Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Breathe


__ADS_3

Sementara di lain tempat...


Ara tampak memandangi rembulan dari balik jendela kamarnya. Ia merasa rindu kepada kedua pangeran Angkasa. Semua pemberian dari keduanya tampak ia pegang, mulai dari anting, kalung hingga cincin permata yang ada di jari manis tangan kanannya. Ia membayangkan jika keduanya tengah berada di hadapannya.


Rain ... Cloud ... aku masih bisa merasakan kalian ....


Ara rindu dan juga merasa sedih atas apa yang telah terjadi. Ia bingung harus mengambil langkah apa, haruskah kembali atau tetap berada di sini bersama Zu. Ara dilema.


"Rain, sedang apa kau di sana? Apa kau mencariku?" Ia bertanya sendiri.


Tetesan air mata itu mulai membasahi pipinya. Ia pun menangis karena harus berpisah dengan seseorang yang di perjumpaan awal sangat menyebalkan baginya.


"Cloud, kini tak lagi kurasakan sentuhan lembut darimu."


Air mata itu kian lama semakin deras, mengalir dari mata bulatnya. Ara rindu istana Angkasa, ia sangat rindu dengan kedua pangeran yang ada di sana. Kenangan indah pun terlintas di benaknya saat bersama sang pangeran.


Di taman kecil waktu itu...


Rain menarik dagu Ara dengan jemari tangannya. Ia mengecup bibir sang gadis dengan lembut.


"Aku mencintaimu ... Araku. Kau dengar itu, detak jantungku memanggil namamu," kata Rain lagi.


"Setelah ini temani aku hingga habis masa usiaku." Rain berkata sungguh-sungguh.


"Aku ingin menjadi seorang ayah, mendidik putra-putraku untuk meneruskan perjuanganku. Dan aku ingin kau yang melahirkan putraku."


...


"Rain ...."


Ara kini menangis tersedu-sedu. Ia telah berpisah jauh dengan sang pangeran.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku seperti menemui jalan buntu. Jika aku kembali, aku khawatir ratu akan semakin marah. Tapi, aku tidak bisa di sini, aku merindukannya." Ara terus menangis.

__ADS_1


Kenangan indah terukir abadi di dalam hati. Ara merasa sepi sekali. Tidak ada lagi yang menjahilinya, tidak ada lagi yang menggodanya, tidak ada lagi yang memarahinya. Ara rindu semua itu...


"Cloud ...."


...


"*Ara, k*au marah padaku karena hal itu?" tanya Cloud kepadanya.


Ara diam saja.


"Ara, jawab aku. Aku tidak suka didiamkan seperti ini." Cloud meminta.


"Cloud ...,"


"Ara, aku akan menjadi suamimu. Apa aku salah melakukan hal itu?" Cloud memegang wajah Ara dengan kedua tangannya.


"Tapi itu terlalu mencolok, Sayang. Banyak yang melihatnya. Apa kau tak malu?" Ara balik bertanya.


"Malu? Malu untuk apa, Ara? Semuanya sudah tahu jika kita akan segera menikah. Kau akan jadi milikku seutuhnya." Cloud heran dengan pikiran gadisnya.


"Tidak-tidak. Aku tidak akan pergi sebelum masalah ini selesai," kata Cloud lagi.


Ara menghela napasnya lalu mengembuskan pelan.


"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Tadi aku memang salah, melampaui skenario yang sudah dirapatkan. Sekarang tolong maafkan aku dan jangan mencoba untuk menghindar dariku lagi." Cloud meminta kepada gadisnya.


"Iya." Ara pun mengangguk.


"Aku ingin yang tulus."


"Iya, Sayang." Ara tersenyum gemas kepada Cloud.


Cloud lantas memeluk gadisnya itu. "Aku begitu menyayangimu, Ara. Jangan pernah mencoba menghindar dariku lagi," katanya.

__ADS_1


"Iya, iya. Dasar bawel!" Ara lantas mencubit perut Cloud.


...


Satu per satu kenangan itu muncul di benaknya. Membuat sang gadis semakin lirih menghadapi kenyataan yang terjadi.


"Cloud ... apa kau merindukanku? Apa kau sudah makan? Apa lambungmu sudah sembuh?" Ara bertanya sendiri.


Ia merindukan pangerannya. Sang pangeran pencuri hatinya. Kini ia tidak lagi bisa merasakan kehangatan yang Cloud berikan. Ara hanya bisa menangis dan terus menangis, seolah menemui jalan buntu.


Zu diam-diam melihatnya dari balik pintu kamar. Ia tampak menelan ludah saat melihat Ara menangis. Ingin rasanya menghapuskan kesedihan yang melanda, tapi ia merasa belum pantas untuk melakukannya.


Aku tahu, Nona. Ada cinta segitiga yang terjadi di antaramu dan kedua pangeran Angkasa. Tapi jika kau bisa mencintai dua orang, mengapa tidak bisa mencintai yang ketiga?


Zu menutup pintu kamar Ara dari luar. Napasnya tampak tersengal. Dadanya naik-turun dan matanya mulai berlinangan. Ia sedih, menyesal kenapa tidak dari sejak awal bertemu dengan Ara. Tentunya tidak akan ada cinta segitiga yang terjadi.


Andai saja aku bisa bertemu dengannya sebelum kedua pangeran itu, tentunya aku bisa menetapkan hatinya hanya untukku. Tapi yang terjadi, aku datang di saat mereka telah dekat. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menahan perasaanku. Semakin lama aku bersamanya, hatiku semakin tertarik padanya.


Zu berkecil hati. Ia merasa pastinya akan sangat sulit untuk membuat Ara memulai kembali suatu hubungan. Sedangkan ia sangat ingin mengenal lebih jauh gadis itu. Gadis yang tiap malam selalu menghantuinya. Dengan senyumnya, tawanya, suaranya dan juga bakat yang dimiliki.


Zu lalu memutuskan untuk tidur di kamar yang bersampingan dengan kamar Ara. Ia merebahkan diri untuk segera beristirahat dari hari yang melelahkan.


Hari ini ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk sang gadis. Namun sayang, gadis itu belum juga menyadari perasaannya.


...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.

__ADS_1


Dan cintamu adalah segala yang kubutuhkan...


__ADS_2