
Di gazebo istana...
Kuletakkan semua barang belanjaan di kursi sebelah kiri. Sedang putri itu duduk di sebelah kananku. Dari raut wajahnya dia tampak mencemaskan sesuatu.
"Putri, ada yang bisa kubantu?" tanyaku segera.
"Em, maaf. Aku sudah menyita waktumu. Tapi ... ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," katanya mengawali.
"Tentang apa ya, Putri?" tanyaku balik.
"Ini ... em, tentang ... pangeran Zu."
"Pangeran Zu?"
Kutatap dirinya dengan saksama, sedang dia seperti ragu-ragu menatapku. Padahal kutahu pasti jika sangat tidak sopan mengalihkan pandangan saat berbicara. Tapi sepertinya, ada sesuatu yang dia sembunyikan dan tidak ingin aku mengetahuinya.
"Iya." Dia mengangguk pelan.
Perasaanku tiba-tiba tak enak saat dia ingin menanyakan hal tentang Zu. Tapi karena tidak ingin membuang waktu, kupersilakan saja dia untuk bertanya.
"Aku akan menjawab sebisaku, Putri. Silakan."
Aku memperkenannya bertanya. Kulihat putri di sampingku ini menarik napas panjang, seperti menyimpan beban berat tersembunyi. Aku pun masih memperhatikannya, penampilannya, kecantikannya. Dia memang seorang putri yang cantik jelita. Terlebih kulitnya putih bersih, sama seperti Zu.
"Sebenarnya aku ingin bertanya, apakah kau sudah lama kenal dengan pangeran Zu?" tanya Mine padaku.
Sontak aku merasa mengerti arah pembicaraan ini. Perasaanku mengatakan jika Mine mempunyai perasaan terhadap Zu. Tidak mungkin dia bertanya-tanya tentang hubungan kami jika tidak ada rasa di hatinya.
"Em, aku dan pangeran baru hitungan bulan kenal, Putri. Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanyaku lagi.
Mine menghela napasnya. "Aku bingung harus berkata dari mana. Tapi aku sudah mengenalnya lebih dari tujuh tahun." Mine mulai bercerita.
"Tujuh tahun?" Aku tak percaya.
"He-em." Dia mengangguk. "Waktu yang lama bagiku untuk dekat dengannya. Tapi ...,"
"Tapi?"
"Tapi sepertinya aku belum mampu," katanya lagi.
Seketika aku merenungi kata-katanya. Perasaan bersalah pun tiba-tiba datang menyelimuti.
__ADS_1
"Em, maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tapi aku berharap kita bisa berteman baik," kataku seraya memegang tangan kirinya.
Mine pun menoleh ke arahku, melihatku tersenyum ke arahnya. Dia pun ikut tersenyum, tapi sebentar sekali. Aku merasa jika dia benar-benar menyukai Zu.
"Apakah kau mempunyai hubungan khusus dengan pangeran Zu?" Dia tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Maksud Putri?" Aku kebingungan sendiri.
"Hem, ya. Mungkin kalian menjalin hubungan khusus. Karena tidak pernah pangeran Zu membawa seorang gadis sebelumnya ke istana. Baru dirimu," katanya meneruskan.
Astaga! Apa yang harus kujawab?
Kupegang cincin pemberian dari Zu ini. Aku khawatir jika Mine memperhatikan cincin di jari manis tangan kiriku. Pastinya dia akan menyadari hubunganku yang sebenarnya dengan Zu.
"Putri?" Dia masih menanti jawabku.
Aku pun segera tersadar. " Em, i-itu ... sebenarnya ...."
Belum sempat meneruskan kata-kata, tiba-tiba kulihat dari kejauhan banyak orang yang dibawa keluar dari istana.
"Apa itu?!"
Aku mencoba melihat apa yang terjadi dari depan gazebo. Dan ternyata, beberapa pelayan dan tabib istana ditarik paksa oleh banyak prajurit.
Aku melihat ada Shu di sana. Dan karena penasaran, aku bergegas mengambil barang belanjaanku lalu keluar dari gazebo. Aku pun berpamitan kepada Mine.
"Maaf, Putri. Aku harus ke sana. Lain kali kita sambung lagi pembicaraan ini."
Setelah berpamitan, aku segera berjalan cepat menuju pintu masuk istana. Kulihat dari kejauhan para pelayan dan tabib itu memohon ampun sambil berlutut kepada Shu.
