Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Trust You


__ADS_3

"Ara, apa yang kau lihat itu tidak sama dengan apa yang terjadi sesungguhnya." Cloud mencoba menjelaskan padaku.


"Apa? Kau ingin berkilah, Cloud?" tanyaku kesal.


"Ara, kumohon. Saat kau datang, saat itu juga aku ingin melepaskan diri darinya. Tapi yang kau lihat, aku memeluknya."


"Sudah, Cloud. Aku tidak ingin mendengar penjelasan lagi. Permisi." Akupun beranjak pergi.


"Ara!"


Cloud menarikku kembali. Dia segera memelukku erat dan tidak memberi cela untukku melepaskan diri.


"Sungguh, Ara. Kejadian sebenarnya seperti itu. Dia memang memelukku. Tapi saat aku ingin melepaskannya, bersamaan dengan itu kau juga datang dan melihatnya. Sehingga yang terlihat adalah aku memeluknya. Padahal itu salah." Cloud membela diri.


"Cloud, lepaskan aku." Aku berusaha melepaskan diri darinya.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan terus memelukmu sampai kau mau menerima penjelasanku," katanya serius.


Aku benar-benar sakit melihat kejadian tadi. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mungkin Tuhan akan menunjukkan kebenarannya padaku suatu saat nanti.


"Cloud, tidak bisakah kau menjauh darinya?" tanyaku seraya mencoba untuk menatapnya.


Cloud melepaskan pelukannya, dia memegang kedua lenganku kembali.


"Ara, maafkan aku. Aku hanya menjalankan tugas. Aku diminta ayah untuk menyelidiki hal ini."


"Menyelidiki? Maksudmu?" tanyaku bingung.


Cloud melihat ke sekeliling, dia lalu menatapku kembali.


"Andelin adalah putri dari kerajaan yang mengajak Angkasa berperang. Dan dia datang menyampaikan kabar jika ayahnya yang telah menyewa tukang sihir untuk menyebarkan wabah penyakit di ibu kota negeri ini."


"Apa?!" Aku terkejut mendengarnya.


"Maka dari itu, ayah memintaku untuk menyelidiki hal ini. Rain juga ikut mengawasi gerak-gerik putri itu. Jadi tolong, jangan berpikiran macam-macam tentangku."


Sejenak aku mencoba untuk mengerti apa yang Cloud jelaskan. Tetapi tetap saja aku cemburu.


"Ara, aku mohon mengertilah. Ini tugas kerajaan untukku." Dia kemudian mengusap pipiku.


"Cloud, aku ...,"


"Aku tahu kau cemburu. Sebisa mungkin aku akan menjaga perasaanmu, Ara. Tapi kumohon jangan bersikap seperti ini. Jangan lari dariku," katanya seraya memohon.


Aku mengangguk, mencoba menenangkan hati.


"Baiklah. Untuk sementara waktu, izinkan aku menyelidiki kebenaran hal ini, ya?" pintanya lembut.


"Tapi, Cloud. Aku khawatir dia akan menjebakmu."


"Aku tahu, Ara. Maka dari itu kedatangannya diantisipasi oleh pihak kerajaan. Aku juga khawatir jika ini adalah jebakan darinya. Tapi kau tidak perlu cemas. Hatiku, ragaku, dan semua yang kumiliki hanyalah untukmu. Percaya padaku, Ara."


"Kau tidak bohong?" tanyaku meminta kepastian.


"Tidak, Ara. Aku serius." Tatapan kedua matanya meyakinkanku.


"Hm, baiklah."


Aku mengangguk, mengiyakan. Cloud lalu melepaskan pegangannya. Kutahu dia khawatir jika aku sampai marah. Aku juga mencoba untuk mengerti posisinya saat ini.


"Kau ada rencana hari ini?" tanyanya kemudian.


"Mungkin aku akan menunggumu sambil mempersiapkan sarana pendukung untuk acara pertunjukan busana."

__ADS_1


"Em, baiklah. Aku akan menemuimu nanti. Tunggu aku, Ara."


Cloud mengusap pipiku lalu mencium keningku ini. Ciuman lembut kurasakan di pagi yang cerah. Ya, walaupun hampir saja hatiku ini pecah berkeping-keping.


"Sampai nanti, Ara." Cloud bergegas pergi. Dia tampak terburu-buru.


"Cloud!" Akupun memanggilnya sebelum dia benar-benar pergi.


"Ara?"


"Jangan nakal!" kataku manja.


Dia lalu tersenyum menanggapi. "Iya, Sayang."


Cloud mengusap kepalaku seraya tersenyum dengan senyuman yang meluluhkan hati. Dan diapun bergegas pergi meninggalkanku.


Sepertinya keadaan istana sedang serius.


Aku percayakan semuanya pada Cloud. Aku percaya jika dia tidak akan bermain hati dengan putri itu. Ya, semoga saja harapanku ini menjadi nyata.


Beberapa menit kemudian...


Kini aku duduk di gazebo istana, menyusun keperluan apa saja yang harus segera aku persiapkan.


"Baiklah, setelah ini aku akan menemui bibi Rum lalu paman Mark."


