
Waktu terus berjalan, musim pun telah berganti. Hari ini adalah hari pertama bagi Ara merasakan musim semi di kerajaan Angkasa. Tampak keceriaan di wajah cantiknya. Gadis pejuang itu masih belum menyerah kepada takdir. Ia terus bersemangat meraih mimpinya.
Impian gadis itu sederhana. Ia hanya ingin membahagiakan kedua orang tua dan juga adiknya. Ia rela menempuh perjalanan jauh demi masa depan cerah kedua adiknya itu. Ia gadis yang begitu bersemangat dan juga menggelora.
Memasuki musim semi, kerajaan Angkasa telah menerima empat puluh tamu perwakilan dari berbagai negeri. Beberapa di antaranya, para raja dan ratu juga ikut datang menghadiri acara besar ini. Kedatangan mereka tentu saja disambut suka cita oleh raja dan ratu kerajaan Angkasa.
Malam ini di ruang utama istana, terlihat gadis cantik pemilik hati kedua pangeran sedang mempersiapkan makan malam bersama. Ia sibuk menata meja dan kursi serta hiasan bunga ke atas sebuah meja makan yang besar.
Ada dua meja besar sejajar di ruang utama kerajaan. Satu untuk para raja dan ratu, dan satu lagi untuk para pangeran dan putri kerajaan. Ara sengaja merancangnya terpisah agar para raja dan ratu tidak terganggu oleh obrolan para putri dan juga pangeran.
"Akhirnya selesai juga."
Gadis itu terlihat imut saat mengenakan gaun biru metalik yang polos dan sebatas selutut, namun tanpa lengan. Ia sengaja menutupi bagian bahu yang terbuka dengan rambut panjangnya itu. Yang mana rambutnya itu sangat suka dibelai oleh sang putra sulung kerajaan ini, tak lain adalah Cloud. Seorang pria berparas tampan yang berhasil mencuri hati Ara sejak awal perjumpaan mereka.
"Ara, gaunmu terlalu terbuka."
Putra bungsu kerajaan ini datang lalu melepas jubahnya. Ia memakaikan jubah kebesarannya yang berwarna merah itu ke tubuh sang gadis. Sontak si gadis merasa kurang nyaman karena sikap sang pangeran yang terlalu over protektif padanya.
"Rain, ini kan mau makan malam bersama."
"Tetap saja, Ara. Nanti jika ada pangeran yang melihat bahumu bagaimana?"
"Astaga. Kututupi pakai rambut," sergah Ara.
"Tidak-tidak. Pikiran mereka pasti akan ke mana-mana. Pakai saja jubahku untuk menutupinya."
Pangeran bungsu itu sangat protektif terhadap gadisnya. Tak ayal si gadis merasa kesal dengan sikap sang pangeran. Tapi, yang namanya cinta, sekesal apapun tetap cinta. Ya, kan?
"Hei, Rain! Apa yang kau lakukan?" Pangeran sulung datang menghampiri.
"Kau yang memberi Ara gaun ini?" tanya Rain kepada Cloud.
"Ya, memangnya kenapa?" Cloud balik bertanya.
"Kak, apa kau tidak berpikir jika nanti semua pangeran berkumpul lalu melihat Ara mengenakan pakaian yang terbuka?" Rain tampak kesal.
Astaga, tolong jangan mulai perdebatan, Rain.
__ADS_1
Si gadis menggerutu dalam hati. Tak habis pikir gaunnya akan membuat percakapan panjang dan menyita waktu seperti ini.
"Sudah-sudah, nanti aku pakai rompi. Oke?! Gaun ini aku yang memilihnya sendiri. Jadi, jangan salahkan Cloud." Ia tampak kesal menengahi.
Gadis itupun bergegas pergi menuju ruang ganti istana. Tempat di mana para peraga busana fitting baju dan juga ber-make up. Di sana banyak pakaian ganti sehingga bisa digunakan Ara untuk menutupi bagian bahunya yang terbuka. Namun sebelum sampai, ia tanpa sengaja bertabrakan dengan salah seorang pangeran di belokan koridor istana.
"Aduh-aduh. Maafkan aku."
Benturan cukup keras terjadi di antara keduanya. Ara tanpa sengaja menumbur seseorang yang sama-sama akan berbelok. Dan ternyata dia adalah seorang pangeran.
"K-k-kau ...?"
Ara tampak kaget saat melihat paras pangeran itu. Seketika Ara terpaku di tempatnya. Sang pangeran sendiri tampak merapikan jas mewahnya yang lebih mirip seperti baju koko itu.
"Em, tidak apa-apa, Nona. Kau sendiri bagaimana?"
Suara lembut sang pangeran kemudian terdengar di telinga Ara. Ia seperti mengalami de javu.
"Nona? Kau tidak apa-apa?"
