
Selepas makan malam di bukit pohon surga...
Ara membagikan papan alas, tiga lembar kertas dan juga satu pena kepada masing-masing pangeran dan putri kerajaan. Malam ini adalah malam puncak kebersamaan mereka karena besok malam sudah memasuki malam pertunjukan busana.
Dibantu asistennya, Ara melaksanakan tugasnya dengan baik. Di sekeliling bukit terdapat banyak lampu gantung berbahan bakar minyak sehingga atas bukit terlihat terang. Ditambah penerangan dari api unggun yang kini sudah menyala, pemandangan atas bukit tidak lagi gelap gulita.
Malam ini kebetulan memasuki malam keempat belas sehingga bulan hampir tampak sempurna. Cahayanya begitu menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya. Awan-awan putih juga terlihat beriringan melewati malam. Ditambah udara yang sejuk, menambah momen kebersamaan ini semakin erat dan juga akrab.
Para pangeran dan putri sudah saling mengenal nama masing-masing. Beberapa di antara mereka pun sedang ada yang dekat. Hal itu bisa terasa oleh Ara karena ia selalu memperhatikan para pangeran dan juga putri. Tak ayal dengan kejahilannya, semakin membuat suasana meriah. Ia bak mak comblang yang sedang melaksanakan tugasnya.
"Selamat malam, Pangeran, Putri."
Ara menyapa. Ia berdiri di tengah-tengah para pangeran dan juga putri. Yang mana pangeran duduk berbaris di sebelah kanan, sedang para putrinya di sebelah kiri. Jumlah putri yang lebih banyak dari pangeran membuat Ara sedikit ragu memainkan permainan ini. Tapi karena acara sudah disusun sebaik mungkin, akhirnya ia melaksanakan tugasnya.
"Selamat malam, Nona Ara." Para pangeran dan putri menyahuti salamnya.
Ara kemudian menjelaskan permainan yang akan segera dimulai malam ini kepada para pangeran dan putri. Ia tampak tenang dan juga ceria.
"Jadi para pangeran hanya diperbolehkan menulis satu nama putri saja, Nona?" tanya salah seorang pangeran kepada Ara.
"Iya, Pangeran. Satu pangeran hanya boleh menuliskan satu nama putri. Begitu juga dengan para putri, hanya boleh menuliskan satu nama pangeran."
"Hah, baiklah."
"Aku kira satu pangeran boleh menulis dua atau tiga nama putri," celetuk pangeran yang lain.
"Hahahaha." Pangeran yang lain pun tertawa mendengarnya.
"Baiklah, sudah dapat dimengerti, ya. Kita akan segera mulai permainannya. Dimulai para putri, silakan."
Ara meminta kepada para putri untuk memperkenalkan dirinya satu per satu ke hadapan para pangeran, agar para pangeran tidak salah menuliskan nama dan asal putri yang dipilihnya. Dan akhirnya, kedua puluh lima putri telah selesai memperkenalkan diri.
"Terima kasih, silakan duduk kembali." Ara mempersilakan para putri untuk duduk kembali.
Kelima belas pangeran telah selesai menuliskan nama seorang putri yang dipilihnya. Dan kini giliran para pangeran yang memperkenalkan diri, sedang para putri memilihnya. Hanya satu nama pangeran yang akan ditulis para putri.
Beberapa menit kemudian...
"Sudah semua, ya? Baiklah silakan dikumpulkan."
Ara menerima lembaran kertas hasil pemilihan nama pangeran dan putri kerajaan. Yang mana nama yang dipanggil akan maju ke depan untuk dicocokkan. Jika tidak cocok, maka yang memilih harus mundur dan kembali duduk. Permainan ini tentunya mengundang canda dan juga tawa.
Hm, kita lihat siapa yang saling memilih di sini.
Menit demi menit berlalu. Akhirnya tinggal dua pangeran yang belum disebutkan memilih putri siapa. Dan seketika Ara terkejut saat membaca nama putri yang dipilih oleh Zu.
Di-dia ...?
__ADS_1
Ara ingin membacakan namanya, tapi ia malu.
"Kenapa, Nona. Apakah ada yang lucu?" tanya salah seorang putri yang duduk.
Ara menahan tawanya. Ia sungkan untuk menyebutkan siapa yang dipilih oleh Zu. Zu sendiri terlihat tersenyum-senyum sendiri.
"Ayo, Nona. Cepat katakan siapa yang dipilih oleh Pangeran Shu dan Pangeran Zu!" teriak pangeran yang lain.
Mau tak mau, Ara menyebutkan siapa yang dipilih oleh keduanya. Dan hasilnya...
