Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Bad Dream


__ADS_3

Esok harinya...


Rain duduk termenung di depan meja kerjanya. Ia baru saja selesai memahami denah lokasi yang diberikan oleh Menteri Pertahanan, Dave.


Selesai menyelesaikan pekerjaannya, Rain tampak yakin akan memenangkan peperangan di lokasi tersebut. Ia optimis dengan segala sesuatu yang akan terjadi. Namun, ada suatu kebimbangan yang melanda hatinya itu. Bukan tentang masalah pekerjaan melainkan perasaannya sendiri.


Rain takut dan juga khawatir akan kehilangan seorang gadis yang telah mengambil ciuman pertamanya. Siapa lagi kalau bukan Ara, gadis yang memiliki nama sama dengan pohon di bukit surga.


Rain dilema semenjak melihat respon sang kakak yang begitu marah kepadanya. Hatinya cemas jika memikirkan hal itu. Di dalam benaknya tidak pernah terlintas sedikit pun untuk mengalah kepada sang kakak. Ia akan terus berjuang demi gadisnya.


"Ara ... aku harap kau memilihku."


Rain menghela napasnya. Disingkapkannya tirai jendela ruangan. Pandangannya menuju ke bawah istana, ke sebuah taman yang menjadi saksi akan balas dendam sang gadis.


Waktu itu...


"Nanti kau gendut jika terlalu banyak makan!" ketusnya kepada seorang gadis yang sedang menikmati hidangan kue di gazebo istana, Ara.


Sontak Ara terkejut mendengar Rain berkata seperti itu. Hampir saja ia tersedak karena ulah Rain.


"Hei, biasa saja. Jangan grogi begitu dengan kedatanganku."


Kata-kata Rain membuat Ara kesal. Ia segera menoleh ke belakang, memastikan suara siapakah itu.


"Rain?!"


"Pangeran Rain. Kau lupa jika aku seorang pangeran di sini?" ucap Rain bangga.


Tersirat wajah Ara yang menahan amarahnya. "Maaf. Maafkan aku," kata Ara seraya menunduk.


Tersirat jika sang gadis tidak ingin pembicaraan ini berbuntut panjang, maka ia segera meminta maaf kepada Rain.


"Nona, sepertinya kau tidak kuat menahan panas matahari, ya?" tanya Rain seraya berjalan memutari Ara.


"Maksudmu? Apa kau mengejekku?" Ara tampak kesal akan perkataan Rain. Ia seperti memikirkan sesuatu.


"Kau merasa terejek, ya?" tanya Rain lagi dengan intonasi meremehkan.


Sontak saja Ara geram bukan main. Ia segera pergi dari hadapan Rain.


"Hei, tunggu!" Rain mengejar Ara, menarik tangannya.


"Kau sangat tidak sopan meninggalkan seseorang yang sedang berbicara. Terlebih dia adalah seorang pangeran di kerajaan ini."


"Aku tidak peduli," sahut Ara seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Rain.


Semilir angin yang lewat menjadi saksi pertengkaran keduanya di taman istana. Rain terdiam sejenak, ia mengamati setiap gerak-gerik bibir sang gadis. Ia tampak menyukai gadis yang berani melawan perkataannya itu.


"Nona, kau tidak tahu siapa diriku, ya?" tanya Rain lagi kepada Ara.


Ara tampak tersulut emosinya. Ia mengambil dedaunan yang berada di dekatnya, tanpa sepengetahuan Rain.

__ADS_1


"Memangnya siapa dirimu?" tanya Ara yang mulai mengikuti permainan Rain.


"Aku adalah ...."


Sebelum Rain meneruskan kata-katanya, Ara bergerak cepat. Ia memasukkan dedaunan ke mulut Rain lalu menginjak kaki pangeran bungsu itu.


"Mmmmm?!!"


Mulut Rain tersumpal dedaunan. Roman wajahnya terlihat sangat kaget karena tidak mempunyai persiapan akan hal yang dilakukan Ara. Beberapa saat kemudian, ia menyadari jika kakinya itu diinjak sepatu hak tinggi yang Ara pakai. Rain segera mengangkat kakinya yang terinjak.


"Rasakan! Ini balasan untuk orang sombong sepertimu!" kata Ara, seraya tersenyum puas karena dapat membalas Rain.


Ara segera berbalik lalu berjalan cepat, menjauh dari Rain. Dari seberang, terlihat Bibi Rum mendekati Rain dengan tergesa-gesa. Ia segera membantu Rain mengeluarkan dedaunan dari mulutnya. Sedang Ara, terus saja berlalu dan tidak memedulikan keadaan Rain.


