Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Love Both of Them


__ADS_3

"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Silakan dimakan."


Raja mempersilakan kami untuk menyantap hidangan pembuka. Aku pun segera mencicipi salad buah yang terlihat sangat menggoda selera ini. Ada potongan buah nanas, melon, semangka, buah naga, mangga, dan juga pir yang dibaluri susu fermentasi. Serutan keju pun melengkapinya.


Hm, lezatnya. Tapi kenapa tidak ada buah tin, ya?


Aku jadi heran sendiri saat tidak menemukan potongan buah tin. Negeri ini memiliki pohon tin yang sangat besar dan juga rimbun. Tapi kenapa aku tidak pernah melihat penghuni istana memakan buah tin, ya? Jangankan memakan, melihatnya ada saja tidak pernah.


Apa tidak ada buah tin di negeri ini selain di bukit pohon surga?


"Bagaimana keadaan ibu kota, Rain?" Raja bertanya kepada Rain yang seketika membuatku tersadar dari lamunan ini.


"Semua penduduk sudah mendapatkan pengobatan, Yah. Sekitaran ibu kota juga telah diberi buah dan ramuan untuk mencegah terjadinya penularan." Rain menjelaskan.


"Bagus. Lalu bagaimana dengan pembiayaan pengobatan di ibu kota, Cloud?" Raja beralih kepada Cloud.


"Semua tabib beserta prajurit yang bertugas di ibu kota akan segera mendapatkan upah hari ini juga." Cloud menjawab pertanyaan ayahnya itu.


"Baiklah, aku rasa semua berjalan lancar. Atau mungkin ada tambahan lagi, Nona Ara?" Raja kemudian beralih kepadaku.


Eh? Kenapa aku dimintai pendapat juga? Akupun segera berpikir cepat.


"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya semua sudah terselesaikan dengan baik. Namun, mungkin lebih baik jika kita melakukan doa bersama untuk keselamatan negeri ini." Aku mengajukan saran.


Raja mengangguk, dia seperti menyetujui saran dariku. Raja kemudian beralih kepada menteri-menterinya.


"Tuan Scot, bagaimana keadaan neraca perdagangan kita?" Raja mulai bertanya kepada menterinya.


Para menteri di istana ini tampak tidak terpaut jauh usianya dengan raja. Mungkin hanya berbeda sekitar lima tahun saja. Mereka masih tampak segar dan juga berwibawa. Tentunya dengan keahlian masing-masing. Aku juga baru tahu jika nama menteri perdagangan ini adalah Scot.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Neraca perdagangan sudah di batas akhir. Kita tidak dapat mengambilnya lagi. Semua sudah terkuras karena perekrutan masal prajurit dan juga wabah penyakit ini." Menteri itu menuturkan.


Raja tampak berpikir.


"Ayah, neraca perdagangan antara utang dan piutang sudah seimbang. Kita memang tidak dapat mengambil keuntungan darinya lagi. Namun, kita masih mempunyai kesempatan besar di bidang lain." Cloud menuturkan.


"Maksudmu?" tanya raja kepada putra sulungnya.

__ADS_1


"Kita akan melakukan pertunjukan busana dalam waktu dekat. Dan menjual busana itu dengan sistem lelang sebagai mahakarya dari negeri ini." Cloud melihat ke arah raja dan juga para menteri.


"Kau sudah mempersiapkannya?" tanya raja lagi.


"Sudah, Yah. Kini telah mendekati persiapan akhir. Tinggal finalisasinya saja." Cloud melanjutkan.


"Hem, bagus. Aku serahkan urusan itu kepada kalian. Aku berharap besar kepada kau dan juga Rain." Raja menoleh ke arah Rain.


"Aku siap membantu mengamankan istana selama acara berlangsung." Rain menyahuti.


"Kalau begitu, untuk saat ini kita belum dapat melakukan doa bersama, Nona Ara. Pastinya akan membutuhkan biaya untuk itu." Raja tampak menimbang saranku.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Untuk pembiayaan doa bersama, saya akan menggunakan setengah dari pendapatan saya di sini. Jadi Yang Mulia tidak perlu khawatir," kataku yang sontak membuat raja tampak terkesima.


Kulihat raja terkesima setelah mendengar jawaban dariku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Bersamaan dengan itu, Rain pun ikut bicara.


"Aku juga akan menyumbangkan pendapatanku untuk acara doa bersama, Yah." Rain menyetujui saran dariku.


