Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Wedding


__ADS_3

Sesampainya di ruangan Cloud...


"Selamat siang," sapaku kepada seorang pria yang tengah duduk di depan meja kerjanya.


"Ara? Kebetulan kau datang," katanya, menoleh ke arahku.


"Sepertinya ada yang bilang akan membangunkanku. Tapi nyatanya ... tidak," gerutuku manja.


Cloud tersenyum, dia lalu menarikku ke atas pangkuannya.


"Cloud?!"


"Aku hanya tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu, Putri." Dia mencolek hidungku.


Err ... aku merasa dejavu.


"Bagaimana tidurmu semalam?" tanyanya lalu melingkarkan kedua tangan di pinggulku.


"Cloud, ini terlalu vulgar. Bagaimana jika ada yang melihatnya?" Aku khawatir.


"Biarkan saja. Semua penghuni istana sudah tahu jika kau akan menjadi ratuku."


"Tapi, Cloud—"


"Tak apa, Ara." Dia lalu mencium lengan kiriku yang dekat dengan wajahnya.


Aduh, dia ini. Semakin lama semakin berani. Aku jadi risih sendiri.


"Hari ini kau kelihatan begitu imut sekali. Gaun dariku membuatmu terlihat seperti seorang remaja," pujinya.


"Huh! Tapi ini kependekan, tahu!"


"Benarkah? Aku rasa tidak," tolaknya.


"Pahaku terlihat, Cloud." Aku menunjuk kedua pahaku.


Cloud melihatnya. Pandangan matanya tiba-tiba berubah padaku.


Aduh, aku masih lelah. Jangan lagi ....


Cloud lalu menaikan gaunku lebih ke atas.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" Aku terkejut dengan tindakannya ini.


"Aku hanya ingin melihat apakah kau mengenakan celana pendek atau tidak, Ara."


"Ya, tapi jangan dinaikkan. Kan bisa bertanya padaku."


Aku berusaha bangkit darinya. Aku merasa tidak enak, khawatir ada yang melihatnya. Bisa-bisa nama baiknya jelek karena ulahnya sendiri.


Cloud tersenyum, dia menahan tawa. "Baiklah, hari ini bantu aku, ya?"


"Bantu apa?" tanyaku yang mulai mengambil kursi untuk duduk di samping kanannya.


"Banyak berkas berdatangan dari luar ibu kota. Bantu aku memasukan datanya." Dia lalu mengambil seikat berkas yang datang.


Astaga! Banyak sekali.

__ADS_1


"Kau tinggal mendiktenya saja, Ara. Sebutkan nama kota dan berapa jumlah penghasilannya bulan ini. Bisa, kan?"


"Hem, baik. Tidak terlalu sulit untukku." Aku menjawab segera.


"Gadis pintar."


Dia kemudian mengusap-usap kepalaku. Aku serasa dimanja olehnya.


"Apa ada kabar untukku hari ini?" tanyanya lagi.


"Em, sepertinya tidak ada, Pangeran," jawabku segera sambil mengambil beberapa tumpukan dokumen.


"Ara ...,"


"Iya?"


"Jangan panggil aku dengan sebutan pangeran. Kau calon istriku. Jangan terlalu formal." Dia mengingatkan.


"Em, baiklah. Maaf," kataku seraya menggembungkan pipi di hadapannya.


"Dasar." Dia pun tertawa melihat tingkahku.


Kulihat senyum Cloud mengembang. Kami hanya berdua di ruangan ini. Jadi sepertinya tidak akan ada yang mengganggu.


"Kau tahu, tadi ayah baru saja dari sini," katanya sambil mengambil buku besar dari bawah laci meja.


"Lalu?"


"Ayah bilang akan segera melangsungkan pernikahan kita sehabis pertunjukan busana nanti."


"Hah? Benarkah?!" Aku terkejut.


Mungkin ini yang membuat Cloud lebih bersemangat menjalani rutinitas hariannya. Raja sudah memberinya kode bahagia.


"Ara, nanti kau ingin berbulan madu di mana?" tanya Cloud seraya mengambil pena.


"Hah?!" Aku seperti salah dengar.


"Kau ingin kita berbulan madu di mana, Sayang?" Dia tampak gemas padaku.


"Cloud, kita belum menikah. Baru hanya akan," jawabku.


"Tak ada salahnya bukan jika kita merencanakannya dari sekarang?" Dia tersenyum.


"Hem ....?" Aku pun berpikir. "Aku menyukai pemandangan laut. Mungkin di sekitaran situ saja," jawabku sambil berpikir.


"Baiklah. Kami mempunyai sebuah hunian kecil di dekat pesisir pantai. Kita akan berbulan madu di sana."


"Eh, kau serius?!" tanyaku tak percaya.


