Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Fighting!!!


__ADS_3

Malam yang dingin menjadi saksi penyerangan musuh ke negeri Angkasa. Lima belas dari dua puluh kapal perang musuh berhasil menepi ke dermaga pelabuhan selatan negeri ini. Sedangkan sisanya hancur terkena tembakan meriam pasukan Rain. Rain yang sudah mengantisipasi penyerangan, segera memerintahkan pasukan penjaga pintu masuk pelabuhan untuk bersiap melakukan serangan balik. Dan benar saja, tak lama dari itu pintu masuk pelabuhan Angkasa pun runtuh terkena tembakan meriam musuh.


"Siapkan barisan berlapis, cepat!"


Rain berseru dari atas tembok pagar pelabuhan. Seketika itu juga para pasukan segera membuat barisan berlapis di belakang pintu yang telah runtuh terkena tembakan meriam musuh. Rain pun ikut turun dari tembok dan bersatu bersama pasukan berkudanya. Sedang prajurit barisan sudah bersiap dengan tombak dan perisai masing-masing.


Prajurit berbaris rapat sambil menunggu instruksi selanjutnya. Bersamaan dengan itu pasukan musuh mulai memasuki kawasan pelabuhan. Ada yang berkuda, membawa pedang dan perisai, sampai membawa tombak untuk berperang. Mereka tak lagi peduli akan dinginnya malam sebelum berhasil menaklukkan Angkasa.


Sepertinya aku kenal dengan pria itu.


Dari jarak yang cukup jauh, Rain melihat seseorang memasuki kawasan pelabuhan dengan dijaga ketat oleh banyak prajurit. Sang panglima menatap tajam ke arah pria bermahkota dari atas kudanya, sambil menunggu pasukan musuh tiba semua di hadapannya. Dialah Land, raja negeri Aksara yang dilihat oleh Rain dari jarak yang cukup jauh. Pandangan sang panglima begitu tajam mengarah ke pria tua itu dan Land pun menyadarinya. Kini pasukan musuh telah tiba dan membentuk barisan di hadapan pasukan Rain.


"Akhirnya kita bisa bertemu kembali, Pangeran Rain." Pria bermahkota itu menyapa Rain dari jauh.


Rain diam, ia lalu memberi kode kepada pasukannya agar menghidupkan lampu di kawasan sekitar pelabuhan untuk menambah penerangan malam ini. Dan tak lama lampu-lampu di sekitaran pelabuhan pun dihidupkan. Seketika itu juga Land terkejut saat melihat jumlah pasukan Angkasa yang menyambut kedatangannya.


"Kau memang tidak pantas dipercaya, Tuan Land," decak Rain sinis, memecahkan keheningan.


"Di dunia ini bukankah memang tidak ada yang pantas dipercaya?" Land balik bertanya.


Land duduk di atas singgasananya yang dikelilingi banyak prajurit penjaga. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niatan Rain untuk segera mengakhiri kekacauan ini.


"Hah, ya. Aku sampai lupa sesuatu tentangmu, Tuan Land. Bukankah kau tidak percaya dengan adanya Tuhan?" Rain mulai maju ke depan bersama kuda hitamnya.


"Apa maksudmu?!" Land kesal karena Rain mengejeknya.

__ADS_1


"Bukankah kau membunuh rajamu sendiri? Dan mengambil alih kekuasaannya? Kau benar-benar tidak tahu malu." Rain mengejek Land secara terang-terangan.


"Kau!"


Land yang duduk di atas singgasana kudanya terlihat geram karena Rain menudingnya dengan kata-kata seperti itu. Ia pun tidak habis pikir mengapa Rain bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Land kemudian memutar otak untuk mengalihkan perhatian pasukan sekutunya agar tidak termakan ucapan Rain.


"Aku datang untuk mengambil apa yang harusnya Aksara miliki. Apakah karena hal itu kau menuduhku?" Land beralibi.


"Ck! Kau salah tanggap, Tuan Land." Rain kembali mengejek.


Land pun akhirnya murka. Ia tidak dapat lagi menahan kesalnya. "Kau benar-benar sombong, Rain. Apa kau tidak takut dengan kedatangan kami?" Land menggertak.


"Takut?" Rain tersenyum sinis. "Bagaimana aku bisa takut hanya menghadapi seribu pasukanmu? Apakah kau mengejekku?" tanya Rain kembali.


Ap-apa?! Dia juga mengetahui jumlah pasukan kami?


