Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Bad News


__ADS_3

"Kak Rain tidur di mana semalam?"


Kudengar jika Adit lah yang bertanya. Aku jadi sedikit lega dibuatnya. Kupikir jika ayah lah yang berdehem tadi.


"Em, Adit. Kak Rain tidur di ruang TV," jawab Rain sedikit terbata.


"Oh, kirain di kamar kak Ara," celetuk Adit.


Astaga! Apa Adit mendengar kejadian semalam? Aku sangat khawatir.


"Tidak, Dit. Kak Rain tidur di ruang TV. Hanya saja semalam membangunkan Kakak untuk minta dibuatkan mie goreng," jawabku beralasan, "iya kan, Rain?"


Kukedipkan mata ke arah Rain, memberi kode agar Rain mengiyakan perkataanku. Rain pun tampak mengerti akan maksudku.


"Iya, Dit. Semalam Kak Rain memang terbangun karena lapar," sambung Rain.


Adit diam dan tidak mempertanyakan lagi. Kurasa Adit percaya dengan apa yang kami katakan. Aku sedikit lega melihatnya.


Hah, syukurlah ada alasan. Kalau tidak, Adit pasti mengadu ke ayah. Dan hal itu akan sangat menakutkan bagiku.


Aku menarik napas panjang lalu berusaha bersikap biasa-biasa saja. Sedangkan Rain, dia malah tersenyum-senyum sendiri tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Ara."


"Apa? Sudah sana! Tunggu saja di meja makan. Kau bisa membuatku berada dalam kecemasan, tahu!" gerutuku.


"Iya, baiklah. Araku sayang."


Rain kemudian menjauh dariku. Dia duduk di meja makan sambil menunggu sarapan tersedia. Tanpa sengaja, dia melihat album foto kami di meja kecil yang berada di sudut ruangan. Rain lalu mengambil album foto itu lalu membukanya.


"Ara, ini dirimu?" tanyanya sambil melihat album foto kami.


"Iya, yang paling besar," jawabku.


Sesekali Rain melirik ke arahku. Sepertinya dia melihat fotoku saat kanak-kanak dulu. Dan kini yang berada di hadapannya adalah Ara yang sudah dewasa.


Rain, hampir saja ketahuan, bisikku dalam hati.


Satu jam kemudian...


Kini aku, Rain, ayah dan ibu duduk bersama di teras belakang. Hari ini ayah sengaja berangkat agak siang ke pasar karena Rain ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Baiklah, Nak Rain. Apa yang ingin kamu bicarakan kepada Ayah?" tanya ayahku.


Kami duduk berpasangan sambil menyeruput teh hijau pemberian teman ayah. Kulihat Rain seperti kesulitan untuk memulai pembicaraannya.


"Rain, katakan saja," pintaku yang mulai merasa cemas.

__ADS_1


Dia menghela napasnya sejenak sebelum membuka pembicaraan. Ibu sedari tadi terlihat ikut cemas dengan situasi ini. Sepertinya memang ada hal yang sangat serius sampai Rain meminta waktu ayah sebentar.


"Ayah, Ibu."


Rain lalu mulai bicara. Ayah dan ibuku pun tampak memperhatikan, sedang aku mencoba menormalkan detak jantung yang tidak menentu ini.


"Besok Rain akan kembali. Rain ingin meminta tolong kepada Ayah dan Ibu," katanya.


Sontak perkataan Rain membuatku terkejut.


"Rain, kenapa tidak bilang kepadaku?!" tanyaku kaget.


"Ara, dengarkan dulu," pinta ibuku.


Akupun diam lalu menunggu kelanjutan pembicaraannya.


"Ayah, Ibu. Tolong jaga Ara sampai Rain kembali. Doakan agar peperangan ini tidak terjadi."


Rain meminta doa kedua orang tuaku. Sontak ibu merasa iba dengan ucapannya itu. Ibu terlihat menghela napas sejenak.


"Ibu tidak bisa berkata apa-apa, Nak Rain. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Memang berat mengemban tugas sebagai tentara, apalagi seperti yang Nak Rain pegang. Semoga saja perdamaian itu tercipta sehingga tidak perlu terjadi peperangan."


Ibu tampak sedih kala mendengar ucapan Rain. Mungkin ibu sedih karena anaknya harus ditinggal pergi berperang.


"Baiklah, Ayah mengerti. Ayah harap semuanya baik-baik saja. Semoga beruntung, Nak."


Ayah menepuk bahu Rain, dia memberikan semangat kepada calon menantunya itu. Aku sendiri tenggelam dalam pikiranku. Tak kusangka jika pertemuanku akan secepat ini. Aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi.


