Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Angry


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Tabib istana datang memberikan kabar perihal sesuatu yang jatuh dari genggaman Andelin. Aku, Rain, Cloud dan raja, duduk bersama di ruangan khusus. Tabib itu kemudian menceritakan apa yang dia temukan.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya harus mengatakan yang sebenarnya." Tabib itu mulai bicara.


"Silakan." Raja tampak serius.


"Yang Mulia, ini ada serbuk perangsang yang dapat membuat siapapun berada di luar kendalinya," kata tabib itu lagi.


"Apa?!!" Rain terkejut, begitu juga denganku.


"Apakah ini benar?" tanya raja serius.


"Benar, Yang Mulia. Isi dari tabung kecil ini adalah serbuk perangsang. Kami sudah mengeceknya berulang kali."


Raja tampak memijat kepalanya.


"Kita harus bertindak cepat, Yah!" Rain berapi-api.


"Tunggu, Rain. Ayah butuh waktu sebentar."


Raja Sky tampak pusing. Dia sepertinya tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Cloud sendiri diam saja, seolah-olah terkunci.


Jangan-jangan Cloud?!


"Yang Mulia, bolehkah saya berbicara dengan kedua pangeran?" tanyaku kepada raja.


"Hm, ya. Silakan, Nona."


Aku meminta izin kepada raja agar bisa berbicara dengan kedua putranya. Kami kemudian keluar dari ruangan menuju balkon teras lantai tiga. Sesampainya di balkon, aku mencoba berbicara dengan Cloud. Rain pun menjadi saksi pembicaraanku ini.


Dia tampak kaku menjawab pertanyaanku. Ada apa sebenarnya?


"Cloud, apa kau pernah meminum sesuatu dari putri itu?"


Aku mencoba bertanya lagi. Dengan suara yang pelan seraya duduk menghadapnya. Tapi, Cloud diam saja.


Ini aneh.


Aku lalu berbisik kepada Rain, memintanya untuk melakukan sesuatu. Rain pun terkejut dengan permintaanku, tapi kali ini aku memaksanya.


Ini demi kebaikan kakaknya.


Akhirnya, Rain menuruti permintaanku. Dia membangunkan kakaknya lalu mengajaknya ke dekat pagar balkon, yang mana di bawahnya terdapat taman kecil.


"Maafkan aku, Kak."


Rain dengan cepat meninju perut kakaknya sehingga Cloud memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia tampak mulai tersadar dari hal aneh yang terjadi pada dirinya itu.


"Hah, hah." Cloud terlihat kesakitan.


"Kakak, kau baik-baik saja?" tanya Rain sambil membantu kakaknya agar mengeluarkan semua sisa isi perutnya.


Aku bergegas pergi lalu kembali dengan membawakan segelas air minum untuk Cloud.


"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Cloud tampak sudah kembali ke dirinya.


"Maaf, Kak. Ara yang memintaku." Rain menoleh ke arahku yang baru saja datang.


"Ara?!" Cloud juga menoleh ke arahku.


Aku yang menjadi pusat perhatian, hanya bisa tersenyum tidak karuan di hadapan keduanya.

__ADS_1


"Cloud minum dulu," kataku tanpa merasa berdosa.


Cloud pun segera mengambil segelas air minum dariku.


"Kumur dulu, Cloud. Ya, begitu. Buang airnya lalu kumur lagi hingga ke tenggorokan." Aku mengarahkan.


Cloud mengikuti semua arahan dariku. Sedang Rain tampak menahan tawa karena sikapku ini. Entah apa yang ada di pikirannya, aku juga tidak tahu.


"Hah, hah. Perutku sakit sekali." Cloud mulai mengeluhkan perutnya.


"Sudah, kita kembali ke ruanganmu dulu, ya."


Aku mengajak Cloud untuk kembali ke ruangannya. Aku juga meminta kepada Rain agar membantu kakaknya berjalan. Karena kulihat Cloud masih menahan sakitnya.


Sepertinya aku telah berhasil menyelamatkan Cloud dari tipu daya putri itu.


Para pelayan yang melihat, tampak heran dengan keadaan calon rajanya. Cloud terlihat kesakitan. Ya, maklum saja. Dia terkena tinjuan adiknya sendiri yang tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana rasanya.


Sesampainya di ruangan Cloud...


"Ara, aku masih tidak mengerti." Cloud merebahkan diri di atas sofa.


"Kau ini pintar tapi bodoh, Kak!" celetuk Rain.


"Kau!" Seketika Cloud kesal.


"Hei, sudah-sudah."


Aku melerai pertengkaran keduanya, padahal baru saja sampai di dalam ruangan. Kuberikan segera segelas susu sapi murni untuk menetralkan perut Cloud. Cloud pun meminumnya.


"Habiskan! Turuti apa yang Ara perintahkan padamu!" Rain berseru.


Tiba-tiba aku ingin tertawa melihat keduanya seperti ini. Cloud tampak begitu bodoh di mata adiknya, sedang Rain merasa dirinya lebih pintar dari kakaknya.


