Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Love Bridge


__ADS_3

Jam makan siang...


Ara kembali mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Ia kini mengenakan gaun yang lebih menyerap keringat. Berwarna merah muda sebatas mata kaki dengan lengan panjang, namun terbuka di bagian bahu.


Ia sedang menyisir rambutnya. Memoles wajahnya dengan make-up minimalis. Lipglos pink juga ia sapukan pada bibirnya itu.


"Aku harus lebih banyak memakai parfum."


Kali ini ia menggunakan parfum di sekujur tubuhnya agar lebih percaya diri mendampingi para pangeran dan putri kerajaan. Yang mana parfumnya itu membuat Rain terbangun dari tidurnya.


"Harum sekali." Rain melihat gadisnya sedang berkaca dari atas tempat tidurnya.


"Rain, kau sudah bangun?"


"Sudah, Ara. Sejak pagi malah."


"Eh???"


"Kau cantik sekali mengenakan warna lembut seperti itu."


"Benarkah?" Ara berbalik menghadap Rain.


"Rasanya aku sudah tidak sabar." Rain beranjak bangun, ia duduk di tepi kasurnya.


"Sabarlah, Rain. Waktunya sebentar lagi akan tiba." Ara menahan tawanya.


"Aku juga berharap seperti itu." Ia perlahan bangkit lalu mendekati gadisnya.


"Ish! Mandi dulu sana! Bau tahu!" gerutu Ara yang menolak untuk dicium Rain.


Rain tiba-tiba saja ingin mencium gadisnya, tapi lagi-lagi tertolak. Ia semakin penasaran dan juga merasa tertantang.


Ara, kau selalu menolakku. Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi jika kau sudah menjadi istriku.


"Ya, ya, baiklah. Aku mandi." Rain bergegas masuk ke dalam kamar mandinya.


"Aku ke ruangan Cloud dulu, ya?!"


"Kau mau apa ke sana?" tanya Rain dari dalam kamar mandi.


Mau apa? Pertanyaan macam apa itu? Ara menggerutu sendiri.

__ADS_1


"Aku ada keperluan dengannya. Kau makan siang sendiri dulu ya, Rain." Ara bergegas pergi.


"Hei, Ara!"


Rain membuka pintu kamar mandi, ia ingin bicara kepada gadisnya. Namun, gadis itu pergi begitu cepat dari kamarnya.


Hahhh ... kenapa aku selalu mengkhawatirkannya? Apakah tidak ada hal lain yang harus aku khawatirkan?


Rain tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Semenjak kesempatan kedua itu datang, ia tidak ingin menyia-nyiakan gadis itu. Rain tidak ingin kehilangan Ara lagi. Cukup sekali perpisahan yang menyakitkan itu ia rasakan. Ia berjanji untuk menjaga Ara di sisa usianya.


Di ruangan Cloud...


Ara masuk ke dalam ruangan Cloud dan melihat pangeran sulung itu masih tampak sibuk dengan berbagai macam lembaran kertas kerja. Ia segera mendekati sang pangeran dengan wajah sedikit kesal.


"Ara?" Cloud menoleh.


"Kau belum makan siang?" tanya Ara yang berdiri di hadapan Cloud.


"Aku masih sibuk. Nanti saja," jawab Cloud segera.


Gadis itu berjalan ke belakang sang pangeran. Ia memijat punggung Cloud dengan perlahan. Sontak saja Cloud menghentikan aktivitasnya.


"Emh. Rasanya begitu nikmat sekali, Ara."


"Sudah," kata Ara lalu berjalan ke depan.


"Sudah?" Cloud bingung.


"Sudah. Waktunya makan siang. Ayo!" Ara menarik tangan Cloud.


"Tapi, Sayang—"


"Tak ada tapi. Lambungmu masih dalam proses pemulihan. Aku tidak mau kau sakit, Cloud." Ara memasang wajah kesalnya.


"Hah, baiklah. Aku akan menurut pada ratu," kata Cloud yang pasrah.


Cloud akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Ia mengunci pintu ruangan dari luar dan berpesan kepada prajurit yang berjaga jika ia akan makan siang. Setelahnya, ia mengikuti ke mana langkah kaki sang gadis pergi.


Bagaimana aku tidak bertambah sayang padamu, Ara. Kau begitu memperhatikanku.


