Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
All That I Need


__ADS_3

Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.


Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.


Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.


Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.


Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?


Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.


Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.


Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.


Dan sekarang aku tahu dengan pasti...


Aku sia-sia mencari.


Memainkan sebuah permainan.


Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.


Kau datang ke dalam duniaku.


Bukan permata atau mutiara.


Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.


Sama seperti istana pasir.


Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.


Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.


Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, kau segalanya bagiku.


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.


...


Langit cerah, awan putih berarak mengantarkanku pulang ke rumah. Terik matahari hari ini tidak memudarkan semangat yang kian membara. Aku masih berdiri tegar di sini, menanti keajaiban akan kisah cintaku.


"Terima kasih, Baim."


Baim mengantarkanku pulang hingga sampai di depan rumah dengan menggunakan motor Vespa kesayangannya. Temanku yang satu ini tidak pernah berubah sejak dulu. Rambut ikalnya dibiarkan begitu saja, penampilannya pun klasik sekali. Aku jadi teringat saat pertama kali berkenalan dengannya.


Setibanya di rumah, aku segera mempersiapkan diri untuk pindah ke rumah yang baru. Akhirnya kami dapat mempunyai sebuah rumah impian. Dari hasil bekerjaku, aku membeli sebuah rumah berukuran 45/90 di sebuah perumahan yang ada di kota. Tunai kubayar dengan menjual butiran emas dari Cloud.

__ADS_1


Saat ingin mengemasi pakaian, kulihat gaun biruku tengah tergantung di dinding. Kuambil gaun biru itu. Dan ternyata, kutemukan selembar kertas yang digulung kecil. Aku lalu membuka gulungan kertas itu.


...


Ara...


Saat kau membaca pesan ini mungkin telah sampai di duniamu.


Tak banyak yang dapat kukatakan hingga kucoba untuk menulisnya di atas selembar kertas.


Ara...


Banyak hal yang telah kita lalui bersama, dari awal pertemuan hingga perpisahan yang sangat menyiksa batinku ini.


Kau tetap menjadi bagian dariku. Kata-kata yang selalu kulihat di antara kesibukanku, cahaya dalam gelapku, senandung yang kunyanyikan.


Kau menuntunku dalam kesendirian, berjuang dalam melewati jalan yang berliku.


Ara...


Kau memberiku rasa takut akan kehilangan. Kau seperti udara yang kuhirup. Kaulah napasku, cahayaku. Semua yang kubutuhkan ada pada dirimu. Dan kini aku menyadarinya jika aku sangat membutuhkanmu.


Ara...


Aku akan menunggumu di sini. Menunggu sampai tiba masa untuk kita melabuhkan bahtera bersama. Dan perlu kau ketahui akan satu hal yang pasti.


Aku mencintaimu...


...


"Cloud?"


Setelah membaca isi selembar kertas itu, hatiku terenyuh. Dadaku terasa sangat sesak sekali. Entah mengapa seolah udara menghilang dariku. Butir-butir kristal bening keluar dari persembunyiannya, menetes membasahi pipiku.


Andai saja aku mempunyai kesempatan kedua, rasanya aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Menjalin kasih tanpa perlu ada rasa canggung lagi.


Kini kududuk sendiri. Biasanya hari-hari indah ada yang menemani. Bukannya aku tidak menerima takdir ini. Namun, perasaan ini tidak dapat dibohongi. Aku merasa sangat kehilangan. Hatiku terasa kosong, tak berisi.


Cloud ....


Aku menangis sambil memeluk surat darinya. Berharap dalam doa, semoga masih ada kesempatan kedua untukku bersamanya. Rasanya begitu sakit sekali. Jika saja aku dapat memilih, lebih baik hal ini tidak terjadi sama sekali padaku.


Lusa kemudian...


Kami sekeluarga sudah bersiap pindah ke rumah baru di kota. Rumah yang lama sengaja kami biarkan kosong, namun akan tetap kami kunjungi setiap dua hari sekali untuk mengambil hasil kebun.


Sebelum berangkat menuju rumah baru, kusempatkan diri ke tepi laut, tempat di mana aku dan Cloud bertemu. Kudayung sampanku hingga beberapa meter dari tepi. Kunikmati gelombang kecil yang menerpa sampanku ini.


Aku masih dapat merasakan keberadaannya.


Aku mencoba untuk menunggu, kali-kali saja portal kembali terbuka dan mengantarkanku kembali ke sana. Walau kutahu hal ini tidak mungkin dapat terjadi.


"Hahh..."


Kutenangkan diriku sambil menghirup udara segar. Entah mengapa berapa menit di atas getaran ombak, alam bawah sadarku kembali membuka kenangan indah bersama mereka. Kenangan yang tak akan pernah bisa aku lupakan di sepanjang hidupku.


