
Sore hari di istana...
"Akhirnya pekerjaanku selesai."
Cloud kini tengah merapikan meja kerjanya. Memasukkan berkas-berkas ke dalam lemari khusus sebelum ia tinggal pergi ke belakang istana. Cloud berniat untuk melihat prajurit yang bergantian jaga.
Langkah kakinya terdengar cepat setelah merapikan meja kerjanya itu. Begitu bersemangat dengan wajah yang berseri-seri. Ia berniat menghabiskan malam bersama gadis pemilik hatinya.
Sesampainya di belakang istana, tanpa sengaja Cloud bertemu dengan Mbok Asri. Ia kemudian menanyakan perihal gadisnya.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud."
"Terima kasih. Di mana Ara, Mbok?" tanya Cloud kemudian.
"Nona Ara sedang menjalani perawatan di rumah cantik istana, Pangeran. Apakah ada pesan yang harus saya sampaikan?" tanya Mbok Asri kepadanya.
"Hm, tidak. Terima kasih." Cloud menjawab seraya tersenyum.
"Kalau begitu, saya mohon pamit, Pangeran. Permisi." Mbok Asri kemudian berpamitan.
Mbok Asri baru saja dari belakang istana. Ia mengantarkan tiga rancangan kebaya yang Cloud setujui ke pihak konveksi.
Cloud lalu duduk di teras halaman belakang istana sambil menunggu laporan prajurit yang bergantian jaga.
"Lapor, Pangeran. Pergantian penjaga istana, selesai dilakukan!"
Pemimpin dari prajurit yang bertugas itu melaporkan jika pergantian telah dilakukan. Cloud lalu menerima daftar jaga untuk malam ini.
"Terima kasih. Selamat bertugas."
"Baik, Pangeran. Barisan bubar!"
Tak lama kesemua prajurit itu membubarkan diri dan menuju sudut jaganya masing-masing. Sementara Cloud masih duduk di teras sambil memperhatikan nama-nama prajurit yang bertugas malam ini sampai dengan esok pagi.
"Aku rasa cukup untuk hari ini."
Setelah dirasanya cukup, Cloud lalu meninggalkan teras dan melangkahkan kaki menuju ruang kecantikan istana. Ia berniat untuk menjalani perawatan bulanan di sana.
Sesampainya di ruang kecantikan istana...
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud."
Seorang wanita paruh baya mengenakan kacamata, menyapa kedatangan Cloud. Cloud tampak tersenyum kepada wanita itu.
"Terima kasih, Bibi."
Dia adalah bibi Rum. Pimpinan pelayan di istana ini.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Pangeran?" tanyanya.
"Hm, di mana Ara, Bi? Kudengar dia sedang menjalani perawatan tubuh?" tanya Cloud.
"Oh, Nona Ara sedang berada di ruang pijat. Apa harus saya panggilkan?" tanya bibi Rum lagi.
__ADS_1
"Tidak. Biar aku saja yang ke sana. Terima kasih."
Cloud lalu segera meninggalkan bibi Rum di pintu masuk rumah kecantikan istana. Ia bergegas menemui Ara.
Setibanya di ruang pijat, Cloud menemukan Ara yang sedang dipijat bagian punggungnya. Tubuh gadis itu terbalut kain sarung yang menutupi. Tampak sang gadis tertidur karena merasakan pijatan itu.
"Pa—"
Terapis itu ingin memberikan salam kepada Cloud, tapi Cloud memberi isyarat agar terapis itu diam saja. Ia kemudian meminta kepada terapis agar keluar dari ruangan dan segera mengosongkan tempat. Terapis itupun mematuhi permintaan sang pangeran.
Cloud lantas melepas pakaiannya, ia hanya mengenakan celana pendeknya saja. Ia kemudian mengambil minyak zaitun lalu mulai memijat tubuh gadis itu. Ara yang masih tertidur tidak menyadari jika Cloud lah yang tengah memijatnya.
Ara ... kau milikku.
Cloud memijat setiap inchi dari permukaan punggung sang gadis. Ia tampak sepenuh hati melakukannya. Pijatan lembut itu ia berikan hingga tak lama Ara tersadar dari tidurnya.
...
"Rasanya kok agak berbeda ya, Mbok?"
Aku merasa ada yang aneh dengan pijatan ini. Biasanya aku merasa nyaman, tapi kenapa sekarang ada getaran aneh yang kurasakan? Akupun menoleh ke arah terapis yang memijatku.
"C-cloud?!"