Pangeran itu melambaikan tangan di depan wajah Ara. Tapi, masih tidak ada respon dari sang gadis.
Untuk kedua kalinya pangeran itu memanggilnya. Namun kali ini, sang pangeran memberanikan diri untuk memegang kedua lengan Ara. Seketika itu juga Ara tersadar.
"Eh! Ak-aku ...." Ara tampak kebingungan.
"Nona, kau baik-baik saja? Apa ada yang bisa kubantu?" Pangeran itu menawarkan diri.
"Em, ti-tidak, Pangeran. Maaf, saya tidak sengaja tadi. Ya, tidak sengaja."
Entah mengapa Ara terbata saat berhadapan dengan pangeran itu. Ia tampak kikuk seolah kehabisan kata.
"Namaku Zu. Aku pangeran dari Negeri Asia. Senang berkenalan denganmu."
Pangeran yang mengaku bernama Zu mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. Ara yang masih belum tersadar penuh dari lamunannya hampir saja menjabat tangan sang pangeran.
"Em, maaf. Salam bahagia untuk Pangeran Zu," katanya seraya meletakkan kedua tangan di dada.
__ADS_1
Pangeran itu seperti terkesima dengan apa yang Ara lakukan. Dan Ara segera saja berpamitan meninggalkannya.
"Maaf, Pangeran. Saya permisi."
Lekas-lekas Ara berjalan cepat meninggalkan Zu. Ia tidak ingin jika ada yang melihat kejadian ini.
Gadis itu apakah seorang putri? Zu bertanya sendiri. Ia tampak terkesima melihat sang gadis bergaun biru.
Sementara sang gadis terlihat terburu-buru. Ia bergegas menuju ruang ganti istana.
Aduh, gawat! Kenapa aku bisa menabraknya, sih? Dia itukan pangeran. Jika raja melihatnya, bisa-bisa raja tidak lagi percaya padaku. Apalagi jika Rain yang melihatnya, habislah aku. Pidato panjangnya pasti menggantikan suara jangkrik sepanjang malam.
Ara menggerutu sendiri sambil meneruskan langkah kakinya menuju ruang ganti. Para pelayan pun tampak menyapa saat berpapasan dengannya. Namun, Ara hanya tersenyum. Ia cepat-cepat mencari rompi setelah sampai di ruangan ganti.
Sepuluh menit kemudian...
Para putri dan pangeran berdatangan ke ruang utama istana. Mereka akan segera memulai makan malam bersama. Para raja dan ratu juga berjalan masuk ke ruangan. Mereka terlihat bercakap-cakap.
Ara mempersilakan para putri untuk duduk di kursi barisan kiri. Sedang Cloud menyambut para pangeran yang datang untuk duduk di kursi barisan sebelah kanan. Mereka bekerja sama menyambut para putri dan pangeran yang hadir untuk acara makan malam bersama ini.
Rain sebagai panglima tinggi istana duduk bersama para raja dan ratu. Ayahnya sendiri yang meminta putra bungsunya itu untuk duduk menemani. Kewibawaan Rain tampaknya membuat para raja dan ratu lain segan kepadanya. Terlebih kepada ayahnya sendiri.
Baiklah, aku duduk di sini saja.
Ara memilih duduk di kursi paling sudut dikarenakan kursi yang tersisa hanya satu. Sedang Cloud duduk bersama ayah dan ibunya. Ia ikut mendampingi dan duduk bersebelahan dengan Rain.
Aku tidak boleh grogi walaupun berhadapan dengan para putri.
Ara merasa minder saat melihat paras dan penampilan para putri yang menghadiri makan malam ini. Ia sendiri hanya mengenakan gaun biru metalik polos dengan rompi jaring berwarna putih, sangat sederhana.
Namun, bukan karena tidak ada gaun lain, tapi ia tahu diri jika bukanlah seorang putri kerajaan. Sehingga kurang pantas baginya jika menyaingi penampilan para putri kerajaan. Tapi siapa sangka, ternyata sikap sederhananya itu malah membuat salah seorang pangeran memperhatikannya dari seberang meja sana.
Dia sederhana, namun begitu mempesona. Siapakah dirinya?
Zu, pangeran yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya saat berbelok di koridor istana, tampak memperhatikan Ara karena penampilannya begitu sederhana jika dibandingkan putri lain. Diam-diam ia mencuri pandangan saat gadis itu tidak melihat ke arahnya.
"Hadirin dipersilakan mencicipi menu pembuka."
__ADS_1
Menteri Dalam Negeri yang bernama Count mempersilakan para tamu undangan untuk mencicipi hidangan pembuka yang sudah tersedia di atas meja. Berupa potongan kecil buah segar yang diberi susu dan mayonais spesial. Tak ayal, para putri tampak ketagihan untuk menambahnya lagi. Begitu juga dengan para ratu, mereka tampak menikmati hidangan pembuka ini.