
"Gadis yang cantik. Nenek melihat aura tak biasa tersirat darimu. Semoga Yang Maha Kuasa merestui kalian."
Aku bingung harus bagaimana. Aku hanya bisa tersenyum kepada nenek itu. Kusikut perut Cloud yang telah membuatku kaget karena ulahnya.
"Aw!" Cloud pun merasakan sakit, dia segera memegangi perutnya.
"Kenapa, Nak? Apakah kehadiran Nenek mengganggu kalian?" tanya nenek itu.
"Ti-tidak, Nek. Aku hanya ...." Aduh, hanya apa, ya? Aku jadi bingung sendiri.
"Ya, sudah. Nenek tinggal dulu. Ajaklah calon istrimu untuk makan siang bersama, Cloud."
Nenek itu berpesan seraya berjalan meninggalkan kami. Aku pun mengantarkannya sampai di depan pintu. Bersama Cloud, kami menuntun nenek itu.
"Jangan lupa, Cloud."
"Baik, Nek," jawab Cloud melebarkan senyumannya.
Setelah nenek itu pergi bersama para pengawalnya yang telah menunggu, kini giliranku membuat Cloud tidak karuan. Kuajak masuk dirinya, lalu kukunci pintu ruangannya dari dalam. Aku menyandarkan Cloud pada dinding ruangan.
"Ar-ara?" Cloud tampak terkejut dengan sikapku.
Kudekatkan tubuhku lalu mendekatkan wajahku ini ke wajahnya, seolah ingin menciumnya. Cloud tampak memejamkan kedua mata, dia pasrah.
"Aaa! Sakit, Ara!"
Namun, yang kulakukan diluar ekspektasinya. Aku bukan menciumnya, melainkan menggigit lehernya itu. Aku tidak peduli dia marah atau tidak. Aku lampiaskan saja rasa kesalku.
"Rasakan!" kataku seraya menjauh darinya.
"Hei! Mau ke mana?"
Belum sempat berbalik, dia menarikku ke dalam pelukannya. Kini kedua tanganku pun melingkar di lehernya.
"Kau memancingku?" tanyanya.
"Ap-apa? Tidak," jawabku.
"Lalu yang tadi?" tanyanya seraya melingkarkan kedua tangan di pinggangku.
"Tadi itu aku kesal. Kau tidak bilang terlebih dahulu padaku. Tahu-tahu memperkenalkanku sebagai calon istri kepada nenekmu. Aku kan kaget," jawabku polos.
Senyumnya mengembang. Dia kemudian membenarkan poni rambutku ini.
"Memang benar kau adalah calon istriku, Ara. Dan tidak ada yang boleh memilikimu selain aku."
"Pemaksaan!"
"Jadi kau menolakku?"
Cloud memegang pinggangku dengan erat, ia kemudian menjatuhkan tubuhku.
"Cloud!"
Aku pikir akan benar-benar terjatuh.
Namun ternyata, dia menahannya.
Dia kemudian menciumi leherku dan juga ... menggigitnya. Kurasakan sakit sekaligus sensasi geli bersamaan. Entahlah, aku bingung bagaimana untuk mengungkapkannya.
"Cloud, ish!"
Dia kemudian menarik tubuhku kembali. Aku segera melepaskan diri darinya dan mencari cermin. Dan ternyata, sebuah tanda tercipta di leherku ini.
__ADS_1
"Aduhhh, bagaimana ini?"
Aku jadi bingung sendiri melihat tanda itu, namun Cloud dengan santainya mendekatiku lalu membuat tanda di bagian leher lainnya.
"Ah! Cloud, sudah!"
Pagi ini kami habiskan waktu bercanda dengan kedua tanda yang tercipta di bagian leherku.
"Cloud, kau harus bertanggung jawab!" kataku kesal.
"Aku tidak mau," jawabnya enteng.
"Kau ini!"
Seketika aku kesal karena mendengar jawabannya. Tapi bersamaan dengan itu, dia memberikan sebuah cincin kepadaku.
"Cloud?"
Dia berlutut di depanku, lalu menyerahkan kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin itu.
"Menikahlah denganku," katanya yang sontak membuatku terharu.
"Cloud ... ak-aku ...."
Aku jadi dilema. Air mataku menetes seketika, begitu melihatnya memberikan cincin bermata berlian itu. Dia benar-benar serius dengan hubungan ini.
"Ak-aku ...."
Aku masih tidak bisa menjawabnya. Aku terlarut dengan rasa haruku sendiri. Cloud juga sepertinya tidak memedulikan jawabanku. Dia segera memakaikan cincin di jari manis tangan kananku. Setelahnya, kami pun berpelukan.
"Cloud ...."
Dia memelukku, begitu erat hingga rasanya udara itu menjauh dariku. Atau aku yang terlalu terbawa rasa bahagia?
Pagi ini, lagi-lagi aku berakhir di pelukannya. Di pelukan sang pangeran sulung kerajaan Angkasa.
"Aku juga," balasku seraya mengusap air mata.
Cloud membenamkan kepalanya di pundak kananku, begitu pun denganku. Kupeluk erat dirinya seakan tidak ingin dia pergi dariku.
