
Malam harinya...
Aku baru saja terbangun. Kulihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku lantas bangun, mengambil sandal lalu keluar kamar, berniat untuk melihat keadaan ruangan. Tapi ternyata, keadaan masih gelap. Kuhidupkan lampu dan terlihatlah jendela yang belum kututup.
"Tidurku lama juga berarti."
Selepas mengobrol dengan Shu, aku segera mandi dan merebahkan diri. Tapi ternyata, aku malah ketiduran. Untung saja aku mengunci kamar tadi. Kalau tidak, bisa ada yang masuk tanpa kuketahui.
"Oh, iya. Aku belum membuatkan ramuan untuk raja."
Aku teringat dengan tugas yang belum sempat kukerjakan. Segera saja aku berganti pakaian, berupa gaun berdasar jatuh yang berwarna biru. Kukenakan lalu kopoleskan sedikit make-up di wajahku. Tak lupa menggunakan lipstik dan juga parfum secukupnya.
"Aku ke istana dulu."
Segera kulangkahkan kaki keluar dari ruangan, bergegas menuju lantai satu kediaman Zu. Aku pun meminta kepada penjaga kebun untuk mengambilkan kuda untukku. Malam-malam ini aku pergi sendirian ke istana, tanpa pengawalan. Anehnya, di sini aku serba berani. Padahal aslinya, aku penakut sekali.
"Ayo, kita ke istana!"
Segera kulajukan kuda menuju istana Asia. Dan mungkin karena sudah malam, tak terasa aku telah tiba di halaman depannya. Aku turun dari kuda lalu masuk ke dalam istana. Namun, tanpa sengaja aku melihat Zu bersama putri itu, di dekat tangga menuju lantai dua istana.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Kulihat putri itu memegang lengan kanan Zu, tapi Zu seperti berniat melepaskannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, walaupun sebenarnya ingin mengetahuinya sekali. Namun tak lama, kulihat Zu pergi meninggalkan putri itu.
Aku segera bersembunyi. Sebisa mungkin kehadiranku tidak diketahui oleh Zu. Aku mencoba memutar arah, membiarkan Zu keluar dari istana terlebih dahulu. Setelahnya, barulah aku masuk ke dalam istana, lebih dekat dengan keberadaan putri itu.
Dia menangis?
Kulihat putri itu menangis. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang telah mereka bicarakan? Rasanya ingin sekali menanyakannya. Tapi, tugas belum kukerjakan.
Mungkin ada baiknya jika kuselesaikan dulu tugasku.
Aku kemudian menuju dapur istana, berencana membuat ramuan malam untuk raja. Sesampainya di sana, kulihat beberapa pelayan sedang berbisik-bisik. Aku lalu mencoba mendengarnya dari balik dinding luar dapur.
"Kasihan sekali putri Mine. Ternyata selama ini pangeran Zu hanya sebatas kasihan saja."
"Iya. Aku pikir pangeran Zu menyukai putri itu. Tapi ternyata, pangeran sudah mempunyai calon istri pilihannya sendiri."
"Kudengar dia berasal dari Angkasa dan baru kenal dengan pangeran."
"Benar, kah?"
"Eh! Kalian tahu tidak, tadi pagi pangeran Zu mesra sekali dengan putri dari Angkasa itu."
"Hah? Yang benar?"
__ADS_1
Entah harus marah atau tertawa saat mendengar para pelayan membicarakanku. Tapi rasanya, aku harus segera mengakhiri percakapan mereka ini.
"Ehem!"
Sengaja aku berdehem saat masuk ke dalam dapur. Seketika itu juga para pelayan menyapaku. Mereka tampak kaku sekali.
"Putri."
Mereka membungkukan badan seraya melirik satu sama lain. Tapi aku tersenyum saja pada mereka. Lagipula tidak ada hal buruk yang dibicarakan tentangku.
"Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu, ya?" selidikku seraya mengambil ramuan obat dari atas lemari dapur.
"Em, tidak, Putri." Mereka menjawab serempak.
"Apakah sudah ada yang membuatkan ramuan untuk raja?" tanyaku pada mereka, sambil mengeluarkan bahan ramuan dari kantong plastik.
"Belum ada, Putri," jawab mereka lagi.
"Em, baiklah. Kalau begitu aku akan membuatkan ramuannya."
