
"Rain, bagaimana dengan koin emas sendiri?" tanyaku lagi.
"Satu koin emas sama dengan seratus koin perak. Atau sepuluh koin perak pecahan sepuluh."
"Heh? Jadi ada pecahan lain selain pecahan satu perak?" tanyaku.
"Benar. Ada dua perak, lima perak dan sepuluh perak. Setelahnya satu koin emas."
"Baiklah, terima kasih telah memberi tahuku, Rain." Aku lalu memeluknya.
"Sama-sama, Sayang." Dia mengusap kepalaku.
Aku jadi semakin menyayanginya. Di hadapan penghuni istana lain, dia tampak begitu cuek dan angkuh. Tapi di hadapanku, dia begitu mengasuh.
Andai saja aku bisa memilikinya.
"Ara."
"Ya?"
"Habis ini mau ke mana?" tanyanya seraya melihatku.
Aku melepaskan pelukan sambil berpikir untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Em, mungkin aku akan ke ruangan Cloud."
"Kau akan ke sana?" Roman wajah Rain tiba-tiba berubah.
"Iya. Aku akan mengurus busana untuk penari pembuka acara nanti," jawabku.
"Baiklah. Tapi jangan nakal, ya!" katanya seraya menyentuh hidungku ini.
Akupun mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku istirahat dulu. Aku baru saja selesai melatih pasukan. Lelah rasanya." Rain beranjak berdiri.
"Rain!"
"Hm?"
"Kau tidak ingin meninggalkan sesuatu untukku?" tanyaku malu-malu.
Rain tampak mengerti akan maksudku. Dia lalu memegang tanganku dan menariknya. Rain memintaku untuk mengikuti langkahnya.
"Rain, kita ke mana?"
Rain tidak menjawab pertanyaanku. Dia lalu membawaku masuk ke suatu tempat, ke sela dinding istana yang ada di dekat gazebo ini.
"Rain?!"
"Ssst." Dia memberi isyarat agar aku diam.
Kami kini sudah berada di pojok sela dinding istana. Ruangnya sempit sekali, tapi bisa untuk bersembunyi. Sepertinya Rain ingin melakukan sesuatu di dalam sini. Orang-orang yang lalu-lalang pun pasti tidak akan meyangka jika kami berada di sini.
__ADS_1
"Ara ...." Rain kemudian memintaku untuk melihatnya.
Jarak kami begitu dekat. Dia lalu memberiku sesuatu.
Rain ...?
Dia tersenyum, membungkukkan badannya sedikit. Memiringkan kepalanya untuk meraih sesuatu dariku.
Rain ....
Dia mencium bibirku.
Kurasakan lembut bibirnya menyentuh bibirku ini. Dia menyapu bibirku dengan bibirnya. Menekan-nekannya dengan lembut seolah meminta izin untuk masuk. Kedua tangannya pun mulai menyusuri kedua lenganku.
Rain ... rasanya berbeda sekali.
Semilir angin yang lewat, seolah mengintip kami dari sela tembok istana yang sempit ini. Aku pun mulai terbawa suasana yang dia berikan padaku. Perlahan kulingkarkan kedua tanganku di lehernya, sedang Rain mulai meraih tengkuk leherku.
Napas kami mulai memburu. Detak jantungku pun berpacu lebih cepat dibanding tadi. Rain semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dia menarik pinggulku ini agar lebih dekat dengan tubuhnya.
Sentuhan lembut bibirnya memaksaku untuk menyerah. Aku mulai mengikuti permainannya. Rain mengajak lidahku beradu.
Kuturuti kemauannya dan kini lidah kami berpadu, saling beradu lembut yang memunculkan sensasi begitu menyenangkan. Sesekali dia menarik lidahku ini dengan bibirnya.
Rain ....
Aku semakin tak terkendali. Ditambah penekanan-penekanan yang dia berikan pada perutku. Aku jadi semakin menginginkannya.
Aku milikmu, Rain.
Tubuhku terasa aneh sekali.
Bibirnya kemudian menyusuri leherku. Dia mengecupnya dan sesekali menjilatnya. Jilatan kecil pun kurasakan di tengkuk leherku.
"Rain ... emhh."
Aku meremas jubah belakangnya. Cairan kimia dari tubuhku mulai memberikan reaksi atas ulahnya ini. Rain masih terus mencumbuku. Napasnya terdengar memburu.
"Ara ...."