Aku berniat untuk melakukan persembahan kepada para tamu di acara pertunjukan busana nanti. Mungkin beberapa tarian akan dimunculkan di sesi awal acara.


Dengan segera aku melangkahkan kaki mencari Bibi Rum. Dan ternyata, kutemukan dirinya tengah duduk dalam sebuah ruangan sambil membaca beberapa lembaran kertas, tak jauh dari ruang utama kerajaan. Akupun segera berjalan mendekatinya.


"Selamat pagi, Bibi," sapaku.


"Nona Ara?" Dia kemudian berdiri menyambut kedatanganku.


"Katakan saja, Nona," pintanya.


Aku lalu duduk di depannya. "Begini, Bi. Aku ingin membuat tarian pembuka di acara pertunjukan busana nanti. Aku membutuhkan pelayan yang masih remaja. Apakah ada?" tanyaku lagi.


"Nona membutuhkan banyak?"


"Tidak, Bi. Kurasa empat atau lima orang sudah cukup."


"Em, baiklah. Kapan Nona akan memerlukannya?" tanyanya lagi.


"Aku harap besok pagi sudah dapat bertemu dengan mereka. Tapi lebih cepat, lebih baik," jawabku.


"Tapi, Non. Di sini tidak ada yang bisa menari." Bibi Rum terlihat cemas.


"Tak apa, Bi. Nanti aku yang akan mengajarkannya," kataku.


"Nona bisa menari?!" tanyanya kaget.


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Baiklah, Nona. Apakah ada keperluan lain?" tanyanya lagi.


"Em, sebenarnya aku membutuhkan banyak pelayan remaja. Tapi jika hanya ada beberapa pun tak apa," jawabku.


"Baiklah. Saya mengerti, Nona."


"Terima kasih, Bi."


Akupun segera berpamitan dengannya. Kulihat Bibi Rum ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan. Entah apa itu.

__ADS_1


...


Setelah menemui Bibi Rum, aku bergegas menemui Paman Mark di ruang hias istana. Sesampainya di sana, Paman Mark menyambut kedatanganku.


"Nona Ara. Salam bahagia untuk Nona," sambutnya.


"Salam bahagia untuk Paman Mark." Aku meletakkan tangan kanan di dada, membalasnya.


"Nona, sudah lama kita tidak berjumpa."


"Hm, ya benar. Bagaimana keadaan Paman?" tanyaku berbasa-basi seraya berjalan masuk ke ruangan bersamanya.


"Keadaan saya baik, Nona. Tapi tidak seperti hati saya," jawabnya.


"Maksud Paman?" tanyaku yang mulai bingung.


"Saya merasa berdebar menunggu keputusan raja."


"Hah ...?"


"Saya tidak sabar melihat pernikahan salah satu pangeran," katanya lagi.


"Em, maksud Paman ...?" Aku semakin bingung.


"Nona, saya merasa beruntung jika dapat ikut andil di hari pernikahan Nona bersama salah satu pangeran kerajaan ini."


Eeerrr...


"Sejak lama saya ingin sekali berpartisipasi dalam perayaan besar di istana."


"Paman, aku merasa—"


"Em, maaf, Nona Ara. Saya hanya mengungkapkan perasaan senang. Maaf jika Nona terkejut atau kurang berkenan dengan hal yang saya ucapkan," katanya menyesal.


"Eh, tidak apa-apa, Paman. Aku hanya merasa bingung saja. Ya, bingung."


Aku jadi tidak enak sendiri saat kurang merespon kebahagiaannya itu. Padahal sebenarnya aku juga ikut senang. Sebentar lagi aku akan segera menikah.


"Nona, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.


"Oh, ya. Begini, Paman. Aku bertanggung jawab dengan acara pertunjukan busana nanti. Bisakah Paman..."


Aku lalu menjelaskan kepada Paman Mark akan keperluan yang kubutuhkan. Kujelaskan secara rinci konsep pertunjukan busana kepadanya.


"Kira-kira kapan akan dimulai, Nona?" tanyanya meminta kepastian.


"Mungkin dua atau tiga minggu lagi," jawabku.


"Em, baiklah. Tidak terlalu cepat. Saya bisa mempersiapkannya."


"Aku mohon bantuannya, Paman Mark. Untuk make-up penari dan peraga busana, aku serahkan kepada Paman."


"Tenang saja, Nona. Nona bisa mengandalkan saya."


"Terima kasih, Paman."


"Nanti jika ada keperluan lain, Nona bisa memanggil saya kembali." Paman Mark berpesan.


Aku tersenyum seraya mengangguk. Senang rasanya jika semua sarana dan prasarana sudah siap dari jauh-jauh hari.


Segera saja aku berpamitan untuk mengurus keperluan yang lain. Aku tidak boleh mengecewakan raja atas pertunjukan busana yang telah dipercayakan kepadaku.


Baiklah, tinggal melatih menari.

__ADS_1


Kini aku hanya tinggal melatih menari untuk acara pembuka nanti. Dan untungnya saja aku membawa ponsel sehingga bisa menggunakan lagu pengiring secara langsung.


__ADS_2