Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Hero


__ADS_3

Sesampainya di balai kota...


Aku sudah tiba di depan balai kota. Kuda hijau inipun menurunkanku dari atas badannya. Aku segera mengangkat dua karung buah tin ini sendirian, sampai melihat pengawal lewat di depanku.


"Pengawal!" teriakku sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


Pengawal istana pun segera menoleh ke arahku. Mereka berjalan cepat mendekati.


"Nona Ara?"


"Tolong bantu bawakan karung ini ke dalam ruang pembuatan ramuan, ya." Aku meminta tolong kepada mereka seraya mengusap keringat di dahiku.


"Baik, Nona."


Pengawal-pengawal itupun segera mengangkat dua karung berisi buah tin beserta daunnya. Mereka tampak heran, tapi kubiarkan saja. Aku sangat lelah jika harus merespon pertanyaan saat ini.


Kubalikkan tubuhku ke belakang karena ingin mengucapkan terima kasih kepada Green yang telah mengantarkanku. Namun ternyata, dia sudah pergi begitu saja. Sepertinya kuda hijau itu memang diutus untuk membantuku.


Aduh, capeknya...


Aku berjalan masuk ke balai kota dengan lemas. Sesampainya di dalam, kulihat sudah banyak penduduk yang mengantri.


Semoga para penduduk bisa sembuh dari wabah penyakit ini.


Sinar mentari siang ini begitu membuat keringatku bercucuran. Akupun tanpa segan mengelapnya dengan pakaianku. Tampaknya musim salju tidak menghalangi sang mentari untuk tetap bersinar terang.


Sementara itu...


Rain sudah tiba di bukit pohon surga, namun tidak menemukan Ara di sana. Ia juga sudah berkeliling ke sekitaran bukit, tapi sang gadis tetap tidak ada. Rain tampak cemas.


Ara ke mana, ya?


Rain mulai panik karena mengkhawatirkan gadis itu. Ia kemudian berinisiatif untuk pergi ke balai kota.


Kali-kali saja Ara ada di sana.


Rain segera menaiki kuda hitamnya lalu menuju balai kota kerajaan ini. Tanpa ia sadari di sepertiga jalan saat melewati hutan, dirinya itu berpapasan dengan Cloud yang berlawanan arah dengannya. Namun karena terpisah jalan, keduanya sama-sama tidak menyadari. Hutan yang gelap membuat keduanya hanya fokus ke tujuan.


Baik Cloud maupun Rain mencemaskan keadaan gadis itu. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu lagi terhadap Ara. Cukup hanya sekali mereka kehilangan Ara waktu itu. Dan tidak ingin sampai terulang lagi.


Cinta kedua pangeran ini begitu tulus dan murni. Kasih sayang yang mereka berikan, benar-benar dari hati. Keduanya berniat melabuhkan bahtera bersama sang gadis, secepatnya. Tapi kepada siapakah takdir akan berpihak nantinya?


Di balai kota...


Ara tampak sedang mencuci buah-buah tin yang berhasil ia bawa. Dibantu dua orang tabib yang membelah buah itu menjadi empat bagian. Cukup banyak untuk dibagi kepada penduduk ibu kota. Kerja kerasnya itu mendapat sambutan luar biasa dari para tabib istana.

__ADS_1


Pekerjaan tabib istana dapat terbantu semenjak kehadiran Ara di balai kota. Gadis itu cukup mengerti ramuan tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Ia tampak lihai membantu tabib meracik ramuan obat. Tanpa terasa, jam makan siang telah tiba.


"Nona, istirahat saja dulu. Nona sudah tampak lelah."


"Tidak apa, kok. Aku masih bisa," jawab Ara seraya mengaduk ramuan yang sedang direbus.


Salah seorang tabib mengambil alih pekerjaan Ara, namun Ara menolak karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Nona, saya mohon. Saya jadi khawatir jika Nona begini."


"Iya, Nona. Nona juga harus memikirkan diri sendiri. Jangan karena membantu orang lain, Nona menjadi sakit."


Para tabib tampak memedulikan kondisi Ara yang terlihat kelelahan. Ara pun akhirnya mau menyudahi pekerjaannya. Ia kemudian berjalan keluar menuju halaman balai kota. Namun ternyata, kondisi tubuhnya kurang baik. Ara kecapaian.


"Ara!"


Tubuh gadis itu tiba-tiba sempoyongan, sesaat setelah keluar dari balai kota. Pangeran bungsu itupun segera menahan tubuh Ara yang hampir terjatuh. Ia baru saja tiba di depan balai kota.


"Astaga, Ara ...."


