
Menjelang petang di Asia...
Aku baru saja sampai di kediaman Zu dan rasanya lelah sekali. Hari ini aku membantunya mengurus inventaris negeri mulai dari pembendaharaan istana hingga jumlah prajurit yang dimiliki negeri ini. Sungguh bersyukur penduduk di duniaku karena sudah bisa menggunakan komputer untuk menyimpan semua data penting. Tidak seperti di sini, masih menggunakan cara manual jika ingin menyimpan semua data.
Kuakui jika Asia memang lebih modern dari negeri kedua pangeranku. Ternyata negeri ini bekerja sama dengan negeri asing dalam urusan teknologi. Dan sedikit demi sedikit perkembangan teknologi di Asia pun lebih cepat jika dibandingkan negeri lain.
Penduduk dunia ini sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan duniaku. Katakanlah jika ini adalah dunia paralel dunia asliku. Apa yang ada di bumi sana, ada juga di bumi ini. Mungkin saja jika pemahaman bumi datar itu memang benar adanya. Karena sejauh ini bagian bumiku belum terjelajahi sepenuhnya.
Terlepas dari pemahaman yang ada, aku sangat menyukai dunia ini. Penduduknya sangat ramah, walaupun ada beberapa yang kurang menyenangkan. Dan kuakui hal itu lumrah terjadi sebagai pewarna kehidupan ini.
Aku juga cukup terkejut saat mengetahui jumlah prajurit yang dimiliki negeri ini. Total prajurit yang dimiliki ada sekitar satu juta orang. Sungguh angka yang luar biasa bagiku, apalagi ini bukan di duniaku sendiri.
Prajurit-prajurit itu dibagi beberapa bagian. Ada angkatan laut dan angkatan darat, sedang angkatan udaranya adalah tim pemanah. Yang mana sebagian besar prajurit tersebar ke seluruh penjuru negeri dan sebagian lain ikut menjaga perdamaian dunia.
Di istana ini sendiri ternyata banyak pasukan khusus. Aku tidak menyadari ada basecamp prajurit di belakang istana jika Zu tidak memberitahunya padaku. Sungguh masih banyak bagian istana ini yang belum kuketahui.
"Ara, kau tidak mandi?"
Kulihat pangeran berkulit putih itu baru saja keluar dari kamar mandi dan masih menghanduki kepalanya. Sedang tubuhnya terbalut handuk putih sebatas pusar hingga lutut. Aku pun jadi terkagum sendiri saat melihat postur tubuhnya yang maskulin.
"Iya, aku mau mandi."
Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan mengagumkan, aku segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari lelahnya aktivitas hari ini. Mulai tadi siang Zu ingin aku menemaninya bekerja, dia tidak ingin aku lepas dari pandangannya. Ya, kuturuti saja apa kemauannya selagi mampu. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengannya.
Jam makan malam...
Selepas mandi, aku ditunggu oleh Zu di lantai satu kediamannya. Akupun turun dengan mengenakan gaun tidur berwarna ungu, dan sepertinya Zu terkesima melihatku.
Dia menyukai warna ungu?
Gaunku ini berompi biru, mungkin gaun yang kupakai sepasang dengan piyama tidur yang biasa dia kenakan. Entahlah, tapi memang mirip sekali. Mungkin dia sengaja membelinya sepasang.
__ADS_1
"Pangeran, maaf membuatmu menunggu." Aku segera duduk di depannya.
Para pelayan mengantarkan hidangan makan malam untuk kami. Dan betapa menggoda selera hidangan yang disajikan. Di sini ternyata ada juga salad buah, yang mana membuatku ingin segera mencicipinya.
"Sayang." Zu menepiskan tanganku dari mangkok salad.
"Pangeran?"
"Baca doa dulu," pintanya.
Eh?!
Seketika aku terheran-heran dengan sikapnya yang berubah religius, tidak seperti biasanya. Kami pun akhirnya berdoa bersama lalu segera menyantap hidangan yang tersaji. Zu mengambilkanku nasi beserta lauknya. Rasanya aneh sekali saat disajikan olehnya. Harusnya kan aku yang menyajikan untuknya.
