Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Go Home


__ADS_3

Jam makan siang di istana Asia...


Zu masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia pun tidak sempat untuk makan siang hari ini. Tak lama, Shu mendatangi kakaknya.


"Shu?" Zu menoleh ke arah adiknya yang berdiri di depan pintu ruangannya.


"Kau tidak makan siang, Kak?" tanya Shu seraya memegangi gagang pintu dari luar.


"Aku masih sibuk. Kau sendiri sudah makan?" tanya Zu sambil meneruskan pekerjaannya.


"Aku akan makan siang bersama singa-singaku nanti. Tumben kau tidak bersamanya?" tanya Shu kemudian.


"Ya, aku sudah bilang ingin mempercepat pekerjaan ini. Jadi kubiarkan saja dia menikmati harinya, karena aku masih sangat sibuk," jelas Zu.


"Em, pantas saja dia terburu-buru tadi."


"Terburu-buru?" tanya Zu cepat.


"Iya. Dia bilang punya urusan sehingga tidak bisa mengobrol sebentar denganku." Shu menuturkan.


"Jangan aneh-aneh, Shu. Aku tidak akan segan untuk menghukummu. Dia calon istriku," tegas Zu.


"Tenang saja, Kak. Aku cukup tahu diri." Shu tersenyum. "Ya, sudah. Aku ke belakang istana. Ayah sedang beristirahat sekarang, dan aku juga sudah meminta pasukan untuk menjaganya." Shu berpamitan.


"Ya. Baiklah." Zu mengiyakan.


Zu tetap meneruskan pekerjaannya, ia tidak menghiraukan kabar dari Shu. Karena ia pikir Ara akan beraktivitas di kediamannya. Sang pangeran pun ingin cepat-cepat menyelesaikan serah terima jabatan ini. Ia ingin segera menikahi gadisnya.


Sementara di Angkasa...


Cloud sedang makan siang bersama ayahnya di teras balkon lantai tiga istana. Sambil menyantap hidangan makan siang, keduanya membicarakan Rain yang sedang mengemban misi.


"Sudah ada kabar dari Rain?" tanya Sky kepada putranya.


"Sudah, Yah. Semalam baru saja kami dapatkan kabar darinya," jawab Cloud segera.


"Lalu?"


"Rain menunggu Ara di bukit persik," lanjut Cloud.


"Bukit persik?"


Cloud mengangguk.


"Apa ada kabar lagi?" tanah Sky kembali.

__ADS_1


"Belum, Yah. Semalam dia berpesan agar tidak membalas kiriman suratnya karena khawatir ada burung-burung pengintai yang melihat burung pengantar surat."


"Hm, begitu." Sky meneguk air minumnya.


"Aku jadi penasaran, apakah sistem keamanan Asia seperti itu?" Cloud lantas bertanya kepada ayahnya.


"Ya, mungkin saja. Ayah sudah lama tidak berkunjung ke sana. Lima tahun terakhir ini hanya ke negeri terdekat. Mungkin sekarang penjagaan kawasan semakin diperketat. Apalagi semenjak rajanya jatuh sakit."


"Jatuh sakit?"


"Ya, raja Asia jatuh sakit. Dan kendali pemerintahan dipegang oleh putra mahkota."


Seketika Cloud terdiam.


"Lalu kapan kau akan mengambil alih pekerjaan ayahmu ini?" Sky menyindir putranya.


"Aku merasa belum pantas jika belum menikahi Ara, Yah." Cloud berwajah sendu.


"Mengapa seperti itu?" tanya Sky lagi sambil terus menyantap makan siangnya.


"Ya, bersaing dengan adikku sendiri saja tidak mampu. Apalagi harus bersaing dengan negeri lain." Cloud berkata jujur.


"Hahahaha." Seketika Sky tertawa. "Wanita memang mempunyai peranan yang sangat penting. Dulu ibumu juga sulit sekali untuk ditaklukkan. Dan pada akhirnya, dia mau menerima ayah."


"Apa rahasianya, Yah?" tanya Cloud serius.


"Lalu?" tanya Cloud lagi.


"Kesabaran."


"Tidak ada yang lain?"


"Tidak, Nak. Menghadapi wanita itu harus dengan kesabaran. Nanti juga dia akan luluh sendiri." Sky menuturkan.


Cloud tersenyum. Akhirnya setelah masalah berkepanjangan melanda hati dan pikirannya, sang putra mahkota bisa kembali tersenyum. Ia teringat dengan gadisnya.


Ara, aku akan sabar menunggumu, walaupun itu sangat menyiksaku. Kau ratuku, sekarang dan selamanya.


Cloud tersenyum sambil mengenang gadisnya. Hatinya begitu merindu hingga hampir saja meluap ke permukaan. Cloud amat membutuhkan gadisnya.


