
Jam makan siang di Asia...
Aku makan bersama Zu di gazebo istana, namun kali ini kami tidak berdekatan. Dia duduk di depan sambil terus memperhatikanku. Aku pun menjaga jarak dengannya. Kusadari jika jarak kami terlalu dekat, akan terjadi hal-hal aneh selanjutnya.
Ya, aku khawatir. Jelas saja khawatir. Siapa yang tidak khawatir akan sikap seorang pria yang agresif, terlebih dia melakukannya amat terburu-buru. Jujur saja aku kurang menyukainya. Aku malah merasa jika dia mencintaiku karena hasrat semata, bukan murni dari hatinya sendiri. Dan kini aku mulai bersikap biasa padanya.
"Apa kita akan selamanya seperti ini?" tanyanya seraya menyeka mulut dengan sapu tangan.
"Aku tidak mengerti maksudnya, Pangeran," jawabku sambil terus menyantap hidangan makan siang.
Kulihat dia meneguk air minum lalu beranjak berdiri, membelakangiku. Sedang aku, terus saja makan, tak peduli padanya.
"Aku tahu aku salah, aku terlalu memaksa. Tapi aku pria normal, Ara. Terlebih bersama seorang gadis yang kucintai. Jadi wajar saja jika aku seperti itu." Dia tidak berani melihat ke arahku.
"Ya ... aku tahu. Tapi aku merasa tertuntut dengan sikapmu. Seharusnya kau bisa memberikanku kebebasan untuk melakukan sesuatu." Aku membela diri.
"Ara." Dia berbalik menghadapku. "Jika aku menunggu, harus sampai kapan? Kau tidak mungkin menyentuhku terlebih dahulu, tidak mungkin menciumku terlebih dahulu. Kau tidak mungkin melakukan jika aku tidak memulainya. Harga dirimu terlalu tinggi untuk kubeli, bahkan dengan nyawaku sekalipun."
"Uhuk-uhuk!!!"
Seketika aku terbatuk-batuk kala mendengar penuturannya. Aku tidak menyangka jika dia akan berkata seperti itu. Dia menganggapku terlalu berlebihan.
Kuteguk air minum ini sampai habis lalu segera menyeka mulutku. Aku pun beralih kepadanya, melihatnya, menatapnya penuh arti.
"Pangeran, aku sudah bilang berkali-kali jika aku butuh waktu. Aku tahu keinginanmu, tapi biar aku saja yang memulainya," kataku lagi.
"Itu tidak mungkin, Ara. Kau tidak mungkin memulainya." Dia meragukanku.
Astaga ....
Kupijat dahiku sendiri. Aku merasa dia sangat manja padaku. Padahal kalau dipikir, dia adalah seorang pangeran dan calon raja negeri ini. Tapi, di hadapanku dia adalah Zu, pria biasa yang seolah tak berdaya menghadapi cintanya.
"Baiklah." Aku beranjak berdiri.
Kudekati dirinya hingga jarak kami begitu dekat. Kutatap wajahnya sambil memperhatikan apa yang ada di sana. Aku mencoba membangkitkan gairahku sendiri.
"Mmuach!"
__ADS_1
Sebuah kecupan lalu mendarat di bibirnya yang merah. Kubuktikan jika aku bisa memenuhi ucapanku. Kulihat dia terpana sendiri.
"Sudah, ya." Aku tersenyum kepadanya.
"Ara, kau ...."
"Apa?" tanyaku seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
"Ara, aku ingin lebih dari ini," katanya lagi.
"Tu kan ... tidak boleh!" Aku berbicara dekat dengan wajahnya lalu segera berbalik.
"Sayang!" Zu pun menahanku. "Ara, aku amat serius padamu. Masihkah kau tidak mempercayaiku?" tanyanya yang memegang tanganku ini.
Kulepaskan tangannya lalu pergi menjauh. "Kita lihat saja nanti."
Kukedipkan mataku dan lekas-lekas pergi meninggalkannya. Tak ingin kebersamaan yang semakin lama ini membuatnya semakin menginginkan sesuatu.
Terkadang aku jadi penasaran, apa setiap pria seperti itu kepada wanitanya?
Ara menginginkan kebebasan bertindak saat bersama Zu. Ia tidak ingin dipaksa, diperintah untuk melakukan hal ini dan itu, terlebih memenuhi semua keinginan Zu. Ara masih menyimpan kekhawatiran jika apa yang Shu katakan itu adalah benar, sedangkan dirinya tidak ingin dijadikan tempat persinggahan sementara. Ara ingin cinta itu sungguh-sungguh diberikan kepadanya.
