Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
The Great Prince


__ADS_3

Adit tersenyum-senyum sendiri mengingat kisah itu. Sementara sang kakak yang bernama Ara tampak menahan kesalnya.


"Aaadiiittttt!!"


Wajahnya memerah karena sang adik sudah membocorkan aibnya itu.


"Kak Ara, Adit hanya berkata jujur."


"Kau ini, ya!" Ara pun geram.


"Sudah-sudah. Tidak apa nak Rain mengetahui sifat aslimu, Ara. Jika dia benar-benar sayang, maka akan menerimanya sepenuh hati." Sang ibu tampak melerai pertengkaran kedua anaknya itu.


Tak lama, pesanan datang.


"Hah, kalian berdua ini. Selalu saja membuat Ayah pusing." Sang ayah tampak menepuk jidatnya sendiri.


Aduh, Rain tahu sifat asliku. Pasti dia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Adit, gumam Ara dalam hati.


Mereka kemudian menyantap hidangan makan siang di restoran tersebut. Tampak si bungsu hanya diam dan memperhatikan kedua kakaknya yang selalu saja ribut tak jelas.


Sepulang dari restoran...


Ara bergegas ke kamarnya. Ia kemudian mempersiapkan diri sebelum pergi ke negeri Cloud. Tampak dirinya merebahkan diri di atas kasur, tersirat kelegaan setelah melewati proses yang panjang ini.


"Hah, akhirnya ... aku berhasil!"


Ia tampak senang karena meraih apa yang telah diusahakannya selama ini. Ara tersenyum bahagia.


"Sedang apa ya mereka di sana?"


Ia menatap langit-langit kamar seraya mengingat kedua pangeran kerajaan Angkasa. Di batinnya tersimpan kerinduan yang belum sempat terucapkan.


"Mungkin sebaiknya aku beristirahat sejenak."


Ara mencoba memejamkan kedua matanya. Ia berniat beristirahat sebelum bersiap berangkat ke negeri Cloud.


Sementara itu...


Angkasa menerima kabar penting dari Aksara siang ini. Cloud dan Rain terlihat terburu-buru masuk ke dalam ruangan ayahnya.


"Ayah."


Keduanya lalu duduk di hadapan sang ayah. Sky lalu menggulung surat yang ia terima dari Negeri Aksara itu.


"Aksara membatalkan perang." Sky mengawali.


Syukurlah, ucap Rain dan Cloud bersamaan di dalam hati. Keduanya tampak bahagia karena peperangan ini tidak terjadi.


"Namun kita harus tetap waspada. Ayah khawatir jika ini tipu daya mereka," lanjut Sky.


"Ayah, apakah kita harus menarik mundur pasukan dari perbatasan?" tanya Rain kemudian.


"Tidak. Itu tidak perlu. Biarkan selama beberapa hari di sana. Kita tetap harus waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi." Sky menerangkan.

__ADS_1


"Baik, Ayah. Lalu apa rencana Ayah selanjutnya?" tanya Rain lagi.


Sky lalu beralih kepada Cloud, putra sulungnya. "Cloud, bagaimana persediaan pangan untuk para prajurit di perbatasan?" tanya Sky.


"Sejauh ini semuanya terpenuhi dengan baik, Ayah. Aku sudah mengirimkan pasokan tambahan untuk para prajurit di perbatasan." Cloud menjelaskan.


"Bagus. Kalau begitu sekarang tugasmu mengecek wilayah perbatasan Angkasa dan Aksara, Rain," pinta Sky kepada Rain.


"Baik, Yah. Akan segera kulaksanakan. Kak Cloud, aku titip kerajaan."


Rain segera bertindak. Ia beranjak meninggalkan ruang ayahnya. Ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat menuju perbatasan.


"Rain!"


Sebelum Rain benar-benar pergi dari ruangannya, Sky kembali memanggil.


"Ya, Yah?"


"Tetap waspada. Jaga dirimu," pesan Sky kepada Rain.


"Siap, Yah!"


Rain lalu berpamitan. Ia segera keluar dari ruangan. Kini tinggal Cloud dan Sky yang berada di dalam ruangan ini. Ruangan khusus sang raja.


"Cloud, kau lihat adikmu? Dia begitu bersemangat dan tidak takut menghadapi segala risiko. Bagaimana denganmu?" tanya Sky kepada Cloud.


"Maksud Ayah?" Cloud tampak kurang mengerti akan maksud pembicaraan ayahnya.


"Cloud, kau harus berani mengambil peran sebagai seorang raja. Adikmu siap membantu kapan saja. Dia rela mengorbankan nyawa demi negeri ini. Dan Ayah berharap kau pun begitu." Sky meminta secara halus.


"Baiklah. Katakan apa saja yang kau butuhkan untuk mempercepat pengambilan keputusanmu. Ayah akan mengusahakannya," lanjut Sky.


