Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Rain


__ADS_3

"Sudah. Tak apa. Sedari tadi kau terlihat sangat sibuk. Mari kita makan siang sejenak."


Cloud tiba-tiba saja merangkul pinggangku. Di hadapan para pelayan kerajaan dia bersikap tidak biasanya.


Aku digandengnya.


Rasa di hatiku ini semakin menjadi-jadi. Aku diperlakukan seperti kekasihnya saja. Atau jangan-jangan Cloud memperlakukan semua wanita seperti ini? Entah mengapa memikirkan hal itu membuatku kesal.


"Ara, kita makan di gazebo istana. Kau keberatan?" tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Tentu tidak. Aku lebih menyukai tempat itu dibanding tempat lainnya," jawabku seraya malu-malu melihatnya yang berada dekat denganku.


"Sepertinya kita punya kesamaan."


Cloud kemudian membukakan pintu istana untukku dan mempersilakan diriku berjalan duluan di depan, kemudian dia pun menyusul.


Kami berjalan berdampingan. Aku dengan lembaran-lembaran skestaku. Dan Cloud dengan gaya menawannya, dia terlihat memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


Oh! Indahnya waktu-waktu seperti ini. Ingin rasanya aku menghentikan waktu.


"Silakan, Pangeran, Nona Ara."


Setibanya di gazebo istana, beberapa pelayan mempersilakan kami untuk menyantap hidangan makan siang. Saat makan siang, aku begitu grogi dibuat Cloud. Dia tidak henti-hentinya memandangiku yang duduk berhadapan dengannya.


"Cloud, apa ada yang salah dengan penampilanku?"


Jujur saja aku grogi dipandangi dengan tatapan matanya itu. Hampir-hampir saja aku salah tingkah dibuatnya. Untungnya sendok makan tidak ikut tertelan. Bisa dibayangkan jika diperhatikan, dipandangi oleh seseorang yang kita dambakan? Dunia ini rasanya hanya ada aku dan dirinya.


"Em, tidak. Aku hanya merasa senang saja. Dan juga terkejut," jawabnya sambil menyeka mulut dengan sapu tangan.


"Maksudmu?" tanyaku menginginkan jawaban yang lebih rinci.


"Ara," Cloud menyentuh tangan kiriku dengan tangan kanannya, "apakah engkau tidak menyadari jika penampilanmu kini sangat jauh berbeda dengan yang di desa?" Cloud balik bertanya.


"Hm ...?"


"Kau begitu cantik. Manis, imut dan juga lucu."


Seketika aku tersedak mendengar ucapannya itu. Cloud segera memberikan minum kepadaku.


"Ara, kau tidak apa-apa?"


Aku masih terbatuk-batuk lalu minum lagi. Kuhabiskan segera air minumku. Rasanya begitu haus sekali. Aku tuang semua yang ada di teko lalu kuhabiskan tanpa sisa. Kali ini aku tidak dapat menahan diri.


Cloud terkejut dengan sikapku. Dia terbelalak melihatku yang menghabiskan satu teko air.


Sepertinya dia ilfeel padaku. Ah! Aku tidak peduli. Habisnya dia yang memulai.


"Ara, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"He-em."

__ADS_1


"Jangan membuatku cemas, Ara."


Tampak keningnya berkerut melihat tingkah konyolku ini.


"Cloud, bolehkah aku bertanya?"


"Bertanya?"


"Iya. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu di luar pekerjaan?" tanyaku memastikan.


"Hm, aku merasa ...."


Cloud tidak meneruskan kata-katanya, membuatku menunggu.


"Cloud?"


"Ara, sepertinya aku harus kembali ke ruanganku. Tidak apa-apa kan jika aku tinggal?"


"Tapi, Cloud—"


"Aku lupa jika ada urusan yang harus segera kuselesaikan. Lain kali kita akan lebih banyak mengobrol. Tak apa, ya?"


Cloud segera berdiri, dia lalu pergi meninggalkanku.


Kenapa harus seperti ini? Apa aku terlalu agresif kepadanya. Padahal aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin bertanya. Hatiku serasa retak-retak dibuatnya.


"Nona, apa piringnya sudah bisa saya ambil?"


Pelayan ini terasa begitu cepat membersihkan meja makan, atau aku yang masih kepikiran akan sikap Cloud yang tiba-tiba berubah?


Kucoba menyingkirkan perasaan sejenak sambil melihat hasil sketsa kasarku di beberapa ruang. Aku kembali fokus dengan pekerjaan, ditemani semilir angin siang yang menyapu lembut helaian rambutku.


Apa yang dikatakan Cloud tadi sungguh-sungguh?


Namun nyatanya, kata-kata Cloud masih terngiang-ngiang di benakku. Rasa penasaranku begitu tinggi terhadapnya. Cloud seperti menarik-ulur hatiku. Atau akunya saja yang terlalu berharap? Entahlah. Lebih baik kulanjutkan pekerjaanku saja.