"Aku ... masih merasa pusing," jawab Cloud pelan.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyaku lagi.


Cloud memijat kepalanya. Rain sendiri menyandarkan diri di depan meja kerja Cloud. Dia tampak memakan kacang kulit, entah dari mana dapatnya.


"Sejak awal aku sudah curiga kepada Andelin. Kau masih saja menanggapinya." Rain menggerutu.


"Cloud?" Aku mencoba menyapanya lagi.


"Aku ... waktu itu ...."


"Hah, kau lama sekali, Kak!"


"Rain!"


Aku memperingatkan Rain agar tidak membuat keruh suasana yang baru saja membaik. Apalagi Cloud baru tersadar saat ini.


"Sebelum makan siang, Andelin datang membawakan buah ceri yang banyak untukku." Cloud mulai bercerita.


"Lalu?" tanyaku.


"Aku mencicipi buah itu. Dan rasanya memang enak," jawab Cloud.


"Hah ...." Rain membuang napasnya.


"Maksudku, setelah itu apa yang terjadi padamu, Cloud?" tanyaku memperjelas.


"Aku ...," Cloud berpikir.

__ADS_1


"???"


"Aku merasa sedikit pusing. Dan tiba-tiba emosiku jadi tidak stabil," lanjutnya.


"Kau masih menyimpan sisa buah itu tidak, Kak?" tanya Rain yang masih mengunyah kacang kulitnya.


"Sudah habis," jawab Cloud.


"Kau telan semua?" tanya Rain lagi.


Cloud mengangguk.


"Cih! Dasar rakus!" Rain berjalan mendekati kakaknya. "Itulah akibat dari kerakusanmu. Kau jadi tercuci otaknya." Rain berkata ketus.


"Rain, jangan begitu." Aku menengahi.


"Biar saja, Ara. Biar dia tahu jika ketamakan itu hanya akan mencelakai dirinya sendiri. Lagipula dia bisa saja meminta pelayan membawakan buah ceri yang banyak kalau dia mau." Rain mulai berpidato.


"Rasanya beda, Rain. Tidak seperti buah ceri lainnya," bela Cloud.


"Sama saja, Kak. Bentuknya, warnanya, rasanya, sama saja seperti itu. Yang membedakan hanya sensasinya saja. Apalagi jika ditambahi bubuk perangsang." Rain kemudian duduk di dekat kaki kakaknya.


"Rain!" Aku jadi tidak enak sendiri mendengarnya.


"Lain kali, kalau bodoh jangan terlalu bodoh. Kalau pintar jangan terlalu pintar. Biasa-biasa saja!" cetus Rain lagi.


"Adik kurang ajar!"


Cloud mencoba bangun untuk menangkap adiknya. Tapi Rain segera berdiri dan lari ke arah pintu keluar.


"Ara, kutitip pria bodoh ini padamu. Aku masih ada rapat yang harus diselesaikan." Rain pergi meninggalkan kami.


"Rain, tunggu!" Aku ingin menahan Rain, tapi Cloud menahanku.


"Ara, aku lebih membutuhkanmu." Cloud berkata pelan.


Rain pun pergi dari hadapanku. Dia seolah meninggalkan pesan mendalam untukku. Dia benar-benar bijaksana. Ya, terlepas dari kata-katanya yang ceplas-ceplos dan menyakitkan itu.


"Baiklah. Aku akan merawatmu."


Malam yang semakin larut, membuatku mengutamakan untuk mengurus Cloud terlebih dahulu. Aku membantunya bangun lalu memapahnya masuk ke dalam kamar. Kurasa waktu sudah mulai memasuki awal malam, mungkin sekitar pukul delapan saat ini.


Syukurlah, semuanya baik-baik saja.


Beberapa jam kemudian...


Hari beranjak memasuki pertengahan malam. Cloud juga sudah tertidur pulas di kamarnya. Kini saatnya untuk kembali ke kamarku. Ya, kamar sementara yang ada di kediaman Rain. Akupun bergegas keluar, membuka pintu.


"Rain?"


Bersamaan dengan itu, Rain terlihat sudah berada di depan pintu. Dia sedang berbicara kepada dua prajurit yang berjaga. Dia tampak memberi pesan kepada prajuritnya.


"Baik, Pangeran!" Kedua prajurit itu tampak menuruti perintah darinya.


"Rain."


Aku lalu mendekatinya, Rain juga menyadari kehadiranku. Kami lalu berjalan bersama meninggalkan ruangan Cloud.


"Hah, akhirnya. Semua terselesaikan."


Dia tampak meregangkan kedua tangannya ke atas. Tercium aroma parfumnya yang memabukkan. Aroma seperti blue ocean di duniaku. Saat terkena angin, harumnya begitu memabukkan. Hasratku jadi naik seketika.


Mereka mempunyai selera yang berbeda. Sifat dan sikap yang berbeda. Tapi, aku merasa lebih nyaman dengan Rain. Namun, Cloud lebih membutuhkanku. Ya Tuhan, aku jadi bingung.

__ADS_1


__ADS_2