
Lampu-lampu di setiap sudut taman belakang kini terukir indah. Rerumputan yang kami injak pun begitu tebal dan rapi. Seperti permadani hijau yang terhampar luas. Aku begitu menikmati pemandangan indah istana ini. Istana yang awalnya terlihat kuno, kini sangat tampak modern dan elegan.
Rain memberiku sebuah tongkat dari batang kayu gaharu. Kutahu itu karena kayu yang kupegang ini sangat harum. Para pelayan istana biasanya membakar kayu gaharu di saat musim hujan tiba. Semakin dibakar, semakin semerbak wanginya.
"Ara, anggap saja aku musuhmu yang sedang mencoba untuk mencelakaimu. Lawan aku seolah-olah sedang memegang sebuah pedang. Tenang ini hanya latihan, bukan sebenarnya."
Rain mulai menempatkan tubuhku ke dalam posisi seperti bermain kendo. Dia tidak hanya memperlakukan aku begitu istimewa, dia juga mau mengajariku hal-hal yang baru.
Kami kemudian sibuk berlatih, Rain memberikan contoh bagaimana cara bertarung dalam slow motion. Aku memperhatikannya dengan saksama. Kuingat baik-baik apa yang diajari olehnya.
"Putar tubuhmu, Ara!"
Rain berteriak, dia memberiku perintah untuk berputar di saat kayunya akan mengenai tubuhku. Aku pun berputar lalu segera mengarahkan tongkatku ke arahnya. Tampak tubuh Rain terkena tongkatku.
"Bagus, Ara. Sepertinya kau sudah mengerti bagaimana cara menghindari lawan."
Rain memujiku. Dadaku naik-turun karena terlalu bersemangat dalam berlatih. Keringat deras pun bercucuran dari keningku. Melihat hal ini, tentunya Rain tidak tinggal diam. Dia mengambil sapu tangannya dari saku lalu segera mengelap keringatku dengan lembut.
"Kau tampak seksi jika berkeringat seperti ini," bisiknya yang membuatku merinding.
Rain lalu mengambil busur panahnya. Dia segera mengarahkan anak panahnya menuju titik sasaran. Sementara aku masih memperhatikannya.
"Kena!"
Anak panah itu melesat tepat di tengah papan sasaran. Rain lalu memberikan busur panahnya padaku berserta anak panahnya.
"Rain, sepertinya aku tidak bisa."
Belum dicoba, aku sudah menyerah, membuat Rain terlihat sangat kesal. Dia kemudian memberikan pidato panjangnya kepadaku. Aku jadi pusing mendengarnya.
"Iya-iya. Aku turuti."
Rain jika punya kemauan, tidak bisa tidak. Dia begitu angkuh, tidak mau mengalah sama sekali. Tapi walaupun begitu, aku menyukainya. Sikap agresifnya kusukai.
Dia menegakkan tubuhku menghadap ke arah papan sasaran. Tangan kiriku dibiarkan memegang mata anak panah sedang tangan kananku menarik ujungnya.
"Rain, bagaimana jika aku mengarahkannya padamu?" godaku.
"Jangan main-main dengan benda tajam, Ara. Jika salah, kau bisa membunuh seseorang."
__ADS_1
Dia begitu serius menjawab pertanyaanku padahal aku hanya bercanda. Tidak mungkin juga aku melukainya, seseorang yang kini mulai mengisi hatiku.
"Iya, aku hanya bercanda," ucapku.
"Nanti saja, selepas ini kita bermain benda tumpul. Aku akan membuatmu ketagihan," katanya seraya mengusap perutku lalu berjalan menjauh.
Dasar mesum!
Aku tidak mengerti mengapa kini menyukai kata-katanya. Awalnya, aku merasa sangat risih dan juga takut. Namun kini, diliputi rasa penasaran yang begitu besar.
"Ayo! Lepaskan anak panah itu!"
Aku segera melepaskan anak panah ke papan sasaran setelah mendapat aba-aba dari Rain. Tapi sungguh sayang, anak panahku sangat jauh dari papan sasaran. Aku jadi lemas melihatnya.
"Fokuskan matamu, Ara!"
Rain bersungguh-sungguh memberiku pelatihan memanah, aku pun tidak akan menyia-nyiakannya. Aku berusaha keras untuknya agar dapat mengenai papan sasaran. Setidaknya berada tak jauh dari anak panahnya.
