Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
For You


__ADS_3

Jam makan siang...


Lonceng pergantian waktu telah berbunyi. Kini Ara telah berada di ruang kerja Cloud. Ia menunggu sang pangeran sulung menyelesaikan pekerjaannya.


Ara harus membagi waktunya untuk kedua pangeran, sesuai dengan perintah sang raja. Walaupun hari ini ia diliburkan, tetap saja harus menjalankan titah kerajaan. Sky telah mempercayakan kedua putranya kepada Ara.


"Akhirnya selesai juga."


Cloud merapikan meja kerjanya, sedang Ara tampak sedang duduk bersantai di atas sofa sambil memainkan ponselnya itu.


"Ara, kenapa kau harus tinggal di kediaman Rain?" tanya Cloud seraya berjalan mendekati sang gadis.


"Rain memintaku tinggal di sana agar tidak luput dari pengawasannya. Dia khawatir padaku, terlebih pertunjukan busana akan segera dimulai."


Cloud tampak berpikir. Ia kemudian duduk di tepi sofa sambil menghadap ke arah Ara.


"Aku juga khawatir, Ara. Terlebih ibu seperti kurang menyukai kebersamaan kita." Cloud mengambil ponsel yang Ara pegang tanpa pamit.


"Cloud, aku tidak tahu mengapa ratu tidak menyukaiku. Jika alasannya karena takut aku mencuri perhatian raja, itu sangat mustahil. Aku tidak mungkin melakukan itu." Ara mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.


"Aku tahu, Ara. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana isi hati manusia yang sebenarnya terkecuali Tuhan, bukan?" Cloud mulai memutar lagu kesukaannya, All That I Need.


"Iya, sih. Tapi tetap saja aku merasa dituduh di sini." Ara menundukkan kepalanya.


"Bersabarlah, Sayang. Aku tahu kau mampu bersabar. Jika ibu memang kurang menyukaimu, kau masih bisa memiliki putranya. Bahkan mungkin keduanya."


"Cloud?" Apa maksudnya dia berkata seperti itu? Apa terjadi sesuatu padanya?


"Aku berpihak padamu bukan karena aku melawan ibu. Tapi karena aku tahu bagaimana sifat dan sikap ibu. Desas-desus yang kudengar, para pelayan di sini juga kurang begitu menyukainya."


"Maafkan aku, Cloud." Ara memegang tangan Cloud.


"Mungkin karena ibu merasa dia anak satu-satunya dari kakek, sehingga siapapun akan tunduk padanya. Kehidupan berlimpah membuat ibu melupakan sesuatu."


"Sesuatu?"


"Iya. Sesuatu itu adalah jika manusia tidak akan pernah bisa hidup sendirian."


Ara terpana mendengarnya.


"Aku berharap kau tidak mengambil hati semua ucapan ibu. Baik yang kemarin ataupun yang akan datang. Bersikap seperti biasanya. Jadilah Ara yang menentramkan hati semua orang."


Ara berkaca-kaca. Ia terharu dengan ucapan Cloud. Lantas saja ia memeluk putra mahkota yang satu ini.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Sungguh aku tidak bisa memilih. Cloud menenangkan jiwaku dan Rain menghibur hatiku. Keduanya sangat kubutuhkan.


Cloud membalas pelukan gadisnya itu. Ia kemudian mencium kening Ara lalu menatapnya penuh cinta.


"Kita makan siang bersama, ya?" Cloud mengajak Ara untuk makan siang bersama.


Ara pun mengangguk. Ia kemudian keluar ruangan dengan bergandengan tangan bersama Cloud. Keduanya berniat makan siang di gazebo istana. Menikmati indahnya hari bersama sang kekasih pujaan hati.


Sementara itu di ruang rapat raja...


"Ayah, mengapa harus mengadakan kemah di bukit pohon surga?" Rain tampak menolak hasil keputusan rapat.


"Rain, ini acara puncak sebelum pertunjukan busana dimulai."


"Tapi, Yah. Tidak pantas membiarkan Ara menjadi pendamping acara ini!" Rain berseru tegas.


"Pasukan khusus sudah Ayah perintahkan untuk berjaga di kawasan sekitar bukit. Kau tidak perlu khawatir."


Rain mengusap kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan rencana sang ayah.


Ya Tuhan, aku khawatir jika apa yang aku takutkan akan terjadi.