"Baik, Yah. Terima kasih karena telah mengerti posisiku."


Sky lalu menepuk pundak anaknya. Ia sangat berharap kepada Cloud agar segera mengemban tugas sebagai seorang raja. Sky seperti menyimpan sesuatu, entah apa itu.


Sore harinya...


Rain tampak berpamitan kepada ibunya. Moon pun terlihat menangis melepas kepergian putra bungsunya itu.


"Ibu, mengapa Ibu menangis? Aku hanya mengecek perbatasan saja." Rain tampak mengusap air mata ibunya.


"Ibu sangat khawatir, Nak. Ibu takut kalau kau kenapa-kenapa," sahut Moon.


"Ibu ...."


Rain segera memeluk ibunya itu. Sky dan Cloud pun ikut hadir melepas kepergian Rain dari istana. Keduanya tampak ikut bersedih, namun ini adalah tugas yang harus dijalankan Rain.


"Doakan saja aku, Bu. Aku pasti kembali dengan selamat. Ibu baik-baik di sini."


Rain lalu mengecup kening ibunya. Ia tampak begitu sayang kepada sang ibu. Perlakuan Rain membuat Moon jadi tambah menangis. Ia terisak dalam tangisannya itu.


"Ayah, Kakak. Aku pamit."

__ADS_1


Rain lalu segera menaiki kuda hitamnya. Bersama puluhan pasukan, ia menuju perbatasan negeri untuk mengecek keadaan di sana.


Rain, jaga dirimu...


Moon mau tak mau melepas kepergian putra kesayangannya seraya mengusap air mata yang berjatuhan.


"Ibu, Rain pasti akan kembali." Cloud berusaha menenangkan ibunya.


Pasukan berkuda itu kemudian hilang dari pandangan mata Moon. Ia berdoa dalam hati untuk keselamatan putranya. Sedang Sky tampak berdiam diri walaupun di dalam hatinya begitu sedih. Namun, lagi-lagi ini tugas kerajaan yang harus diemban Rain. Mau tak mau Sky pun merelakan kepergian putra bungsunya itu.


Malam harinya...


Malam ini Cloud duduk sendiri di gazebo istana. Ia tampak mengerjakan beberapa tugas sang adik.


Sebagai calon raja, tentunya Cloud harus menguasai semua bidang dasar kerajaan. Ia berusaha mempelajari situasi keamanan negerinya.


"Pertahanan Angkasa sudah lebih dari cukup."


Cloud tampak meneliti sejumlah pasukan di wilayah perbatasan dan kemungkinan yang akan terjadi. Matanya menatap tajam ke arah daerah kekuasaan Aksara.


"Aku heran kenapa raja Aksara begitu memaksakan kehendaknya. Apakah dia punya alasan lain?" tanya Cloud sendiri.


"Sepertinya ada alasan tersembunyi dan itu hanya ayah yang tahu. Ayah tampak merahasiakannya dariku." Cloud berbicara sendiri.


Ia tampak serius mempelajari sistem keamanan dan pertahanan negerinya. Di sela-sela itu, daun pohon tin jatuh tepat di hadapannya. Cloud tampak terkejut.


"Astaga!"


Detak jantungnya seakan terhenti saat melihat daun tin yang gugur itu.


"Ada apa ini? Apakah sesuatu terjadi pada Rain?"


Cloud tiba-tiba cemas. Firasatnya mulai tak enak. Bersamaan dengan itu angin berembus di sekitarannya.


I-ini?


Cloud menarik pedangnya. Ia berjaga-jaga. Melihat ke sekeliling dengan sorot mata yang tajam.


Apa sebenarnya yang terjadi? tanyanya dalam hati.


Malam ini Cloud resah. Hatinya mencemaskan keadaan sang adik. Namun, kabar belum kunjung didapatkan.


Semoga semuanya baik-baik saja, ucapnya dalam hati, lalu tak lama angin itupun lenyap sendiri.


Hal aneh terjadi pada Cloud malam ini. Entah ada apa gerangan. Iapun segera merapikan berkas-berkasnya.


Cloud lalu pergi meninggalkan gazebo istana dan menuju ruangannya. Langkah kakinya terdengar cepat. Sepertinya ia harus segera beristirahat malam ini.


Sementara itu...


Sosok berjubah hitam tampak kesulitan saat memasuki ibu kota kerajaan. Kedua kakinya kaku sendiri saat mencoba masuk, melewati gerbang ibu kota.


Sial! Sepertinya pelindung mistis ini sudah berfungsi. Aku harus mencari cara lain.

__ADS_1


Sosok itu kemudian menunda perjalanannya. Ia mencari tempat menginap sementara waktu sambil memikirkan bagaimana cara agar dapat masuk ke ibu kota kerajaan. Bersamaan dengan itu, terlihat pohon tin di bukit surga yang mengeluarkan cahaya putihnya.


__ADS_2