"Iya, Ara. Aku serius. Amat sangat serius. Jangan sampai ada yang menggangu bulan madu kita nantinya. Aku akan mengambil cuti panjang."


Aku merasa senang mendengarnya. Cloud ternyata sudah mempersiapkan keperluan untuk berbulan madu nanti. Padahal kami belum saja menikah. Rasanya aku ingin tertawa saja.


"Baiklah, kita mulai. Aku sudah siap."


Cloud mulai serius. Dia memintaku untuk mendikte nama kota beserta jumlah pendapatan yang ada pada bagian bawah lembaran berkas ini. Akupun melaksanakan tugasku.

__ADS_1


Entah berapa lama mengerjakannya, makan siang pun terpaksa kami lakukan di dalam ruangan agar pekerjaan ini dapat segera terselesaikan. Namun, selang beberapa saat kemudian, salah satu menteri datang memberikan kabar jika raja mengundang kami untuk makan malam bersama.


Sepertinya tugas lagi.


Rasanya aku ingin mengeluh. Tapi melihat Cloud yang begitu bersemangat, membuat keluh kesahku hilang seketika. Aku juga tidak mau kalah darinya.


Kami terus bekerja hingga selesai. Tanpa terasa, petang pun sudah tiba.


"Akhirnya ...."


Cloud merebahkan diri di atas sofanya yang berwarna putih. Dia mencoba mengambil napas sejenak setelah semua pendapatan kota tercatat dengan baik. Aku pun merasa lelah.


"Cloud, aku kembali ke kamarku dulu, ya?"


"Kau tidak ingin mandi di sini?" tanya Cloud seraya bangkit.


"Em, aku kembali saja. Nanti kita akan bertemu lagi di ruang makan," jawabku.


"Em, baiklah. Aku juga ingin menyegarkan diri. Sampai bertemu di ruang makan, Sayang." Cloud mengecup keningku.


"Sampai nanti."


Akupun segera keluar dari ruangan dengan diantarkan Cloud hingga depan pintu. Dia masih melihat kepergianku hingga aku berbelok dari koridor ruangan.


Lelah sekali ternyata duduk seharian.


Aku bergegas menuruni anak tangga untuk menuju ke selatan istana. Terus saja aku melangkahkan kaki melewati teras depan istana ini. Hingga tiba di persimpangan jalan, kuhentikan langkah kakiku sejenak. Aku melihat Rain bersama raja sedang membicarakan sesuatu di teras istana.


Sepertinya mereka serius.


Aku mencoba bersembunyi di balik dinding ruangan yang tak jauh dari keduanya. Kucoba untuk mendengar percakapan yang tengah terjadi. Kulihat Rain tampak kesal saat berbicara dengan ayahnya itu.


"Ayah selalu saja membela kak Cloud. Aku ini anak Ayah juga." Rain tampak kesal.


"Rain, Ayah hanya berusaha bersikap adil untuk kalian." Raja menjawab.


"Adil? Adil apa maksud Ayah? Aku tidak pernah merasa Ayah membelaku!" gerutu Rain.


"Nak, kakakmu menganggap ibumu terlalu memihak kepadamu. Sehingga Ayah hanya berusaha untuk menengahinya."


"Dengan selalu membelanya?" tanya Rain menyela.


"Ayah bukan membelanya. Harus Ayah akui jika Cloud menjadi prioritas utama Ayah saat ini. Dan kau pasti mengerti apa alasannya."


Rain memalingkan pandangnya. Dia seperti menahan kesal.


"Ayah, aku ingin segera menikahi Ara. Aku ingin dia menjadi istriku. Tak bisakah Ayah berpihak padaku untuk kali ini saja?" Rain tampak memelas.


Ya, ampun. Dia memohon kepada raja untukku.


"Rain, untuk sementara Ayah tidak dapat berbicara banyak tentang hal itu. Kau tahu sendiri neraca perdagangan kita mengalami batas akhir. Biaya operasional istana saja harus menggunakan uang kas negeri. Jadi, simpan dulu hal ini."


"Tapi, Yah—"


"Ayah tidak ingin kita hanya melakukan pesta sederhana untuk pernikahanmu. Ayah ingin memberikan yang terbaik di hari istimewamu nanti. Jadi, bantu kakakmu untuk menyelesaikan pertunjukan busana ini. Setelahnya, kita akan membahas keinginanmu."


Rain terdiam. Dia sepertinya dapat mengerti perkataan raja.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Keduanya ingin segera menikahiku. Tapi, tampaknya raja lebih berpihak kepada Cloud. Apakah ini hanya perasaanku saja?


Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran raja saat ini. Menurutku akan sangat kasihan jika Rain hanya diberi harapan semu. Dia sangat mencintaiku. Atau mungkin raja akan menikahkanku dengan kedua putranya? Entahlah. Aku belum tahu pasti.


__ADS_2