Lain Cloud, lain pula Rain. Sang putra bungsu kerajaan Angkasa ini telah memasuki kawasan hutan yang ada di barat Asia. Tak lama lagi ia akan segera tiba di dermaga.


Ara, sebentar lagi kita sampai. Aku akan membawamu kembali ke Angkasa.


Perjalanan kembali ini tak terasa oleh Rain. Sang gadis pujaan telah ada bersamanya. Detak jantungnya pun seiring dengan irama detak jantung sang gadis. Keduanya berniat singgah sebentar di dermaga sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Angkasa.

__ADS_1


Dua jam kemudian...


Aku bersama Rain sudah tiba di dekat dermaga. Singgah sebentar di rumah seorang kakek yang katanya cucunya itu teman seperjuangan Rain saat masih menjadi prajurit. Kedatanganku pun disambut baik oleh kakek dan istrinya.


"Salam bahagia, Kek." Aku menyapa kakek itu.


Di sini dia tinggal hanya berdua dengan istrinya. Sedang anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di tempat berbeda. Cucu kakek sendiri yang merupakan teman seperjuangan Rain, sedang bertugas menjaga perdamaian di daerah konflik perbatasan negeri.


Begitu sederhana ....


Kulihat rumah kakek ini begitu sederhana. Hanya berupa gubuk bambu yang dibiarkan tanpa tercat apapun. Namun, kakek dan nenek tampak bahagia sekali. Aku merasa jadi malu sendiri melihatnya.


"Jadi ini bidadari yang kau maksud, Cucuku?" Kakek bertanya kepada Rain.


"Benar, Kek. Dia bidadariku." Rain tersenyum.


"Mari diminum tehnya." Nenek pun datang membawakan teh untuk kami.


Rain membawa banyak pasukan untuk menjemputku. Mungkin ada sekitar empat puluh pasukan. Sepuluh bertugas di kapal dan tiga puluh lainnya ikut menjemputku.


"Terima kasih, Nek."


Kami lantas mengobrol sebentar sebelum berangkat pulang menuju Angkasa. Nenek dan kakek pun banyak menceritakan kisah hidupnya kepada kami. Dan apa alasan mereka yang sampai saat ini masih setia bersama. Seketika itu juga Rain memeluk dan mencium keningku.


Dia ini tidak tahu tempat.


Nenek dan kakek tertawa melihat ulah Rain yang tak tahu malu. Mereka pun mendoakan kami agar segera menikah dan mempunyai banyak anak.


"Ikuti jalur barat daya dan lurus saja. Itu adalah jalur aman untuk kalian kembali ke Angkasa." Kakek memberi tahu kami.


"Apakah tidak ada angkatan laut yang berpatroli, Kek?" tanya Rain hati-hati.


"Tidak. Tidak ada jika kalian mengikuti jalur ini. Kalaupun ada, kalian tinggal mencopot bendera saja. Agar prajurit yang berpatroli mengira kapal kalian adalah kapal nelayan." Kakek itu menuturkan.


"Baiklah, Kek. Terima kasih atas bantuannya, aku berutang budi kepada Kakek." Rain bersalaman dengan kakek itu.


"Sudah, jangan dipikirkan. Selagi bisa membantu sesama, kenapa tidak? Lagipula seumuran kakek apa lagi yang mau dicari selain menanam kebaikan untuk hari nanti." Kakek memberi petuah kehidupan kepada kami.


Hatiku terenyuh mendengarnya. Aku jadi malu sendiri. Kakek banyak memberi nasehatnya kepada kami. Sedang nenek memberi keyakinan agar hatiku mantap memilih pasangan. Dan nenek amat setuju jika dengan Rain, karena dia tahu bagaimana Rain sejak menjadi prajurit.


Kami akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan kembali ke Angkasa. Satu per satu kuda pasukan pun mulai masuk ke dalam kapal lalu diikuti kuda Rain. Aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sepasang suami istri itu. Dan juga meminta maaf karena telah banyak merepotkan.


Terima kasih, Kek, Nek ....


Kami melambaikan tangan sebelum akhirnya berlabuh menuju jalur barat daya laut ini. Setelahnya, Rain mengajakku untuk beristirahat sejenak.

__ADS_1


Di atas laut ini entah mengapa hatiku merasa amat bahagia bersamanya. Rain lagi-lagi menunjukkan pengorbanannya untukku. Aku jadi amat terharu.


Ara merasa sangat bahagia setelah bertemu kembali dengan Rain. Rasa sakit yang melanda hatinya dalam sekejap hilang begitu saja. Kehangatan pun mulai ia rasakan dari seorang panglima tinggi Angkasa. Perasaannya masih sama seperti dulu, begitu pun dengan sang pangeran. Keduanya tampak amat bahagia mengarungi lautan yang luas ini.


__ADS_2