"Pangeran Shu ... tidak ada yang dipilihnya." Ara membalikkan kertas milik Shu.
"Huuuuuu!!!"
Sontak semuanya menyoraki Shu saat itu juga. Sebagian ada yang mengejeknya karena Shu tidak menulis satu nama pun. Shu sendiri terlihat menahan kesalnya.
"Hei, sudah-sudah." Zu menahan kekesalan sang adik dengan menepuk bahunya.
Acara pun diteruskan dan kini Ara akan menyebutkan siapa nama putri yang dipilih oleh Zu. Namun, lagi-lagi ia menahan tawa.
"Nona Ara, cepatlah. Kami penasaran."
"Benar Nona. Katakan saja siapa yang dipilih oleh Pangeran Zu."
Ara lantas menarik napas panjangnya. Ia kemudian menyebutkan siapa yang dipilih oleh Zu.
Para putri menunggu.
"Adalah ...,"
Jantung para putri semakin berdetak kencang karena ini adalah pangeran terakhir yang memilih. Dan ternyata...
"Adalah aku," lanjut Ara kemudian.
"Apa?!" Para putri saling melirik.
"Hei, Zu. Kenapa memilih Ara?" Pangeran lain bertanya kepada Zu.
"Wah, selamat, Nona Ara." Salah satu putri bertepuk tangan menyelamati Ara.
Zu akhirnya maju ke depan, mendekati Ara. Ia lalu menulis di lembaran kertasnya nama Ara yang juga memilihnya.
"Ini sih namanya pemaksaan," celetuk salah satu pangeran.
"Hahahaha." Pangeran lain tertawa mendengarnya.
Para putri akhirnya menerima hasil pemilihan tersebut. Dan ternyata ada empat pasangan malam ini yang akan menjadi pasangan sementara. Untuk yang tidak terpilih harus mencoba lebih dekat lagi.
__ADS_1
Astaga, dia memaksaku untuk memilihnya.
Akhirnya Ara malam ini harus berpasangan dengan Zu. Ia kemudian mau tak mau bersama Zu malam ini. Acara api unggun pun dilakukan dengan penuh suka cita. Diantaranya ada yang bernyanyi dan juga bercanda tawa. Hingga akhirnya waktu sudah mulai memasuki awal pertengahan malam, sekitar pukul sepuluh waktu setempat.
"Nona."
"Hm?"
"Maafkan aku yang memaksamu tadi."
Zu terlihat duduk bersama Ara di dekat api unggun. Keduanya tengah memandangi bulan purnama yang indah.
"Ya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tapi tadi lucu sekali, Pangeran." Ara tampak malu-malu karena terpilih.
"Harusnya dari awal permainan aku memilihmu," kata Zu lagi.
"Benarkah?"
"Hem, ya. Tapi entah mengapa malam ini ada dorongan yang begitu kuat untuk memilihmu." Zu menoleh ke Ara yang duduk di sisi kanannya.
"Terima kasih. Aku ... sangat senang." Ara tersenyum menanggapinya.
Zu kembali melihat senyuman manis itu. Jantungnya berdebar kencang saat duduk bersama sang gadis. Jarak mereka hanya sekitar dua jengkal saja.
Udara malam semakin lama semakin dingin, membuat Ara menggesekkan kedua telapak tangannya. Zu pun menyadari hal itu. Ia segera melepas jubahnya lalu dipakaikan ke tubuh Ara.
Pangeran ...?
Seketika itu juga ada rasa bahagia di dalam hati Ara. Entah kenapa ia merasa begitu tenang saat berada di dekat Zu.
"Pakailah jubahku."
"Tapi ...,"
"Tak apa. Aku masih mempunyai jubah yang lain."
Malam ini akhirnya mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama sampai rasa kantuk itu menerjang sang gadis. Zu lalu mempersilakan Ara untuk tidur terlebih dahulu.
"Selamat malam, Pangeran." Ara berpamitan masuk ke dalam kemahnya.
"Selamat malam," jawab Zu seraya tersenyum.
Zu begitu bahagia malam ini. Hampir-hampir saja ia berteriak kegirangan karena dapat berduaan bersama Ara. Ia memandangi rembulan yang bersinar terang dan lantas berdoa di dalam hati.
Tuhan ... aku yakin jika dia adalah wanita yang kucari. Dekatkan kami dan beri jalan agar kami dapat bersama selamanya.
Zu tersenyum bersamaan dengan doanya yang naik ke langit. Ia pun kembali mengingat kenangan bersama sang gadis. Menutup malam ini dengan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1