Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Misterius Book


__ADS_3

Aku lalu mencoba untuk memegang dahi anak itu. Tapi tiba-tiba saja tanganku bergetar.


"Non, Anda tidak apa-apa?" tanya Mbok Asri yang khawatir.


Ini aneh sekali.


Segera kulepas tanganku dari dahi anak itu. Firasatku mengatakan ada hal yang tak beres.


"Ibu, untuk sementara bawalah ke tabib lain. Aku akan mencari tahu tentang hal ini," kataku.


"Tapi, Putri. Uang kami sudah habis untuk biaya berobat kemarin. Kami tidak mempunyai sedikitpun emas untuk berobat. Hanya cukup untuk makan sehari-hari."


Sontak hatiku terenyuh mendengar penuturan ibu itu. Aku lalu meminjam uang Mbok Asri untuk berobat anaknya.


"Maaf, Mbok. Boleh kupinjam uangnya? Aku tidak membawa uang lagi," kataku.


Jujur saja, tadi aku hanya membawa uang untuk membeli parfum, tidak membawa lebih. Aku juga tidak enak meminta banyak kepada Cloud. Ya, walaupun dia tidak keberatan sama sekali.


"Baik, Non. Tapi tidak banyak," kata Mbok Asri.


"Tidak apa-apa, Mbok. Seadanya saja."


Aku mendapat uang pinjaman dari Mbok Asri, lalu menyerahkan uangnya kepada ibu itu. Ibu itupun berterima kasih kepadaku seraya bersujud.


"Terima kasih banyak, Putri."


"E-eh! Sudah, Bu. Tidak perlu seperti itu." Aku jadi tidak enak sendiri.


Mbok Asri tampak memperhatikan. Ia seperti mempunyai pandangan lain tentangku.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Nanti setelah beberapa hari, aku akan kembali." Aku mencoba menenangkan ibu itu.


Ibu itu terlihat bahagia saat aku memberikannya bantuan. Dia mengantarkanku sampai di halaman depan rumahnya.


Setelah berpamitan, aku segera menaiki kereta kudaku. Kami lalu berjalan pulang ke arah istana.


Aku harus menceritakan hal ini kepada Cloud, kataku dalam hati.


Sementara itu di istana...


Cloud tengah berbincang bersama Star di gazebo istana. Ia meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol dengan sepupunya itu. Hidangan ringan telah tersaji, menemani obrolan mereka.


"Jadi kapan kau akan menikah?" tanya Star kepada Cloud. Dia duduk santai dengan satu kaki di atas kursi.


"Secepatnya," jawab Cloud seraya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.


"Aku merasa heran dengan jawabanmu dari semalam. Mengapa seperti mengandung kata yang ambigu?" tanya Star lagi.


"Itu hanya perasaanmu saja," jawab Cloud.


"Tidak-tidak. Katakan yang sebenarnya, Cloud." Star tampak penasaran.


"Nanti kau akan terkejut jika mengetahui yang sebenarnya." Cloud melanjutkan.


"Memangnya ada apa? Bukankah kau mencintainya? Lalu mengapa tidak segera menikahinya saja?" Star terheran-heran.


"Masalahnya ... bukan hanya aku yang mencintainya."


"Maksudmu?"


"Rain juga mencintai Ara."

__ADS_1


"APA?!!!"


Sontak saja Star terkejut bukan main mendengarnya. Hampir saja cangkir kopi itu terkena senggolan kakinya yang sedang bersantai.


"Cloud?"


"Ini benar adanya, Star."


"Bagaimana bisa?" tanya Star yang terheran-heran.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Semua mengalir seperti air," jawab Cloud dengan wajah bimbangnya.


"Astaga!" Star lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Kau bingung? Aku apalagi," kata Cloud.


"Hah, baru kali ini terjadi di sepanjang kisah kerajaan."


"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Cloud.


"Aku jadi bingung jika kau bertanya seperti itu. Aku tahu benar bagaimana Rain. Kalian bisa saling serang kalau begini."


"Itu juga yang aku khawatirkan."


"Tak bisakah salah satu dari kalian mengalah?" tanya Star lagi.


"Aku begitu mencintainya, Star. Aku tidak bisa," jawab Cloud seraya menatap ke langit gazebo.


"Dulu saja saat kita kecil, Rain tidak mau mengalah sama sekali. Apalagi sekarang setelah dia dewasa. Terlebih dia memegang jabatan penting di istana ini."


"Ya, aku juga sudah menceritakan hal ini kepada ayah."


"Lalu?"


Star kembali menepuk jidatnya. "Paman saja tidak bisa memberi keputusan, apalagi aku, Cloud."


Di sela-sela perbincangan keduanya, tak lama kereta kuda Ara sudah tiba di istana. Gadis itu melihat Cloud bersama sepupunya sedang duduk bersantai di gazebo istana. Ia lalu berjalan menghampiri keduanya.