Beberapa menit kemudian...
Aku keluar dari ruangan Cloud setelah mendapatkan izin darinya. Hari ini aku berniat keluar istana untuk mencari biang parfumku. Dengan ditemani Mbok Asri, aku menaiki kereta kuda dengan didampingi empat pengawal berkuda. Dua di depan dan dua di belakang.
Aku sudah seperti putri raja.
Sesampainya di toko parfum, aku turun dari kereta. Mbok Asri juga membantuku untuk turun. Namun, sesuatu tiba-tiba terjadi.
Apa ini?
Angin berembus melewatiku. Dan tak lama selembar daun tin segar menempel di wajahku.
"Non!" Mbok Asri segera mengambil daun tin dari wajahku.
"Mbok, kenapa daun tin yang hijau ini bisa gugur?" tanyaku heran.
"Non, sebaiknya kita segera membeli yang Non cari."
Mbok Asri tidak menjawabku. Dia mengajakku untuk segera masuk ke dalam toko parfum ditemani dua prajurit berkuda.
...
Sesampainya di dalam, aku segera membeli biang parfum sebanyak satu liter. Cukup untuk persediaan selama satu bulan.
__ADS_1
"Kembalinya, Nona."
"Ambil saja. Terima kasih," kataku kepada penjaga toko parfum itu.
"Terima kasih, Nona. Hati-hati di jalan," sahut sang penjaga sebelum aku keluar dari toko.
Setelah mendapatkan biang parfumnya, aku segera keluar dari toko parfum tersebut. Namun, seorang ibu datang lalu menghampiriku.
"Putri, tolong kami, Putri," katanya seraya memegangi tanganku.
Aku jadi bingung sendiri. Kedua pengawal pun berusaha untuk mencegahnya. Namun, ibu itu tetap memaksa untuk mendekat dan meminta tolong kepadaku.
"Non, kita segera masuk saja ke dalam kereta."
Mbok Asri tampak cemas, ia segera mengajakku untuk masuk ke dalam kereta, menghindari ibu itu.
"Putri, tolong kami. Kami membutuhkan bantuanmu. Tolong!" teriak ibu itu dengan nada begitu pilu.
Sebagai seorang manusia, hati nuraniku terketuk saat ada yang meminta pertolongan. Akupun membatalkan diri untuk masuk ke dalam kereta.
"Mbok, aku ingin menolong ibu itu."
"Tapi, Non—"
"Tidak apa-apa, Mbok. Mbok tenang saja."
Aku tahu jika Mbok Asri begitu mengkhawatirkanku. Namun, rasa ibaku lebih besar daripada rasa khawatir itu sendiri.
"Pengawal, tolong lepaskan ibu itu!"
Aku meminta kepada kedua pengawal untuk melepaskannya. Kedua pengawal itupun memenuhi permintaanku. Aku lalu mendekati ibu itu.
"Putri, tolong kami," katanya memelas.
"Ada apa, Bu?" tanyaku prihatin.
"Putri, anak kami menderita demam yang tidak kunjung sembuh. Dia ingin bertemu Putri."
Sontak saja aku terkejut dan berpikir keras dengan kejadian ini. Tidak ada pikiran curiga sama sekali dengan ibu itu. Aku hanya mengikuti kata hati untuk menolongnya.
"Baiklah, kita ke rumah Ibu," kataku memenuhi permintaan ibu itu.
Ibu itu lalu berjalan kaki, menuntun kami menuju rumahnya. Sedang aku menaiki kereta bersama Mbok Asri. Karena kereta kuda ini hanya mampu membawa dua orang saja. Keempat pengawal pun tetap berjaga jika terjadi hal-hal yang tidak terduga.
Sesampainya...
Sesampainya di rumah ibu itu, aku dikejutkan dengan pemandangan aneh. Kulihat anak laki-lakinya yang tengah beranjak remaja itu menggigil kedinginan dengan bercak merah menyatu dengan kulit.
"Ibu, mengapa Ibu memintaku kemari? Bukankah ada tabib yang bisa mengobati?" tanyaku heran.
"Maafkan kami, Putri. Kami tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Kami melihat kereta kerajaan lewat, maka dari itu kami segera menghampiri Putri. Maafkan kami." Ibu itu menunduk meminta maaf kepadaku.
Aku mencoba mengerti mengapa ibu itu berbuat seperti ini. Aku lalu menanyakan perihal sakit yang diderita oleh anaknya.
"Saya kurang tahu, Putri. Setelah mencari kayu di hutan, anak saya tiba-tiba merasakan panas di sekujur tubuhnya." Ibu itu mulai menceritakan.
"Sudah dibawa ke tabib?" tanyaku lagi.
"Sudah, Putri. Kami sudah berulang kali membawanya ke tabib. Tapi tabib bilang ini bukan penyakit biasa."
"Maksudnya?"
"Ini penyakit yang diluar kendalinya," jawab ibu itu.
__ADS_1
Aku berpikir sejenak. Mencoba menelaah kata-katanya.
Sepertinya ada hal ganjil tengah terjadi di sini.