"Ampun, Pangeran. Kami tidak tahu apa-apa. Tolong jangan hukum kami." Para pelayan dan tabib itu memohon kepada Shu.
"Cepat katakan apa yang kalian berikan kepada ayahku! Atau kalau tidak, pedangku ini akan melayang!" Shu berseru tegas.
"Ampun, Pangeran. Tolong ampuni kami."
Mendengar hal itu, aku segera mempercepat langkah kakiku. Barang belanjaan yang banyak ini pun terpaksa kudekap agar bisa berjalan cepat untuk menghentikan Shu.
"Cepat katakan!!!" Shu semakin menjadi-jadi.
"Pangeran Shu, tolong hentikan!"
__ADS_1
Shu sudah mengangkat pedangnya. Dia ingin mengeksekusi para pelayan dan tabib istana di depanku. Aku pun jadi benar-benar takut, tidak sanggup melihatnya. Tapi sebagai manusia, hati nurani ini memaksa untuk menolong para tabib dan pelayan itu.
"Nona, apa yang kau lakukan?!" Shu menoleh ke arahku yang mencoba menahan tangannya.
Kujatuhkan barang belanjaanku sebelum semuanya terlambat. Aku pun segera menahan tangan Shu yang hampir melayangkan pedangnya ke arah para tabib dan pelayan istana.
"Pangeran, tolong. Ini bisa dibicarakan baik-baik. Kita tidak boleh semena-mena. Kita harus mencari buktinya terlebih dahulu," kataku, mencoba menenangkan Shu.
"Bukti apa lagi?!" Kau sudah dengar sendiri tadi! Jika pil itu bukan menyembuhkan tetapi malah mematikan perlahan. Dan mereka ini adalah orang-orang yang selama ini meracik dan mengantarkan obat untuk ayahku. Bukti apa lagi yang harus kucari?!" Shu berapi-api.
"Shu!"
Bersamaan dengan itu, kudengar Zu berseru dari depan pintu istana. Dia segera berjalan mendekati adiknya ini.
"Apa yang kau lakukan?!" Zu bertanya kepada adiknya dengan intonasi tinggi.
"Kakak, mereka inilah dalang dari penyakit ayah. Pil yang mereka berikan bukanlah pil penyembuh, melainkan pil yang mematikan perlahan. Mereka harus dieksekusi jika tidak mau mengakuinya!" Shu bersikeras.
"Turunkan pedangmu!"
"Tapi, Kak—"
"Turunkan pedangmu kataku!"
Aku terkejut, benar-benar terkejut saat melihat Zu marah. Dia bisa semarah ini kepada Shu, terlebih di depanku. Aku tidak menyangka jika akan melihat sisi lain dari dirinya siang ini.
Shu pun akhirnya menurunkan pedangnya. Ia memasukkan pedang itu kembali ke sarungnya. Situasi pun mulai terkendali.
"Aku ingin bicara padamu. Ikut aku sekarang!" pinta Zu kepada Shu.
"Tapi bagaimana dengan mereka?" Shu menunjuk para pelayan dan tabib itu.
"Pengawal! Beri mereka ruang khusus selama menungguku!" perintah Zu kepada prajurit yang menarik paksa.
"Baik, Pangeran!" Para prajurit itu pun menuruti.
Shu lalu segera masuk, mengikuti ke mana langkah kaki kakaknya pergi. Sedang para prajurit membawa beberapa pelayan dan tabib menuju suatu tempat. Aku sendiri masih terdiam sambil menormalkan laju napas yang tidak beraturan ini.
"Astaga, hampir saja aku melihat tragedi."
Kuusap kepala lalu mengurut dadaku sendiri. Aku tidak sanggup membayangkan jika hal tadi benar terjadi. Tapi untung saja Zu segera menghentikannya. Dia ternyata mampu meredam amarah adiknya itu. Mungkin ikatan di antara mereka begitu kuat, sehingga Shu menurut padanya.
__ADS_1
Ara masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya siang ini. Shu tanpa segan mengangkat pedangnya untuk mengeksekusi para pelayan dan tabib istana yang selama ini telah memberi obat kepada ayahnya. Napasnya tersengal, dadanya pun naik-turun tidak beraturan. Ia merasa takut sekali.
Di sisi lain, Zu segera berbicara kepada adiknya. Ia menanyakan perihal yang terjadi tadi. Shu pun menceritakan hal yang sebenarnya. Seketika itu juga Zu sangat kesal. Ia merasa telah tertipu selama ini.