Rain segera menggendong Ara, mencari udara lapang di samping balai kota. Rain menidurkan Ara di atas pangkuannya.


"Rain?" Ara kemudian menyadari kehadirannya.


Putra mahkota ini telah tiba di balai kota dengan cepat. Perasaannya mengatakan jika Ara tengah berada di sini. Dan benar saja, setelah ia sampai di halaman balai kota, ia melihat Ara berjalan lunglai. Dengan segera Rain berlari untuk mengejar gadisnya itu.


"Em, maaf, Rain. Aku ...,"


"Hah, kau ini. Membuatku khawatir saja." Rain lalu memeluk gadisnya.


"Aku tidak kenapa-kenapa, kok."


"Tidak kenapa-kenapa bagaimana? Lihat wajahmu ini, sudah tampak lelah. Kita kembali ke istana, ya?" Rain mengajak Ara kembali ke istana.


Ara pun menggelengkan kepalanya. "Aku ingin membantu para tabib dulu, Rain."


"Tidak, aku akan menyuruh pelayan wanita untuk menggantikanmu. Sekarang kembali ke istana bersamaku."


"Tapi aku khawatir mereka akan terkena wabah. Nanti jika seisi istana tertular bagaimana?"


"Sudah, lebih baik pulihkan kondisimu dulu. Jangan hiraukan pelayan."


Rain kemudian membantu Ara untuk bangun. Ara pun dapat berjalan kembali dengan dibantu oleh Rain. Para pengawal tampak memberikan sebotol air minum untuk calon ratunya itu. Ara pun segera meminumnya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Rain merangkul Ara menuju kudanya. Di hadapan para penduduk, ia tidak segan menunjukkan perhatiannya kepada gadis itu. Gadis yang kini bertahta di hatinya.


Sesampainya di istana...


Rain tengah menyuapi Ara makan siang di dalam kamarnya. Ia memberikan perhatiannya kepada sang gadis. Ara pun tampak tersenyum sendiri. Ia mencubit hidung mancung pangeran bungsu itu.


"Aku bisa makan sendiri, Rain."


"Biarlah, sesekali aku menyuapi. Nanti aku akan minta imbalan."


"Hah? Imbalan apa?" tanya Ara yang bingung.


Rain tersenyum kecil lalu mengarahkan kedua matanya ke sesuatu di bawah dagu sang gadis. Seketika itu juga Ara memukulnya.


"Aw! Sakit, Ara."


Sambil memegang piring dengan tangan kirinya, ia memegang pundak yang menjadi sasaran kesal sang gadis.


"Kau, sih. Selalu begitu!" gerutu Ara.


Senyum Rain semakin mengembang saat melihat gadisnya itu berlaga ngambek di hadapannya. Ia kemudian mengusap kepala Ara dengan lembut.


"Hari ini aku tugas malam, aku akan menemanimu sampai sore," kata Rain kepada Ara.


"Tapi aku mau istirahat saja."


"Iya, aku akan menemaninya."


"Tap-tapi ...." Ara tampak keberatan.


"Tak apa, aku sudah meminta tuan Dave menggantikanku sementara waktu. Aku tidak ingin kau sakit lagi."


Ara kemudian tersenyum mendengarnya. "Terima kasih, Rain."


"Sama-sama, Sayang," jawabnya. Bersamaan dengan itu Ara segera memeluk Rain.


Ara semakin bimbang dengan keadaan ini. Ia benar-benar dilema. Kedua pangeran menunjukkan kasih sayang sepenuh hati kepadanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Untuk sementara waktu, Ara hanya bisa menikmati kisahnya ini.


Sehabis makan, Ara segera beristirahat ditemani Rain. Gadis itu merebahkan diri di sisi kanan Rain sambil mendengarkan cerita dari sang panglima. Cerita tentang kejadian-kejadian lucu yang dialami saat akan berperang. Ara pun tertawa mendengarnya.


Sementara di lain tempat, terlihat Cloud yang sudah tiba di balai kota namun tidak juga menemukan Ara. Ia malah mendapatkan kabar jika Ara telah pulang ke istana bersama Rain. Hatinya geram mendengar kabar itu. Dengan segera ia menuju ke istana menaiki kuda putihnya.


Semakin lama keadaan ini semakin menguras hati dan pikiranku. Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku harus mengakhiri ini.


Cloud kesal dengan kesabarannya. Ia merasa keadaan ini begitu tidak adil kepadanya. Semenjak kepulangan Rain, Ara semakin sering bersama adiknya itu. Cloud cemburu, hatinya merasa sakit kala mengetahui jika Ara tengah bersama Rain. Sedang dirinya seolah tersingkirkan dari gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2