Aku terus berlatih dan tidak memperhatikan keadaan sekitar. Tanpa kusadari ternyata Cloud sedari tadi melihatku dari seberang taman. Saat aku menoleh, dia memalingkan pandangannya lalu berjalan pergi.
"Lumayan."
"Sepertinya kita sudahi latihan hari ini , Ara. Lain hari, aku akan melatihmu lagi. Sekarang beristirahatlah."
Rain mengantarkanku sampai di depan pintu kamar. Dia lalu berpamitan kepadaku dan berlalu pergi. Aku sampai lupa jika sapu tangannya masih ada bersamaku.
"Nanti saja. Kucuci dulu sapu tangan ini."
Aku segera mandi lalu kemudian menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Setelahnya, aku mulai mengerjakan tugasku. Hari ini akan kuselesaikan beberapa rancangan kebaya, sehingga besok tinggal menuju gedung pembuatan pakaian kerajaan.
Esok harinya...
Semalam suntuk aku mengerjakan tugasku. Beberapa rancangan kebaya batik berhasil kuselesaikan. Namun anehnya, aku sudah berada di kasur. Seingatku sebelum terlelap masih berada di depan meja kerjaku.
"Siapa yang menggendongku ke kasur, ya?" tanyaku sendiri.
Pagi yang cerah ini membuat suhu tubuhku kembali normal. Aku lalu segera mandi dan siap untuk bekerja kembali.
Hari ini kupilih gaun berwarna hijau yang selaras dengan jepit kupu-kupuku. Berdandan minimalis seperti biasanya dan menggunakan parfum cokelat kesukaanku.
__ADS_1
"Tampaknya kau begitu bersemangat, Ara."
Aku terkejut saat mendengar suara itu, suara yang kukenal. Aku segera menoleh cepat ke asal suara dan melihatnya. Kulihat jika Cloud tengah duduk di kursi lalu berjalan mendekatiku.
"Cloud? Se-sejak kapan kau berada di sini?" tanyaku kaget.
"Sejak ... kau mandi," jawabnya sambil mengambil sisir.
"Pagi sekali." Aku pun heran.
Cloud tersenyum. Kami berada di depan kaca besar. Dia mulai menyisiri rambutku lalu menggulungnya.
"Kalau tidak pagi-pagi maka akan kalah cepat dengan yang lain, kan?" katanya yang membuatku tersentak.
Mungkin yang dimaksud Cloud adalah Rain. Ya, siapa lagi kalau bukan Rain yang selalu datang ke kamar ini.
"Semalam sepertinya lembur, ya?" tanyanya, lalu mulai memakaikan jepit untuk mengunci gulungan rambutku.
"Hm, iya. Tapi darimana bisa kau tahu?" tanyaku padanya.
"Semalam aku lewat sini dan mendengar uapan panjang. Saat aku masuk, kulihat sudah tertidur di atas meja kerjamu."
"Jadi, kau yang mengangkatku ke kasur?" tanyaku lagi seraya berbalik ke arahnya.
Cloud mengangguk.
"Kau tidak perlu terlalu memporsir tenagamu, Ara. Aku tidak ingin sampai sakit hanya karena membantuku. Aku juga sudah memperhitungkan alokasi dananya. Jadi tidak perlu terburu-buru untuk menjual hasil rancangan bajumu. Ayah mengabarkan jika ada penanam modal yang ingin menanamkan modalnya dalam jumlah besar." Cloud menceritakan.
"Iya, tapi sama saja kita melakukan utang ke penanam modal itu."
"Tapi, Ara—"
"Sudah, ya. Jangan khawatir. Aku tahu batas kemampuanku, Cloud." Aku tersenyum kepadanya.
"Baiklah jika ini keinginanmu. Sekarang aku ingin mengajakmu melihat proyek besar kita. Kita akan berkeliling kota hari ini dan melihat perkembangan hasil rapat."
Cloud tersenyum kepadaku. Aku pun menuruti ajakannya. Ini urusan pekerjaan yang amat penting. Kusingkirkan perasaan yang mulai muncul saat bersamanya. Tak dapat kupungkiri jika Cloud pernah memikat hatiku sampai aku berharap kepadanya. Tapi untuk kali ini, aku harus dapat bersikap seprofesional mungkin.
Hatiku, tolong jaga dirimu. Jangan sampai goyah saat berada di hadapannya.
__ADS_1