Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Want


__ADS_3

Malam harinya...


Di halaman selatan istana sedang dilakukan latihan menari dengan diiringi langsung oleh Mozart dan band-nya. Ara juga berada di sini sambil memperhatikan gerakan tari para pelayan remaja itu. Jika ada yang keliru, Ara segera mengingatkannya. Rencana Ara akan ikut tampil bersama para penari latarnya. Ia akan tampil pada bait terakhir lagu sebagai kejutan istimewa yang diberikan untuk para tamu undangan.


Para peraga busana pun tampak mulai mengenakan gaun kebaya hasil rancangan Ara. Mereka berlatih di teras lantai yang bersih ditemani Mark, sang penata rias. Alunan musik yang merdu pun tentunya membuat para penghuni istana menikmatinya. Begitu juga dengan Zu. Ia penasaran dengan apa yang terjadi di selatan istana. Ia lalu memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi.


Sesampainya di sana, ia melihat gadis itu tengah menari balet. Begitu indah dan memukau pandangan matanya.


Dia ....


Jantungnya berdegup kencang saat melihat Ara menari. Ia terkagum-kagum melihat gerakan tari Ara. Hampir-hampir saja matanya itu tidak berkedip. Ia semakin bertambah penasaran dengan gadis itu. Dan akhirnya, Zu memutuskan untuk menemui Ara malam ini.


"Salam bahagia, Pangeran."


Para pelayan segera menyadari kehadirannya. Mereka membungkukkan badan, memberi hormat. Begitu juga dengan Mozart dan personil band-nya. Ia segera menghentikan alunan merdu lagu All That I Need ini.


"Pa-pangeran?"


Menyadari alunan melodi terhenti, Ara pun menghentikan gerakan tariannya. Ia kemudian menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata, Zu lah yang kini berada di hadapannya. Lantas saja Ara membungkukkan badan, memberi hormat kepada Zu.


"Nona, apakah kita bisa bicara sebentar?" tanya Zu memberanikan diri.


Ara kemudian menoleh ke arah para penari dan band Mozart. Ia seperti keberatan.


"Tidak apa. Teruskan saja latihannya, kita bisa berbicara di sini." Zu tampak mengerti kesibukan gadis itu.


Karena ramai, Ara berani menerima tawaran berbincang dari Zu. Ia kemudian berjalan tak jauh dari tempat latihan. Keduanya tampak sama-sama canggung, hingga akhirnya berhenti di bawah sebuah pohon yang sedang bersemi.


"Nona Ara?" Zu mencoba membuka percakapan.


"Iya, Pangeran." Ara menjawab dengan wajah yang tertunduk.


"Bisakah kita bicara sebagai teman?" tanya Zu yang melihat Ara menunduk dari pandangannya.


Ara mengangguk. Ia tampak mengerti maksud perkataan Zu.


"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu, Nona." Zu mengawali.


"Tentang apa, Pangeran?" Ara memberanikan diri untuk menatap Zu.


"Apakah kau seorang putri?" tanya Zu kemudian.

__ADS_1


"Hah?!" Ara pun terkejut seketika.


"Aku hanya ingin tahu, Nona."


Ara cepat menyadari ke mana arah pembicaraan ini. Ia merasa minder saat ditanyakan apakah dia seorang putri atau bukan.


"Em, maaf, Pangeran. Aku bukanlah seorang putri. Aku bekerja di sini," jawab Ara jujur.


"Kau bukan seorang putri?" tanya Zu lagi.


Ara hanya mengangguk.


"Maaf, Nona. Jika pertanyaan ini membuatmu tersinggung. Aku hanya melihat banyak bakat yang kau miliki. Jika kau seorang pekerja, maukah kau bekerja di istanaku?"


"Ap-apa?!" Ara seperti salah mendengar.


"Aku akan memberimu sepuluh kali lipat dari kerajaan ini. Mungkin kau berminat."


Sebuah tawaran Zu layangkan kepada Ara. Sontak saja Ara tertegun mendengarnya.


