
Aku mengambil ponsel yang kubawa. Kuputar lagu No Matter What di hadapan Cloud. Dia lalu mendengarkannya.
"Ini seperti alunan nada yang kumainkan saat rindu padamu, Ara."
"Hah? Benarkah?!"
Cloud mengangguk.
"Niatku ingin kita bernyanyi bersama untuk mengiringi acara dansa. Kau bersedia?" tanyaku padanya.
"Sepertinya tidak sulit. Bagaimana dengan tuan Mozart. Apa kau sudah membicarakan hal ini padanya?"
"He-em." Aku mengangguk. "Aku malah sempat berlatih vokal bersama band-nya."
"Benarkah?" Cloud tak percaya.
"Ayolah, Pangeran. Sekali-kali kita bernyanyi bersama," rayuku manja.
"Ara?" Cloud tampak terkejut dengan sikapku.
Aku beranjak bangun dari kursi kemudian duduk di atas pangkuannya. Seketika Cloud terpaku saat aku memberanikan diri melakukan hal ini.
Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya lalu kumainkan rambutnya yang tersisir ke belakang. Dadaku tepat berada di depan wajahnya. Perlahan kurasakan kedua tangan Cloud melingkar di perutku.
"Aku jadi ingin cepat libur, Ara," katanya seraya tersenyum.
"Memangnya?"
"Aku ingin memanjakanmu seperti ini. Sayang waktunya belum pas." Dia menggerutu sendiri.
"Hei!" Aku mencolek hidungnya yang mancung. "Bagaimana dengan permintaanku?" Aku kembali ke topik.
"Bernyanyi bersama?"
Aku mengangguk pelan.
"Tentu saja aku bisa, Ara. Jangankan untuk bernyanyi bersama."
"Cloud?!"
"Mengangkatmu juga aku bisa." Cloud tiba-tiba menggendongku ala pengantin.
"Cloud turunkan aku!" Aku takut jatuh.
"Tidak mau."
"Nanti ada yang lihat!"
"Biar saja."
Ih, dia ini.
Aku meronta minta diturunkan olehnya. Saat masuk ke dalam koridor lantai dua, Cloud lalu menurunkanku. Dia tersenyum manis sekali seraya mencubit kedua pipiku ini.
"Tunggu aku, ya." Dia berkata dengan riangnya.
"Siap, Pangeran!" Aku pun berlaga seperti seorang prajurit di depannya.
"Dasar!" Dia kemudian mengusap-usap kepalaku.
Kami akhirnya berpisah karena Cloud masih mempunyai banyak pekerjaan. Mau tak mau, aku pun merelakan kepergiannya. Ya, untuk sementara waktu aku akan menyelesaikan semua tugasku dahulu. Hari ini kuhabiskan untuk berlatih bersama para penari dan juga band pengiring.
Esok paginya...
__ADS_1
Tinggal empat hari lagi para tamu akan berdatangan ke istana. Aku sendiri sudah siap untuk menyambutnya. Namun, ada masalah baru untukku.
"Rain, hanya sekedar untuk menyambut tamu yang datang," kataku yang menolak ucapannya.
"Tidak, Ara. Kau tidak boleh mengenakan pakaian yang terbuka walaupun hanya untuk menyambut tamu. Gunakan semua gaun yang tertutup. Jangan gunakan gaun yang terbuka."
Aku ingin mengenakan gaun seperti putri kerajaan. Dengan bagian bahu yang terbuka hingga ke batas lengan. Namun, Rain tidak mengizinkannya.
"Tapi, Rain—"
"Tidak ada kata tapi. Kau tidak tahu bagaimana pandangan seorang pria saat melihat wanita mengenakan gaun dengan bagian bahu yang terbuka?" Rain mulai mengeluarkan pidatonya.
Huft, dia ini.
"Aku sengaja memberikan semua gaun yang tertutup agar hanya aku saja yang bisa melihatmu terbuka, Ara," katanya lagi.
"Kau egois!" seruku yang ngambek kepadanya.
Aku duduk di kursi yang ada di depan kamarnya, dekat dengan perapian. Sedang Rain berjalan mondar-mandir di hadapanku sambil terus berpidato.
"Ara, coba mengertilah. Aku hanya ingin menjagamu dari mata-mata pangeran itu." Rain menjelaskan.
"Bodok, ah!" Kusilangkan kedua tangan di dada pertanda kesal.
"Kalau di depanku, tak apa." Dia lalu mendekatiku.
"Tu kan ...."
"Biarlah aku dikata egois asal dirimu terjaga hanya untukku. Pria bodoh mana yang rela membiarkan bagian tubuh wanitanya dilihat pria lain?!"
Dia masih saja berpidato. Aku jadi pusing sendiri mendengarnya.
"Ya, sudah." Aku akhirnya menyerah.