Aku segera menuju ruang istana yang belum sempat kujamah, satu persatu. Setelah berusaha semaksimal mungkin, akhirnya sketsa semua ruangan istana ini dapat kuselesaikan.


Sore harinya...


Sore ini aku menjalani perawatan mingguan di rumah kecantikan istana. Setelah semua perawatan selesai, aku merelaksasikan tubuhku dengan berendam di kolam air panas. Seharian berjalan ke sana dan kemari membuat tubuhku terasa pegal-pegal semua.


Aku menggenakan kain untuk menutupi tubuh dari batas dada hingga lutut. Rambutku masih disanggul karena hanya berniat merendam tubuhku saja.


Kunikmati keadaan sekeliling kolam yang begitu asri. Daun-daun pepohonan kecil seolah-olah menyapaku di sore ini.


Kolam air panas yang kugunakan berendam ternyata sering dikunjungi oleh keluarga utama kerajaan. Terbukti dari tempatnya yang begitu bersih, airnya sangat jernih dengan suhu panas yang pas untuk meredakan ketegangan otot di tubuh.


Aku menyandarkan kepalaku di tepi kolam. Menghirup dalam-dalam aromaterapi bunga melati yang disediakan. Kulihat langit sore yang begitu menawan, dan tiba-tiba saja aku merindukan keluargaku di desa.


"Sedang apa ya mereka di sana?"

__ADS_1


Aku rindu adik-adikku. Terutama adik bungsuku yang masih kecil. Rasa kesepian mulai menyelimuti hati ini. Entah kenapa air mataku berlinang.


"Kau bisa sedih juga ternyata."


Tiba-tiba suara seseorang menyadarkanku. Aku segera melihat ke asal suara. Ternyata dia. Lagi-lagi dia di hadapanku.


"Rain?!"


"Hai, Nona. Bolehkah aku ikut berendam bersamamu?"


Rain segera masuk ke dalam kolam air panas tanpa menunggu jawaban dariku, iya atau tidak. Rasa sedihku tiba-tiba menghilang dan kini berganti dengan perasaan kesal.


"Kuperhatikan hari ini kau sangat sibuk seperti tidak memberiku cela," katanya mengawali.


"Cela, cela apa maksudmu?"


Aku menjadi risih dengan kedatangannya. Aku pun segera beranjak bangun, ingin pergi dari hadapannya.


"Nona!"


Rain memegang tangan kiriku. Dia menahan kepergianku. Kulihat dia hanya mengenakan celana pendeknya saja. Tubuhnya begitu membuatku terpesona. Ada getaran aneh saat dirinya memegang tanganku ini, entah apa itu.


"Aku ingin kau menemani. Jangan pergi ...."


Sebuah kalimat permohonan yang terdengar kali ini. Bukan seperti sebuah perintah atau ancaman yang biasa kudengar darinya.


Ada apa ini? Kenapa Rain tiba-tiba berubah? Apa dia ingin melakukan sesuatu hal padaku? Atau jangan-jangan ada udang di balik batu?


Aku bertanya-tanya sendiri, belum mengetahui jawabannya.


Rain membalikkan badannya. Dia kini berdiri di belakangku. Napasnya terasa hingga ke tengkuk leherku. Entah mengapa respon tubuhku begitu cepat saat Rain mulai mendekatkan dirinya kepadaku. Tubuhku bergetar kecil.


A-apa yang harus kulakukan? Apa dia sengaja menggodaku?


Pikiranku mulai ke mana-mana. Terlebih Rain berbisik di telinga kananku dengan suara yang pelan.


"Aku ingin lebih mengenalmu, Nona."


Jari jemarinya mulai merayap dari telapak tangan menuju ke lengan atasku. Tubuhku benar-benar merinding dibuatnya. Aku khawatir jika ini hanyalah jebakan belaka. Terlebih Rain sudah beberapa kali membuatku kesal.


Tidak! Ini tidak boleh terjadi!


Segera saja aku berbalik menghadapnya tanpa aba-aba. Rain pun kaget dengan gerakan cepatku. Aku mendorongnya sekuat tenaga hingga diapun jatuh ke dalam kubangan air panas.


Ini saatnya untuk melarikan diri!


Aku segera keluar dari kolam air panas, menghindari Rain. Aku berlari keluar sambil mengambil cepat gaunku dan memakainya di jalan. Tidak peduli jika ada yang melihat perbuatanku ini. Aku terus berlari menuju kamar pribadiku bersama dengan rasa takut dan penasaran yang kian memburu. Aku merasa seperti dikejar-kejar sesuatu.


Sesampainya di kamar, aku segera mengunci pintu. Napasku terengah-engah karena ulah Rain. Sebisa mungkin aku menghindar darinya. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan. Karena ancaman-ancaman Rain selalu terngiang di benakku.


Setelah merasa aman, aku segera berbilas diri lalu menenangkan diri di atas tempat tidur, menutup tubuhku dengan selimut tebal. Berharap kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi.

__ADS_1


__ADS_2