Rindu ini begitu membunuhku. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara agar dapat menembus portal waktu. Kubiarkan saja pikiranku ini berlalu bersama angin yang berembus. Berharap dapat menyampaikan rasa rinduku ini. Rindu yang menggema di seluruh rongga hatiku.


...


Setelah merasa sedikit lega, aku kembali ke rumah. Sesampainya di halaman rumah, kulihat ibu tengah duduk menunggu di teras. Sepertinya Ibu sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa barang-barang terakhir kami. Kulihat ada beberapa keranjang di sampingnya.


"Ibu, Ibu tidak ikut bersama Ayah?" tanyaku saat berjalan mendekati.

__ADS_1


"Tidak, Ibu biarkan Anggi saja yang ikut sama Ayah."


Anggi adalah adik bungsuku. Dia seorang gadis kecil yang sangat lincah. Dia mirip sekali dengan ibu.


"Ara?"


"Ya, Bu."


"Kemarilah, Nak."


Ibu memanggilku lalu mengajak duduk bersama di atas teras rumahku yang terbuat dari papan.


"Semenjak kepulanganmu dari luar negeri, Ibu merasa ada hal yang kau sembunyikan."


Aku tersentak mendengar kata-kata ibu. Sepertinya ibu ingin mendengar kisah yang sebenarnya dariku.


"Hah? Tidak, Bu. Aku baik-baik saja." Aku beralasan.


"Ara?"


Mungkin ini yang dinamakan naluri seorang ibu. Apa yang aku rasakan, ibu juga ikut merasakannya. Namun, rasanya tidak mungkin jika aku harus menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi. Pasti malah akan bertambah rumit. Lagipula, aku tidak ingin menambah beban pikiran ibuku. Aku anak pertama, aku harus kuat dan tangguh. Di pundakku terletak masa depan kedua adikku.


"Ara, cobalah untuk jujur dengan hatimu sendiri."


"I-ibu, ak-aku ...,"


Aku merasa tersudut dengan kata-kata ibu. Seolah ibu tahu apa yang sedang aku pikirkan dan memintaku untuk jujur padanya.


"Kau menyukai Nak Cloud, bukan?"


"Hah?!"


Sontak akupun merasa semakin tersudut mendengar pertanyaan itu. Wajahku serasa memerah dan hatiku serasa ingin bersembunyi dari pertanyaan ibu.


"Ara?"


"I-ibu. Ak-aku ... aku tidak tahu," jawabku kaku.


Ibu lalu mengusap kepalaku. Dia memberikan kasih sayangnya. Kurasakan kehangatan yang dapat sedikit meringankan rindu ini. Tak lama kemudian, ibu memelukku.


"Ibu tahu hal ini pasti berat untukmu. Kesetiaan cinta memang benar-benar diuji di saat sedang berada jauh. Tapi Ibu doakan agar kalian segera bertemu."


Aamiin.


Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya dapat mengaminkannya dalam hati.


"Percayalah, Nak. Doa seorang Ibu lebih mustajab dari apapun. Sekarang, berbahagialah dengan pencapaianmu. Kau telah membuktikan tekad muliamu kepada kami, orang tuamu. Kau sudah membelikan kami rumah yang lebih layak lagi di kota. Semoga kebaikanmu ini membawamu ke hal yang kau inginkan."


"Terima kasih, Bu."


Akupun menangis mendengar kata-kata ibu, aku menangis di pelukannya. Seumur hidup baru kali ini aku menangis di pelukan ibu. Selama ini aku selalu berusaha tegar di hadapan kedua orang tuaku. Namun saat hati sudah berbicara, aku tidak sanggup lagi untuk meredamnya.


Kini aku menyadari jika aku mencintainya. Aku mencintai Cloud dan aku juga mencintai Rain. Aku ingin keduanya. Aku tamak. Ya, aku tamak dengan keinginanku sendiri. Rasa rindu ini begitu menggebu, membuatku tidak dapat menahan gemuruh di hati.


Ya Tuhan. Izinkan aku untuk kembali bertemu dengan mereka...


Ibu masih memelukku, mengusap-usap punggungku. Kurasakan kehangatan di kesunyian hati ini. Hingga mobil jemputan kamipun tiba, kami siap untuk menyambut hari baru di kota.


"Terus berdoa, Nak. Jangan pernah berhenti. Karena hanya doa yang mampu menembus langit dan mengetuk pintu hati-NYA."


Ibu berpesan kepadaku sebelum kami masuk ke dalam mobil. Aku pun akan menuruti pesan ibu. Aku akan terus berdoa hingga Sang Pencipta mengabulkan doaku.


Semangat!!!

__ADS_1


...


Bagian Pertama Tamat


__ADS_2