Begitulah cinta, terkadang ketidakmampuan manusia menerima, membuat si penerima menjadi salah menempatkan posisi. Sedang cinta, memang murni anugerah semata. Dan cinta terkadang tidak membutuhkan balasan yang sama. Sisi ego manusialah yang memaksa cinta itu sendiri, sehingga disalahartikan oleh sebagian insan.
Sementara itu...
Rain sudah hampir tiba di salah satu dermaga kecil yang ada di Asia. Ia bersama pasukannya akan menemui seseorang, sebagai jembatan penyeberangan antara dirinya dan juga Ara. Rain tengah bersiap-siap turun dari kapal, ia bersama pasukannya menaiki kuda.
Ara, aku datang.
Perjalanan jauh ia tempuh menggunakan kapal cepat milik angkatan laut negerinya. Kapal yang biasa digunakan untuk berperang itu, mampu mengangkut banyak muatan. Rain pun menyewanya dengan menggunakan uang sendiri. Ia tidak lagi peduli berapa banyak emas yang harus dikeluarkan untuk menemui gadisnya.
"Pangeran, kita akan segera turun." Salah satu nahkoda kapal memberi tahu.
"Baik." Rain pun segera menyiapkan diri.
Akhirnya tak lama mereka tiba di sebuah dermaga kecil, di salah satu tempat yang ada di Asia, dekat dengan hutan yang dibiarkan begitu saja. Satu per satu kuda para pasukannya pun turun dari kapal. Mereka menuju rumah yang ada di dekat dermaga itu.
__ADS_1
Langkah kaki kuda mereka mulai melambat saat sudah mendekati sebuah gubuk yang ada di depan. Terlihat di samping kanan dan kiri gubuk itu banyak sekali pepohonan tinggi. Dan tak lama, seorang kakek keluar bersama istrinya saat menyadari kehadiran Rain bersama para pasukan datang.
"Pangeran Rain."
Kakek itu tersenyum ke arah Rain dan Rain pun segera turun dari kudanya. Sebuah perjumpaan terjadi setelah lama tidak bertemu.
"Lama tak jumpa, Kakek." Rain memberi salam.
"Kau semakin gagah perkasa, Cucuku. Mari masuk." Kakek itu mempersilakan.
Rain bersama pasukannya lantas beristirahat di gubuk itu. Mereka dijamu dengan sajian yang begitu sederhana. Rain pun segera meminta kepada pasukannya untuk membawakan apa yang ada di dalam kapal.
"Pangeran Rain, tidak perlu repot-repot."
Kakek itu tertawa saat menerima banyak pemberian dari Rain. Rain membawakan banyak bahan sembako untuk sang kakek. Sang kakek bersama istrinya pun tampak terharu dengan apa yang Rain bawakan. Dan tak lama, terjadi perbincangan penting selama makan siang di gubuk itu.
Kembali ke istana Asia...
Ara menuju dapur istana untuk membuatkan ramuan bagi raja. Namun, sebelum sampai ia bertemu dengan ratu istana ini. Ratu itu tampak memasang wajah kesalnya.
"Salam, Ratu." Ara menyapa.
Ratu itu tampak jutek sekali. "Aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan berapa yang kau mau untuk meninggalkan istana ini." Ratu itu bertanya seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
"Em, maksud Ratu?" Ara tak mengerti.
"Aku tidak tahu siapa dirimu, Nona. Tapi kehadiranmu cukup menggangguku. Segera kembali ke asalmu. Jangan sampai aku berbuat sesuatu untuk mengusirmu dari istana ini." Ratu itu mengancam.
Seketika Ara terdiam, ia merasa terintimidasi. "Maaf, Ratu. Sepertinya saya tidak membuat sebuah kesalahan. Apa alasan Ratu mengusir saya dari istana ini?" Ara masih bertanya dengan santun.
"Kau terlalu banyak bicara. Segera pergi dari istana! Aku tidak ingin melihatmu." Ratu itu berkata ketus.
Ara terdiam sejenak.
"Baik. Jika Ratu menginginkan saya pergi dari istana, maka saya akan memenuhinya. Tapi, jangan salahkan saya jika malah Ratulah yang terusir dari istana ini." Ara membalas.
"Apa kau bilang?!" Ratu ingin menampar Ara, tapi Ara segera menahannya.
__ADS_1
"Maaf. Saya tidak mengenal siapa Anda. Anda juga tidak mengenal siapa saya. Jadi tolong jaga sikap Anda. Sebelum semuanya terlambat." Ara balik mengancam.
Ratu itu segera melepaskan tangannya yang ingin menampar Ara. Bersamaan dengan itu tanpa sengaja Shu melihatnya. Ia segera menghampiri untuk menanyakan apa yang terjadi.