"Kau lihat, Tuan Land. Aku menyambut kedatanganmu berserta para sekutumu ini dengan jumlah pasukan yang berkali lipat. Jadi, apakah kau yakin dapat mengalahkan kami?" Rain memukul Land dengan kata-katanya.


Sontak para pasukan musuh saling melirik satu sama lain. Kebimbangan mulai terpancar dari wajah-wajah mereka. Dan Rain pun menyadari hal itu.


"Baiklah. Sepertinya mari kita mulai saja permainan ini. Jika kau tidak percaya dengan adanya Tuhan, maka izinkan aku mengantarkanmu menemui-NYA malam ini." Rain mengeluarkan pedangnya.


Di saat itu juga seluruh pasukan Rain ikut mengeluarkan pedangnya. Sang panglima telah memberi tanda untuk melakukan serangan terhadap pasukan musuh yang berani menerobos pintu masuk pelabuhan Angkasa. Land dan beberapa panglima dari berbagai negeri pun mulai ikut mengeluarkan pedangnya.


Sial! Dia bisa mengetahui penyerangan ini. Bahkan dia bisa mengetahui jumlah pasukanku. Apakah legenda yang pernah kudengar itu benar? Tapi bukankah gadis itu tidak berada di istana?

__ADS_1


Land memikirkan kebenaran atas legenda yang pernah ia dengar, tentang seorang dewi yang melindungi Angkasa. Ia berpikir tidak mungkin Rain bisa mengetahui penyerangan ini jika tidak ada yang memberi tahunya. Dan satu-satunya yang dapat memberi tahu penyerangan ini adalah gadis yang dikabarkan sebagai dewi pelindung Angkasa, tak lain adalah Ara.


"Angkat pedang kalian, Prajurit!!!" Rain berseru dari atas kudanya.


"Tuhan Maha Esa!"


"Tuhan Maha Esa!"


"Tuhan Maha Esa!"


Seluruh pasukan Rain berteriak mengakui keesaan Tuhan di hadapan pasukan musuh. Teriakan menggema dan menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Tiga ribu pasukan Angkasa sudah bersiap melayani pasukan musuh yang menyerang malam ini. Rain pun mengarahkan pedangnya ke depan, seketika itu juga tim pemanah Angkasa menembakkan anak panahnya menuju pasukan musuh. Tak ayal, sebagian musuh bertumbangan terkena anak panah pasukan Rain.


"Kau pikir bisa menundukkan Angkasa semudah ini? Maaf, kau salah perhitungan ... SERANG!!!"


Rain berteriak kencang kepada pasukannya agar melakukan serangan balik terhadap pasukan musuh. Saat itu juga pasukan Rain mulai berhamburan menuju pasukan Land beserta sekutunya. Dua pasukan akhirnya bertemu di medan peperangan.


Rain memimpin pasukan untuk mengepung pasukan musuh agar tidak dapat lari dari medan peperangan. Mereka membentuk lingkaran spiral berlapis-lapis, yang mana tim pemanah berkuda Rain memutar sambil menembakkan anak panahnya ke arah pasukan musuh. Satu per satu pasukan musuh pun bertumbangan terkena anak panah.


Peperangan hebat tak dapat terelakkan lagi. Tanpa mengenal malam, tanpa mengenal lelah, Rain bersama pasukannya terus berjuang mempertahankan negeri tercinta dari serangan musuh yang ingin mengambil alih negerinya.


Sementara itu...


Ara memfokuskan pendengaran dan penglihatannya terhadap gerak-gerik wanita gagak yang kini memegang sebuah pedang di tangan kanannya. Ia berusaha mengoptimalkan kedua indera utama untuk mengantisipasi penyerangan yang kapan saja bisa terjadi. Sebisa mungkin ia tidak menunjukkan rasa takut yang mulai menyelimuti hati dan pikirannya.


Aku tidak boleh takut. Semua ini sudah tertulis dan Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang melewati batas kemampuanku. Aku yakin pasti bisa mengalahkannya.

__ADS_1


Keduanya berhadapan dan saling menatap tajam. Wanita gagak itupun mulai menggerakkan pedangnya. Seketika tercium bau busuk yang amat menyengat darinya. Sementara Ara, menarik napas dalam berulang kali untuk menormalkan detak jantungnya yang melaju amat cepat. Dan akhirnya, mau tak mau ia harus bertarung malam ini.


__ADS_2