
Ara lantas mulai menyantap hidangan itu. Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi padanya.
"Nona, kau tidak apa-apa?"
Zu melihat sang gadis menutup mulut saat ingin menyuap nasi goreng. Gadis itu terlihat mual setelah mencium aroma nasi goreng. Ara pun lantas berlari, masuk ke dalam kamar mandi yang berada di samping dapur. Ia kemudian mencoba menghilangkan rasa mualnya. Zu pun mengikuti, ia menunggu di depan pintu kamar mandi.
Berulang kali terdengar Ara berusaha mengeluarkan isi perutnya, wajahnya pun tampak pucat seketika. Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya sampai semual ini.
Astaga ... kenapa aku ini?
Ia lantas membasuh wajahnya dan berkumur berulang kali agar merasa sedikit lega. Sementara Zu masih menunggunya di luar.
Dia mual? Jangan-jangan ...?
Tiba-tiba Zu berpikiran yang aneh-aneh tentang Ara. Ia menelan ludahnya sendiri karena tak menyangka jika hal itu benar terjadi.
"Aduh."
Ara lantas keluar dari kamar mandi setelah mencoba mengeluarkan isi perutnya. Namun nyatanya, tidak ada yang bisa ia keluarkan. Hanya rasanya saja yang begitu membuatnya mual. Ia pun tampak kaget saat menemukan Zu di depan pintu kamar mandi.
"Pangeran?" Ara terkejut saat mengetahui Zu menunggunya.
"Nona, kau baik-baik saja?" Zu mencoba bertanya kepada Ara.
"Em, aku ... baik-baik saja, Pangeran. Tapi entah mengapa aku merasa sangat mual pagi ini," jawab sang gadis.
Zu diam, ia memperhatikan Ara.
"Maaf, ya. Aku sudah membuatmu tidak berselera makan." Ara pun tampak menyesal.
"Tak apa, Nona. Kalau begitu, mari kuantar ke kamar."
Zu menawarkan dirinya. Ia khawatir dengan keadaan Ara.
"Tidak usah, Pangeran. Aku bisa sendiri." Ara menolak.
Gadis itu lantas bergegas menaiki anak tangga yang tak jauh dari pintu kamar mandi. Ia menuju lantai dua vila ini, berniat segera beristirahat di kamarnya. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan pusing yang teramat berat. Tubuhnya seperti akan jatuh.
"Nona!"
Segera Zu berlari untuk menangkapnya. Ia kemudian menahan tubuh gadis itu agar tidak benar-benar jatuh.
"Astaga, dia pingsan."
Zu bertambah khawatir saat melihat Ara tak sadarkan diri. Ia lalu segera menggendong sang gadis masuk ke dalam kamar. Ia rebahkan tubuh gadis itu di atas kasur, lalu segera keluar untuk mengambil air minum dan obat pereda sakit.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Ara masih belum juga tersadar, namun Zu bisa merasakan jika sang gadis hanya sebatas pingsan. Ia lantas mencoba memeriksa denyut nadi sang gadis.
Denyut nadinya melemah. Apakah dia sedang mengandung?
Entah mengapa tiba-tiba saja terbesit pikiran seperti itu di benaknya. Terlebih Ara mual-mual saat ingin menyantap sarapan. Pikirannya jadi terbagi. Ia khawatir dengan keadaan sang gadis dan juga kalut jika apa yang dipikirkan olehnya itu adalah benar.
Sementara itu...
Dave mendatangi Rain di kediamannya. Ia lantas melaporkan keadaan istana saat acara pertunjukan busana telah usai. Rain pun menerimanya dengan amat antusias.
"Pangeran, ada kejanggalan yang saya temukan di sekitaran selatan istana." Dave, Menteri Pertahanan itu menuturkan.
Keduanya tengah berbincang di ruang tamu kediaman Rain. Dan tak lama pelayan pun datang menyediakan hidangan untuk keduanya.
"Lalu?" tanya Rain segera.
"Saya sudah memeriksa daftar pasukan yang berjaga malam waktu itu, Pangeran. Dan ternyata, salah satu titik jaga di selatan istana kosong." Dave melanjutkan.
"Apa?!" Rain tampak terkejut. "Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Rain lagi.
"Beberapa prajurit yang berjaga di titik itu tidak ada yang mau mengaku ke mana mereka saat jam malam. Dan akhirnya, saya mengasingkan mereka di ruang bawah tanah. Saya menunggu perintah Pangeran selanjutnya," tutur Dave.