"Aku juga akan ikut membantu." Cloud pun mendukung.


Para menteri tampak terkesima dengan kami. Sedang raja terlihat tersenyum, tak percaya dengan kerja sama antara aku dan juga kedua putranya.


"Saya juga akan membantu sebisanya, Yang Mulia." Tuan Dave, Menteri Pertahanan ikut bersuara.


"Saya juga." Disusul Menteri Dalam Negeri, Tuan Count.


"Saya juga, Yang Mulia." Menteri Luar Negeri yang belum kuketahui namanya juga berpartisipasi.


"Saya pun ikut." Menteri Perdagangan ikut menyetujui saran dariku.


Aku tak menyangka jika mereka semua mau ikut membantuku. Aku jadi terharu sendiri. Kulihat satu per satu wajah mereka seraya tersenyum. Aku merasa lebih bersemangat menjalani hari dengan dukungan dari mereka. Aku pun bersyukur kepada Tuhan karena telah menggerakkan hati mereka untuk membantuku.


Terima kasih, Tuhan. Hanya Engkaulah yang dapat membolak-balikkan hati.


Aku tersenyum bahagia. Bersamaan dengan itu, aku memegang tangan Rain dan juga Cloud. Seolah mengucapkan terima kasih atas dukungan keduanya. Rain dan Cloud pun tampak mencium tanganku. Cloud mencium tangan kanan, sedang Rain mencium tangan kiriku. Sontak hal itu membuat para menteri dan raja tersipu sendiri.


Sepertinya mereka sudah mengetahui hal ini.

__ADS_1


Kami akhirnya melanjutkan makan siang bersama sambil membahas rencana selanjutnya. Aku pun melayani kedua putra mahkota ini dengan baik. Kuambilkan nasi untuk keduanya beserta lauk-pauk dan juga sayurnya. Baik Cloud maupun Rain tidak menunjukkan perseteruan mereka. Mungkin raja sudah menasehati keduanya agar tidak saling berseteru satu sama lain.


Selesai makan siang...


Perutku terasa kenyang. Kini saatnya mempersiapkan keperluan untuk acara doa bersama. Akupun segera berjalan menuju kamarku. Namun, kali ini sendiri. Rain dan Cloud masih berbincang bersama raja di dalam ruangan.


Entah mengapa aku merasa seperti mendapatkan pertolongan.


Aku sangat bersyukur karena apa yang kuajukan mendapat dukungan dari orang banyak. Karenanya, lekas saja aku siapkan hal-hal apa saja yang diperlukan untuk acara doa bersama nanti.


Sesampainya di dalam kamar, aku segera menulis daftar yang dibutuhkan untuk acara doa bersama, agar nantinya bisa berjalan dengan baik. Hari ini kuhabiskan waktu untuk menyusun rencanaku.


Beberapa jam kemudian...


Tanpa terasa, waktu sudah sore. Aku baru selesai menyusun daftar keperluan acara doa bersama. Tapi, aku belum sempat menyelesaikan dua rancanganku lagi.


"Aduh, pegalnya!"


Kurentangkan kedua tangan ke atas seraya memiringkan badan ke kanan dan kiri, mencoba merenggangkan otot-otot yang terasa pegal.


"Mungkin berendam di air panas dapat membantu meredakan rasa lelah ini."


Sore ini aku berkeinginan untuk berendam di kolam air panas istana. Segera saja kuambil keperluan pribadi sebelum beranjak ke sana. Aku membawa gaun ganti dan juga peralatan make-up. Setelah semuanya siap, aku bergegas menuju kolam pemandian air panas.


Sesampainya di kolam air panas...


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


Saat tiba di depan pintu masuk, aku bertemu dengan dua pelayan perempuan yang masih remaja. Dan ternyata, mereka itu kembar. Aku sulit membedakannya.


Aku jadi punya ide.


Entah mengapa terlintas ide di pikiranku saat melihat keduanya. Namun, untuk sementara waktu aku simpan terlebih dahulu ide itu. Aku fokus berendam saja sore ini.


"Apakah kolam kosong?" tanyaku kepada kedua pelayan yang berjaga di pintu masuk.


"Maaf, Nona. Jika ingin berendam, Nona bisa berendam di kolam yang ada di sudut tempat ini. Ratu sedang berendam di dalam." Salah satu pelayan memberi tahuku.

__ADS_1


Ada ratu?!!


Sontak jantungku berdegup kencang saat mengetahui jika ratu sedang berendam di kolam ini juga.


__ADS_2