
"Ara, aku sedang bertanya." Cloud duduk di dekat gadis itu.
Cloud memperhatikan leher gadisnya. Kali-kali saja ada bekas yang membuktikan jika sesuatu telah terjadi pada gadisnya itu.
"Coba kulihat." Cloud menyampirkan rambut Ara lalu melihat lebih jelas leher sang gadis.
"Cloud, apaan sih?" Ara tampak risih.
"Ara, kau mandi malam-malam, kan?" tanya Cloud lagi.
Sorot mata Cloud benar-benar menghentakkan jantungnya. Ara takut jika mengatakan hal yang sebenarnya, tentang alasan mengapa ia sampai mandi malam-malam. Cloud pasti akan sakit sekali. Ia lantas mencari alasan lain untuk menjaga perasaan sang pangeran.
"Iya, tubuhku gerah. Apa salah mandi malam, Cloud?"
Ara balik bertanya. Ia menutupi hal yang sebenarnya terjadi, mengapa ia sampai mandi.
"Tidak. Aku hanya khawatir saja," jawab Cloud datar.
"Khawatir?"
"Ya, aku khawatir jika dia sudah berbuat yang tidak-tidak padamu," cetus Cloud, wajahnya berubah muram seketika.
Sontak Ara menelan bulat-bulat rendang yang ia makan. Ia kemudian meneguk segelas air.
Cloud mempunyai perasaan yang tajam. Aku harus berhati-hati melangkah.
"Ara?" Cloud masih menunggu gadisnya bicara.
"Iya, Sayang."
"Kau diam saja. Apa ada yang disembunyikan dariku?" tanya Cloud lagi.
"Hahaha, kau ini terlalu perasa, ya."
Ara mengalihkan topik. Jantungnya sudah tidak karuan karena berusaha menutupi.
"Maksudmu?"
"Sudahlah, lebih baik kita kembali ke ruang utama. Apa sudah dimulai pertunjukan busananya?"
Ara lekas-lekas menggandeng Cloud, berjalan meninggalkan ruang makan. Keduanya bergegas menuju ruang utama kerajaan.
Dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Cloud berkata sendiri dalam hati.
"Cloud?" sapa Ara lagi.
"Hm, ya. Aku mencarimu karena acara sebentar lagi dimulai." Cloud terjaga dari lamunannya.
"Baiklah. Kita ke sana sekarang." Ara menggandeng tangan Cloud dengan mesra.
Cloud semakin merasa yakin jika Ara menyembunyikan sesuatu darinya. Namun untuk sementara waktu, ia tepiskan perasaan curiga itu. Ia kembali fokus dengan pertunjukan busana.
__ADS_1
Sementara di ruang utama...
Rain dan Star tampak berbincang. Mereka tertawa di sela-sela acara. Tak biasanya keduanya bercengkrama seria ini.
"Kau tampak bahagia sekali, Rain." Star meneguk anggurnya.
"Hah, ya. Apa salahnya jika aku bahagia?" Rain balik bertanya.
"Kau tampak lebih segar. Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Star lagi karena melihat rambut Rain masih tampak basah.
"Kau ini ingin tahu saja." Rain pun menggerutu.
"Ya, ya, baiklah. Aku diam saja kalau begitu." Star meletakkan gelas anggurnya ke meja.
"Hei, Star!"
"Hm?"
"Bagaimana rasanya malam pertama?"
Rain tiba-tiba bertanya seperti itu. Sontak wajah Star berubah pucat.
"Hei, kita sedang di ruang terbuka. Kau yakin memintaku untuk menjawabnya?" Star berbisik ke telinga Rain.
"Ya, aku hanya ingin tahu saja," cetus Rain.
"Ingin jawaban jujur atau bohong?" tanya Star lagi.
"Jawaban jujur, kau akan menyesal pastinya."
"Menyesal?"
"Ya, kau akan menyesal karena kenapa tidak dari dulu menikah, Rain."
"Hahahaha." Rain lantas tertawa. "Lalu bagaimana rasanya?" Rain bertanya lagi sambil berbisik.
"Rasanya ... seperti melayang di udara. Ringan dan menggetarkan seluruh sendi tulangmu."
Star menggoda. Rain pun terperanjat mendengarnya.
"Sudahlah, jangan dibayangkan. Bukannya sebentar lagi?" tanya Star.
Rain diam, ia semakin tidak sabar menunggu hari itu. Hari di mana ia dapat memiliki sang gadis seutuhnya. Angan Rain pun melayang bersama impiannya. Rain begitu menginginkan Ara.
Beberapa menit kemudian...
Acara pertunjukan busana segera dimulai. Mozart mengiringi pertunjukan busana ini dengan melodi yang lambat dan enak didengar. Ara dan Cloud sendiri telah sampai di ruang utama dan kini sedang berbincang bersama para raja dan ratu. Ia diperkenalkan kepada raja dan ratu negeri lain.