Rain tampak geram mendengar hal ini. Ia lalu memutuskan untuk menemui prajurit-prajurit itu seorang diri.
Rain bergegas pergi. Dave pun mengikutinya dari belakang. Keduanya tak lama berpisah, tepat di pintu keluar halaman rumah Rain. Dave membiarkan Rain menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Hei, kau dengar tadi?" Salah seorang pelayan berbicara ke pelayan yang lain.
"Ya, aku dengar," sahut pelayan yang lain.
"Ini benar-benar janggal, bukan?" tanya pelayan itu.
"Iya, kau benar."
"Pangeran Rain sudah menyusun strategi keamanan sedemikian ketatnya. Tapi ternyata, masih saja kecolongan." Pelayan itu mengungkapkan pendapatnya.
"Ya, pasti ada orang dalam yang bermain di kejadian ini." Pelayan yang lain menyahuti.
"Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Pastinya pangeran Rain tidak akan membiarkan begitu saja semua pihak yang terlibat." Pelayan itu amat yakin.
Kejanggalan hilangnya Ara dari istana memicu persepsi dari para pelayan di kediaman Rain. Mereka menarik kesimpulan jika ada orang dalam yang terlibat dengan kejadian ini.
Aku harus mengakhiri kesedihanku.
__ADS_1
Rain sendiri terus melangkahkan kakinya menuju selatan istana. Di mana pintu masuk gerbang bawah tanah berada. Ia lalu menuruni anak tangga, bergegas menemui para prajurit yang sedang dikurung. Rain lantas menghampiri mereka.
"Pangeran Rain?" Para prajurit itu tampak ketakutan dengan kedatangannya.
"Aku tidak ingin berbasa-basi. Cepat katakan di mana kalian malam itu?!" seru Rain yang geram.
"Maafkan kami, Pangeran. Jangan hukum kami." Prajurit-prajurit itu memohon.
"Cepat katakan! Atau pedang ini yang akan menghunus jantung kalian!" Rain benar-benar marah.
Sang putra mahkota tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia ingin masalah ini segera menemukan titik temu. Ia sangat mencemaskan keadaan Ara yang entah gerangan sedang berada di mana.
"Ka-kami ... ka-kami ...."
Para prajurit itu terbata. Rain lantas mencabut pedangnya.
"Rain!"
Tiba-tiba saja Moon datang bersama satu pengawal pribadinya. Ia menghalangi Rain mengeksekusi prajurit-prajurit itu.
"Ibu?" Rain akhirnya kembali memasukkan pedangnya.
"Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau mengurung mereka?" tanya Moon seraya mendekat ke putranya.
"Ibu, aku harus mencari tahu kebenaran hal ini. Apa Ibu merasa keberatan?" tanya Rain kepada ibunya.
"Rain, aku adalah ibumu. Mengapa sekarang nada bicaramu berubah? Apa kau tidak lagi menghargai Ibu?" tanya Moon meratap.
"Ibu, gadis yang membuatku jatuh cinta adalah gadis yang hilang dari istana. Apa Ibu bisa mengerti bagaimana perasaanku saat kehilangannya?!" Rain tampak dramatis.
Moon menelan ludahnya. Ia mencoba tetap tenang menghadapi situasi ini.
"Rain, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh gegabah. Ibu mengerti perasaanmu. Tapi tolong, mengerti juga perasaan Ibu."
Rain lantas pergi, sesaat setelah mendengar ucapan ibunya itu. Ia tidak ingin berlama-lama mendengarkan perkataan ibunya. Karena yang ia inginkan adalah kepastian akan keberadaan Ara. Moon pun tampak melihati kepergian putranya. Ia kemudian meminta kepada pengawal untuk membukakan gembok yang mengunci para prajurit itu.
Hampir saja Rain mengetahui yang sebenarnya. Aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.
"Kalian aku bebas tugaskan! Kembali ke rumah dan pergi jauh-jauh dari ibu kota!" Moon berseru tegas kepada para prajurit itu.
"Tapi, Yang Mulia—"
"Kalian tenang saja. Aku sudah mempersiapkan bekal untuk kehidupan kalian yang akan datang. Tapi aku harap jangan pernah menampakkan muka lagi ke istana ini." Moon mengancam.
"Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Para prajurit itu bergegas pergi dari ruang bawah tanah. Sementara Moon masih bersama salah satu pengawal kepercayaannya. Ia lantas memijat kepalanya sendiri, merasa gelisah jika Rain mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.