"Nenek Lin memberi kabar jika lusa dia akan kembali ke istana." Zu memulai pembicaraannya.
"Nenek Lin?" Aku mencoba mengingat-ingat.
"Oh, iya." Aku langsung teringat.
"Dia sedikit bawel, Ara. Jangan terlalu diambil hati ucapannya." Zu berpesan sebelum kedatangan neneknya itu.
"Tenang saja, Pangeran." Aku tersenyum menanggapinya.
"Aku sengaja tidak lembur malam ini karena ingin berbicara banyak padamu," katanya lagi, sambil menyerahkan piring berisi nasi dan lauk kepadaku.
"He-em." Aku mengangguk.
"Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Jadi makanlah yang banyak."
"Eh?!"
__ADS_1
"Hahaha. Sudah, makanlah." Zu tertawa sendiri.
Aku bisa merasakan kesedihan yang melanda hatinya saat dia menyebutkan nama Nenek Lin kepadaku. Kutahu jika dia begitu merindukan mendiang ibunya. Dan tiba-tiba saja muncul rasa tanggung jawab di hatiku untuk membahagiakannya. Entahlah, aku rasa sudah mulai terikat padanya.
Keadaan Zu membuat Ara merasa iba. Hatinya terenyuh dengan kenyataan yang didengar. Ia merasa harus membahagiakan sang pangeran untuk mengobati duka yang selama ini menyelimuti hati calon raja Asia tersebut. Ara tidak tega jika harus meninggalkan Zu, tapi ia juga tidak mudah untuk melupakan kedua pangerannya di Angkasa. Dan kini lagi-lagi gadis itu dilanda dilema hatinya.
Sementara itu...
Rain bersama pasukan sudah hampir tiba di bukit persik. Jarak mereka hanya sekitar setengah jam perjalanan lagi. Ia melewati hutan belantara demi menghindari pasukan Asia yang berpatroli.
Rain melakukan semua ini hanya untuk Ara seorang. Ia rela menempuh perjalanan berjam-jam mengarungi lautan yang luas. Rela menaiki pegunungan tinggi hanya demi sampai ke tujuan, menemui pujaan hatinya. Rain tidak lagi dapat menunggu, ia merasa harus cepat-cepat menjemput Ara dan membawa kembali ke Angkasa.
Lain Rain, lain juga dengan Cloud. Putra sulung kerajaan Angkasa ini tampak gelisah menunggu kabar. Ia sedari tadi bolak-balik lantai dua-tiga istana. Sambil bergantian jaga dengan ayahnya, Cloud dilanda kegelisahan akan kabar penjemputan Ara.
"Rain belum memberi kabar dia sudah sampai di mana. Ya Tuhan, aku begitu gelisah malam ini."
Cloud mencoba menemui menterinya, Shane. Ia menanyakan perihal kabar terakhir dari sang adik. Shane pun segera memberitahunya.
"Maaf, Pangeran Cloud. Kabar terakhir pangeran Rain sudah sampai di Asia. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan." Shane menuturkan.
"Apakah pasukan tiba dengan selamat?" tanya Cloud yang cemas.
"Sepertinya begitu, Pangeran. Sesuai perintah dari pangeran Rain, biarkan dia yang terlebih dahulu mengirimkan pesan. Pangeran Rain khawatir jika kita mendahului, pihak Asia akan mengetahuinya." Shane menjelaskan.
"Hm, begitu. Baiklah, terima kasih." Cloud akhirnya sedikit tenang.
Sang putra mahkota akhirnya kembali ke lantai tiga untuk menjaga ibunya. Ia terus saja berdoa agar keberadaan Rain bersama pasukan tidak diketahui oleh prajurit Asia. Ia amat berharap sang adik dapat membawa Ara kembali ke istana. Cloud berharap besar pada adiknya itu.
Rain, kita memang bersaing untuk memperebutkan hati Ara. Tapi aku berharap kau baik-baik saja di sana beserta pasukanmu. Jangan sampai pihak Asia mengetahui kedatanganmu ini. Semoga berhasil.
Cloud mendoakan adiknya. Malam ini pun ia terus menunggu kabar dari sang adik. Kabar baik tentang sang gadis pujaan hatinya, Ara.
__ADS_1