Apa yang harus kukatakan? Aku tidak mungkin meninggalkan tempat ini. Haruskah aku bilang jika aku calon ratu? Tapi apa itu tidak terlalu kepedean? Bisa saja tiba-tiba semua berubah nantinya.


Ara bingung harus menjawab apa. Dia hanya tersenyum. Alunan merdu lagu All That I Need yang dimainkan, menjadi saksi kebingungan hatinya. Sedang Zu merasa lagu ini begitu berkesan di hatinya kini.


"Pangeran Zu, Anda di sini?" Cloud melihat dengan tatapan heran.


"Ah, iya, Pangeran Cloud. Aku sedang ingin menikmati alunan musik ini," jawab Zu cepat, setelah menyadari kehadiran Cloud.


Ara kaget dengan kedatangan Cloud yang tiba-tiba. Ia merasa tak enak sendiri.


"Kalau begitu, mari kita minum teh di teras saja. Jangan di tempat ini." Cloud seolah memberikan tanda.


Cloud dan Zu akhirnya duduk bersama sambil menikmati pemandangan latihan tari. Ara yang merasa tak enak, segera beralih ke para penarinya. Ia duduk diam dengan hati yang gelisah. Ia khawatir jika terjadi salah paham karena hal barusan.


Astaga, apa yang telah aku lakukan?


Ia merasa bersalah karena telah berbincang bersama Zu di tempat yang sedikit jauh dari para penari. Ia khawatir Cloud akan salah prasangka terhadapnya. Terlebih ia mengetahui jika Cloud seorang pria yang perasa.


Latihan pun terus dilakukan hingga jam tidur istana dimulai. Cloud lalu mengajak Ara untuk segera beristirahat. Ia merangkul gadis itu di depan Zu, seolah memberikan tanda jika Ara adalah miliknya.


Ara, kau begitu mencuri perhatianku. Bisakah kita lebih banyak berbincang?

__ADS_1


Zu melihati kepergian gadis itu dari hadapannya dan kemudian berpisah arah untuk menuju kamarnya. Ia merasa ada magnet kuat yang menariknya, hingga dirinya itu harus melampaui norma kesopanan sebagai seorang pangeran.


Zu diselimuti perasaan yang tengah bersemi di dalam hati. Namun, ia belum berani memastikan apakah ini benar sekedar rasa kagum atau perasaan yang lebih dalam.


Sesampainya di kamar Zu...


Kamar berukuran besar ini terlihat sangat nyaman untuk beristirahat. Namun, tidak untuk Zu. Ia malah tidak bisa tidur malam ini.


Apa yang terjadi padaku? Mengapa hatiku begitu senang kala melihatnya?


Zu gelisah. Ia sudah mencoba untuk tidur, namun belum juga bisa. Ia lihat sang adik sudah tertidur lelap dalam mimpi. Sedangkan dirinya, selalu saja dihantui bayang-bayang gadis itu.


Wajahnya, senyumnya, gerak tubuhnya sangat memukau pandanganku.


Entah apa yang terjadi, Zu masih belum bisa lepas dari bayangan Ara. Setiap waktu kosong, pikirannya selalu tertuju kepada gadis itu. Zu diliputi sesuatu yang asing dalam pikirannya.


Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?


Ia juga belum dapat mengambil kesimpulan atas perasaannya sendiri. Namun yang jelas, ia merasa senang saat melihat gadis itu.


Jika dia memang jodohku, tolong dekatkan kami, Tuhan.


Zu berdoa dalam hatinya. Ia berharap Tuhan akan menunjukkan jalan ke mana langkah kakinya harus menuju. Hatinya kini dilanda dilema. Terlebih ia seperti pernah melihat gadis itu sebelumnya.


Perlahan Zu memejamkan matanya. Ia kemudian terlarut dalam mimpi setelah seharian berjalan bersama para pangeran dan putri kerajaan lain. Zu tertidur, dan mimpi itu kembali hadir menemani malamnya.


...


Kaulah udara yang aku hirup.


Gadis, kau adalah semua yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah semua yang kubutuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?

__ADS_1


Dan aku ingin berterima kasih, Nona.


__ADS_2