicara pada kakaknya.


Zu tentu saja menolak tindakan disiplin ini. Ia merasa tidak membuat kesalahan besar sehingga harus diberhentikan sementara dari tugasnya. Di hadapan Sky dan Shane, Zu pun berlalu begitu saja. Sedang sang adik mengikutinya tanpa lupa memberi hormat kepada raja Angkasa beserta menterinya. Pagi ini menjadi bomerang bagi Zu.


Ini semua gara-gara dia! Jika Ara masih di istana, tentu tidak akan terjadi hal seperti ini.

__ADS_1


Zu geram kepada ibu tirinya yang kini mendekam di penjara bawah tanah. Ia amat tidak percaya jika raja Angkasa sampai datang langsung ke Asia dan membicarakan masalah ini dengan ayahnya. Sementara sang adik, mengejar dan berusaha menenangkan hatinya.


"Kakak, tunggu!" Shu menahan kepergian Zu.


"Shu, kau lihat sendiri bagaimana sikap ayah tadi?" tanya Zu kepada adiknya.


"Kakak, ayah melakukan hal itu agar hubungan kedua negeri tetap terjalin baik." Shu menjelaskan.


"Ya, dia hanya memikirkan kedua negeri. Tapi tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Aku tidak akan tinggal diam, suatu saat aku akan mendapatkan Ara kembali." Zu bertekad dalam hatinya.


"Kak, dia sudah akan menjadi istri pangeran Angkasa." Shu menjelaskan lagi.


"Aku tidak peduli. Sekalipun dia sudah menikah dan punya anak, aku tidak peduli. Yang aku tahu aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Tapi karena ibu suri, semuanya berantakan. Dan aku harus membuat perhitungan dengannya." Zu bergegas pergi.


"Kakak!"


Shu pun berusaha menahan kakaknya. Tapi kekerasan hati Zu tidak dapat dilawan. Ia akhirnya hanya bisa melihat sang kakak dari kejauhan, sebisa mungkin mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Dan kembali cinta Ara membuat hati sang pangeran tidak berdaya. Cinta yang amat dibutuhkan laksana bunga membutuhkan hujan.


...


You're the air that I breathe.


Girl, you're all that I need.


And I wanna thank you, Lady...


You're the words that I read.


You're the light that I see.


And your love is all that I need...


...


All That I Need Disclaimer Boyzone


.........


........


.......

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2