Aku bergegas mencuci semua bahan ramuan ini, sementara para pelayan melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Beberapa di antara mereka ada yang berpamitan padaku. Namun, setelah seseorang datang, semuanya segera pergi dari dapur.
"Ara, kau di sini?!"
Pangeran berpakaian kerajaan berwarna hitam itu menghampiriku. Dia kini berdiri di sisi kananku, menemani.
"Aku sedang mengejar target agar pekerjaan ini cepat selesai, Ara. Jadi pulang sedikit telat. Apa kau rindu padaku?" tanyanya manja.
"Yang benar? Bukannya sedang mengobrol dengan gadis lain, ya?" sudutku.
Seketika Zu terdiam mendengar ucapanku. Aku pun pergi menjauh lalu mulai menghidupkan kompor, berniat memasak ramuan yang sudah siap kurebus.
"Ara, tidak ada gadis lain. Sungguh!" Dia meyakinkanku.
"Tidak apa jika ada juga. Aku pun masih ada pangeran selain dirimu," kataku lagi.
Sontak Zu menarik tubuhku, membalikkannya agar menghadapnya. Raut wajahnya begitu serius kali ini.
"Ara, aku tidak suka kau berbicara seperti itu. Tolong jangan bunuh aku perlahan." Zu seperti menahan kesalnya.
Melihatnya menatapku tajam, ada sesuatu hal yang kusadari. Aku lantas mencubit kedua pipinya dengan lembut.
"Aku hanya bercanda," kataku seraya tersenyum.
Segera kulanjutkan pekerjaanku dan tidak memedulikannya, namun Zu masih menemani. Hingga akhirnya, ramuanku sudah siap untuk didinginkan.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya berbicara sebentar dengan Mine." Akhirnya dia mengakui.
"Lalu?"
"Aku tidak membicarakan sesuatu hal penting dengannya. Aku juga segera bergegas kembali ke rumah. Tapi sesampainya di sana, kata pelayan kau baru saja pergi."
"Lalu?"
"Jadi aku secepatnya kembali ke istana dan segera menuju dapur."
"Oh, begitu."
"Ara ...." Nada suaranya melemah. "Sungguh, aku tidak ada hubungan apapun dengan Jasmine."
"Apa?!" Sontak aku terkejut saat Zu menyebut nama itu.
"Benar, aku tidak ada hubungan apapun dengannya," kata Zu lagi.
"Tunggu. Kau memanggilnya apa tadi?" tanyaku memastikan.
"Jasmine."
"Dari mana dia berasal?" tanyaku lagi.
"Negeri Bunga," jawabnya segera.
"Astaga ...."
Seketika kepalaku terasa sakit mendengarnya. Ternyata Putri Mine itu adalah Jasmine. Aku sendiri masih ingat siapa Jasmine. Dia adalah gadis yang disukai Cloud waktu remaja.
Jadi Tuhan mengantarkanku ke sini untuk bertemu dengannya?
Tak habis pikir dengan hal yang kudengar, ternyata aku sendiri yang menemukan putri itu. Cerita terakhir dari Cloud, putri itu hilang entah ke mana. Tapi anehnya, mengapa dia bisa berada di sini?
"Pangeran, aku ingin mengetahui seberapa jauh hubunganmu dengannya." Aku berkata serius kepada Zu.
"Tapi—"
"Kali ini aku ingin kejujuran darimu. Bisa, kan?" pintaku lagi.
Zu mengangguk. Dia lantas menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tanpa malu jika kami sedang berada di dapur dan terlihat para pelayan yang lewat.
"Apapun akan aku lakukan asal kau tetap bersamaku." Zu memelukku penuh dengan kelembutan.
Entah ini kabar baik atau buruk yang kuterima. Tapi sepertinya, ini memang benar-benar ujian untuk kami. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tanggapan Cloud jika aku mengetahui keberadaan gadis yang ia sukai waktu itu.
__ADS_1
Ara kembali dikejutkan dengan kabar yang didengarnya. Ternyata Jasmine, seorang putri yang pernah diceritakan Cloud waktu itu, sedang berada di istana Asia. Ia tidak mengerti mengapa bisa dipertemukan di sini, ia juga tidak menyangka akan menemukannya sendiri.