Aku merasa aneh sekali. Aku menginginkan lebih dari ini. Tapi, Rain menyudahinya.
"Rain?" Tatapan mataku begitu sayu.
"Kau menginginkannya, Sayang?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk.
"Kau menginginkan aku?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi aku mengangguk seraya menutup mulut dengan tangan kananku. Aku tidak mau ada yang mendengar suaraku ini.
Rain tersenyum. Dia lalu berbisik ke telinga kiriku.
__ADS_1
"Aku juga menginginkannya, Sayang. Tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang," katanya pelan.
"Ke-na-pa?" tanyaku terbata.
Rain memelukku. "Kita masih berada dalam jam kerja istana. Aku khawatir kau dipanggil saat kita melakukannya. Dan itu sangat menyiksa sekali bagiku." Rain berterus terang.
"Rain, tapi aku ... ingin." Aku berusaha jujur walaupun malu.
Rain kemudian membenarkan poni rambutku. "Bersabarlah. Nanti sore aku akan memberikan semuanya untukmu," katanya lagi.
"Sore?"
"Iya, Ara. Aku ingin melakukannya tanpa ada rasa khawatir. Aku tidak ingin diganggu," katanya lagi.
Aku mencoba mengerti. Rain tidak ingin aku jadi bulan-bulanan karena mengambil jam kerja lagi. Aku lalu memeluknya erat.
"Aku mencintaimu, Rain."
Kupeluk tubuh ksatria kerajaan ini. Kurasakan detak jantungnya yang perlahan mengalun merdu di telingaku.
"Aku lebih mencintaimu, Ara," balasnya lalu mencium kepalaku.
Aku tersenyum bahagia. Kurasakan kehangatan darinya yang mengalir dan mengisi seluruh rongga di tubuhku. Aku merasa sangat beruntung bisa disayang olehnya. Di sayang seorang pangeran gagah perkasa yang kini sangat kucintai.
Ya, kuakui jika aku mencintai Rain. Aku menginginkannya. Dia paling memahami bagaimana diriku tanpa perlu kuutarakan maksudku. Dialah Rain Sky, putra bungsu kerajaan ini.
Beberapa saat kemudian...
Aku segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Sepertinya telah terjadi sesuatu padaku. Aku merasa ada yang aneh pada tubuhku.
Dengan segera aku membersihkan diri lalu setelahnya mengenakan pakaian yang baru. Kuambil gaun pemberian dari Cloud yang tersisa tinggal dua. Ada warna kuning muda yang mendekati warna krim. Dan putih dengan bunga mawar besar di bagian dadanya.
Keduanya berlengan pendek dengan bagian bahu terbuka. Tapi yang berwarna putih ini begitu pendek, kedua lututku terlihat begitu saja.
Cloud ada-ada saja memberiku gaun pendek seperti ini.
Kuambil saja gaun berwarna putih. Kucoba pakai lalu memutar tubuh di hadapan cermin. Ternyata ada renda yang menutupi di bagian sisi kanan dan kirinya. Cukup panjang, tapi tetap saja pendek menurutku karena lututku ini terlihat.
"Baiklah."
Segera kupoleskan make-up minimalis dan juga kubuat simpul di rambutku agar tidak acak-acakan saat terkena angin. Dengan bagian tengah kubiarkan tergerai begitu saja.
Kusemprotkan juga parfum ke tubuhku. Sengaja lebih banyak agar Cloud dapat merasakan kehadiranku dari jauh.
Sepertinya aku akan kelelahan hari ini.
Entah mengapa firasatku tak enak karena gaun yang kupakai ini. Kucoba menarik napas panjang lalu membuangnya cepat. Kutepiskan pikiranku yang mulai traveling ke mana-mana.
"Aku siap!"
Kulangkahkan kaki menuju ruang kerja sang putra mahkota. Aku berniat membicarakan busana untuk para penari nanti. Semoga saja tidak hambatan dan Cloud menyetujuinya dengan cepat.
Aku merasa betah di sini. Apakah aku memang ditakdirkan untuk tinggal? Di sisa usiaku untuk menemani kedua pangeran yang kucintai?
__ADS_1
Dalam hati aku bertanya, apakah hal ini sungguh nyata terjadi padaku. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan keduanya. Aku begitu mencintai Cloud maupun Rain. Mereka sudah memenuhi seisi pembuluh darah di tubuhku. Dan aku benar-benar merasa membutuhkan keduanya.