Cloud tidak henti-hentinya menatap Ara dari sisi. Keduanya bergandengan tangan menuju ruang utama istana untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Sesampainya di ruang utama...


Ara melayani Cloud dengan baik. Ia mengambilkan nasi dan juga tumisan untuk makan siang Cloud. Tampak para pangeran dan putri melihat keduanya dengan perasaan heran.


"Jangan makan kubis, ya. Nanti kembung." Ara berpesan sebelum menuju ke kursi makannya.


"Ehem!" Rain tiba-tiba datang lalu duduk di samping Cloud. "Aku juga mau," katanya lalu memberikan Ara piring kosong.


"Rain, kau kan bisa ambil sendiri," bisik Ara yang tidak ingin menjadi pusat perhatian.


"Aku mau diambilkan." Rain menoleh ke arah Cloud.


Aura persaingan begitu terasa di antara keduanya. Membuat para pangeran dan putri kerajaan terperangah dengan hal yang mereka lihat di sudut meja makan ini.


"Baiklah."


Ara pasrah. Ia lalu mengambilkan nasi dan juga tumisan untuk Rain.


"Selamat siang, silakan disantap makan siangnya."


Menteri Dalam Negeri mempersilakan para pangeran dan putri kerajaan untuk makan siang bersama. Tak lama berselang, para raja dan ratu datang lalu duduk di meja satunya. Namun, mereka tidak langsung bersantap siang, lebih menikmati hidangan pembuka dahulu. Sedang para putri dan pangeran yang habis berkeliling istana, diminta untuk lebih awal bersantap.


Gadis itu dekat sekali dengan kedua pangeran kerajaan ini. Apakah dia seorang putri? Tapi mengapa dia jadi pendamping kami? Ataukah dia pekerja khusus di istana ini?


Dari seberang kursi makan, Zu melihat apa yang Ara lakukan. Ia semakin penasaran dengan siapa sebenarnya gadis itu. Ada banyak hal yang belum terjawab di benaknya. Zu dirundung rasa penasaran.


Makan siang ini berjalan lancar sebelum akhirnya para pangeran dan putri diajak berkeliling ke luar istana. Ara bersama Menteri Dalam Negeri mendampingi keempat puluh pangeran dan putri yang berasal dari berbagai negeri. Mereka akan menghabiskan waktu hingga sore hari untuk berkeliling ke tempat wisata yang tidak jauh dari istana. Sedang Rain dan Cloud sibuk dengan aktivitas hariannya di kerajaan.


Beberapa jam kemudian...


Para pangeran dan putri sedang mengunjungi danau cinta kerajaan ini. Danau di mana Ara dan Cloud melihat matahari terbenam bersama. Para pangeran dan putri juga sudah mulai berkenalan satu sama lain. Tentunya dengan masih menjunjung tinggi nilai kesopanan diri.


"Silakan, Putri, Pangeran. Jika ingin mencoba menaiki sampan, kami sudah menyediakan banyak sampan hari ini." Ara menawarkan.


"Apakah aman, Nona?" tanya salah seorang putri bergaun mawar merah.


"Tentu, Putri. Danau ini begitu terjaga. Tidak ada buaya ataupun binatang buas lainnya. Hanya ada angsa putih dan burung-burung bersayap indah." Ara menuturkan.


"Baiklah. Aku ingin mencobanya."


Satu per satu putri kerajaan itu mencoba untuk menaiki sampan bersama pasangan sementaranya. Ara membuat sebuah permainan yang mana para pangeran dan putri bisa saling berkenalan dan menjadi pasangan sementara hingga sore hari. Permainan ini tentunya sudah mendapat persetujuan dari pihak istana. Tampak Count yang tersenyum-senyum sendiri saat melihat Ara begitu sigap menjadi perantara cinta.

__ADS_1


Nona Ara memang sangat baik dan juga ramah. Aku berharap pangeran Cloud bisa menikah dengannya dan membangun negeri ini dengan penuh cinta.


Count sebagai salah satu orang kepercayaan raja tentunya menginginkan yang terbaik untuk Angkasa. Sejak Cloud memegang administrasi, Count selalu setia mendampingi pangeran sulung kerajaan ini. Ia bahkan sudah menganggap Cloud seperti anaknya sendiri.


__ADS_2