Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
No Matter What


__ADS_3

Sesampainya di air terjun...


Aku dan Cloud kini sudah tiba di pelataran taman atas air terjun. Kami berjalan menuruni banyak anak tangga sambil membawa bekal makanan dan minuman ringan. Tak lupa pakaian ganti untuk berenang di sana.


Sungguh, rasanya berbeda sekali hari ini. Seperti perjalanan bulan madu bersamanya. Dia sama sekali tidak mengizinkanku untuk membawa apapun, dia membawa semua barang sendiri.


Mungkin dia sedang mengambil hatiku.


Sepanjang perjalanan, aku menceritakan hal yang kualami malam itu. Dan Cloud begitu antusias menanggapinya. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia berulang kali meminta maaf kepadaku. Mungkin dia merasa bersalah karena telah terlalu banyak membebaniku.


Hari ini dia begitu memanjakanku.


Puluhan anak tangga kami lalui sambil menikmati pemandangan di dataran tinggi ini. Sesampainya di tangga terakhir, kami melihat buah-buah anggur bergantungan di sepanjang jalan. Aku pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Kuambil saja dua tangkai buah anggur untuk kubawa ke bawah. Cloud pun tertawa melihat sikapku ini.


"Jangan bilang kau ingin menggodaku lagi, Ara," katanya.


"Eh?" Aku jadi bingung sendiri.


"Kau masih ingat dengan kejadian di bukit pohon surga waktu itu?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


Aku mengangguk. Tentu saja aku ingat Cloud. Ekspresi wajahmu juga aku masih ingat. Aku merasa menang telak darinya.


"Apa kau bisa membayangkan bagaimana keadaanku waktu itu?" tanyanya lagi seraya terus berjalan bersamaku.


Aku menggelengkan kepala.


"Ara, rasanya sempit sekali. Seperti tidak bisa bernapas," katanya.


"Hah?!" Aku tidak mengerti maksudnya.


"Hahaha." Dia malah tertawa bukannya menjawab kebingunganku.


"Cloud, maksudnya apa?" tanyaku yang penasaran.


"Astaga." Dia menepuk dahinya sendiri. "Ara, celanaku sempit karena ulahmu. Sampai kapan kau akan terus menyiksaku?" tanyanya lalu berhenti berjalan.


"Cloud ...."


Dia menatapku dalam sekali. Dia letakkan semua barang bawaan kami lalu mulai menyingkapkan rambutku ke belakang telinga.


"Cloud, jangan. Ini di ruang terbuka." Aku mencoba memperingatkannya.

__ADS_1


Dia hanya tersenyum lalu mencium keningku. Seketika tubuhku bergetar saat daging lembut itu menyentuh kening ini. Rasanya amat berbeda sekali.


"Hari ini tolong jangan siksa aku lagi, ya. Lepaskan saja yang sudah lama tertahan. Bisa, kan?" tanyanya sambil memegang wajah ini.


"Cloud, aku ...."


"Anggap saja dunia ini milik kita berdua. Kau tidak perlu segan ataupun ragu kepadaku, Ara. Aku akan menjadi suamimu. Dan setiap hari kita akan seperti ini." Dia meyakinkanku.


"Cloud ...."


"Baiklah, satu tangga lagi. Mari." Dia menarik tanganku seraya mengambil semua barang bawaan kami.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi sepertinya, hari ini aku harus bersikap lebih luwes lagi kepadanya. Cloud memintaku menjadi diri sendiri. Dia juga ingin agar aku tidak menahan apapun.


Astaga, ini seperti sebuah kode besar untukku!!!


Ara berusaha menjadi dirinya saat bersama sang pangeran sulung kerajaan Angkasa. Kebersamaan yang amat jarang tercipta membuatnya segan untuk melakukan kedekatan seperti saat bersama Rain. Terlebih Cloud memang jarang suka berbincang, ia lebih banyak diam di dalam ruangan dan menyelesaikan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Ara berpikir berulang untuk bersikap sama seperti kepada Rain. Namun sepertinya, hari ini sang gadis akan belajar memenuhi apa yang Cloud inginkan.


Lima belas menit kemudian...


Aku keluar dari balik batu besar, tempat di mana berganti pakaian. Di sini keadaan benar-benar menyatu dengan alam. Begitu asri dan juga segar. Namun sayangnya, tempatnya terbuka. Sehingga jika ingin berganti pakaian, harus bersembunyi di balik batu besar dulu, dekat dengan air terjun.


Kuletakkan pakaian di atas batu lalu segera berjalan menuju air terjun. Kulihat pangeran berkulit putih kemerah-merahan itu sedang berenang dengan riangnya. Rambutnya kini cepak dan badannya juga sedikit kurusan. Katanya sih karena memikirkan aku siang dan malam. Entah benar atau tidak, aku coba percaya saja.


