
Sepuluh menit kemudian...
Aku kini sudah tiba di istana Asia. Tapi lebih tepatnya di belakang istana ini. Entah mengapa kuda yang kutunggangi tadi menurunkan aku di sini.
"Terima kasih, ya." Aku mengusap kepala kuda yang mengantarkanku.
Jujur saja malam ini aku tidak tahu harus ke mana. Tapi kuikuti saja jalan teras menuju pintu masuk belakang istana ini. Beberapa langkah berjalan, aku melihat dua orang tengah berbisik-bisik, tepat di pintu belakang istana. Aku pun bersembunyi agar kehadiranku tidak diketahui oleh mereka.
"Kau sudah memasukkannya?" tanya seorang wanita paruh baya kepada wanita muda.
"Sudah, Yang Mulia. Saya sudah memasukkannya," jawab wanita muda itu.
Aku jadi berpikir, apa sebenarnya yang dimasukkan oleh wanita muda itu? Kenapa mereka sampai berbisik-bisik di pintu belakang istana?
Aku mencoba mengintip, melihat lebih jelas sosok wanita tua itu. Lama-kelamaan aku menyadari sesuatu.
Dia ratu negeri ini?
Hatiku bertanya-tanya saat melihat mahkota emas yang ada di kepala wanita paruh baya. Dan segera saja aku menjauh dari tempatku bersembunyi. Tapi sayang, tanpa sengaja aku menabrak seekor kucing hitam.
"Siapa itu?!'
Suara wanita bermahkota itu berteriak, sesaat setelah mendengar suara kucing yang menjerit. Dia sepertinya menyadari kehadiranku. Aku pun segera berlari berlawanan arah agar tidak diketahui olehnya, berlari secepat mungkin. Tapi sepertinya, malam ini kurang baik untukku.
"Aduh!" Tanpa sengaja aku menabrak pangeran menyebalkan itu di salah satu teras istana.
"Pa-pangeran?" Aku pun mencoba membantunya bangun.
"Kau?!" Dia menyadariku. "Lepaskan!"
Tanganku yang membantunya berdiri, dia hempaskan begitu saja. Dia segera bangun dan menepiskan rasa sakitnya. Kami lantas saling berhadapan.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?!" tanyanya sambil berdiri tegap.
"Ma-maaf, Pangeran. Aku hanya mengikuti pangeran Zu," kataku jujur.
"Apa?! Kau mengikuti kakakku?!"
Aku biarkan pangeran di hadapanku ini berbicara panjang lebar sambil terus memperhatikan keadaan di sekitar. Kulihat sekilas wanita bermahkota itu melihatku dari balik dinding istana. Sepertinya dia menahan diri untuk muncul di hadapanku sekarang.
"Maaf, aku tidak sengaja. Tidak lagi-lagi."
Aku pun mencoba mengalihkan situasi, berpura-pura sudah lama mengenal Shu untuk mengelabui wanita itu. Jika tidak, dia bisa curiga padaku karena telah mendengar percakapannya tadi.
"Hei, ada apa?!"
Zu tiba-tiba datang. Dia melihatku dimarahi oleh adiknya. Sontak saja tingkahku semakin menjadi-jadi.
"Pangeran Zu, pangeran Shu memarahiku," kataku manja kepada Zu. Dan kulihat wanita itu segera pergi dari balik dinding, tempatnya bersembunyi.
Hah ... syukurlah. Dia tidak mencurigaiku.
"Shu, sudah kubilang berbaik hatilah padanya. Aku yang membawanya ke istana. Sekarang lekaslah kembali ke kamar. Ayah menunggu." Zu meminta Shu untuk kembali ke kamar ayahnya.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku juga tidak ingin melawan arus. Jadi kuikuti saja alur cerita ini.
__ADS_1
"Ara, malam ini aku tidak tidur di rumah. Aku akan menemani ayah. Apa kau ingin ikut?" tanyanya padaku.
Karena sudah terlanjur tiba di istana dan tidak mungkin kembali sendiri ke kediamannya, aku menurut saja apa kehendaknya. Aku ikut Zu tidur di istana malam ini. Tapi ternyata, Zu mengajak ku masuk ke dalam kamar ayahnya.
Sesampainya di depan kamar raja...
Kulihat banyak pelayan dan pengawal yang berjaga di depan pintu masuk kamar raja. Aku sendiri masih bersama Zu, dia memegang tanganku sejak tadi. Pintu kamar raja pun dibiarkan terbuka lebar. Dan kulihat ada wanita bermahkota itu beserta seorang gadis yang entah siapa.
Apa dia putri wanita itu?
Lantas saja kulangkahkan kaki, masuk ke dalam kamar raja. Namun tiba-tiba...
"Aduh!"
Entah mengapa kakiku terselandung saat ingin masuk ke dalam kamar ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, hampir saja aku jatuh ke lantai.
"Kau tidak apa-apa?"
Untungnya Zu memegangi tanganku dengan erat. Kalau tidak, pastinya aku sudah terjatuh.
"Em, aku tidak apa-apa, Pangeran." Aku berusaha berdiri.
Kami lantas masuk ke dalam kamar raja. Dan tiba-tiba saja bulu kudukku merinding saat melewati sebuah patung. Di dalam kamar ini ternyata ada sebuah patung guci putih, yang entah apa isinya.
Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding, ya?