Jujur saja. Aku baru mulai mencintainya, namun kini dia harus pergi meninggalkanku. Aku jadi berkecil hati, kenapa semuanya harus terjadi padaku? Aku sangat benci perpisahan. Ketakutan itu berkecamuk di hatiku. Aku takut kehilangan Rain.


Ya Tuhan, tolong jaga Rain untukku.


Aku hanya bisa berdoa. Lagi-lagi hanya doa yang bisa kupanjatkan. Berharap Rain dapat kembali bersamaku. Sungguh aku tidak mampu mendengar kabar buruk tentangnya. Terlebih aku telah melewati banyak hal bersamanya. Aku mencintainya.


Selepas makan siang...


Aku duduk di lantai teras belakang. Kupandangi kolam ikan koi di depanku ini. Aku merasa sedih sekali. Ternyata kebahagiaan ini hanya sesaat kurasakan.


"Ara."


Rain kemudian duduk di sisi kananku. Dia memegang tangan kananku lalu menciumnya. Semilir angin yang lewat seolah mengetahui isi hatiku. Burung nuri di dalam sangkar pun diam, tidak bersuara sama sekali. Seakan mengerti jika aku akan segera ditinggalkan.


"Aku juga tidak ingin hal ini terjadi, Ara. Tapi ini sudah menjadi tugasku. Tolong jangan bersedih seperti itu. Aku semakin berat meninggalkanmu."


Tampak wajah Rain yang berubah sendu. Kurasakan jika dia pun sangat berat untuk meninggalkanku.


"Rain ...."

__ADS_1


Tak kuasa menahan sedih, aku segera memeluknya. Merebahkan tubuhku di pelukannya yang hangat. Butir-butir kristal bening itu pun mulai membasahi pipiku.


"Kenapa harus seperti ini? Aku sangat benci perpisahan, Rain," kataku dengan suara yang serak.


"Sayang ...."


Rain membalas pelukanku, dia lalu mengecup kepalaku ini. Kedua tangannya mendekap tubuhku. Dan kurasakan detak jantungnya yang melambat, seolah tidak mampu menahan pilu di dada.


"Aku janji aku akan kembali. Kau bisa selesaikan urusanmu terlebih dahulu," katanya yang terbata.


"Tapi bagaimana jika setelah urusanku selesai, aku tidak dapat bertemu denganmu?" tanyaku.


"Bisa, Ara. Kau bisa pergi ke negeriku lagi," jawabnya.


"Hah? Benarkah?"


Aku tak percaya dengan yang Rain katakan. Kulepas pelukan lalu meminta Rain untuk menjelaskannya.


"Pakailah gaun kerajaan dan gunakan kalung ini di depan pohon tin untuk membuka portalnya."


"Pohon tin? Yang di depan rumahku?" tanyaku lagi.


"Hem, ya. Katakan sepenuh hati sambil mengecup kristal merah delima yang ada di kalung ini. Portalpun akan terbuka."


Aku mendengarkannya dengan serius. Aku butuh kepastian akan hal ini.


"Jadi aku tidak perlu menaiki sampan lagi? Tidak perlu ke desa lalu ke lautan?" tanyaku serius.


"Tidak. Aku pun datang diantarkan sampai di depan rumahmu. Saat portal terbuka, Tetua Agung menunjukkan jika kau ada di dalam rumah ini."


Tetua Agung bisa tahu?


Akupun kaget mendengar cerita Rain. Tak kusangka jika kini tidak perlu repot-repot lagi ke tengah laut untuk membuka portalnya. Cukup mengenakan gaun kerajaan yang ada padaku lalu mengecup batu kristal merah delima, kalung pemberian dari Rain ini.


"Apa karena pohon tin itu?"


"Kurasa iya. Pohon tin di depan rumahmu terhubung dengan pohon tin di bukit surga."


"Ternyata benar dugaanku selama ini."


Aku termenung sejenak. Kurasakan sedikit demi sedikit misteri ini mulai terpecahkan.


"Ara. Aku pasti kembali. Saat kembali, aku akan segera meminangmu. Kau mau, kan?" tanya Rain seraya menatap dalam ke arahku.


Akupun mengangguk, mengiyakan sambil tersenyum. Seketika itu juga Rain girang bukan main. Dia segera menarik tubuhku lalu memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, Ara. Terima kasih," ucapnya riang lalu mengecup poniku ini.

__ADS_1


Aku rasa hatiku sudah bulat untuk memilihnya. Aku memang membutuhkan Rain.


Maafkan aku, Cloud. Aku tidak mengerti mengapa harus begini. Aku hanya mengikuti kata hati. Maafkan aku, ucapku dalam hati.


__ADS_2