Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Ara


__ADS_3

Putra mahkota ini merasa pilu dengan takdirnya. Ia tidak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Tidak pernah terpikir akan mencintai gadis yang sama dengan adiknya sendiri. Dua Pangeran ini mempunyai Satu Cinta.


Angannya melayang jauh. Berharap dapat melabuhkan bahtera bersama sang gadis. Ia menatap pilu dari balik dinding kokoh yang tak mampu tertembus. Sebuah dinding tembus pandang pemisah antar dimensi.


"Ara ...."


Tersirat keinginan yang mendalam darinya. Ia ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Tapi nyatanya, lagi-lagi ia merasa tersakiti. Cloud menyesal, menyalahkan diri sendiri atas kekurangtanggapannya. Cloud lemah, tak berdaya.


Sesaat setelah ia menyerah kepada takdir, tiba-tiba saja keadaan kembali ke sedia kala. Kini ia sudah berada kembali di bukit pohon surga. Dan terlihatlah satu buah tin yang jatuh, tepat di hadapannya.


"Ara ...?"


Entah mengapa, Cloud merasa Ara akan segera datang. Ia tersenyum dalam kesedihannya, berharap apa yang ada di benaknya akan segera menjadi kenyataan.


"Aku akan menunggu kedatanganmu."


Bersamaan dengan itu, di lain ruang dan waktu...


Gadis pemilik hati kedua pangeran ini tampak gelisah dalam tidurnya. Ia berbalik kanan dan kiri tak menentu. Napasnya memburu, detak jantungnya begitu cepat. Iapun terjaga dari tidurnya.


"Cloud!"


Ia berteriak di tengah kegelapan malam yang dingin ini. Dadanya naik-turun seolah kekurangan pasokan oksigen. Tampak dirinya memegangi kepalanya itu.


"Astaga! Lagi-lagi aku bermimpi Cloud."


Untuk kesekian kalinya ia memimpikan pangeran sulung itu. Sepertinya Cloud tidak ingin terlepas dari alam bawah sadar sang gadis.


"Cloud, apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya sendiri.


Ia berusaha bangkit, berjalan keluar kamar menuju dapur. Segelas air hangat ia ambil dan dibawanya ke atas meja makan. Ara meminumnya.


"Kulihat dia menangis di depan pohon tin itu. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah padanya."


Perasaan bersalah mulai muncul di benaknya. Di dalam mimpi ia melihat Cloud menangis di depan pohon surga yang tak lain adalah pohon tin besar di sebuah bukit Negeri Angkasa.


"Jangan-jangan ... Rain memberi kabar tentang hubungan kami." Ara merasakan sesuatu.


"Aduhhh, aku jadi pusing. Aku telah menerima cinta Rain. Tapi bagaimana dengan Cloud?"


Gadis itu seperti menyesali perbuatannya. Kini ia dirundung kebimbangan. Diteguknya lagi air hangat untuk meredakan sesuatu yang tengah berkecamuk di dalam hatinya. Ara dilema.


"Ya Tuhan, tolong aku. Kedua pangeran itu membuatku berada di persimpangan jalan."


Ara tak habis pikir dengan suasana hatinya yang tiba-tiba berubah setelah mengalami mimpi tadi. Ia merasa bersalah sekaligus bimbang dengan hubungannya. Ara merasa jika dirinya bersenang-senang di atas penderitaan Cloud.


Cloud, maafkan aku. Maafkan...

__ADS_1


Sebagai seorang perempuan yang mengandalkan perasaan dibanding logika, Ara tampak menimbang ulang keputusannya. Ia mencoba mengkaji kembali apa yang harus dilakukan.


Bersamaan dengan itu, terlihat Cloud membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. Ia tampak menatap langit seraya berdoa di dalam hati agar dapat segera dipertemukan dengan sang gadis.


"Ara ...."


Tak lama, Cloud menutup mata. Ia tertidur di bukit pohon surga dalam waktu yang lama. Melepas kepenatan dan juga kepiluan yang sedang menyelimuti hatinya.


Beberapa hari kemudian, di dunia Ara...


Ara banyak diam, padahal dua minggu lagi ia akan menghadapi sidang skripsi. Baim, temannya itu tampak prihatin dengan keadaannya.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


Baim bertanya seraya berjalan bersama Ara menuju parkiran kampus. Keduanya baru saja memfinalisasi skripsi mereka.


"Entahlah, Baim. Aku merasa harus menemui Rain secepatnya," jawab sang gadis.


