Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Arrrghh


__ADS_3

Ara menatap ke arah pangerannya yang menunggu di bawah. "Aku tidak mau kembali!" seru Ara dari atas pohon.


Mendengarnya, hati Zu seperti tercabik-cabik. "Dewi, kembalilah bersamaku. Aku akui aku salah. Maafkan aku," kata Zu lagi.


"Tidak! Aku tidak mau!" Ara masih bersikeras.


Zu memutar otaknya, mencari cara bagaimana bisa meluluhkan hati sang gadis agar mau kembali ke istana. Ia tidak lagi berpikir siapa dirinya itu.


"Sayang, kumohon maafkan aku. Aku salah. Aku tidak akan seperti itu lagi." Zu memohon.


"Tidak mau! Kau itu mesum, Pangeran!" gerutu Ara dari atas pohon.


Seketika itu juga kelima pasukan khusus Zu saling melirik satu sama lain di belakang calon rajanya. Zu pun menyadari ucapan Ara, ia segera melihat ke belakang, ke arah pasukannya. Dan dalam sekejap kelima pasukannya itu berdiri tegap, menghadap ke depan kembali.


"Dewi, aku lelaki normal. Aku ... aku tidak bisa." Zu bingung sendiri.


"Aku ingin bebas, Pangeran. Aku ingin melakukan apapun yang kumau. Aku tidak ingin dipaksa-paksa!" tutur Ara kembali.


"Baiklah-baiklah. Katakan saja apa yang kau inginkan. Asal kau mau kembali, aku akan memenuhinya." Zu menyerah menghadapi sang gadis.


"Sungguh?" Ara mulai luluh.


"Ya, katakan saja." Wajah Zu mulai memerah.


"Baiklah. Aku tidak ingin dipaksa-paksa agar melakukan sesuatu. Jikalaupun ingin, aku akan melakukannya berdasarkan keinginanku sendiri. Kau mengerti?" tanya Ara dari atas pohon.


Zu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia akhirnya memenuhi permintaan gadisnya itu. Ya, walaupun dengan amat terpaksa.


"Baiklah. Aku janji tidak akan memaksamu lagi. Aku tidak akan meminta yang macam-macam. Sekarang kembalilah bersamaku ke istana." Zu terus memohon.


"Tapi, aku tidak mau kita dekat-dekat!" Ara semakin menjadi.


"Ya, ya. Aku penuhi. Jikalau perlu, aku tidak akan menyentuhmu." Zu tampak amat pasrah.


"Sungguh?"


"Sungguh, Sayang."


"Janji?"


"Iya, aku janji."


Zu seperti ingin menangis. Di hadapan kelima pasukan khususnya ia tampak begitu lemah saat menghadapi Ara. Tapi ia juga menyadari jika hanya dengan cara inilah bisa membuat Ara kembali ke istana.


"Baiklah. Aku turun."


Ara pun lekas turun dari pohon persik raksasa, ia berjalan mendekati Zu. Sambil bertolak pinggang sang gadis mendekatinya, Zu pun hanya bisa pasrah.


"Aku pegang ucapanmu. Ayo, kita kembali!"

__ADS_1


Gadis itu segera menaiki kuda putih Zu. Zu pun ingin ikut naik. Tapi...


"Eh! Tidak boleh! Kau naik kuda yang lain saja!" gerutu Ara.


Sontak Zu merasa malu di hadapan kelima pasukan khususnya. "Lihat calon ratu kalian! Dia menyebalkan, bukan?" Zu bertanya kepada pasukannya itu.


Para pasukan khusus itupun hanya bisa menganggukkan kepala. Mereka tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan pangerannya.


"Simpan rahasia ini dan pinjamkan aku kuda kalian. Kita kembali ke istana. Cepat!"


Zu akhirnya menaiki kuda salah satu pasukannya. Sedang Ara tanpa merasa berdosa menaiki kuda putih Zu, menyusuri jalan menuju istana. Sang gadis membiarkan pangerannya berjalan di belakang, sedang dirinya melajukan kuda dengan cepat. Zu pun hanya bisa menghela napas saat melihat kelakuan calon istrinya itu.


Ara, kau pikir aku sudah gila apa? Bagaimana mungkin aku tidak menyentuhmu sedang kita satu atap, satu ruangan, satu kamar, bahkan satu kasur. Apa kau pikir aku ini lelaki tidak normal?