...


"Ara ... terlalu banyak kenangan yang kita lewati. Akankah kau melupakannya?" tanya Rain sendiri.


Rain memang seorang panglima tinggi di kerajaan ini. Tapi ia juga seorang manusia biasa yang mempunyai hati. Di kala hatinya bicara, maka sifat alaminya muncul tanpa disadari. Ia khawatir jika Ara akan berpindah hati ke kakaknya, Cloud.


Tiba-tiba, di tengah lamunannya itu terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya. Rain segera tersadar lalu mempersilakan masuk seseorang yang mengetuk pintu itu. Dan ternyata, seorang pelayan lah yang datang.


"Salam bahagia untuk Pangeran Rain," kata pelayan pria dari depan pintu ruangan.


"Ada apa?" tanya Rain kepada pelayan itu.


"Maafkan saya, Pangeran. Paduka Raja meminta Anda untuk segera menemuinya.


"Baik, aku akan segera menemuinya. Terima kasih," tegas Rain.


Pelayan istana itupun segera undur diri sambil membungkuk hormat kepada Rain. Pintu kemudian ditutup dari luar.


Dengan segera Rain merapikan meja kerjanya. Ia berniat untuk menemui sang ayah yang tiba-tiba memanggilnya itu.


Sementara itu, di lain ruang dan waktu...


Seorang gadis tampak gelisah dengan tidurnya. Napasnya terengah-engah, tidak beraturan. Sepertinya ia mengalami mimpi buruk lagi.


"Cloud!"


Ia meneriakkan nama itu di sela-sela tidurnya yang gelisah tak menentu.


"Cloud!!" Ia meneriakkan nama itu lagi.


"Cloud ...!"


Gadis itu tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Napasnya tersengal, detak jantungnya pun tidak beraturan. Keringat dingin muncul di dahinya yang licin.


"Ara, ada apa?!"


Sang ibu segera masuk ke dalam kamar anak gadisnya, sesaat setelah mendengar teriakan anak perempuannya itu.

__ADS_1


"I-ibu ... Cloud." Gadis bernama Ara itu terbata.


Sang ibu segera duduk di samping anaknya dan berusaha untuk menenangkan. Ia mengusap-usap bahu anak gadisnya itu.


"Ara, ada apa dengan Cloud?" tanya ibunya lagi.


"I-ibu. Ara bermimpi buruk tentangnya."


"Tentang Cloud?"


"Iya. Tentangnya."


Ara berusaha menormalkan laju napasnya. Sang ibu pun segera keluar lalu kembali masuk dengan membawakan segelas air.


"Ini minumlah."


Ara mengambil air pemberian sang ibu lalu segera meminumnya. Kini ia mulai kembali normal ke sedia kala.


"Sekarang ceritakan kepada Ibu, apa sebenarnya yang terjadi sehingga Ara bisa bermimpi buruk," pinta ibunya.


Ara mengusap wajahnya. Dan ia merasakan pipinya itu basah.


Aku menangis?


Ia menyadari jika itu adalah air matanya yang menetes. Mimpi buruk yang dialaminya benar-benar membuatnya bersedih.


"Ibu, Ara bermimpi buruk tentang Cloud. Dia ... dia dijebak seorang wanita."


"Dijebak?"


"Iya, Bu. Dan Cloud ...." ucapan Ara terputus, seolah tidak sanggup untuk melanjutkan.


"Ara ...."


Sang ibu segera memeluk anak gadisnya itu. "Mungkin dia rindu padamu. Makanya kau dapat memimpikannya. Tenanglah."


"Tapi, Bu." Ara melepas pelukan ibunya. "Ini bukan pertama kali Ara bermimpi buruk tentangnya. Ara tidak mengerti mengapa seperti ini." Ia melanjutkan.


Sang ibu menghela napasnya. Ia kemudian mengusap kedua pipi anaknya itu.


"Mungkin karena minggu depan Ara akan menghadapi sidang skripsi, dan hal itu membuat pikiranmu lelah, Sayang."


"Ara berharap begitu, Bu. Tapi rasanya Ara harus menemui Cloud agar tidak terus dihantui mimpi buruk tentangnya."


"Hm, ya. Temuilah Cloud setelah sidang skripsimu selesai. Ibu mengizinkanmu."


"Benarkah, Bu?"


Sang ibu mengangguk.


"Terima kasih, Bu."

__ADS_1


Ara tampak sedikit lega setelah mendapat izin dari sang ibu. Ia memeluk ibunya sambil menormalkan suasana hati yang gundah-gulana karena mimpi buruknya itu.


__ADS_2