Ia begitu cemas. Ada sebuah ketakutan melanda pikirannya. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Ara saat melakukan kemah bersama di bukit pohon surga.


"Rain, kau punya pekerjaan sendiri. Kau ingin melepas tanggung jawabmu?" Sky tampak kurang senang dengan respon anaknya.


"Tapi, Yah—"


"Jangan membantah orang tua. Ayah tahu apa yang Ayah lakukan. Cepat pergi dan kerjakan tugasmu!"


Sky menolak aju banding yang Rain lakukan. Rain sendiri tidak habis pikir dengan cara berpikir ayahnya itu.


Bisa-bisanya ayah merelakan Ara menjadi pendamping acara ini. Apa dia tidak berpikir jika nanti terjadi sesuatu pada Ara? Bagaimanapun dia wanita, tidak mungkin bisa melawan kekuatan pria. Apalagi jika sudah diliputi hawa nafsu yang menggebu.


Rain menggerutu dalam hatinya.


Astaga, kenapa pikiranku sekarang seperti ini? Aku terlalu posesif padanya. Apakah ini diriku yang sebenarnya?


Rain juga tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang menjadi posesif seperti ini. Ia diliputi kecemasan jika sang gadis jauh dari jangkauannya. Terlebih jarak istana - bukit pohon surga cukup jauh. Ia merasa kesal sendiri dengan hasil keputusan rapat ini.


Sementara itu di gazebo istana...


"Cloud."

__ADS_1


"Hm?"


"Aku ada sesuatu untukmu."


"Untukku?"


Ara mengeluarkan sesuatu dari saku kecil gaunnya. Ia ingin memberikan sesuatu kepada Cloud.


"Apa ini, Ara?" Cloud menerima sesuatu itu.


"Bukalah," pinta Ara seraya tersenyum.


Keduanya baru saja selesai makan siang bersama. Cloud tampak penasaran dengan isi dari kantong biru tersebut.


"Kalung?" Ia melihat kalung bergantung awan.


"He-em. Kau suka?" tanya Ara lembut.


"Ara, kau tidak perlu repot-repot seperti ini." Cloud merasa terharu.


"Tidak repot, kok. Selama ini kau banyak memberiku sesuatu, tapi aku belum pernah memberi apapun. Jadi, anggap saja ini hadiah dariku."


"Ara ...."


Cloud terharu, ia lantas memeluk Ara dengan pelukan bahagia. Ara pun membalas pelukan itu kemudian melepaskannya segera. Ia khawatir jika ada yang melihat kemesraannya di tempat yang terbuka seperti ini. Ara menjaga nama baik Cloud di hadapan penghuni istana yang lain.


"Aku pakaikan, ya?"


Ia lalu memakaikan kalung itu ke leher Cloud. Kalung tipis yang terbuat dari perak.


"Lumayan cocok." Ara terkekeh sendiri melihatnya.


"Ara? Apa ini lucu?" tanya Cloud yang penasaran.


"Tidak-tidak. Pakai saja tapi jangan diperlihatkan seperti aku. Masukan ke dalam jubahmu, ya."


Ara lalu membantu memasukkan kalung itu ke dalam jubah Cloud agar tidak terlihat orang. Ia tampak senang karena bisa memberikan hadiah kepada sang pangeran sulung kerajaan ini.


Baiklah, tinggal Rain. Aku memang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya.


Keduanya lalu menghabiskan jam istirahat di gazebo istana. Setelahnya, Ara menuju ruang tata rias untuk bertemu dengan Paman Mark. Ia ingin membicarakan hal yang berkaitan dengan pertunjukan busana nanti.


Walaupun libur, Ara tetap saja tidak ingin diam di rumah. Sebisa mungkin ia tetap beraktivitas agar tidak merasa bosan dengan hari liburnya. Toh, acara pertunjukan busana tinggal menghitung hari saja. Ia harus kembali mengingatkan konsep yang telah direncanakan sebelumnya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tata rias, Ara menyampaikan kembali konsep pertunjukan busananya. Setelahnya, ia beralih ke selatan istana untuk menemui musikus asing itu, Mozart dan band-nya. Sekaligus berlatih vokal bersama. Hari libur ini ia habiskan untuk membahagiakan dirinya sendiri.


__ADS_2