Tidak tahu apa yang terjadi, aku berusaha tetap bersama Zu, tidak ingin jauh darinya. Tak lama Shu pun mengantarkan secangkir teh untuk ayahnya yang sedang merebahkan punggung di kepala kasur.
"Ayah, minumlah. Ini dari tabib istana."
Shu lalu memberikan secangkir teh itu kepada raja. Raja pun segera meneguknya.
"Tidak, Ayah. Kami tidak merasa dibebankan sama sekali," ucap gadis itu.
Hah? Siapa dia? Apa dia saudara kandung Zu?
Aku bertanya sendiri, penasaran dan terus saja penasaran. Zu lalu meminta kepada yang lain untuk keluar dari kamar raja, termasuk wanita bermahkota itu yang tampak menatapku dengan pandangan asing. Ya, mungkin karena baru kali ini melihatku.
"Biar aku yang menjaga Ayah. Kalian keluar saja."
Wanita bermahkota dan gadis itu segera keluar dari kamar raja. Dan kini tinggal raja, Zu, Shu serta aku di dalam kamar. Barulah Zu melepaskan pegangan tangannya.
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Ayah sampai kejang-kejang?" tanya Zu dengan lembutnya.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Ayah hanya meminum obat seperti biasanya. Tapi lama-kelamaan, Ayah merasa kehilangan kendali." Raja menceritakan.
"Em, maaf, Yang Mulia. Bolehkah saya melihat obatnya?"
Tiba-tiba saja mulutku berkata seperti itu tanpa permisi terlebih dahulu. Aku seakan tidak sadar mengucapkannya. Zu dan Shu pun memperhatikanku.
"Shu, tolong ambilkan obat Ayah." Raja meminta kepada Shu.
Aku tahu jika Shu kurang menyukai kehadiranku. Dia juga seperti bermalasan mengambil obat itu. Namun, dia tetap menyerahkannya padaku.
"Ini!"
__ADS_1
Sambil membuang mukanya, dia menyerahkan obat raja kepadaku. Aku kesal, sih. Tapi untuk sementara, sengaja kubiarkan dahulu. Aku ingin mencari jawaban atas rasa penasaranku ini.
"Dewi, apa kau ingin memeriksa obat itu?" tanya Zu padaku.
"Pangeran, aku punya sedikit pengetahuan tentang obat-obatan tradisional, mungkin bisa membantu. Aku mohon izin," pintaku seraya tersenyum.
Zu mengangguk, mengiyakan. Dia mempersilakanku untuk mengecek obat yang biasa diminum oleh raja. Sedang Shu, tampak berpangku tangan dan mengalihkan pandangannya. Dia seperti malas melihatku.
Tunggu saja waktunya ya, Pangeran.
Aku berjanji di dalam hati untuk memberi pelajaran kepada pangeran menyebalkan itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Shu.
Tak ingin membuang waktu, segera kuambil obat berbentuk pil ini. Aku mengambilnya satu dari kantong obat. Tapi tiba-tiba saja aku melihat seperti ular kecil melompat ke arahku.
"Aaaa!!!"
Sontak aku berteriak dan membuang obat itu. Aku bergidik, merinding seketika.
"Ta-tadi i-itu!" Aku menunjuk-nunjuk obat itu.
"Dewi, ada apa?" Zu tampak mencemaskanku.
"Pa-pangeran, tadi aku melihat ular," kataku jujur.
"Hah, kau ini. Tidak ada ular di sini! Kau terlalu banyak berhalusinasi." Shu malah meledekku.
"Shu, diamlah. Biarkan Dewi menjelaskannya terlebih dahulu."
Lagi dan lagi aku dibela oleh Zu. Kurasakan jika Shu bertambah kesal karena kehadiranku ini.
"Maaf, Pangeran. Apakah aku boleh memeriksa denyut nadi raja?" tanyaku pada Zu.
"Ya, tak apa. Periksalah, Dewi." Zu mempersilakanku.
Aku lantas mendekati raja, duduk di sisi kirinya sambil mencoba memegang denyut nadi tangan kirinya. Dan lagi, aku merasakan keanehan.
Ap-apa ini?
Kucoba memejamkan kedua mata untuk merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada raja. Dan seketika itu juga aku melihat ada sesuatu yang menyumbat pembuluh darah raja.
Astaga! Astaga!
Aku juga melihat ada ular-ular kecil di dalam perutnya. Sontak tanganku bergetar sendiri.
"Astaga!" Aku terkejut.
"Dewi, ada apa?" tanya Zu seraya mendekatiku.
"Pa-pangeran, sepertinya kita harus membicarakan hal ini," kataku padanya.
"Ada apa denganku, Nak? Apakah kau merasakan keanehan saat memeriksaku?" tanya raja padaku.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya tidak punya kemampuan untuk hal itu, namun saya akan membantu sebisanya," jawabku, berusaha untuk tidak panik.
Zu seperti mengerti keinginanku untuk berbincang dengannya. Dia lalu meminta Shu untuk menjaga raja selama dia keluar bersamaku.
__ADS_1
"Ayah, aku tinggal sebentar. Nanti aku akan kembali dan menemani Ayah tidur. Shu, tolong temani Ayah sementara waktu." Zu berpesan.
Kami lantas keluar dari kamar, menuju taman belakang kamar raja. Ternyata ada taman kecil di belakang kamar raja Asia ini. Aku pun duduk bersama Zu di lantai terasnya.