"Gadis yang cantik. Angkasa sangat beruntung memiliki gadis sepertimu," puji seorang ratu kepadanya.
"Terima kasih, Yang Mulia." Ara pun tersenyum.
__ADS_1
"Jadi Raja Sky, apakah pernikahan putra Anda akan segera dilangsungkan setelah acara ini?" tanya salah seorang raja.
Sky tersenyum kecil.
"Nona, kami sangat terkesima dengan semua bakat yang Nona miliki. Mungkin lain waktu Nona bisa mengajar di negeri kami." Ratu lain ikut bicara.
"Terima kasih atas tawaranya, Yang Mulia." Lagi-lagi Ara tersenyum menanggapinya.
Cloud semakin berbangga hati karena sebentar lagi akan menikahi gadis multi talenta ini. Dipegangnya erat tangan sang gadis, seolah mengisyaratkan jika Ara adalah miliknya. Sky pun tidak dapat berkata apa-apa. Kebahagiaan putranya adalah kebahagiaannya juga sebagai orang tua.
Perbincangan mereka terus berlanjut hingga pertunjukan busana dimulai. Tampak Ara dan Cloud yang duduk berdampingan di teras lantai dua. Mereka duduk bersama para raja dan ratu negeri lain, seakan mengisyaratkan jika merekalah raja dan ratu Angkasa selanjutnya.
Ara, kau tahu. Aku sangat bahagia memilikimu. Rasanya waktu melambat menunggu hari bahagia itu. Aku ingin segera melabuhkan bahtera bersamamu. Aku yakin kau bisa merawat anak-anakku kelak. Aku sangat percaya padamu. Andai kau meminta nyawaku pun, aku akan memberikannya. Tapi kumohon, jangan pernah mencoba untuk menghindar dariku. Apalagi meninggalkanku.
Cloud menatap Ara penuh kasih dan sayangnya. Ia tidak juga melepas genggaman erat tangan sang gadis. Rasanya dunia ini hanya miliknya berdua.
Cloud tersenyum sambil terus memandang gadisnya yang sedang berbincang bersama para ratu mengenai busana yang dipertunjukkan. Ia kemudian meletakkan tangan kiri sang gadis ke dadanya, seolah ingin memberi tahu betapa bahagianya ia saat ini.
Dua jam kemudian...
Keempat puluh busana telah ditampilkan. Kini tiba acara pelelangan. Count dan Shane bertindak sebagai pembawa acara lelang. Sedang kedua menteri lain bertindak sebagai juri, siapa yang terlebih dulu melakukan penawaran tertinggi. Alhasil, keempat puluh busana rancangan Ara terjual dengan nilai yang fantastis. Ara tampak terharu dengan hasil lelang busananya.
Akhirnya, tugasku selesai.
Ia bersuka cita dengan keberhasilannya. Namun karena rasa lelah, Ara berniat beristirahat segera.
"Cloud, aku beristirahat duluan, ya. Tak apa, kan?" Ara berpamitan kepada Cloud.
"Hm, ya. Baiklah. Besok pagi aku akan menjemputmu. Selamat tidur, Ratu." Cloud lantas mencium kening Ara.
Dasar dia ini. Sekarang mulai ikut-ikutan Rain yang tidak tahu tempat.
"Baiklah, sampai nanti." Ara lekas bergegas keluar ruangan.
Gadis itupun berjalan sendirian. Ia tidak takut berjalan sendiri di istana walaupun hari sudah memasuki pertengahan malam.
"Nona!"
Seseorang memanggilnya saat keluar dari ruang utama. Ara pun menoleh ke belakang, melihat ke asal suara saat menyusuri koridor seorang diri. Kedua pangerannya sedang sibuk mengurusi hasil pelelangan busana sehingga ia harus sendirian.
"Pangeran Zu?" Ara melihat jika Zu yang memanggilnya.
Zu pun mendekat, ia berjalan cepat ke arah gadis itu. Lantas ia memberikan sesuatu untuk Ara.
"Nona, aku ada sesuatu untukmu." Zu mengawali.
"Apa itu, Pangeran?" tanyanya lembut. "Tapi bukannya lebih baik Pangeran beristirahat? Hari sudah memasuki pertengahan malam." Ara mengingatkan.
"Aku sengaja ingin memberikan ini terlebih dahulu agar bisa tidur dengan nyenyak. Bukankah esok aku harus segera kembali?" Zu terlihat sedih.
"Em, baiklah." Ara tersenyum. "Apa yang ingin Pangeran berikan padaku?" tanya Ara, sebisa mungkin menanggapi pangeran itu.
__ADS_1