Memangnya provider di duniaku yang banyak syarat dan ketentuannya?


"Ara, kemarilah!"


Cloud memanggil, setelah menyadari jika aku sedari tadi melihat ke arahnya. Aku pun masih malu untuk mendekat karena pakaianku ini terbuka, hanya mengenakan kemben dan leging pendek saja. Tapi karena aku tak kunjung datang, Cloud beranjak dari kolam lalu berjalan mendekat ke arahku.


Astaga ... lekukannya jelas terlihat.


Kutelan ludahku saat melihat sesuatu menyembul dari balik celana putih ketat itu. Cloud memakai celana yang pendek sekali, mirip celana renang. Mungkin dia sengaja memakainya untuk menggodaku.


Eh? Rambut halus di dadanya sudah tak ada?


Tak habis pikir dengan pangeran yang satu ini, Cloud menampakkan tubuh maskulinnya tanpa rambut halus di dada. Air terjun yang membasahinya pun membuat tubuhnya terlihat begitu menggoda.


Astaga ... pikiranku.


Terkadang aku benci pikiranku. Tidak bisa melihat yang bening-bening sedikitpun. Dia sudah berselancar ria ke sana dan kemari, membuat anganku terbang jauh, tinggi ke angkasa.

__ADS_1


"Hei, kenapa diam saja?" Cloud semakin mendekat ke arahku.


"Cloud, ada yang aneh pada tubuhmu," kataku malu.


Cloud pun segera melihat area pribadinya.


"Bukan, bukan itu," sanggahku.


Dia ini terlalu kepedean. Memangnya hal aneh selalu menuju ke sana apa? Dasar!


"Lalu apa?" tanyanya bingung.


"Ke mana rambut halus di dadamu? Bukannya ada, ya?" Aku menggigit bibir, malu mengatakan yang sejujurnya.


"Oh, aku sengaja melilinnya."


"Hah?!"


"Aku rasa kau menyukai dada yang tanpa rambut. Seperti dada Rain mungkin," cetusnya.


Astaga ... dia seperti menjebakku.


"Aku merasa tidak akan kalah darinya jika lebih mempunyai banyak waktu untukmu. Benar, bukan?"


Dia lagi-lagi menjebakku. Pertanyaannya membuatku bingung untuk menjawabnya. Dia sengaja mengikuti Rain agar tidak kalah saing, sampai-sampai menghilangkan rambut halus di dadanya juga. Astaga.


"Cloud, jangan terlalu dipaksakan. Aku tidak—"


"Sudah, mari kita berenang. Terlalu lama di atas bisa membuat tubuhmu kedinginan." Dia menarikku.


Malu-malu aku mengikutinya lalu akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam kolam. Kurasakan airnya hangat, mungkin karena terkena sinar matahari. Maklum sehabis makan siang kami langsung ke sini, saat matahari sedang terik-teriknya.


Ya sudahlah. Aku berenang saja.


Aku menggulung rambutku agar tidak ribet saat berenang. Kususuri pinggiran kolam ini sebagai pemanasan. Sedang Cloud, dia merelaksasikan tubuhnya di bawah jatuhan air terjun. Rasanya sedikit berbeda hari ini. Kami sudah seperti sepasang suami istri yang lama tidak bertemu lalu berbulan madu.


Oh, ya ampun! Pikiranku!


Ara merasa sensasi saat bersama Cloud sangatlah berbeda. Ia sudah lama tidak berjalan bersama sang pangeran dan baru kali ini diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Ara sedikit tak percaya bisa kembali merasakan tempat indah ini bersama Cloud. Ia pikir hanya bisa sekali berduaan dengan Cloud di sini.


Cloud sendiri tidak akan melewatkan momen ini begitu saja. Ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk mengikat gadisnya. Ia tidak ingin Ara diambil orang, apalagi diambil adiknya sendiri. Cloud merasa dirinya yang paling berhak untuk memiliki Ara. Karena dialah yang menjemput Ara ke dunianya. Terlebih ia menyadari jika perasaannya kepada sang gadis amatlah besar.

__ADS_1


Terlepas dari persaingan kakak-beradik ini, ternyata sang gadis masih juga kebingungan untuk memilih. Ia akhirnya tidak ingin pusing kepada siapa akan melabuhkan bahtera nantinya. Ia menerima siapapun itu. Rain atau Cloud bukanlah masalah baginya. Bahkan dua-duanya juga ia bersedia untuk mengurusnya. Ara mencoba mengambil jalan tengah dari pertikaian antara dua hati ini.


__ADS_2