Kau sadar tidak, senyummu itu, tutur katamu, sikapmu, tingkahmu amat membuatku gemas. Belum lagi lekuk tubuhmu yang membuatku mabuk kepayang. Ara, kau ingin aku benar-benar gila atau bagaimana?


Zu menyerah saat menghadapi gadisnya. Ia hanya bisa pasrah di depan sang gadis, tidak tahu harus bagaimana lagi agar Ara mau kembali ke istana. Sehingga akhirnya, ia mengucapkan janji yang amat berat untuk dilakukan. Sedang Ara, tampak biasa-biasa saja menghadapi hal ini. Ia malah senang karena mendapatkan janji kebebasannya.


Beberapa saat kemudian...


Ara sudah tiba di kediaman Zu. Ia temani Zu hingga masuk ke kamar. Namun, para pelayan tampak bingung saat melihat pangerannya berjalan berjauhan dengan sang putri. Zu pun tidak memedulikan tanggapan para pelayan di kediamannya itu, ia terus saja mengikuti Ara hingga masuk ke dalam kamar.


"Hah ... akhirnya." Ara merebahkan diri di atas sofa.


"Sepertinya kau senang membuatku malu, ya." Zu menggerutu.


"Ara, kau tahu apa yang kau lakukan tadi?" tanya Zu dengan jarak yang cukup jauh.


"Tentu saja aku tahu. Aku hanya mengutarakan isi hatiku saja, Pangeran. Memangnya kenapa?" Ara bertanya tanpa memedulikan perasaan Zu.


Astaga ... gadis ini. Rasanya ingin sekali kutelan.


Zu amat gemas dengan tingkah Ara yang menyebalkan, namun sang gadis tidak juga menyadari kesalahannya. Karena telah berucap sembarangan di depan pasukan khusus tadi.


"Ara, kau bilang aku mesum. Apa kau lupa?" tanya Zu kembali.


"Mesum? Kau memang mesum, Pangeran." Ara membela diri.


"Ya, tapi ...,"


"...?"


"Tapi tidak seharusnya kau mengatakan hal itu di depan pasukanku." Zu tampak kesal.


Seketika Ara tersadar. "Kalau begitu aku minta maaf." Ara beranjak pergi, melewati Zu begitu saja.


"Ara!" Zu berteriak memanggil Ara.


"Apa?" Ara menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Bisakah kau lebih patuh padaku?"


"Eh?"


"Sayang, aku ini akan menjadi suamimu. Bisakah kau memperlakukanku dengan baik?" tanya Zu sambil melihat ke arah Ara.


"Hei, bukannya selama ini aku sudah berlaku baik, ya?" Ara berpikir.


Astaga, dia ini memang mengesalkan sekali. Haruskah aku mengarunginya?


Zu masih tidak habis pikir dengan ulah sang gadis. Ia memijat kepalanya sendiri, sedang Ara berlalu begitu saja.


"Sudah aku mau mandi. Kau kembali saja ke istana, nanti aku menyusul." Ara beranjak masuk ke kamar mandi.


Zu pun menelan ludahnya. Rasanya ia ingin mencakar-cakar tembok saat ini. Ia begitu kesal, gemas dan juga ingin menelan sang gadis.


Apakah aku salah jika menginginkan sesuatu darinya? Sedangkan dia calon istriku sendiri. Apa bisa aku hidup tanpa menyentuhnya sedikitpun? Ya Tuhan ... dia menyiksaku.


Zu mengusap kepalanya. Ia pusing sendiri, gelisah sendiri, gemas sendiri. Sang gadis benar-benar membuatnya gila. Zu sampai lupa jika dia adalah calon raja negeri ini. Gadis itu amat berharga di hatinya.


...


Aku tersesat dan sendirian, mencoba untuk terbiasa.


Membuat jalanku menyusuri jalan panjang berliku itu.


Tidak punya alasan, tidak ada rima, seperti sebuah lagu yang kehabisan waktu.


Dan dulu kau ada di sana, berdiri di depan mataku.


Bagaimana bisa aku menjadi orang yang begitu bodoh?


Untuk melepaskan cinta dan melanggar semua peraturan.


Gadis, ketika kau berjalan keluar dari pintu itu.


Meninggalkan sebuah lubang di hatiku.


Dan sekarang aku tahu dengan pasti...


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...

__ADS_1


__ADS_2