"Iya, iya. Aku tidak akan mengenakan pakaian yang seperti itu. Aku hanya akan mengenakan gaun pemberian darimu." Aku mengalah.
Rain tersenyum kecil. Dia lalu membangunkanku dari kursi.
"Ara, kau begitu berharga. Jangan buat aku cemburu." Rain menatapku.
"Iya," jawabku setengah hati.
"Kau ini."
"Rain! Turunkan aku!"
Dia sepertinya kesal padaku. Tiba-tiba saja aku digendong olehnya masuk ke dalam kamar. Para pelayan yang ada di kediaman rumahnya tampak bersembunyi melihat kami seperti ini.
"Jika kau ingin mengenakan pakaian yang terbuka, di dalam saja!"
"Rain, turunkan aku!"
Rain membawaku masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkanku di atas kasurnya yang berseprai putih ini. Menatapku dalam seraya mengusap pipiku dengan jemari tangannya.
"Rain ...?"
"Sekarang lakukan sesukamu. Pilih gaun yang kau suka dan perlihatkan padaku." Dia mendekatkan wajahnya.
Rain ....
Aku seperti terhipnotis jika sedang bersamanya. Aku pasrah, seolah tidak dapat melakukan perlawanan sedikitpun.
"Pijat aku, Ara. Tubuhku pegal sekali."
__ADS_1
Dia menciumku singkat lalu memintaku untuk segera memijatnya. Sifat manjanya mulai mendominasi. Aku pun tidak dapat menolak permintaannya itu.
"Uhh ... enak, Ara. Teruskan, Sayang."
Rain tampak menikmati pijatanku ini. Tapi jujur saja aku risih dengan ucapannya itu. Bisa-bisa para pelayan salah paham dengan perkataannya.
"Rain, diam! Jangan berkata apapun," bisikku padanya.
"Uuuhhh!" Dia malah semakin menjadi-jadi.
Astaga ... dia ini.
"Ke bawah lagi, Sayang. Iya, di sana. Uuuhh ...."
"Rain, diam!" bisikku lebih kencang di dekatnya.
Aku kesal karena dia terus saja bersuara. Kucubit saja pinggangnya itu.
"Akh! Sakit, Ara! Pelan sedikit, Sayang," katanya lagi.
Oh, ya ampun ....
Tak lama, kudengar bunyi jatuh di depan kamarnya. Cukup keras terdengar. Rain pun segera bangkit untuk melihat apa yang terjadi.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!"
Aku melihat pelayan di rumah Rain jatuh menumpuk, tertindih pelayan lainnya. Rain lalu memarahi para pelayannya yang berada di depan pintu kamarnya ini.
Tu kan, benar. Ada yang menguping perkataannya. Astaga, mereka pasti salah paham dengan kami.
Rain keluar tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan celana putih panjangnya. Sontak saja hal itu membuat para pelayan terkejut. Mungkin mereka berpikir jika aku sedang melakukannya bersama Rain. Aku jadi tidak enak sendiri.
"Ma-ma-maafkan kami, Pangeran. Kami tidak sengaja lewat." Para pelayan itu terlihat menundukkan kepala.
"Kalian ingin kupecat?!" tanya Rain tanpa basa-basi.
"Ti-tidak, Pangeran. Maafkan kami." Pelayan-pelayan itu tampak ketakutan.
"Sudah sana pergi! Jangan ganggu aku!" Rain membentak para pelayan itu.
Dia kasar sekali.
Para pelayan itu kemudian pergi kocar-kacir dari depan pintu kamarnya. Rain pun menutup pintu kamarnya kembali. Dia lalu mendekatiku.
"Rain, tadi itu kau sangat kasar." Aku mencoba memberi tahunya.
"Biar saja. Mereka itu ingin tahu saja," gerutu Rain.
"Ya, tapi ... seharusnya tidak membentaknya juga, kan?"
"Mereka sudah terbiasa dengan sikapku, Ara. Sudah, lanjutkan saja yang tadi. Pijatanmu enak sekali."
Rain kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Dia memintaku untuk memijatnya lagi. Tanpa melawan, akupun melakukan apa yang dia minta. Sampai akhirnya dia tertidur tanpa kusadari.
Huh, dasar! Aku ditinggal tidur olehnya!
Entah jam berapa ini. Sedari pagi aku sudah bersamanya. Mendengar pidato panjangnya dan juga memijatnya. Mungkin sekarang sudah ada sekitar pukul sepuluh pagi.
"Tidur yang nyenyak ya, Pangeran. Aku pergi dulu."
Kutinggalkan dirinya yang tertidur pulas di atas kasur. Aku keluar dari kamar dengan tangan yang terasa pegal karena habis memijat tubuhnya yang kekar itu.
Aku ini bagai cermin baginya. Jika dia terbuka, aku pun akan ikut terbuka. Dan Rain tidak memberi batas untukku dekat dengannya.
__ADS_1