Aku tak percaya jika yang sedang memijatku adalah Cloud. Segera saja aku bangun lalu membalut tubuh ini dengan kain sarung yang kupakai. Dan entah mengapa, kulihat Cloud tersenyum dengan tatapan yang berbeda ke arahku.
"Ara, tetaplah di atas pembaringan," pintanya.
"Tap-tapi—"
Cloud?!
Sebuah kecupan kemudian mendarat di bibirku. Dia menciumku seraya memegang tangan kananku. Aku pun tidak dapat menolaknya.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya, sesaat setelah menyudahi ciumannya ini.
"Cloud, aku malu," jawabku seraya tertunduk.
"Tak apa. Hanya denganku saja. Aku tidak ingin ada jarak lagi di antara kita."
"Tapi, Cloud—"
"Tak ada tapi. Aku ingin kau menganggapku sebagai pria biasa, Ara. Aku mempunyai pilihan dengan hidupku sendiri. Dan pilihanku jatuh padamu." Dia lalu memegang tanganku yang satunya.
"Cloud ...."
Cloud kembali menciumku. Sapuan-sapuan kecil dari bibirnya itu membuatku dimabuk kenikmatan. Cloud kemudian menciumi leherku dan sesekali menjilatnya.
"Cloud ... sudah, ahh!"
Dia seperti dimabuk cinta, melampiaskan hasrat di atas pembaringan yang terkena minyak zaitun. Suasana terasa begitu erotis di saat aku menyerah dan mencoba untuk menikmati setiap sentuhan darinya.
"Cloud, sudah. Tolong hentikan ...."
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Cloud. Napasnya begitu memburu, terdengar begitu berat. Detak jantungnya juga terdengar cepat. Aku pun sama, hampir kehilangan kendali karena ulahnya.
"Cloud ...."
Aku tak berdaya menghadapi perlakuannya. Yang kubisa hanya menikmati setiap sentuhan darinya. Tak ayal, aku pun menggigit bibirku sendiri sambil menikmati permainannya ini.
"Cloud ...."
Kucoba membuka kedua mata untuk melihatnya, Cloud tampak mengatur ulang napasnya. Ia seperti kehabisan tenaga.
"Ara ... setelah ini, menikahlah denganku."
Cloud menatapku dalam. Dia masih berada di atas tubuhku. Tangan kokohnya membuatku tidak dapat berkutik sama sekali.
"Cloud ...."
"Aku tidak ingin ada orang lain di hatimu. Aku menginginkanmu, Ara."
"Tapi, Cloud—"
"Aku tidak ingin kehilangan lagi. Maka ...," Dia beranjak dari atas tubuhku lalu menarikku ke dalam dekapannya. "Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku kelak," pintanya yang membuatku merasa dimiliki.
"Cloud ...."
"Apa yang kulakukan semoga bisa mengikatmu. Kuserahkan hati dan ragaku kepadamu. Tolong jangan pernah tinggalkan aku."
Perkataan Cloud membuatku terharu. Dia rela menyerahkan dirinya padaku. Padahal selama ini yang kutahu Cloud begitu menjaganya.
"Cloud, aku tahu kau mencintaiku. Tapi ...," Sesaat perkataanku terhenti.
"Apa kau masih belum dapat menerimaku?" Dia kemudian menatapku.
"Bukan. Bukan itu," jawabku. "Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada kalian," kataku cemas.
"Maksudmu, Rain?" tanya Cloud memperjelas.
"Iya. Hanya ada kalian di pikiranku," jawabku jujur.
"Ara ... setelah apa yang kita lakukan, kau masih memikirkannya?" tanya Cloud lagi.
"Cloud, kumohon dengarkan aku dulu. Bukan maksudku—"
"Baiklah." Cloud melepas dekapannya.
"Cloud."
Cloud tampak bersedih hati. Sepertinya aku telah salah bicara kepadanya.
"Cloud ...."
Cloud berkecil hati. Niatnya untuk mengikat sang gadis. Tapi ternyata, Ara masih saja belum dapat menerimanya dengan sepenuh hati.
Ara, aku telah menyerahkan kehormatanku padamu. Di depanmu kusingkirkan kewibawaanku. Tapi mengapa ... kau masih juga memikirkannya? Cloud bertanya sendiri di dalam hati.
__ADS_1
Ara lantas memeluk Cloud. Namun, Cloud diam saja dan tidak berkata sepatah katapun. Tampak sang gadis yang dilanda kebimbangan.