"Kau merindukannya?" tanya Baim lagi.


"Bukan hanya itu. Tapi juga ada urusan yang belum selesai antara aku dan kakaknya."


"Heh?" Baim tampak bingung.


"Aku bekerja pada kakaknya, Baim."


Ara mengangguk sambil mendekap beberapa buku di dada.


"Jangan bilang kalau kakak-beradik itu sama-sama menyukaimu."


Ara segera menoleh ke arah temannya itu.


"Jika iya, apa yang harus aku lakukan?" tanya Ara kepada Baim.


Baim menghela napasnya. Ia mencoba mengerti apa yang sedang dialami temannya itu.


"Ara, kau berada di antara dua pilihan?" Baim bertanya lebih jelas.


"Iya. Mungkin saja."


"Hatimu lebih condong ke mana?" tanyanya lagi.


"Aku tidak tahu, Baim."


"Haduh, Ara. Kenapa jadi plin-plan begini? Kau hanya tinggal mengikuti kata hati saja. Mana yang lebih baik menurut perhitunganmu." Baim melanjutkan.


"Aku tak bisa, Baim. Keduanya sangat berarti bagiku."

__ADS_1


"Tapi sepertinya Rain sudah sangat memilikimu."


"Iya, itu benar. Dia memang seperti itu. Tapi akhir-akhir ini aku selalu memimpikan kakaknya. Aku jadi merasa bersalah."


"Kalau begitu, mengapa tidak coba dibicarakan dengan keduanya?"


"Hah? Kau gila!"


"Lebih gila lagi jika tidak ada yang kau pilih sedang keduanya mencintaimu." Baim menuturkan pendapatnya.


Ara menghela napas panjang.


"Maafkan aku, Baim. Aku masih belum dapat menentukan pilihan setelah terus dihantui kakaknya. Apa boleh jika aku memilih keduanya?" tanya Ara seraya menoleh ke arah Baim.


"Kau yakin mampu? Pria itu memiliki sisi ego yang tinggi, Ara. Mereka selalu ingin dituruti apa kemauannya. Jika kau memilih keduanya, apa kau yakin di masa mendatang semuanya akan baik-baik saja?" tanya Baim.


Baim benar. Aku tidak mungkin memilih keduanya. Namun, aku juga tidak bisa mengorbankan salah satunya. Tapi sangat gila jika aku menolak keduanya. Haduh, bagaimana ini?


Ara menggerutu di dalam hatinya. Ia galau sendiri.


Kini Ara benar-benar bingung. Cloud selalu menghantui dirinya. Perasaan bersalah itu semakin hari semakin bertambah karena ia telah menerima cinta Rain.


"Banyak-banyak berdoa saja, Ara. Semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik."


"Aamiin. Semoga saja, Baim. Aku juga khawatir jika terjadi sesuatu nantinya."


"Nah, kalau begitu ... fokuskan terlebih dahulu pikiranmu untuk sidang skripsi minggu lusa. Selama menunggu, tenangkan pikiran dan jangan berpikir yang macam-macam."


Ara tersenyum. "Terima kasih, Baim. Aku sedikit lega."


"Kau harus menggapai mimpimu, Ara. Percayalah jika jodoh, rezeki, maut itu sudah diatur. Jika memang keduanya menjadi jodohmu, terima saja."


Ara tertawa. "Aku harus membagi waktu kalau begitu?"


"Bukan hanya waktu, tapi juga perasaan," lanjut Baim.


"Dan ada satu lagi," kata Ara.


"Apa itu?" tanya Baim.


"Berbagi ranjang."


"Hahahaha."


Keduanya tertawa sesaat setelah Ara berkata seperti itu. Ara dan Baim terus saja berjalan bersama menuju parkiran kampus. Kebetulan hari ini Baim tidak membawa motor kesayangannya, sehingga ia diantar pulang oleh Ara.


Persahabatan di antara keduanya terjalin dengan baik. Namun, siapa sangka jika dulu Baim juga menyukai Ara, teman semasa SMA-nya itu. Seiring berjalannya waktu, kini perasaannya berubah menjadi rasa sayang seperti menyayangi saudara perempuannya sendiri.

__ADS_1


Siapa sih yang tidak menyukai Ara. Gadis berjuta talenta dengan sikap menggemaskan itu. Terlebih ia memiliki suatu kemampuan yang tidak dimiliki gadis lain.


__ADS_2