Setibanya di depan gazebo istana...


"Salam bahagia untuk Pangeran," ucapku kepada keduanya.


"Ara?" Cloud segera keluar dari gazebo dan menyambut kedatanganku.


"Oh, jadi ini yang namanya Ara. Pantas saja Cloud tergila-gila." Star tersenyum sendiri seraya berjalan ke pintu gazebo.


Cloud lalu mendekati sepupunya itu. "Jangan macam-macam dengannya jika tidak ingin barangmu kucacak sampai halus." Cloud mengancam sepupunya.


Kata-kata itu membuatku terkekeh geli. Tak bisa kubayangkan jika Cloud seganas ini kepada sepupunya itu. Ucapannya memang terdengar seperti berbisik, namun terdengar jelas di telingaku. Sontak saja sepupunya itu menelan ludahnya berulang kali. Dia tampak ketakutan.


"Em, maaf. Namaku Star, Nona Ara." Sepupu Cloud itu mengajakku berjabat tangan.


"Senang berkenalan dengan Anda, Pangeran," kataku seraya meletakkan tangan kanan di dada dan membungkuk ke arahnya.


Sepupu Cloud tampak heran dengan sikapku yang menolak untuk berjabat tangan dengannya. Dia tampak malu sendiri. Dengan segera, ia tepiskan tangannya itu.


"Em, sepertinya aku mengerti." Star melanjutkan.


"Ya, dan kau tahu alasannya sekarang." Cloud terlihat menyilangkan kedua tangan di dada.


Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi mungkin ini masih berkaitan denganku.

__ADS_1


"Baiklah. Sepertinya tiba-tiba aku merindukan istriku."


Star beranjak meninggalkan kami. Alasannya itu sungguh membuatku tertawa geli.


"Nanti kita teruskan perbincangan ini," bisiknya pada Cloud yang terdengar di telingaku.


Star berlalu pergi. Kini hanya ada aku dan Cloud di gazebo istana. Cloud lalu mengajakku untuk masuk ke dalam gazebo.


"Sudah mendapatkan parfumnya?" tanya Cloud seraya duduk, diikuti olehku.


"He-em, iya. Aku membeli sebanyak satu liter," jawabku seraya menunjukkan botol parfumnya.


Cloud lalu mencium aroma parfum itu. "Ara, aromanya sangat menggoda sekali. Bisa membangkitkan birahi," katanya yang sontak membuatku terkejut.


"Ehh? Dari awal aku sudah memakainya, lho. Bahkan di duniaku juga. Namun, memang tidak setebal ini sih harumnya."


Cloud lalu menutup botol parfum itu.


"Gunakan sedikit saja, ya. Aku khawatir jika terlalu banyak," katanya cemas.


Aku tahu maksud perkataannya. Akupun mengangguk.


"Cloud, ada yang ingin aku ceritakan," kataku kepadanya.


"Tentang apa?"


"Tentang penduduk ibu kota."


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanyanya mulai serius.


"Cloud, tadi aku ...."


Aku segera menceritakan perihal yang kulihat saat berada di ibu kota. Cloud pun mendengarkannya dengan saksama. Wajahnya tampak bertekuk setelah mendengar ceritaku ini.


"Cloud, semalam aku juga melihat bintang berekor yang ingin menembus langit istana."


"Bintang berekor?"


"Iya. Dan setelah itu aku tidak dapat menahan tubuhku sendiri. Kepalaku sangat pusing dan akupun terjatuh. Saat terbangun sudah bersamamu."


"Jadi semalam bukan karena kelelahan?" tanya Cloud lagi.


"Tidak." Aku menggelengkan kepala. "Setelah aku tak sadarkan diri, aku bertemu dengan Tetua Agung."


"Maksudmu?!" Cloud semakin serius.


"Aku bertemunya di alam bawah sadarku."


"Ara ... mengapa ini ...?"


"Ada apa, Cloud? Apa kau mengetahui sesuatu?" tanyaku.


"Lalu apa yang dikatakan Tetua Agung kepadamu?" Cloud bertanya serius.


"Dia ... memanggilku dengan sebutan dewi."


"Dewi?"


"Iya." Aku kembali mengangguk.


Cloud beranjak dari duduknya. Ia berjalan menjauh lalu berdiri di sisi gazebo sambil memandangi kolam ikan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Mengapa semua yang Ara ceritakan sama dengan isi buku hitam itu? tanyanya sendiri.


Cloud tidak habis pikir dengan semua yang terjadi. Ia dilanda rasa penasaran yang begitu tinggi. Namun, untuk sementara waktu dia harus menyelesaikan masalah yang terjadi di ibu kota. Cloud lalu meminta beberapa orang untuk segera mengusut tuntas apa yang sedang terjadi.


__ADS_2